LEMBARAN HARAPAN

LEMBARAN HARAPAN
LEMBARAN HARAPAN YANG TERKOYAK


__ADS_3

Bab 106: "Lembaran Harapan yang Terkoyak"


Sulis merasa bahwa hidupnya semakin sulit setiap harinya. Karena itu, dia memutuskan untuk membuat daftar harapannya dan menempelkannya di dinding kamarnya sebagai pengingat agar dia tidak kehilangan fokus.


Namun, suatu pagi, Sulis menemukan bahwa daftar harapannya yang tercetak di kertas besar telah terkoyak menjadi beberapa bagian, sehingga sulit untuk dibaca.


Sulis: (terkejut) "Oh tidak, daftar harapanku rusak! Bagaimana mungkin bisa terjadi?"


Ahmad, sahabat Sulis, datang ke kamarnya untuk memberikan dukungan.


Ahmad: "Ada apa, Sulis? Kenapa kamu terlihat cemas?"


Sulis: "Lembaran harapan favoritku terkoyak dan hancurkan. Saya sulit membacanya sekarang."


Ahmad: "Jangan khawatir, aku akan membantu kamu memperbaikinya."


Sulis: "Benarkah? Terima kasih, Ahmad!"


Ahmad membantu Sulis menyusun kembali setiap bagian lembaran harapan yang telah terkoyak hingga kembali utuh.


Ahmad: "Ini sudah bagus. Sekarang kamu sudah bisa membaca daftar harapanmu kembali, bukan?"


Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Aku tidak akan bisa melakukannya tanpamu."


Ketika Sulis mengangkat daftar harapannya kembali ke dinding, dia merasa bahwa harapannya telah menjadi lebih kuat karena telah diuji dengan baik dan mampu melewati tantangan.


Sulis sangat berterima kasih atas bantuan Ahmad. Dia merasakan kekuatan dalam dirinya yang semakin bertambah.


Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Aku merasa lelah dalam beberapa minggu terakhir karena semua hal yang terjadi. Namun, kamu selalu ada untuk membantuku. Kamu adalah teman terbaikku."


Ahmad: "Jangan terima kasih, Sulis. Kamu juga selalu ada untukku ketika aku membutuhkanmu. Kita adalah sahabat yang saling membantu."


Saat itu, Sulis mengerti bahwa mereka berdua adalah teman yang saling mendukung dan memotivasi satu sama lain. Dia bahagia memiliki Ahmad sebagai teman yang selalu mendengarkan, mengerti dan membantunya melalui setiap kesulitan.


Setelah memberikan support kepada Sulis, Ahmad pun kembali ke rumahnya. Sulis kembali melihat daftar harapannya dengan perasaan berbeda. Dia merasa lebih percaya diri dan optimis pada masa depan.


Sulis berpikir, "Sekarang aku tahu bahwa ketika daftar harapanku terkoyak atau rusak, aku selalu punya Ahmad yang siap membantuku. Dan aku tahu dengan pasti, kita akan melewati semua hal bersama-sama."


Sulis merasakan kekuatan dalam konteks persahabatan. Itulah kekuatan paling penting yang telah membantunya mengatasi semua halangan, termasuk pada lembaran harapannya.


Sulis memutuskan untuk mendekati Ahmad lagi beberapa hari kemudian setelah dia merenung dan memikirkan bagaimana dia bisa memperbaiki lembaran harapannya yang terkoyak. Mereka bertemu di kafe favorit mereka.


Sulis: "Hei, Ahmad. Aku punya ide untuk memperbaiki daftar harapanku."


Ahmad: "Tentu saja, aku sangat ingin mendengarnya. Apa itu?"


Sulis: "Kenapa kita tidak membuat daftar harapan baru bersama-sama? Kita bisa berkonsultasi satu sama lain tentang apa yang harus dimasukkan dalam daftar itu dan kemudian menempelkannya di dinding kita masing-masing sebagai pengingat. Bagaimana menurutmu?"


Ahmad: "Itu adalah ide yang brilian, Sulis. Ayo kita lakukan!"


Mereka pun duduk dan membahas beberapa ide tentang apa yang harus termasuk dalam daftar harapan mereka, termasuk impian mereka untuk masa depan, hal-hal yang ingin mereka capai dalam jangka pendek, dan bagaimana mereka ingin berkembang sebagai individu.


Setelah beberapa menit, mereka berhasil membuat daftar harapan baru yang sangat bermakna bagi mereka. Dengan senang hati, mereka menempelkannya di dinding rumah mereka masing-masing sebagai pengingat tentang tujuan mereka.


Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Kita tidak hanya memperbaiki lembaran harapanku yang terkoyak, tapi kita membuat daftar harapan baru yang lebih kuat bersama-sama."


Ahmad: "Sama-sama, Sulis. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan untuk berkonsultasi denganmu dan menghasilkan sesuatu yang bermakna bersama-sama. Aku berharap kita bisa melakukannya lebih sering."


Sulis merasa bahagia dan terinspirasi setelah diskusi mereka. Dia merasa bermakna bisa berkonsultasi dengan teman sejati dan menempelkan lembaran harapan baru yang indah sebagai pengingat tentang tujuan dan impian masa depannya.


Ahmad: "Sulis, gimana dengan hal-hal yang belum tercapai di daftar harapanmu yang terkoyak?"


Sulis: "Sebagian besar masih sama, tapi mungkin sekarang aku lebih memahami bahwa tidak semua harapan bisa terpenuhi dengan mudah. Aku juga memahami bahwa terkadang, impian yang tidak tercapai bisa membuka peluang untuk impian yang lebih baik dan lebih besar."


Ahmad: "Kamu benar, Sulis. Beberapa harapan yang tidak tercapai terkadang membuka jalan ke arah hal yang lebih baik. Aku berharap kamu bisa menyimpan semangat juang untuk mencapai semua harapanmu."


Sulis: "Pasti, Ahmad. Aku tidak akan pernah menyerah pada impianku, tetapi aku juga tidak akan mengabaikan kesempatan baru yang diberikan kepadaku. Saya juga berterima kasih kepada Anda karena telah membantu saya dalam memperbaiki lembaran harapanku yang terkoyak."

__ADS_1


Ahmad: "Tidak perlu berterima kasih, Sulis. Kita selalu saling membantu dan mendukung dalam mencapai mimpi kita. Kita selalu mendukung satu sama lain, kan?"


Sulis: "Benar, Ahmad. Kita adalah teman sejati yang selalu membantu dan mendukung satu sama lain. Terima kasih sudah menjadi teman yang luar biasa."


Ahmad: "Sama-sama, Sulis. Selalu siap membantu kapan saja kamu butuhkan."


Mereka berdua tersenyum satu sama lain, merasa bersyukur karena memiliki teman sejati yang selalu mendukung dan membantu satu sama lain dalam mencapai impian mereka. Sulis merasa terinspirasi dan mantap untuk terus berjuang dan mencapai semua yang dicita-citakan di daftar harapannya yang baru.


Ahmad: "Sulis, bagaimana dengan harapanmu yang ada di lembaran yang tidak terkoyak?"


Sulis: "Beberapa diantaranya sudah tercapai, seperti memiliki pekerjaan yang lebih baik dan bisa menabung untuk membeli rumah sendiri. Tapi masih ada yang belum tercapai, seperti menyelesaikan studi pascasarjana dan mendapatkan pengalaman kerja di luar negeri."


Ahmad: "Kalau begitu, mari kita cari tahu bagaimana cara untuk mencapainya. Apakah ada yang bisa saya bantu?"


Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Ada satu hal yang bisa kamu bantu."


Ahmad: "Apa itu?"


Sulis: "Aku ingin belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris atau bahasa Mandarin. Mungkin kamu bisa membantuku mencari kursus bahasa yang murah dan berkualitas?"


Ahmad: "Tentu saja, Sulis. Aku akan mencari informasi dan membantumu mencari kursus yang sesuai keinginan dan anggaran mu. Besok aku akan memberimu daftar pilihan dan kamu bisa memilih yang kamu inginkan."


Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Aku sangat terbantu dengan bantuanmu. Kamu selalu merespons keinginanku dengan baik."


Ahmad: "Kita selalu saling membantu dan mendukung, bukan? Itulah teman sejati."


Sulis: "Betul. Saya bersyukur memiliki teman sebaik kamu, Ahmad."


Ahmad: "Sama-sama, Sulis. Kita adalah sahabat sejati yang selalu saling mengisi dan membantu satu sama lain dalam mencapai impian kita."


Sulis: "Ahmad, apakah kamu punya lembaran harapan yang terkoyak seperti milikku?"


Ahmad: "Tentu saja, Sulis. Setiap orang pasti memiliki impian dan harapan yang belum tercapai."


Sulis: "Lantas, apa yang kamu lakukan untuk mencapainya?"


Sulis: "Aku juga akan berusaha seperti kamu, Ahmad. Terus berjuang untuk mewujudkan impian dan mencari dukungan dari yang terdekat."


Ahmad: "Pasti bisa, Sulis. Kita harus tetap optimis dan percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik asal kita terus berusaha."


Sulis: "Betul sekali. Terima kasih atas motivasinya, Ahmad. Kamu selalu membuatku merasa lebih baik."


Ahmad: "Sama-sama, Sulis. Kita sebagai sahabat harus saling mendukung dan memotivasi satu sama lain dalam menghadapi hidup."


Sulis: "Aku bersyukur punya teman sebaik kamu, Ahmad."


Ahmad: "Sama-sama, Sulis. Kita akan terus bersama-sama mengisi lembaran harapan kita yang terkoyak ini."


Sulis dan Ahmad duduk di tepi pantai, menyaksikan matahari terbenam. Sulis mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan memperlihatkannya pada Ahmad.


Sulis: "Lihat, Ahmad. Inilah lembaran harapanku yang terkoyak."


Ahmad: "Apa yang terjadi?"


Sulis: "Ini adalah rencanaku untuk masuk ke perguruan tinggi yang aku impikan sejak lama. Aku sudah bersiap-siap selama berbulan-bulan untuk ujian masuk, tapi tiba-tiba ayahku jatuh sakit dan aku harus pulang ke kampung untuk merawatnya. Akhirnya, aku tidak bisa mengikuti ujian dan impianku hancur."


Ahmad: "Itu memang sangat disayangkan, Sulis. Tapi bukankah kau masih bisa mencoba lagi di tahun depan?"


Sulis: "Tentu saja. Tapi hatiku sangat terluka saat itu. Aku merasa seperti tidak ada gunanya berusaha."


Ahmad: "Jangan berpikir seperti itu, Sulis. Masih banyak kesempatan di masa depan. Lagipula, jika kau tidak berusaha lagi, mimpi-mimpi mu pasti tidak akan pernah terwujud."


Sulis: "Ya, kau benar, Ahmad. Terima kasih. Aku memang butuh teman seperti kamu yang selalu memberiku motivasi."


Ahmad: "Tidak usah sungkan-sungkan meminta bantuan atau dukunganku, Sulis. Aku selalu siap membantumu mengejar impian-impianmu."


Sulis tersenyum. Ia merasa beruntung punya sahabat seperti Ahmad. Ia berjanji untuk terus berjuang dan mendukung Ahmad dalam mencapai impian-impian mereka.

__ADS_1


Sulis mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk memikirkan rencana kedepannya. Ia tahu bahwa ia harus kembali mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi tahun depan, dan tidak akan membiarkan kejadian ini menghentikannya.


Sulis: "Aku harus bisa melupakan kejadian ini dan berusaha lebih keras lagi tahun depan. Aku tahu aku bisa melakukannya."


Ahmad: "Tentu saja kau bisa. Aku yakin kau bisa meraih mimpi-mimpimu, Sulis."


Sulis: "Terima kasih, Ahmad. Aku beruntung mempunyai sahabat seperti kamu."


Ahmad mengangkat bahu dan tersenyum manis. "Senang bisa membantu, Sulis."


Mereka berdua melihat matahari terbenam, membiarkan waktu menghapus kekecewaan mereka lalu bergegas pulang. Sulis tahu bahwa ia harus lebih kuat dan akan terus berjuang untuk mencapai mimpi-mimpinya di hari mendatang.


Ketika mereka tiba di rumah, Sulis melihat sebuah amplop berwarna putih di atas meja.


Sulis: "Ada surat untukku."


Ahmad: "Surat dari siapa?"


Sulis: "Dari sekolah."


Sulis membuka amplop tersebut dan membaca surat yang ada di dalamnya.


Sulis: "Aku diterima di sebuah sekolah seni di Jakarta!"


Ahmad: "Wow, selamat! Itu berita hebat!"


Sulis: "Aku masih harus mengambil tes masuk, tapi aku sangat bersemangat dengan peluang ini."


Ahmad: "Pasti ada alasan mengapa mimpi-mimpimu terkoyak hari ini. Tuhan mungkin merencanakan sesuatu yang lebih baik untukmu di masa depan."


Sulis tersenyum dan mengangguk. "Aku percaya itu juga. Aku akan mempersiapkan diri untuk tes masuk. Terima kasih, Ahmad, kamu benar-benar sahabat yang luar biasa."


Ahmad mengangkat bahu dan tersenyum. "Kami saling mendukung, Sulis. Aku selalu ada untukmu."


Sulis merasa bersemangat dan terinspirasi oleh sahabatnya, dan ia mengetahui bahwa meski lembaga pendidikannya tidak menerima dirinya sekarang, ia akan selalu memiliki pengalaman menyenangkan dengan seni yang dicintainya dan dukungan dari sahabat-sahabat terbaiknya.


Sulis: "Kamu tahu, Ahmad, kadang aku merasa rendah diri dan tidak cukup baik."


Ahmad: "Kenapa kamu berpikir begitu, Sulis?"


Sulis: "Karena aku gagal dalam ujian masuk ke sekolah seni yang aku inginkan."


Ahmad: "Sul, satu kali kegagalan tidak menentukan siapa kita."


Sulis: "Tapi semua teman-teman yang ikut ujian sama-sama diterima, kecuali aku."


Ahmad: "Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Mereka mungkin memiliki kelebihan yang kamu tidak miliki atau merekalah yang membuat keputusan yang tepat untuk memilih kamu sebagai teman mereka."


Sulis: "Aku memang merasa minder kadang-kadang."


Ahmad: "Jonathan Swift pernah berkata, 'seorang yang senantiasa merenung semua kesalahannya, akan menghabiskan seluruh waktunya dalam kesengsaraan.' Maka, buang jauh-jauh rasa mindermu dan mulailah menghargai diri sendiri. Kamu adalah pribadi yang luar biasa. Jangan sampai sepucuk surat itu menggugurkan semangatmu dalam apa yang kamu cintai."


Sulis tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Ahmad. Aku akan selalu ingat kata-katamu dan akan selalu mencoba menjadi lebih baik."


Ahmad: "Sudah malam. Aku rasa sudah saatnya kita pulang."


Sulis: "Iya, mungkin aku harus istirahat dulu. Terimakasih sudah menemani aku hari ini."


Ahmad: "Tidak usah terima kasih, Sul. Kita akan saling mendukung dan membantu satu sama lain, bukan? Kapanpun kamu butuh bantuan atau seseorang untuk diajak berbicara, aku akan selalu ada untukmu."


Sulis: "Aku beruntung punya teman sepertimu, Ahmad."


Ahmad: "Sama-sama, Sul. Kita harus saling mendukung di saat-saat sulit seperti ini."


Mereka berjalan bersama ke pintu universitas, di bawah lampu jalan yang remang-remang. Sulis menoleh ke belakang dan melihat sekilas lembaran harapan yang terkoyak, lalu tersenyum. Dia merasa lebih kuat setelah berbicara dengan Ahmad, dan dia tahu bahwa dia akan melakukannya dengan baik meskipun menghadapi rintangan di masa depan.


Sulis melambaikan tangan pada Ahmad, lalu melangkah keluar dari universitas, berjalan menuju rumahnya sambil membawa sebuah harapan baru di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2