LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
SULIS DAN AHMAD MENEMUKAN LEMBARAN HARAPAN


__ADS_3

Bab 26: Sulis dan Ahmad Menemukan Lembaran Harapan


Sulis dan Ahmad memacu sepeda motornya dengan cepat menuju sebuah perkampungan terpencil di pinggiran kota. Mereka berdua sama-sama bersemangat dan penuh harapan untuk menemukan lembaran harapan yang legendaris.


Sulis: (dengan tersenyum lebar) Akhirnya kita sampai juga di perkampungan ini, Ahmad. Aku tidak sabar untuk mencari tahu tentang mitos tentang lembaran harapan tersebut.


Ahmad: (mengangguk setuju) Betul sekali, Sulis. Konon katanya, jika seseorang menemukan dan membaca lembaran harapan itu dengan tulus hati, semua impian dan harapannya akan menjadi nyata.


Sulis: (tersenyum) Bayangkan, Ahmad. Jika kita berhasil menemukannya, bisa jadi semua mimpi kita akan terwujud.


Ahmad: (mengangguk) Benar, Sulis. Kita harus tetap berusaha dan tidak menyerah. Apapun yang terjadi, kita harus yakin bahwa ada harapan di dalam diri kita.


Mereka berdua memasuki salah satu rumah tua yang diceritakan menjadi tempat persembunyian lembaran harapan itu. Di dalam rumah yang bernuansa misterius itu, mereka menyusuri lorong yang gelap dengan hati-hati.


Sulis: (merasa sedikit takut) Ahmad, rasanya semakin mencekam di sini. Tapi mari terus maju. Kita sudah dekat, aku bisa merasakannya.


Ahmad: (memegang tangan Sulis) Jangan khawatir, Sulis. Kita berdua bersama-sama. Kita akan melewati ini dan menemukan lembaran itu.


Mereka sampai di sebuah ruangan yang memiliki pintu besar tersembunyi di tengah-tengah dinding.


Sulis: (memegang nafas) Ini pintunya, Ahmad. Kita harus membukanya.

__ADS_1


Ahmad: (memegang pegangan pintu) Bersiaplah, Sulis. Siap untuk menemukan lembaran harapan yang kita cari.


Dengan hati yang berdebar kencang, Ahmad membuka pintu yang tersembunyi itu. Di balik pintu terbuka itu ternyata ada suatu ruangan kecil yang terlihat seperti suaka.


Tiba-tiba, mereka melihat sebuah benda misterius tergantung di atas meja.


Sulis: (terpesona) Lihat, Ahmad! Itu adalah lembaran harapan itu! Akhirnya kita menemukannya!


Ahmad: (terharu) Sulis, ini adalah saat yang kita tunggu-tunggu. Ayo, kita baca lembaran ini bersama-sama.


Mereka duduk di depan meja, merentangkan lembaran harapan itu di antara mereka berdua. Dengan hati yang penuh harap, mereka membaca setiap kata yang tertulis di lembaran itu dengan penuh keyakinan.


Sulis: (tersenyum bahagia) Ahmad, aku merasa begitu kuat dan optimis setelah membaca lembaran ini. Kita akan mewujudkan semua impian kita.


Sulis dan Ahmad saling berpegangan tangan, merasa terhubung satu sama lain dalam semangat yang sama. Mereka meninggalkan ruangan misterius itu dengan hati penuh harapan dan tekad untuk menggapai impian mereka.


Akankah semua impian mereka benar-benar terwujud? Apa yang akan terjadi selanjutnya bagi Sulis dan Ahmad? Hanya waktu yang akan menjawabnya.


Sulis merasa segala keraguan dan kegelisahannya perlahan-lahan mulai surut seiring dengan datangnya pagi yang cerah yang menembus jendela kamarnya. Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya dia berhasil tiba di kota yang baru. Langit benar-benar biru dan terasa begitu lapang di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang.


Duduk di tepian tempat tidur kamarnya yang baru, Sulis menjalarkan pandangannya keluar jendela. Dia melihat seorang pria muda sibuk menata bungkus makanan di alfamart yang ada di bawah gedung apartemennya. Sulis terdiam sejenak, mengingatkan dirinya bahwa dia belum makan sejak kemarin malam.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, dia segera beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu. Sementara itu, seorang pria yang bernama Ahmad, seorang penghuni apartemen yang baru saja pindah, melintas di depan pintu Sulis dengan membawa bungkusan makanan dalam genggaman tangannya.


Dengan ramah, Ahmad menatap Sulis dan tersenyum. "Selamat pagi! Apakah Anda baru saja pindah ke sini?"


Sulis tersenyum dan mengangguk. "Ya, benar. Nama saya Sulis. Baru beberapa jam yang lalu saya sampai di sini."


Ahmad mengangguk. "Saya Ahmad. Senang bertemu dengan Anda, Sulis. Apakah Anda ingin makan bersama? Saya baru saja membeli beberapa makanan."


Wajah Sulis terpancar rasa syukur. Dia tidak menyangka bertemu dengan orang yang begitu ramah di kota yang baru baginya. "Terima kasih, Ahmad! Saya merasa lapar sekali. Makan bersama terdengar seperti ide yang bagus."


Mereka berjalan bersama menuju ke dapur bersama yang terletak di lantai dasar apartemen. Sambil menikmati hidangan simpel yang mereka pesan, Sulis dan Ahmad mulai berbincang-bincang tentang kehidupan di kota baru. Sulis menceritakan alasan dia pindah dan berharap menemukan kehidupan yang lebih baik di sini. Ahmad mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil sesekali menimpali dengan cerita-cerita tentang pengalamannya sendiri.


Seperti dua teman lama yang saling memahami, Sulis dan Ahmad terus berbagi dan bertukar cerita sepanjang makan siang mereka. Mereka saling memberikan perkataan penghiburan dan dorongan untuk menjalani kehidupan baru.


Setelah makan siang selesai, Sulis merasa lega dan bersyukur bertemu dengan Ahmad. Mereka berjanji untuk bertemu lagi dan menjaga hubungan baru yang mereka bangun hari ini.


"Lembaran baru akan menjadi lebih indah jika Anda memiliki teman baru," kata Ahmad tersenyum. Sulis menanggapi dengan tersenyum lembut, merasakan kehangatan persahabatan yang merekah di dalam hatinya. Dia percaya bahwa langkahnya untuk memulai hidup baru di kota ini adalah keputusan yang tepat, dan semua hal yang dia Lewati tidaklah sia-sia, karena mereka membawanya kepada pertemuan dengan seseorang seperti Ahmad.


Mereka berdua mengucapkan selamat tinggal, berharap kehidupan baru mereka berdua akan membawa perubahan dan harapan yang lebih baik. Sulis kembali ke apartemennya dengan hati yang penuh keterikatan dan keyakinan.


Di malam hari yang senyap, Sulis menulis di sebuah buku hariannya, "Hari ini, aku menemukan seorang teman baru di kota ini. Ahmad, seseorang yang memberiku harapan baru dan membuatku percaya pada kebahagiaan di masa depan. Aku bersyukur atas pertemuan kami dan berjanji untuk menjaga persahabatan ini dengan baik."

__ADS_1


Dalam hati yang penuh dengan harapan dan semangat, Sulis melanjutkan perjalanan hidup barunya di tempat yang baru.


__ADS_2