LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
SEPI DAN HAMPA DI PUNCAK KETENARAN


__ADS_3

“Deon!”


            “Deon!”


            “Deon!”


            Teriakan penggemar Deon menggema ke seluruh arah, ketika Deon baru saja turun dari mobilnya untuk menghadiri


festival film di mana dirinya dinominasikan menjadi salah satu aktor terbaik tahun


ini.


            Jika Deon menang lagi tahun ini,


maka ini akan jadi ketiga kalinya Deon memenangkan satu dari beberapa


penghargaan bergengsi di negara ini.


            “Kamu baik-baik saja, Deon?”


            Deon melirik ke arah manajernya-Niel,


masih dengan memasang senyuman di bibirnya. “Aku baik-baik saja. Hanya saja,


sedikit sesak rasanya.”


            Niel yang paham maksud dari ucapan


Deon, langsung memberikan instruksi kepada para penjaga Deon untuk memberi


ruang yang lebih besar kepada Deon dengan cara menghalau penggemar Deon lebih


ketat lagi.


            Huft!! Deon menghela napas


karena ruang yang lebih banyak baginya untuk bernapas dan sedikit menjauh dari


teriakan para penggemarnya yang memanggil-mannggil namanya.


            Deon masuk ke dalam aula acara


festival dan duduk di kursi yang dilabeli dengan namanya.  Niel memberikan botol minuman air mineral dan


sapu tangan yang mungkin dibutuhkan oleh Deon. “Kalau butuh sesuatu, menoleh


saja ke belakang dan aku akan langsung menghampirimu.”


            “Ehm.” Deon menganggukkan kepalanya


sedikit membalas Niel.


            “Ada lagi yang kamu butuhkan?”


            “Riasan dan rambutku, baik-baik saja


kan??” tanya Deon.


            Niel mengacungkan jempolnya. “Kamu


terlihat sempurna.”


            “Kalo gitu, aku tak perlu apa-apa


lagi.”


            Buk! Niel menepuk bahu Deon tepat


sebelum pergi. “Semoga beruntung, Deon!! Kerja kerasmu pasti akan membuahkan


hasil!”


            “Ehm!”


            Acara festival dimulai. Dan setelah


satu jam lebih, nominasi yang ditunggu-tunggu Deon akhirnya mendapatkan


giliran. Nominasi aktor dan aktris terbaik tahun ini adalah nominasi terakhir di


mana nominasi itu adalah puncak dari seluruh nominasi dalam acara ini.


            “Selamat kepada aktor Deon!!”


            Prok, prok!! Seluruh pengunjung


acara baik penggemar, kalangan aktris dan aktor langsung bertepuk tangan ketika


nama Deon muncul sebagia pemenang dalam penghargaan aktor terbaik di tahun


ketiganya.


            “Selamat aktor Deon!”


            “Selamat aktor Deon!”


            “Selamat aktor Deon!”


            Ucapan selamat terdengar dari


kalangan aktor dan aktris yang dilewati Deon menuju panggung acara untuk

__ADS_1


menerima piala penghargaannya.


            “Terima kasih.” Deon berulang kali


membalas ucapan selamat itu sembari memasang senyum tipis sebagai tanda sikap


rendah hatinya kepada publik.


            Festival film hari itu berakhri


dengan Deon menjadi bintang utamanya untuk ketiga kalinya. Dengan memegang


piala penghargaan ketiganya dan berdiri di atas panggung di mana semua lampu


dan kamera menyorot padanya, Deon harusnya merasa bahagia akan pencapaiannya


selama tiga tahun ini yang sangat menakjubkan. Semua orang merasa bangga pada Deon karena di umurnya yang masih 27 tahun, Deon mampu mempertahankan posisi


aktor terbaik selama tiga tahun berturut-turut. Deon harusnya merasakan hal yang sama, hanya saja dalam hatinya saat ini … perasaan lain muncul.


            “Deon!”


            “Deon!”


            “Deon!”


            Aku merasa hampa.


            Ketika semua penggemar meneriakkan nama Deon, ketika semua mata, semua kamera, semua


cahaya dan semua perhatian, tertuju pada Deon, perasaan itulah yang muncul di


dalam hati Deon.


            *


            “Ada apa dengan Deon??” Okta-Direktur


agensi Deon bertanya kepada dokter psikologi yang sedang memeriksa Deon karena selama beberapa hari ini Deon tidak bisa tidur dengan tenang.


            “Aktor Deon mungkin mengalami


depresi karena tekanan yang selama ini dirasakan.”


            “Depresi??” Okta kaget mendengar penjelasan


dokter yang memeriksa Deon.


            “Ya, Pak. Aktor Deon mungkin tak


sadar jika selama bekerja sebagai aktor, menahan banyak perasaan. Perasaan yang


Deon berada di posisi puncak, perasaan yang menumpuk itu mulai menyerang.”


            “Apa tidak ada obatnya?”


            Dokter yang memeriksa Deon


menggelengkan kepalanya. “Depresi bukan penyakit, tapi gangguan suasana hati.


Saat ini Aktor Deon masih belum mengalami menunjukkan gejala  depresi tapi jika ini terus berlanjut mungkin akan berbahaya bagi kariernya. Untuk saat ini selain konsultasi, saya sarankan aktor Deon untuk istirahat seperti liburan untuk mengganti suasana hatinya yang memburuk.”


            “Liburan??” Okta mengulang lagi


sembari melirik Deon dan Niel-manajer Deon.


            “Ya, Pak. Mengganti suasana adalah


cara yang baik untuk memperbaiki suasana hati. Kalo bisa lokasi liburan itu


adalah tempat di mana aktor Deon tak merasakan jika dirinya adalah aktor,


bintang dan orang terkenal.”


            “Niel!!” panggil Okta.


            “Ya, Pak.” Niel mendekat pada Okta.


            “Kamu punya saran untuk masalah


liburan Deon??”


            “Bagaimana dengan pedesaan, Pak??”


Niel mencoba memberikan ide yang terlintas dalam benaknya.


            “I-itu ide yang bagus.” Okta masih


merasa sedikit ragu. “Tapi apa ada pedesaan yang tak mengenal Deon?? Kamu tahu


kan Deon sekarang adalah aktor nomor satu di negara ini!!”


            “Desa tempat saya berasal, Pak.


Bapak kan tahu sendiri, saya ini orang dari desa yang cukup jauh dan cukup


terpencil. Untuk sampai ke desa asal saya, saya harus melakukan perjalanan yang


cukup jauh karena tidak bisa menggunakan pesawat.” Niel menjelaskan.


            “Kamu yakin?”  tanya Okta.

__ADS_1


            “Cukup yakin, Pak.”


            “Kenapa kamu yakin?” tanya Okta


lagi.


            “Ka-karena saya tidak pernah bilang


pada orang desa saya jika saya bekerja sebagai manajer artis, Pak. Ditambah


lagi desa di mana saya berasal itu cukup sulit untuk mendapatkan sinyal internet, Pak. Jadi saya yakin orang-orang di sana tidak akan mengenali aktor Deon.”


            Okta menimbang-nimbang sejenak


sebelum akhirnya melihat ke arah Deon yang diam sejak tadi. “Deon! Bagaimana


denganmu?? Kamu mau ke sana??”


            “Terserah. Kalo seperti penjelasan


Niel, tempat itu harusnya bukan pilihan buruk.”


            Okta tersenyum mendengar jawaban


Deon. “Satu bulan cukup??”


            “Ya,” balas Deon.


            Buk!! Okta menepuk keras bahu Niel.


“Bagus!! Kalo begitu Niel, kamu sekalian ikut liburan! Bukankah sudah lima tahun lamanya kamu nggak pulang kampung karena terus menemani Deon??”


            “Saya boleh ikut, Pak??” Niel


tersenyum senang mendengar tawaran Okta.


            “Jelas kamu harus ikut, Niel! Anggap


saja sekalian kamu liburan di sana!! Kapan lagi kamu bisa pulang lama ke


kampung halamanmu, Niel??”


            Tiga hari kemudian.


            Setelah perjalanan yang melelahkan


selama satu hari satu malam, Deon bersama dengan Niel akhirnya tiba di desa


tempat Niel berasal.


            “Ba-bagaimana??” tanya Niel.


            Huft!! Deon menghirup udara di desa


Niel dan mengembuskan napas panjang. “Nggak buruk. Udaranya segar sekali.”


            “Te-terima kasih. Kalo begitu


silakan masuk ke dalam rumah. Di sini saya hanya tinggal bersama dengan Ibu dan


Nenek saya. Di sebelah sana adalah rumah kakak saya dengan suami dan anaknya.”


            “Niel??” panggil Deon.


            “Ya, Deon.”


            “Selama di sini, panggil aku dengan


namaku.”


            “Bukannya aku selalu memanggil


namamu selama ini??” Niel bingung mendengar permintaan Deon.


            “Bukan nama panggungku tapi namaku


yang sebenarnya-Dewangkara,” jelas Deon. “Panggil aku dengan nama Dewa atau


Dewangkara!”


            Niel menganggukkan kepalanya.


“Selama di sini, aku akan memanggilmu dengan nama Dewa.”


            Deon tersenyum melihat punggung


manajernya. Niel adalah manajernya selama lima tahun dan telah menemaninya dari


posisi paling bawah hingga ke posisi paling atas. Niel yang lebih muda darinya dua tahun, nyatanya lebih dewasa dari Deon. Di saat Deon merasa tak mampu atau kehilangan kepercayaan dirinya, Niel adalah orang pertama yang selalu memberikan semangat padanya.


            Jadi kali ini, Deon sengaja menerima


ide Niel agar membuat Niel pulang ke rumahnya setelah lima tahun terus ada di


sisinya.


            Semoga di sini, aku bisa merasa


lebih baik. Deon membuat doa kecil sebelum mengikuti Niel masuk ke rumahnya


di mana Ibu dan Neneknya menunggu.

__ADS_1


__ADS_2