LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
SKENARIO YANG MENARIK


__ADS_3

            “Apa masih belum ada naskah film yang menarik untukmu??” Okta mengajukan pertanyaan kepada Deon setelah keadaan mulai berangsur membaik. Karena gempa yang terjadi dan kerusakan yang ditimbulkannya, Deon dan Okta sepakat untuk menunda jadwalnya dan ikut terjun ke jalan untuk membantu korban-korban gempa.


            “Ada beberapa yang membuatku tertarik. Aku bisa mengambilnya, hanya saja aku masih merasa ragu. Karena peran yang ditawarkan kebanyakan adalah peran-peran yang pernah aku mainkan dan itu menurutku kurang menantang.” Deon memberikan penilaiannya.


            “Kamu ingin main film apa? Action, horror, thriller atau mungkin romance?? Bukankah kamu sudah lama nggak main genre romance?” Okta ingat penghargaan pertama yang membuat Deon terkenal didapatnya dari main film romance.


            “Sebenarnya aku ingin main genre itu lagi? Apa aku boleh mengambil genre itu lagi?” Deon bertanya pada Okta.


            “Kenapa nggak??” Okta tersenyum. “Sebagai aktor utama di agensi ini dan telah membawa agensi ini menjadi agensi yang besar, kamu punya hak untuk memilih. Bagaimana pun kamu sudah jadi aktor berpengalaman yang bisa menilai kemampuan dirimu sendiri, Deon!”


            “Kalo gitu … bisa carikan genre itu untukku? Jujur saja selama dua tahun terakhir ini bermain film action dan thriller sudah membuatku sedikit lelah.”


            “Kalo gitu … “ Okta bangkit dari duduknya, berjalan ke mejanya dan mengambil beberapa naskah yang sudah disaringnya dengan sangat hati-hati. Okta memberikan naskah itu kepada Deon. “Aku sudah menduga kamu mungkin merasa penat karena dua tahun ini terus bermain film di genre yang sama. Aku sudah menyaringnya dengan sangat hati-hati dan ini adalah beberapa naskah film dengan genre romance. Hanya saja … beberapa di antara tetap dibumbuhi dengan genre lain seperti action dan horror. Kamu pilih dengan baik.”


            Deon dengan cermat memilih naskah-naskah yang sudah disaring oleh Okta.  Ada lima naskah dengan genre utama romance. Naskah pertama bercerita tentang cinta masa SMA yang kemudian terpisah karena tragedi. Naskah kedua bercerita tentang cinta yang dipisahkan oleh kematian. Naskah ketiga adalah kisah cinta yang sempat terpisah selama beberapa tahun sebelum akhirnya kembali bertemu. Naskah keempat adalah kisah cinta seorang pria pada wanita. Namun karena masalah keluarganya pria itu terpisah dengan wanita yang dicintainya dan justru bertemu dengan kembaran wanita itu. Pria itu kemudian salah mengenali kembaran kekasihnya karena wajah mereka yang sama.


            Ini cukup bagus. Naskah keempat cukup menarik perhatian Deon. Hanya saja di mata Deon sebagai aktor, naskah itu masih belum cukup baik.


            Naskah kelima sekaligus naskah terakhir adalah naskah tentang seorang pria yang jatuh cinta kepada wanita yang seharusnya tidak dicintainya. Wanita itu telah memiliki calon suami dan terikat takdir yang mana wanita itu tidak akan bisa keluar dari desa tempatnya tinggal. Nama tokoh pria utama dalam naskah itu adalah Akmana dan nama tokoh utama wanitanya adalah Madaharsa.


            Ini!! Mengenali naskah yang mirip dengan nama-nama orang dalam mimpinya, Deon melihat kembali judul naskah itu: Long Journey to You dan nama penulis yangt tertera di bagian sampulnya: Madaharsa.


            “Naskah ini??” Deon bertanya kepada Okta dengan tatapan mata penuh penasaran.  “Siapa nama penulis aslinya??”


            “Aku tidak tahu. Penulisnya menggunakan nama pena dan semua data yang dikirimkannya adalah data dari wakilnya.”


            “Wakil???” Deon mengulangi kata itu.


            “Ya.” Okta menganggukkan kepalanya. “Tapi melihat wakilnya bicara dalam bahasa asing, aku rasa penulisnya mungkin adalah orang asing. Kenapa?? Kamu tertarik dengan naskah itu??”


            “Aku akan mengambil peran ini. Akmana, aku ingin memerankan peran itu.”

__ADS_1


            Prok, prok! Okta menepuk bahu Deon dengan wajah puas. “Kamu memilih naskah yang bagus. Aku juga setuju naskah itu adalah naskah yang bagus. Ceritanya menarik. Sayangnya … bagian akhir dari naskah itu masih dalam tahap pengerjaan. Kamu mau menunggu??”


            “Tak masalah. Gimana dengan sutradara dan krunya? Castingnya kapan?” Deon tidak sabar.


            “Tenang saja, aku sudah dapat jadwalnya. Nanti aku akan minta Niel untuk mengaturnya untukmu.”


            *


            “Kamu benar-benar mengambil naskah ini, Deon?” tanya Niel kaget.


            “Kenapa? Aku tidak boleh mengambilnya??” Deon melirik tajam ke arah Niel. “Okta bilang naskah itu bagus dan aku pasti akan mampu memerankannya.”


            “Kalo masalah kemampuanmu, aku nggak ragu lagi. Hanya saja setelah sekian lama, kamu akhirnya mau mengambil naskah genre ini lagi. Aku hanya merasa sedikit heran saja.” Niel menjelaskan apa yang ada di dalam benaknya.


            “Aku hanya ingin ganti suasana. Setelah semua hal yang terjadi belakangan ini, aku rasa aku perlu mengganti suasana termasuk pekerjaan.”


            “Itu ide yang bagus. Casting untuk naskah ini akan dilakukan minggu depan. Bagaimana dengan naskah keempat, apa kamu juga akan mengambilnya?” Niel bertanya sembari membuat jadwal untuk Deon.


            “Bagus. Ini awal yang bagus. Melihatmu fokus seperti ini, aku yakin kamu akan memenangkan penghargaan lagi tahun depan karena film ini.”


            Seminggu berlalu dengan cepat. Hari yang ditunggu Deon pun datang. Casting diadakan dan benar saja, Deon dengan mudah mendapatkan peran itu berkat mimpinya. Pendalaman Deon akan karakter Akmana sukses membaut sutradara dan orang yang mengcastingnya ikut tenggelam dalam peran Akmana.


            Pujian tiada hentinya datang pada Deon. Dari sutradara hingga kru yang kelak akan bekerja sama dengan Deon.


            “Deon.” Sebelum pergi dari ruang casting, sutradara memanggil Deon.


            “Ya, Pak.”


            “Bisakah aku mengajukan satu pertanyaan?” tanya sutradara.


            “Tentu. Apa yang Bapak ingin tanyakan?”

__ADS_1


            Glup. Deon menelan ludahnya karena tak sabar dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh sutradara Bima yang sudah terkenal sukses dengan semua proyeknya. Suatu kebanggan tersendiri buat Deon bisa bekerja sama dengan sutradara yang sudah berumur 60 tahunan dan masih aktif di dunia perfilman.


            “Kenapa tertarik dengan naskah ini? Padahal penulis naskah ini bukanlah penulis naskah terkenal di negara ini, mengingat kamu adalah aktor papan atas di negara ini.”


            Deon mengira pertanyaan seperti apa yang akan ditanyakan oleh sutradara terkenal itu, ternyata hanya pertanyaan sederhana. Ehm. Deon tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu. “Sama seperti Bapak, saya hanya suka dengan ceritanya. Satu lagi karena naskah ini masih dalam tahap penyelesaian, saya penasaran dengan akhirnya.”


            “Di masa depan, mungkin kita bisa sering bekerja sama, Aktor Deon. Pemikiran kita sama.”


            Deon tersenyum mendengar jawaban itu. “Suatu kehormatan bagi saya jika Bapak merasa senang bekerja sama dengan saya. Saya akan menantikan hal itu.”


            Malam harinya.


            Seperti biasanya Deon yang sudah janjian dengan Algiz, bertemu di atap gedung apartemen Deon dan menghabiskan dua jam dini hari bersama.


            “Hari ini lagu yang kamu putar adalah lagu riang. Apa ada yang membuatmu senang?” Algiz bertanya pada Deon.


            “Ya.” Deon menganggukkan kepalanya. “Aku dapat pekerjaan yang aku tunggu-tunggu selama seminggu ini, Rae!”


            “Berita bagus kalo gitu.”


            “Ya. Bulan depan mungkin aku nggak akan punya waktu untuk bertemu denganmu.” Deon bicara sembari berharap melihat reaksi Algiz mengenai pertemuan mereka yang mungkin tidak akan sering terjadi.


            “Tak masalah. Meski kamu tidak datang, aku akan selalu ke sini seperti sebelumnya. Jadi ketika kamu ingin bertemu denganku, aku akan selalu ada di sini.”


            Di balik masker hitamnya, Deon tersenyum. Deon menatap Algiz diam-diam dan berharap masker hitam yang terpasang di wajahnya dan wajah Algiz menghilang. Deon ingin sekali tahu bagaimana reaksi Algiz saat ini. Apa itu tersenyum, apa itu tersipu, apa itu malu atau mungkin sekedar wajah datar, Deon ingin tahu setiap reaksi di wajah Algiz. Sayangnya karena status pekerjaan Algiz, Deon hanya bisa menebak raut wajah Algiz dari sorot matanya.


           


 


 

__ADS_1


__ADS_2