
Bab 59: menumbuhkan keberanian diri
Sulis memimpin Ahmad menuju ke belakang rumahnya. Dia menunjukkan sebuah kebun yang dikelilingi oleh pagar bambu.
"Di sini, Ahmad. Ini adalah tempat kami menyimpan sayuran dan bunga-bungaan," kata Sulis.
Ahmad melihat sekeliling. Kebun itu tampak hidup dan subur. Beberapa bunga sedang berbunga, sementara beberapa tanaman sayuran tumbuh dengan baik.
"Sangat indah," kata Ahmad.
Sulis tersenyum. "Terima kasih. Saya suka merawat kebun ini. Saya berharap dapat menunjukkan kepadamu cara merawatnya dengan baik."
Ahmad tersenyum sambil mengangguk. "Saya berharap bisa belajar darimu, Sulis."
Namun, Sulis mengamati ekspresi Ahmad. Ada rasa takut yang terlihat di matanya. Sulis tahu bahwa Ahmad terkadang merasa takut saat dihadapkan pada tanaman atau hewan yang baru baginya.
"Sambil menanam sayuran, kita juga akan menumbuhkan keberanianmu," ujar Sulis.
Ahmad menatap Sulis dengan penuh keheranan. "Apa maksudmu?"
Sulis mengambil towel yang digunakan untuk mencabut rumput liar. "Ketika kita menumbuhkan tanaman, kita juga harus menghilangkan rumput liar dan hama yang mengganggu tanaman. Itu memerlukan keberanian dan ketekunan."
Ahmad memperhatikan towel dan mengangguk. "Saya mengerti."
"Baiklah, sekarang kita mulai menanam sayuran. Pertama-tama, kita akan menanam tomat." Sulis memberikan sebuah bibit tanaman tomat ke Ahmad. "Silakan gali lubang di tanah dan tanamlah benih tomat itu."
Ahmad mengambil towel dan menggali lubang di tanah. Dia menanam bibit tomat dengan hati-hati. Sulis membantunya menutupi akar dan memberi air.
__ADS_1
Saath mulai merasa nyaman dan mulai berbicara dengan Sulis. "Sulis, kenapa kamu bisa begitu pandai merawat taman dan kebun ini?"
Sulis tersenyum. "Dulu kala, saya juga takut dan tidak memiliki pengalaman dalam berkebun. Namun, saya belajar dengan mengamati dan mempraktikkan. Perlahan-lahan, saya bisa merawat ini dengan baik."
Ahmad mengangguk. "Aku berharap bisa terus belajar darimu, Sulis."
Sulis tersenyum, merasa senang karena Ahmad mulai memperlihatkan keberanian dan semangat untuk belajar. Dia berharap, keberanian dan semangat itu akan terus tumbuh dan berkembang bersama Ahmad di masa depan.
Setelah menanam beberapa jenis sayuran, Sulis menyuruh Ahmad untuk membersihkan daerah di sekitar tanaman dari rumput liar. Ahmad sedikit terlihat ragu-ragu, tetapi Sulis memberinya semangat.
"Kamu bisa melakukannya, Ahmad! Ayo, kita bersihkan rumput ini bersama-sama," ujar Sulis dengan penuh semangat.
Ahmad mengangguk dan mulai membersihkan rumput liar di sekitar tanaman dengan hati-hati. Sedikit demi sedikit, ia menjadi semakin percaya diri dan berani. Sulis menjadi senang melihat perkembangan Ahmad.
"Sudah banyak perubahan dalam dirimu, Ahmad. Kamu menjadi semakin percaya diri dan berani. Aku bangga denganmu," ujar Sulis dengan penuh kebanggaan.
Sulis tersenyum, ia merasakan kepuasan dan senang bisa membantu Ahmad. "Aku senang bisa mengajarimu. Jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan masukan. Kita bisa belajar bersama-sama."
Saat matahari semakin tinggi, Sulis meminta Ahmad untuk istirahat sambil menikmati buah-buahan segar dari kebunnya. Ahmad mengucapkan terima kasih dan mereka berdua makan bersama.
"Apa kamu memiliki mimpi besar, Sulis?" tanya Ahmad.
Sulis tersenyum, merenung sejenak sebelum menjawab. "Aku bermimpi bahwa kebun ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat sekitar untuk belajar membuat tanaman dan menanam sayuran sendiri. Aku merasa bahwa kita bisa membantu masyarakat menjadi lebih mandiri dan merawat lingkungan sekitar kita dengan baik."
Ahmad mengangguk seraya tersenyum penuh penghargaan. "Kamu memiliki mimpi yang mulia dan luar biasa, Sulis. Aku percaya bahwa kamu bisa mewujudkannya."
Sulis tersenyum. "Terima kasih, Ahmad. Kita bisa membuat mimpi itu menjadi kenyataan bersama-sama."
__ADS_1
Dalam hati, Sulis merasa bahagia karena mendapat dukungan dari Ahmad. Mungkin perjalanan masih panjang, tetapi setidaknya Sulis telah menemukan teman yang dapat mendukungnya dalam mewujudkan mimpi besar tersebut.
Setelah makan bersama, Sulis dan Ahmad kembali ke kebun. Mereka melanjutkan pekerjaan membersihkan area di sekitar tanaman dari rumput liar. Ahmad semakin mahir dan percaya diri dalam membersihkan rumput liar.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara tawa dan teriakan dari arah jalan raya. Mereka melihat sekelompok remaja yang melemparkan sampah sembarangan dan merusak tanaman-tanaman di sekitar kebun Sulis.
Sulis merasa kesal dan marah. Ia berjalan mendekati mereka dan memberikan sedikit teguran. "Hei, kenapa kalian membuang sampah sembarangan dan merusak lingkungan ini? Jangan lakukan hal yang merugikan lingkungan dan orang lain!"
Remaja-remaja itu hanya menganggap Sulis dan Ahmad seorang gadis muda dan seorang remaja biasa. Mereka tidak menghiraukan teguran Sulis dan justru melemparkan sampah lebih banyak lagi.
Ahmad merasa Sulis dalam bahaya dan melepaskan sarung tangan yang ia kenakan. Ia meminta remaja-remaja itu pergi dari kebun Sulis dan memperingatkan mereka bahwa Sulis dan kebunnya harus dihargai.
Setelah remaja-remaja itu pergi, Sulis mengucapkan terima kasih pada Ahmad. "Terima kasih, Ahmad, kamu telah membantu dan melindungi saya. Kamu merupakan teman yang baik dan setia."
Ahmad hanya tersenyum dan merasa senang karena bisa membantu temannya. Ia merasa bahwa Sulis menciptakan lingkungan yang positif dan lika-liku hidup yang menyenangkan.
Dalam hati, Sulis berterima kasih pada Allah yang telah memberikan teman seorang Ahmad, dia merasa bahwa Ahmad adalah sahabat terbaiknya. Dalam kebersamaan, mereka mengharapkan kehidupan yang lebih baik untuk mereka dan masyarakat sekitar yang bisa terus belajar dan mengembangkan diri melalui kebun itu.
Sulis dan Ahmad senang dan puas dengan pekerjaan yang telah mereka selesaikan di kebun. Mereka berdiri di tengah kebun, sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah mereka. Sulis menatap sekeliling kebun dengan bahagia dan merasa bangga dengan karyanya.
Ahmad melihat Sulis dengan tatapan penuh kekaguman dan berkata, "Kebun ini akan menjadi tempat yang indah dan menyenangkan bagi banyak orang. Dan semuanya berawal dari visi dan usaha kerasmu, Sulis."
Sulis tersenyum bahagia, "Terima kasih, Ahmad. Aku senang karena bisa membuat lingkungan sekitar menjadi lebih baik dan sehat melalui kebun ini. Dan aku sangat berterima kasih karena ada teman-teman seperti kamu yang selalu siap membantu."
Mereka berdua saling memandang, dengan kebersamaan dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka. Mereka merasa, selama mereka bekerja bersama, mereka mampu menciptakan sesuatu hal yang indah dan berarti bagi masyarakat sekitar.
Dalam hati, mereka berdoa agar kebun ini dapat terus menjadi tempat yang indah dan memberikan manfaat bagi banyak orang, serta semakin meningkatkan kebersamaan dan kebahagiaan dalam hidup mereka.
__ADS_1