
Bab 40: satu langkah menuju harapan
Sulis duduk sendirian di sebuah kafe, memandang keluar jendela dengan pandangan kosong. Raut wajahnya terlihat murung, menandakan bahwa ia sedang dalam keadaan yang sulit. Ahmad, teman dekat Sulis sejak lama, melihatnya dari meja sebelah dan merasa terharu melihat keadaan Sulis yang sedang bersedih.
Ahmad: (dengan lembut) Sulis, apa yang terjadi? Kamu terlihat sangat bersedih.
Sulis: (tersenyum lemah) Ahmad... (menahan tangisnya) Aku sedang menghadapi masalah yang sulit, Ahmad. Semua tampak begitu rumit dan aku merasa seperti tidak bisa menanganinya.
Ahmad: (memperhatikan dengan penuh empati) Ceritakan padaku, Sulis. Aku di sini untuk mendengarkan mu dan membantumu.
Sulis: (menghela nafas) Sebenarnya, itu masalah keluarga, Ahmad. Ayahku mengalami kebangkrutan dan kami kehilangan segalanya. Sekarang, kami harus tinggal di rumah adikku yang sangat sempit, dan aku merasa seperti membebani mereka.
Ahmad: (memegang tangan Sulis) Sulis, kamu bukan beban bagi siapapun. Keluargamu mencintaimu dan akan selalu berada di sampingmu dalam kesulitan ini. Jangan biarkan dirimu merasa buruk tentang situasi ini.
Sulis: Tapi, Ahmad, aku merasa seperti aku punya tanggung jawab besar untuk membantu keluargaku. Aku ingin memberikan mereka kehidupan yang lebih baik, tapi aku merasa sangat terbatas.
Ahmad: (tersenyum penuh semangat) Sulis, jangan meragukan dirimu sendiri. Kamu cerdas, kuat, dan memiliki banyak potensi yang belum kamu sadari. Aku yakin kamu bisa menemukan cara untuk membantu keluargamu melewati masa sulit ini.
Sulis: (mengangguk perlahan) Terima kasih, Ahmad. Terima kasih telah mendengarkan ku dan memberikan semangat padaku. Aku benar-benar bertemu dengan teman yang luar biasa.
Ahmad: Kamu tidak usah berterima kasih, Sulis. Kamu tahu kan bahwa aku selalu ada untukmu, kapan pun kamu butuhkan. Sekarang, ayo kita pikirkan bersama cara untuk mengatasi masalah keluargamu.
Mereka melanjutkan percakapan mereka dengan penuh semangat, menemukan solusi dan sumber harapan di dalam kegelapan yang Sulis rasakan. Sulis menyadari bahwa meskipun ia sedang menghadapi kesulitan, ia tidak sendirian. Ada orang-orang seperti Ahmad yang selalu ada untuknya, dan dengan dukungan mereka, Sulis percaya bahwa ia bisa menghadapi setiap rintangan dengan kepala tegak dan hati penuh harapan.
__ADS_1
Hari sudah semakin sore saat Sulis dan Ahmad duduk di taman depan sekolah. Mereka berdua sedang membahas rencana mereka untuk mengadakan bazar amal guna mengumpulkan dana bagi anak-anak yatim.
Sulis mengeluarkan selembar kertas dari tasku dan membacakan beberapa catatanku yang sudah dia tulis semalam. "Jadi menurutmu, apa yang harus kita persiapkan untuk bazar amal ini, Ahmad?"
Ahmad melihat catatan Sulis sambil tersenyum, "Kamu sudah menuliskan semuanya dengan sangat rapi, Sulis. Tapi aku punya beberapa ide yang bisa membuat bazar amal kita lebih menarik dan sukses."
"Sampai detik ini, aku percaya padamu, Ahmad. Jadi, apa ide terbaru dari kamu?"
Ahmad meraih kertas itu dari tangan Sulis dan menunjuk pada bagian yang bertuliskan "Hiburan untuk anak-anak". Dia berkata, "Kita bisa menyediakan panggung kecil di salah satu sisi taman sekolah ini, dan menghadirkan beberapa grup musik atau penari untuk tampil. Selain itu, kita juga bisa mengundang badut atau pesulap untuk menghibur anak-anak yang datang."
Sulis tersenyum seakan-akan menciptakan bayangan dalam pikirannya, "Itu sangat brilian, Ahmad! Anak-anak pasti sangat senang dan bahagia ketika melihat pertunjukan seperti itu. Aku akan menambahkan hal ini ke dalam catatan kami dan mencari grup musik serta pesulap yang ingin tampil secara sukarela untuk acara ini."
Ahmad mengangguk, "Selain itu, aku juga punya ide tentang makanan. Kita bisa menyediakan beberapa penjaja makanan yang unik dan menarik untuk menambah daya tarik bazar amal kita. Mungkin kita bisa membuka stan makanan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti makanan Aceh, Padang, atau Jawa."
Sulis menuliskan ide Ahmad dengan antusias, "Benar sekali, Ahmad! Kita bisa meminta bantuan ibu-ibu dalam lingkungan kita untuk menyiapkan hidangan yang khas dari daerah mereka. Aku yakin makanan-makanan itu akan laris manis dan pengunjung bazar akan senang mencicipinya."
Sulis menggenggam tangan Ahmad erat dan berkata, "Terima kasih, Ahmad. Karena kamu, aku merasa semakin yakin bahwa kita bisa memberikan lembaran harapan bagi anak-anak yatim ini. Mari kita bekerja keras dan melihat mereka tersenyum bahagia di hari bazar yang akan datang."
Ahmad tersenyum lembut, "Tentu, Sulis. Kita akan bekerja sama untuk mewujudkan harapan itu. Bersama-sama, kita akan mengubah dunia ini menjadi tempat yang lebih indah bagi mereka."
Dengan semangat yang membara, Sulis dan Ahmad melanjutkan perencanaan mereka untuk bazar amal yang akan datang. Mereka berdua yakin bahwa usaha mereka tidak akan sia-sia. Lembaran harapan itu semakin dekat dan kini mereka hanya tinggal satu langkah lagi untuk mencapai tujuan mulia mereka.
Bab 40: Jatuh Bangun
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan panjang mencari kebenaran dan makna sejati, Sulis akhirnya kembali ke kampung halamannya. Hatinya penuh harapan, namun juga terasa berat karena dirinya telah berubah banyak sejak pertemuan terakhirnya dengan Ahmad.
Sulis memasuki kedai kecil di pinggiran kota, tempat Ahmad biasanya menghabiskan waktunya. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan Ahmad dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya. Saat Sulis melihat Ahmad duduk sendirian di pojok kedai, rasa gugup dan cemas langsung menyergapnya.
Sulis mendekati Ahmad dengan hati yang berdebar kencang. "Ahmad, bolehkah aku duduk bersamamu?" tanya Sulis dengan suara yang terdengar lirih.
Ahmad melirik ke arah Sulis. Ada kejutan di matanya ketika melihat wajah perempuan itu. "Sulis," gumam Ahmad sambil tersenyum lebar. "Tentu saja, silakan duduk."
Sulis duduk di hadapan Ahmad, lalu menatap kedalam matanya yang penuh harap. "Ahmad, terima kasih telah membantu dan mendampingiku selama ini. Aku harus jujur padamu, perjalanan ini telah mengubah hidupku." Suara Sulis tersentak, mencerminkan tahapan emosional yang dia alami.
Ahmad mengangguk, memberikan ruang bagi Sulis untuk melanjutkan ceritanya. "Aku menemukan petunjuk tentang orang tuaku yang telah lama hilang. Aku tahu bahwa mereka bukanlah orang miskin seperti yang selama ini aku percayai. Mereka adalah pasangan suami istri yang menginginkanku bahagia, dan memutuskan untuk memberikanku kesempatan yang lebih baik."
Air mata menggenang di mata Sulis saat dia melanjutkan, "Tapi bagaimana aku bisa bahagia jika aku harus meninggalkanmu, Ahmad? Kau telah menjadi orang yang paling penting dalam hidupku."
Ahmad tertegun mendengar kata-kata Sulis. Dia tak pernah menduga bahwa Sulis memiliki perasaan seperti itu. Dia merasa terharu namun juga bingung karena dirinya tidak bisa memberikan hal yang sama. "Sulis, kamu harus tahu, aku merasa beruntung bisa mengenalmu. Kau telah memberiku banyak hal dan aku bersyukur bisa menjadi bagian dari hidupmu. Tetapi, aku tidak bisa memberikanmu yang kau inginkan."
Sulis memandang Ahmad dengan kebingungan. "Apa yang kau maksudkan, Ahmad?"
Ahmad mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Sulis, aku telah lama dihadapkan pada kenyataan bahwa aku adalah seorang yang lebih tua, dengan masa lalu yang rumit. Tidak hanya itu, aku juga memiliki ketergantungan yang sulit untuk ditinggalkan. Aku tidak pantas untuk mendampingiku dalam hidup yang lebih baik."
Sulis tersedu-sedu mendengar kata-kata Ahmad. Hatinya hancur dengan kenyataan itu. Namun, dia juga mengerti bahwa Ahmad tidak ingin mengulang kesalahannya dan ingin melindunginya dari hal tersebut.
"Sulis, aku hanya ingin yang terbaik bagimu," kata Ahmad dengan suara serak. "Aku akan selalu menjadi temanmu dan aku berharap kamu mampu menemukan kebahagiaanmu sendiri, meskipun aku bukanlah bagian darinya."
__ADS_1
Sulis menangis lebih keras kali ini. Dia merasa kehilangan dan takut untuk melangkah tanpa Ahmad. Namun, dia menyadari bahwa ini adalah saat untuk memulai babak baru dalam hidupnya.
Mereka berdua duduk di sana, bersama tetapi terpisah. Ada keheningan yang tidak nyaman menguasai udara di antara mereka. Sulis menghapus air matanya dan tersenyum lembut pada Ahmad. "Terima kasih, Ahmad, atas segalanya. Hari-hari bersamamu akan terus menjadi lembaran harapan dalam hidupku. Aku berjanji, aku akan mencari kebahagiaanku sendiri."