
Dalam mimpi Deon, lokasi desa di mana Madaharsa tinggal adalah desa di kaki gunung di mana di balik gunung itu adalah pantai dengan pemandangan yang indah. Pemandangan itulah yang selalu jadi alasan Akmana untuk bertemu dan menghabiskan waktu dengan Madaharsa. Permandangan langit senja dan malam penuh bintang yang terlihat dari gunung itu adalah pemandangan yang indah. Deon yang melihatnya dalam mimpi juga setuju dengan pemikiran Akmana dalam mimpinya.
“Kelak jika kamu sudah kembali ke kotamu berada dan merindukan tempat ini dan aku, lihatlah ke langit. Berdoalah dan jika beruntung melihat bintang jatuh di sana, maka itu adalah tanda aku mendengar doamu!”
Dalam salah satu mimpi Deon yang belakangan ini muncul, Deon memimpikan hal itu-pemandangan malam penuh bintang antara dirinya dan Madaharsa di mana Madaharsa mengatakan pesan itu pada Deon.
“Bintang jatuh? Kenapa harus bintang jatuh?”
“Dalam cerita nenek moyang kami, benda pusaka yang dibawa oleh pembuat desa ini berasal dari bintang jatuh. Dalam cerita itu juga, katanya pembuat desa menyerang makhluk-makhluk yang dulu menghuni hutan dan gunung di sini seperti ratusan bintang jatuh.”
“Maksudnya hujan meteor??”
“Ya, mungkin kalian menyebutnya dengan cara seperti itu.”
Dan ketika Deon bangun dari mimpinya itu, Deon teringat hujan meteor di mana dirinya membuat harapan kecil. Dan semenjak itu, Deon terus memimpikan Madaharsa dan tak lama kemudian bertemu dengan Algiz.
Berdasarkan apa yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini: Algiz, Madaharsa, mimpi, hujan meteor, Isaz dan Baram, Deon merasa bahwa semuanya saling berhubungan dan hubungan itu dimulai dari kehidupan masa lalunya.
Aku harus tahu apa yang terjadi di masa lalu. Berdasarkan kalimat itu, Deon mulai mencari tahu apa yang terjadi dengan Madaharsa di masa lalu.
“Apa yang baru saja kamu tanyakan, Deon?” Niel bertanya karena kaget dan tidak percaya.
“Apa kamu punya teman yang kerja di bidang sejarah dan arkeolog?” Deon mengulangi pertanyaannya.
“Kamu aneh. Tidak biasanya kamu meminta hal ini?” Niel masih tidak percaya. “Apa ini ada hubungannya dengan proyek film itu?”
“Ya.” Deon setengah berbohong. “Aku merasa apa yang ditulis dalam skenario Long Journey to You itu bukan sepenuhnya karangan. Aku hanya ingin memastikannya saja. Jadi kamu punya kenalan yang aku tanyakan tidak?”
“Pu-punya.”
Jadi sebelum syuting dimulai, Deon bertemu dengan teman Niel-Virzha dan meminta bantuan Virzha untuk menemukan apapun yang berhubungan dengan kisah Madaharsa dan benda pusaka yang dijaganya.
Virzha menyetujui permintaan itu karena Virzha adalah penggemar Deon. Akan tetapi sayanganya tidak mudah bagi Virzha untuk menemukan sejarah itu. Butuh waktu bagi Virzha untuk menemukan apa yang diminta oleh Deon.
__ADS_1
Dan selagi menunggu, Deon melakukan pekerjaannya sebagai aktor dan melakukan syuting untuk proyeknya ‘Long Journey to You’. Lokasi yang dipilih untuk tempat syuting sedikit mirip dengan pemandangan yang dilihat Deon dalam mimpinya: desa di kaki gunung dengan pantai dan laut yang berada di balik gunung. Pemilihan lokasi ini membutuhkan waktu yang cukup lama bagi kru dan sutradara untuk menemukannya.
Menurut sutradara, naskah ini sebenarnya sudah masuk tahun lalu dan sudah masuk dalam daftar proyek yang akan dikerjakan. Dana dan kru sudah siap dalam waktu dua bulan, sayangnya lokasi yang digambarkan sulit untuk ditemukan.
“Ini tempat yang bagus.” Niel terpana ketika melihat pemandangan laut dan pantai di balik gunung.
“Benar. Ini pemandangan yang bagus dan langka. Di negara ini hanya ada tiga gunung dengan laut di baliknya. Satu di antaranya adalah gunung aktif dan berbahaya untuk dipilih sebagai lokasi syuting. Satu lagi adalah gunung yang merupakan lokasi cagar alam, jadi gunung itu juga dilarang sebagai lokasi syuting. Dan terakhir adalah gunung ini,” jelas sutradara pada Deon dan Niel. “Kita beruntung gunung ini adalah gunung kecil dan kebetulan di tengahnya ada gua yang jadi jalan pemotong gunung dan membuat kita bisa melihat apa yang ada di balik gunung hanya dalam waktu satu jam berjalan.”
“Apa guanya aman?” Niel mencoba memastikan keamana Deon.
“Ya. Menurut penduduk desa gua ini selalu mereka gunakan untuk memotong perjalanan naik dan turun gunung yang sebenarnya memakan setengah hari jalan kaki.”
Deon menatap pemandangan laut di hadapannya. Algiz, bagaimana kabarmu? Kita sudah lama tidak bertemu dan bicara.
*
“Akhhhh!!!”
“Madaharsa!! Kenapa denganmu?”
“Bertahanlah, Madaharsa!! Aku mohon, bertahanlah!!”
Entah sudah berapa banyak langkah kaki Deon yang melangkah, entah sudah berapa banyak energi yang Deon keluarkan dan entah sudah berapa banyak ucapan yang Deon katakan pada Madaharsa, Deon tidak bisa mengingatnya. Yang jelas begitu tiba di desa, Deon langsung menemui keluarga Baram yang mana Ayah Baram adalah kepala desa dan meminta mereka untuk memeriksa Madaharsa.
“Madaharsa!!” Baram berteriak cemas ketika melihat Madaharsa ada di punggung Deon.
“Penjaga!! Ada apa dengan penjaga?” Ayah Baram sekaligus kepala desa juga memasang wajah panik melihat Madaharsa di punggung Deon.
“Dia tiba-tiba berteriak kesakitan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya!” Deon berusaha menjelaskan dan seperti biasanya mulutnya bicara sebelum otaknya memberi perintah.
“Turunkan dan baringkan dulu di sini, Nak!” Kepala desa memberikan perintah kepada Deon sembari menunjuk ranjang sederhana di salah satu kamar rumahnya.
“Apa yang terjadi pada Madaharsa, Ayah?” Baram bertanya dengan raut wajah cemas di wajahnya.
__ADS_1
Wajah itu, raut itu. Melihat Baram saat ini, membuat Deon teringat akan Isaz yang menemuinya beberapa waktu lalu. Wajah dan raut Baram saat ini sama persis dengan raut wajah Isaz. Baram menatap penuh amarah pada Deon tapi sorot matanya adalah sorot mata khawatir dan cemas dan sorot itu ditujukan untuk Madaharsa.
“Akhh!!!” Madaharsa merintih kesakitan lagi.
“Apa yang sakit, Penjaga?” Ayam Baram sekaligus kepala desa, mencoba menemukan apa yang salah dengan Madaharsa.
“Jantungku serasa dipaku. Dadaku sakit sekali!” Madaharsa mencoba bicara meski terus merintih kesakitan.
“Gawat!!” Raut wajah kepala desa langsung berubah gelap setelah mendengar jawaban Madaharsa.
“Kenapa, Ayah?” tanya Baram.
“Ada yang masuk ke dalam tempat penyimpanan benda pusaka!”
“Apa Ayah yakin?”
“Ya. Ini tidak salah lagi. dalam Riwayat kakek buyutmu tertulis hal yang sama. Penjaga akan merasakan sakit di dadanya tepatnya jantungnya jika ada yang masuk tanpa ijin ke dalam tempat benda pusaka itu disimpan.”
Baram langsung melihat ke arah Deon dan menatap Deon dengan tatapan menuduh. “Ini pasti ulah teman-temanmu, Akmana!! Di mana temanmu??”
Apa?? Tangan Deon tiba-tiba saja bergetar. “Ini tidak mungkin! Madaharsa cerita bahwa dia bahkan tidak tahu di mana benda itu disimpan dan disembunyikan. Bagaimana temanku bisa menemukan benda itu bahkan ketika penjaganya saja tidak tahu??
Duarrr! Wuussshh!
“Gawat!! Badai akan datang!!” Kepala desa langsung panik. “Kalau kita tidak bisa menemukan orang yang masuk secara paksa, maka desa ini bersama dengan semua orang di dalamnya akan hancur. Benda itu akan meratakan tempat ini karena disentuh oleh orang yang bukan pemilkinya.”
__ADS_1