LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
TEMAN BARU


__ADS_3

            Begitu membuka mata, Deon menemukan dirinya berada di rumah sakit. Deon menatap sekelilingnya dan menemukan Okta menatapnya dengan air mata.


            “Deon, akhirnya kamu bangun juga.”


            Di samping Okta, Niel duduk dan memandangnya dengan tatapan yang sama dengan Okta: lega dan bersyukur.


            “Jangan melihatku begitu!!” Deon mencoba bangkit dari tidurnya dengan dibantu Niel. “Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di rumah sakit??”  Deon memegang kepalanya yang masih merasa pusing.


            “Kita jatuh dan pingsan. Kepalamu sedikit membentur batu, berdarah dan akhirnya membuat kamu pingsan. Kamu nggak ingat?” balas Niel.


            Deon menatap tajam ke arah Niel mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan ingatan Deon merespon sinyal dari otaknya yang memintanya memutar kembali ingatan terakhirnya. Benar! Waktu itu kami melayang. Kami bergerak ke tempat yang lebih aman. Sayangnya sebelum mendarat, sesuatu yang membuat kami melayang tiba-tiba menghilang dan membuat kami semua tertarik gravitasi yang kuat. Aku ingat, aku benar-benar tidak siap dengan keadaan itu karena mataku yang terus menatap Algiz.


“Kalo aku ingat, aku nggak akan tanya! Bagaimana dengan gempanya? Korban lainnya??” Deon membalas dengan nada sedikit ketus.


“Gempanya sudah berhenti. Setelah gempa susulan sekitar sepuluh kali, proses evakuasi mulai dilakukan. Kebetulan, kita dievakuasi pertama karena berada di dekat rumah sakit.”


“Apa bangunan ini aman??” tanya Deon memastikan.


“Tenang saja. Ini rumah sakit terbaik milik pemerintahan.” Okta membuka mulutnya. “Kamu akan aman di sini.”


“Ehm.” Deon menganggukkan kepalanya paham. “Gedungmu gimana?”


Deon bertanya pada Okta karena melihat Okta berada di sampingnya dan bukan sibuk mengurus perusahaan dan agensinya.


“Tenang saja, Deon. Perusahaan kita baik-baik saja! Gedungnya aman dan semua orang aman.” Okta tersenyum untuk meyakinkan Deon.


“Baguslah kalo begitu.” Deon merasa lega.


            Berita hari ini: gempa dengan kekuatan 7,1 skala richter mengguncang kota J dan membuat semua bangunan porak poranda. Korban diperkirakan mencapai ratusan orang ditambah lagi kerugian yang menacapai milyaran rupiah. Hingga kini proses evakuasi masih berjalan untuk mencari korban-korban yang tertimpa reruntuhan bangunan.


            Klik. Deon mematikan TV di kamar VIP-nya karena merasa sudah cukup dengan berita yang didengarnya. Tapi Deon merasa ada yang hilang dari berita itu. Deon yang hendak melempar remot TV, mengurungkan niatnya dan sekali lagi-klik-menyalakan TV untuk mencari berita.


            Klik.


            Klik.

__ADS_1


            Klik.


            Deon mengganti saluran TV beberapa kali karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Kenapa tidak ada?? Kenapa berita mengenai Algiz dan rekannya tidak ada?? Deon yang masih tidak menyerah, terus mencari berita itu hingga tangannya berhenti mengganti saluran TV.


            Berita hari ini: manusia yang bisa terbang. Di tengah kegemparan gempa yang terjadi dan banyaknya jumlah korban yang tewas dan hilang, kami menemukan sebuah rekaman mengenai kelompok yang berusaha untuk melindungi korban gempa. Kami yakini jumlah korban tewas yang tidak banyak mengingat besarnya guncangan dan kerusakan, disebabkan oleh kelompok tersebut. Pasukan Penaggulangan Bencana-organisasi kelas internasional itu berhasil menyelamatkan banyak nyawa dalam gempa yang menyerang kota J kali ini.


            Pasukan Penanggulan Bencana di bawah Serikat Kebangsaan adalah organisasi kelas internasional yang bergerak secara rahasia. Mereka merahasiakan identitas mereka selama bertugas. Setiap anggotanya diyakini memiliki kemmapuan khusus karena bertahan hidup dari bencana mematikan sepuluh tahun yang lalu.


            Menurut sumber kami, anggota dari organisasi tersebar di seluruh dunia dengan menyembunyikan identitasnya. Menurut sumber kami juga, terdapat tiga kelas anggota dalam organisasi Pasukan Perlindungan Bencana. Kelas terendah, kelas menengah dan kelas tertinggi. Tiga kelas itu memiliki ciri khusus menggunakkan kode nama. Kelas terendah menggunakan angka sebagai nama mereka. Kelas menengah menggunakan nama dewa sebagai kode nama mereka dan kelas tertinggi menggunakan huruf rune sebagai kode nama mereka.


            Berapa banyak jumlah anggota mereka, kami tidak bisa menemukannya lebih jauh lagi. Hanya saja menurut sumber kami, anggota kelas teratas dari Pasukan Perlindungan Bencana berjumlah tujuh orang. Video rekaman yang kami temukan diyakini sebagai satu dari tujuh anggota kelas teratas Pasukan Penanggulanan Bencana.


            Klik.


            Niel merebut remot TV setelah meletakkan nampan makanan dan mematikan TV yang membuat Deon tidak sadar jika Niel sudah kembali.


            “Kamu nggak istirahat malah lihat berita??” Niel mengomel.


            “Kamu sendiri?? Kamu juga korban gempa itu, kenapa malah mengurusku dan nggak istirahat??” balas Deon.


            Tidak sepertinya dirinya, Niel terlihat baik-baik saja. Mungkin karena sejak kecil hidup dengan jadwal yang berat sebagai anak dari pemilik ladang di desa, Niel cukup tahan banting di saat-saat genting seperti gempa waktu itu.


            “Bagaimana dengan kamu??” Deon mengambil sendok makannya dan hendak makan. “Sudah makan?”


            “Terima kasih untuk perhatiannya. Aku sudah makan.”


            Nyam, nyam.


            Untuk sementara keadaan sunyi ketika Deon memakan makanannya. Niel sibuk dengan ponselnya dan buku agendanya. Niel mulai menunda semua jadwal Deon untuk seminggu ke depan karena keadaan tak terkendali saat ini.


            Kaak, kaaak!! Deon yang makan dengan tenang, tiba-tiba melihat beberapa burung beterbangan di dekat kamarnya.


            “Niel!!” panggil Deon.


            “Ya? Kenapa? Apa makanannya nggak enak??” Niel bertanya sembari terus menatap ponselnya dan sesekali melihat agendanya.

__ADS_1


            “Itu … “ Deon menunjuk ke arah balkon kamarnya. “Bisa tolong kamu buka pintunya??”


            Niel mengangkat kepalanya dan menatap ada beberapa burung yang beterbangan di luar pintu kaca balkonnya. “Ada kawanan burung. Bukannya kamu takut dengan mereka?”


            “Buka saja. Aku hanya ingin merasakan angin dari luar.” Deon memaksa.


            “Kamu yakin??”


            “Ya.”


            Niel membuka pintu sekaligus jendela balkon di kamar Deon dan langsung membuat angin menyeruak masuk. Wusshhh! Niel yang masih merasa ragu, menunggu selama beberapa menit karena tidak ingin kawanan burung itu masuk ke dalam kamar Deon.


            Tapi-


            Wushhhh! Kaak, kaaak!


            “Deon, awas!!


            Beberapa burung melwati pengawasan Niel dengan mudahnya dan langsung menyampar tangan Deon yang dalam posisi memberikan makanan untuk burung.           


            Niel dengan panik langsung menghampiri Deon dan berniat untuk melindunginya. Tapi melihat Deon baik-baik saja dan bahkan tertawa kecil melihat burung-burung yang datang padanya, membuat Niel kaget bukan main.


            “Deon, kamu!! Bukannya kamu takut dengan hewan?? Kenapa sekarang kamu malah tertawa melihat mereka datang padamu??”     


            Wushhh!! Meski hanya satu atau dua, burung-burung itu terbang masuk dan keluar dari jendela kamar Deon dan menerima makanan yang Deon taruh di tangan kirinya. Deon tertawa kecil melihat burung-burung itu.


            “Deon??” Niel mendesak Deon hingga memastikan Deon dengan mendekat padanya. Niel bahkan mencubit kecil pipi Deon untuk memastikan jika Deon tidak sedang tidur dan bermimpi.


            “Tenang saja, Niel. Aku sudah nggak takut dengan mereka.”


            “Kenapa tiba-tiba?? Sejak kapan?” Niel bingung.


            “Teman baruku yang mengajariku.”


            “Teman baru?? Siapa??” desak Niel. “Kenapa aku nggak tahu kalo kamu punya teman baru, Deon??”            

__ADS_1


            Deon tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Niel. Dalam benaknya, Deon membayangkan Algiz dan berpikir bahwa Algiz mungkin berada di atap rumah sakit tempatnya berada. Kita pasti ketemu lagi.


           


__ADS_2