LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
KESETIAA YANG DI COBA


__ADS_3

Bab 70: Kesetiaan yang Dicoba


Hari-hari terus berlalu di tengah kegalauan Sulis. Meskipun hubungannya dengan Ahmad semakin akrab, Sulis merasa kesulitan untuk mempertahankan perasaannya. Setiap kali bertemu dengan Ahmad, perasaan Sulis semakin sulit untuk diredam.


Suatu saat, Sulis dan Ahmad bertemu di sebuah toko buku. Sulis yang sedang mencari buku klasik, dipandu oleh Ahmad untuk memilih buku yang tepat.


"Bagaimana kabarmu, Sulis?" tanya Ahmad.


"Sedikit sibuk dengan pekerjaan. Tapi, aku baik-baik saja," jawab Sulis.


"Baguslah kalau begitu. Kamu tahu, Sulis, aku senang bisa berteman denganmu," kata Ahmad.


Sulis tersenyum. Mendengar kata-kata Ahmad membuat hatinya berkobar-kobar. Sulis sangat menyukai Ahmad, namun, ia masih ragu untuk mengungkapkan perasaannya.


"Temanmu ini merindukan senyum manismu, Sulis. Akhir-akhir ini kamu sedikit berbeda," ucap Ahmad.


Sulis merasa terenyuh dengan kata-kata Ahmad. Ia merasa bersalah terhadap Ahmad karena tidak bisa memberikan apapun selain kesedihan dan kesulitan.


"Sudah lama ya, kita berteman?" tanya Sulis mencoba mengalihkan perhatian dari perasaannya sendiri.


"Sudah dua tahun. Lama juga ya," kata Ahmad sambil tersenyum.


Saat itu Sulis menyadari, selama dua tahun Ahmad selalu setia mendampinginya dalam kebaikan maupun kesusahan. Sulis merasa terharu dengan sikap Ahmad, ia merasa bahwa Ahmad adalah orang yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup.


"Sulis, ada hal yang ingin aku katakan. Aku sudah cukup lama menyimpan perasaan untukmu. Sulis, aku mencintaimu," ucap Ahmad dengan tegas.


Sulis yang merasa takjub dengan pengakuan Ahmad, akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada Ahmad. Sulis mengaku bahwa ia juga merasakan hal yang sama terhadap Ahmad.


Mendengar pengakuan cinta dari Sulis membuat Ahmad merasa sangat bahagia. Ahmad merasa bahwa semua perjuangannya untuk mendapatkan hati Sulis telah terbayar.


"Mari kita menjalin hubungan yang lebih serius, Sulis," ucap Ahmad.


Sulis setuju dengan usulan Ahmad. Ia sangat senang karena kini ia akan bersama dengan orang yang selalu setia mendukungnya dan memberikan kebahagiaan. Sulis menyadari bahwa kesetiaan Ahmad pada dirinya selama ini merupakan nilai yang sangat berharga dan mahal.

__ADS_1


Dari kejadian ini, Sulis belajar betapa pentingnya kesetiaan dalam sebuah hubungan. Kesetiaan akan menjadi perekat yang kuat dalam hubungan manusia, sehingga akan membuat hubungan tersebut semakin erat dan kuat. Sulis merasa beruntung memiliki seorang sahabat seperti Ahmad yang selalu setia membantunya dalam menghadapi segala lika-liku kehidupan.


Saat Sulis dan Ahmad menikmati kopi di sebuah kafe, Sulis merasa terharu oleh sikap Ahmad. Ahmad selalu ada di sampingnya ketika Sulis membutuhkannya. Sulis menyadari bahwa tak ada yang lebih berharga daripada memiliki seseorang yang selalu berada di sisinya, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.


"Sungguh, aku sangat berterima kasih padamu, Ahmad. Kamu selalu setia mendukungku dan menjadi teman sejatiku," ujar Sulis.


"Ketika aku menghadapi masalah, kamu selalu ada untukku, Sulis. Dan itulah sebabnya aku berusaha untuk selalu ada untukmu juga," jawab Ahmad.


Kedua sahabat tersebut mengobrol tentang masa lalu mereka. Sulis bercerita tentang masa lalunya yang menyakitkan dan bagaimana Ahmad selalu memberinya dukungan. Ahmad, di sisi lain, menceritakan tentang kehidupannya sebelum bertemu Sulis dan mengakui bahwa Sulis adalah orang yang paling penting dalam hidupnya.


Saat mereka berbicara, Sulis menyadari betapa beruntungnya ia memiliki seseorang seperti Ahmad dalam hidupnya. Ia merasa tidak pernah sendirian lagi, karena Ahmad selalu ada untuknya.


"Kita harus saling menghargai dan menjaga hubungan kita, Sulis. Kita akan melewati banyak hal bersama-sama dan aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Ahmad.


"Denganmu di sisiku, aku merasa tidak pernah sendirian. Aku bersyukur memiliki teman dan pendamping seperti kamu," jawab Sulis.


Ketika mereka berpisah, Sulis merasa bahagia dan penuh harapan. Sudah lama ia merasa kesepian dan takut terluka lagi, namun bersama Ahmad ia merasa aman dan tenang. Sulis tahu bahwa kesetiaan Ahmad tidak akan pernah pudar, dan itu membuatnya merasa sangat bahagia.


Sulis sadar bahwa tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran Ahmad dalam hidupnya. Sulis telah menemukan seseorang yang selalu setia dan bersikap adil dalam hubungan, seseorang yang selalu memberikan dukungan dan merayakan kesuksesannya, dan yang terpenting, seseorang yang mencintainya apa adanya. Sulis berkomitmen untuk mempertahankan hubungan mereka dan menjadi sahabat yang setia seperti Ahmad.


Saat mereka berjalan-jalan pulang, Sulis merasa ingin mengungkapkan perasaannya kepada Ahmad. Namun ia ragu untuk melakukannya, takut hubungan mereka menjadi rumit atau bahkan merusak persahabatan mereka.


Namun, Sulis tahu bahwa tidak ada yang lebih penting daripada jujur dengan diri sendiri dan orang lain. Ia tidak ingin menahan perasaannya sendiri, jadi ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya.


"Ahmad, ada yang ingin kukatakan padamu," ujar Sulis perlahan.


"Ada apa, Sulis?" tanya Ahmad penasaran.


"Sudah lama aku menyimpan perasaan ini. Aku merasa terharu dengan semua yang telah kamu lakukan untukku, dan sejujurnya aku merasa bahwa aku mencintaimu," ujar Sulis dengan tulus.


Ahmad terkejut dengan pernyataan Sulis. Namun, ia merespon dengan bijaksana dan tetap menghargai perasaan Sulis, meskipun ia sendiri belum memutuskan bagaimana ia merespon pernyataan tersebut.


"Sul, aku sangat terhormat dengan perasaanmu. Aku juga merasa ada hal yang istimewa di antara kita. Namun, aku berpikir bahwa kita perlu lebih dulu mempertahankan persahabatan kita dengan baik sebelum bertindak lebih lanjut," ungkap Ahmad sambil tersenyum.

__ADS_1


Sulis merasa lega karena Ahmad dengan bijak mengakui keberadaan perasaan mereka tanpa memaksanya untuk merubah atau memutuskan hubungan mereka. Hal itu membuat Sulis semakin menghargai Ahmad sebagai teman dan sosok penting dalam hidupnya.


Saat mereka tiba di rumah Sulis, Sulis merasa lebih terhubung dengan dirinya sendiri dan memiliki tekad baru untuk menjaga serta memperkuat hubungan persahabatannya dengan Ahmad. Hal itu membuatnya merasa yakin bahwa apapun yang terjadi di masa depan, ia tidak pernah akan merasa sendiri lagi karena ada Ahmad yang selalu mendukungnya.


Dengan perasaan bahagia dan bersyukur, Sulis memutuskan untuk merebahkan diri dan beristirahat. Ia merenungkan hari yang ia lewati bersama temannya, dan merasa tidak sabar untuk melihat apa yang masa depan bawa untuk dirinya dan hubungannya dengan Ahmad.


Sambil merebahkan diri, Sulis merasa terinspirasi untuk mengejar impian-impian barunya yang selama ini terpendam. Ia tidak lagi merasa takut atau ragu, karena ia tahu bahwa ada seseorang yang selalu akan mendukungnya dalam setiap langkah yang ia ambil.


Hari-hari berikutnya, Sulis dan Ahmad semakin erat dalam persahabatan mereka. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, saling mendukung dalam segala hal, dan terus membangun kepercayaan satu sama lain.


Sulis terus mengembangkan dirinya dan mengejar impian barunya. Ia mulai menulis buku pertamanya, sebuah novel tentang pengalaman hidupnya. Ahmad menjadi salah satu dari sedikit orang pertama yang membaca naskah awalnya, dan sangat terkesan dengan tulisannya.


"Sulis, tulisanmu benar-benar luar biasa. Aku yakin kau akan menjadi penulis terkenal suatu hari nanti," ujar Ahmad.


Sulis tersenyum dan merasa termotivasi oleh dukungan Ahmad. Ia merasa beruntung memiliki teman seperjuangan seperti Ahmad, dan sering mengucapkan terima kasih atas semua dukungan dan bantuan yang telah ia berikan.


Waktu terus berlalu, dan Sulis semakin dekat dengan Ahmad. Namun, ia masih merasa ragu untuk mengungkapkan perasaannya lagi. Ia masih khawatir pernyataannya sebelumnya akan merusak hubungan persahabatan mereka.


Namun, Ahmad merasakan ada yang mengganjal dalam hubungan mereka dan ia merasa perlu untuk membicarakannya dengan Sulis. Ia ingin agar Sulis merasa nyaman dan bebas untuk berbicara apa pun yang ada di dalam hatinya.


Suatu hari, Ahmad mengundang Sulis ke kafe favorit mereka. Setelah memesan minuman, Ahmad memulai percakapan.


"Sulis, aku merasa ada yang tidak beres dalam hubungan kita. Aku merasa kau masih merasa tidak nyaman atau ragu-ragu dalam pada hubungan kita."


Sulis merasa terkejut dan merasa lega karna akhirnya Ahmad juga merasakan hal yang sama dengannya. Ia tidak lagi merasa sendiri dalam perasaannya, dan merasa lebih terbuka untuk berbicara.


"Ya, Ahmad. Aku rasa aku masih merasa ragu untuk melangkah lebih jauh dalam hubungan ini. Aku khawatir apabila aku memberikan sinyal yang salah dan merusak hubungan persahabatan kita," jawab Sulis dengan tulus.


Ahmad memahami perasaan Sulis dan dengan lembut memberikan pandangannya. "Sulis, aku ingin kau tahu bahwa hubungan kita adalah hal yang sangat berarti bagiku, baik sebagai teman maupun sebagai seorang yang mencintai kamu. Namun apapun keputusanmu, aku akan tetap menjadi temanmu dan akan selalu mendukungmu," ungkap Ahmad.


Sulis merasa terharu dan bersyukur atas kata-kata Ahmad, yang telah membuatnya merasa lebih percaya diri untuk berbicara apapun yang ada di dalam hatinya.


"Terima kasih, Ahmad. Aku sangat menghargai persahabatan kita dan harap kita bisa terus membangun kepercayaan satu sama lain," ujar Sulis dengan tulus.

__ADS_1


Ahmad tersenyum dan mencium pipi Sulis sebagai tanda persahabatan mereka yang kokoh dan teguh. Sulis merasa nyaman dan senang dengan perasaannya, karena ia tahu bahwa sedikit demi sedikit, ia mendapatkan keberanian untuk mengambil langkah berani dalam hidupnya.


__ADS_2