
Bab 45: Sulis menikmati keindahan senja yang memancar dari langit
Sulis duduk di taman yang indah, menikmati keindahan senja yang memancar sinarnya dari langit. Dia membawa sebuah buku bersampul tua yang berjudul "Lembaran Harapan". Sulis merenung sejenak, memandangi buku tersebut dengan penuh rasa harap.
Tiba-tiba, sebuah suara yang akrab terdengar dari belakangnya. "Sulis, lama tidak bertemu. Apa kabarmu?" Sulis menoleh dan melihat Ahmad, sahabatnya sejak kecil. Wajah Ahmad penuh dengan senyum, sebagaimana biasanya.
Sulis tersenyum dan menjawab, "Ahmad! Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Ahmad duduk di sebelah Sulis, menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku juga baik. Apa yang sedang kau baca?" tanya Ahmad sambil menunjuk buku di tangan Sulis.
Sulis mengangkat buku tersebut, wajahnya berbinar-binar. "Ini adalah 'Lembaran Harapan', novel yang sedang aku baca. Sangat inspiratif dan penuh dengan kehidupan yang memotivasi ku," jawab Sulis dengan semangat.
Ahmad tersenyum mengangguk. "Menarik. Apa ceritanya?" tanya Ahmad dengan penuh minat. Sulis menutup buku, memandang langsung ke mata Ahmad, dan mulai menceritakan cerita yang menarik.
"Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Maya. Maya adalah seorang gadis muda yang memiliki mimpi besar untuk mengubah dunia. Dia memiliki semangat yang luar biasa dalam menjalani hidupnya, meski banyak cobaan yang harus ia hadapi," cerita Sulis dengan semangat.
"Maya bertekad memberikan harapan bagi mereka yang kurang beruntung. Dia bekerja keras dan berjuang untuk mewujudkan impian-impian mereka. Meskipun bertemu dengan banyak rintangan, Maya tidak pernah menyerah. Ia selalu percaya bahwa ada sinar di balik gelapnya malam."
Ahmad terlihat terpukau dengan cerita tersebut. Dia langsung menangkap pesan yang disampaikan oleh Sulis. "Cerita ini memberikan pesan bahwa kita tidak boleh menyerah dalam menghadapi kehidupan, bukan?" tanya Ahmad sambil tersenyum.
Sulis mengangguk, "Betul sekali. Lembaran harapan ini mengajarkan kita untuk tidak menyerah dan terus berjuang dalam setiap situasi hidup. Seperti Maya, kita juga harus selalu percaya bahwa ada harapan di setiap lika-liku kehidupan."
Keduanya terdiam sejenak, menyerap cerita yang Sulis ceritakan. Sulis melanjutkan, "Cerita ini mengingatkanku akan persahabatan kita, Ahmad. Seperti Maya, kita selalu saling memberikan dukungan dan inspirasi dalam perjalanan hidup."
Ahmad tersenyum, mengambil tangan Sulis di tangannya. "Kamu juga bagiannya dalam cerita ini, Sulis. Kita adalah sahabat sejati yang saling memperjuangkan mimpi dan memberikan harapan satu sama lain."
Sulis tersenyum bahagia, merasa terpenuhi dengan kebahagiaan dan harapan yang terpancar dari wajah Ahmad. Mereka berdua duduk di taman, menikmati senja yang semakin redup. Cerita tentang Maya memberikan kedua sahabat tersebut semangat baru untuk melangkah dalam kehidupan mereka.
Akhirnya, Sulis berkata, "Ahmad, mari kita jadikan 'Lembaran Harapan' ini batu loncatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Kita bisa merubah dunia, sebagaimana Maya melakukannya."
__ADS_1
Ahmad mengangguk dengan penuh semangat, "Tentu, Sulis. Kita berdua adalah tim yang tak terkalahkan. Mari kita terus mengejar impian kita dengan saling mendukung satu sama lain."
Mereka berdua tertawa gembira, melanjutkan perbincangan mereka tentang mimpi
Pagi itu, di sebuah kafe di pinggiran kota, Sulis duduk sendirian di sudut ruangan. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, seolah-olah pikirannya sedang melayang jauh di sana. Dia merasa terombang-ambing dalam arus kehidupan yang keras ini.
Tiba-tiba, seorang pria dengan rambut hitam menghampirinya. Sulis mengenalinya sebagai Ahmad, teman dekatnya. Ahmad duduk di meja yang bersebelahan dengan Sulis dan menepuk pundaknya lembut. "Hai, Sulis. Apa kabar?" Sapanya dengan lembut.
Sulis tersenyum tipis dan merenung sejenak sebelum menjawab. "Hai, Ahmad. Kabar baik, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupku, seperti aku terjebak dalam rutinitas yang membosankan."
Ahmad mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia tahu betapa sulitnya perjalanan hidup Sulis setelah kehilangan ayahnya, dan dia selalu berusaha untuk mendukungnya. "Mungkin kita semua pernah merasa terjebak dalam rutinitas, Sulis. Apa yang membuatmu merasa begitu?"
Sulis mengepalkan tangannya dan menatap tajam mata Ahmad. "Aku merasa seperti kehidupan ini tak punya arti. Aku menjalani hari demi hari dengan begitu saja, tanpa tujuan yang jelas. Aku butuh sesuatu yang bisa memberikan harapan, Ahmad."
Ahmad menyadari betapa pentingnya sebuah lembaran harapan dalam hidup seseorang. Dia merenung sejenak sebelum mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku jaketnya. "Sulis, aku punya sesuatu untukmu," ujarnya sambil tersenyum.
Sulis memandang heran selembar kertas yang diberikan oleh Ahmad. Dia melihat tulisan di atasnya dengan hati-hati. "Lembaran harapan," bisiknya pelan.
Sulis tersenyum, merasa terharu dengan perhatian dan kepedulian Ahmad. Tanpa ragu lagi, dia mengambil selembar kertas dan mulai menulis dengan hati-hati. Setelah menyelesaikan tulisannya, dia mengangkat kepala dan menatap Ahmad dengan rasa haru di matanya. "Terima kasih, Ahmad. Terima kasih telah membuatku menyadari bahwa hidup ini masih memiliki arti."
Ahmad tersenyum bahagia melihat semangat baru yang berkilau di mata Sulis. Dia menepuk bahu Sulis dan berkata, "Kita semua memiliki kekuatan untuk menciptakan harapan. Selalu ingat bahwa aku akan selalu ada di sini untukmu, Sulis. Kita bisa melawan rutinitas dan menemukan makna hidup kita sendiri."
Sulis tersenyum lebar, mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Ahmad. Dia merasa optimis tentang masa depannya dan berjanji untuk menjalani setiap hari dengan semangat baru, dikawal oleh lembat harapan yang dibawanya. Bersama Ahmad, Sulis yakin bahwa dia bisa menemukan jalan keluar dari kegelapan yang menjeratnya dan menemukan arti sejati dalam hidupnya.
Sulis duduk di teras rumahnya, menikmati secangkir teh hangat sambil membaca sebuah buku. Baru saja ia menghabiskan beberapa bab ketika Ahmad datang menemui Sulis.
Ahmad: "Halo, Sulis. Apa kabar? Sedang asyik membaca?"
__ADS_1
Sulis: "Halo, Ahmad. Iya, lagi menikmati cerita di novel ini. Ada apa?"
Ahmad: "Sebenarnya, aku ingin berbicara tentang rencana kita untuk mendirikan rumah singgah untuk anak-anak yatim."
Sulis memandang Ahmad dengan sepenuh perhatian. Wajahnya memancarkan semangat dan antusiasme.
Sulis: "Oh ya, sudah lama sekali kita tidak membahasnya. Apa perkembangannya?"
Ahmad: "Aku sudah melakukan survei dan menemukan beberapa lokasi yang cocok untuk gedung rumah singgah. Tapi kita masih memerlukan dana yang cukup besar untuk membangunnya. Apakah kamu punya ide bagaimana mencarinya?"
Sulis: "Sampai saat ini, saya belum memiliki ide yang pasti. Namun, saya berpikir kita bisa mencoba mengajukan proposal kepada beberapa perusahaan atau lembaga amal yang mungkin tertarik mendukung proyek ini."
Ahmad: "Itu ide yang bagus! Kita juga bisa mengadakan acara amal untuk menggalang dana. Apa kamu ingin membantu mengorganisir nya?"
Sulis: "Tentu saja, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Bagaimana denganmu? Sudah ada usulan lain?"
Ahmad: "Sementara itu, aku sedang memikirkan cara agar rumah singgah ini bisa berjalan mandiri, dengan menjalankan program-program yang dapat menghasilkan pendapatan sendiri. Mungkin kita bisa melibatkan komunitas sekitar untuk bekerja sama dalam pengembangan kegiatan-kegiatan itu."
Sulis: "Intinya, kita harus mencari banyak dukungan dan melibatkan banyak pihak, bukan hanya dari segi finansial tetapi juga dalam pengelolaan rumah singgah nantinya. Semakin banyak orang yang terlibat, semakin besar juga kesempatan kita untuk mencapai tujuan ini."
Ahmad: "Iya, Sulis. Kita memang memerlukan semua bantuan yang bisa kita dapatkan. Saya yakin, jika kita bersatu dan mempunyai semangat yang sama, kita bisa mewujudkan impian ini."
Sulis mengangguk seraya tersenyum, meyakinkan Ahmad tentang komitmennya.
Sulis: "Benar sekali, Ahmad. Mari kita berusaha bersama, memberikan harapan dan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak yatim. Jika kita memiliki tekad dan semangat yang tak tergoyahkan, tak ada yang tak mungkin."
Ahmad: "Terima kasih, Sulis, atas dukunganmu. Aku senang kita bisa bekerja sama dalam proyek ini. Mari mulai dari langkah kecil, dan bersama-sama kita bisa melakukan hal besar."
__ADS_1
Sulis dan Ahmad duduk bersama, melanjutkan diskusi mereka tentang rencana lebih lanjut untuk mendirikan rumah singgah tersebut. Dalam hati mereka, terpatri keyakinan bahwa bersama-sama, mereka akan mengubah satu lembaran harapan menjadi kenyataan.
Perjalanan Sulis dan Ahmad untuk mewujudkan rumah singgah bagi anak-anak yatim masih panjang. Namun, mereka berdua penuh semangat dan optimisme bahwa cinta dan kepedulian yang mereka tanamkan dalam setiap langkah mereka akan memberikan dampak besar bagi kehidupan anak-anak tersebut.