
“Kamu masih ingat janjimu padaku?” Deon langsung menagih janjinya pada sosok wanita yang dikenalinya dengan nama Algiz. Deon melepaskan earphonenya dan mematikan musik yang berputar. Tiba-tiba lagu-lagu yang jadi penghiburnya terasa tak menarik lagi.
“Ingatanku ini cukup baik, tentu aku tidak lupa.”
Sosok itu duduk tidak jauh dari Deon dan membuat Deon tersenyum melihatnya. Ini seperti mimpi-mimpiku selama ini. Jarak kami dekat. Perasaan familiar muncul dalam hati Deon.
“Kalo begitu kita sekarang teman kan?”
“Ya.” Algiz menjawab dengan singkat.
Deon mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Algiz. “Kalo begitu kenalkan namaku-“
“Stop!!” Algiz menyela dengan cepat tepat sebelum Deon menyebutkan namanya.
“Ya?? Kenapa?? Bukannya kita adalah teman?? Kalo mau jadi teman, tentu kita harus saling mengenalkan diri masing-masing.”
“Aku tidak keberatan mengenalkan diriku padamu. Tapi akan lebih baik jika aku tidak tahu siapa kamu, setidaknya namamu.”
Deon memiringkan kepalanya tidak mengerti. Apa ini karena pekerjaannya?? Deon mencoba memahami situasi tidak biasa dari Algiz. “Kalo kamu tidak ingin tahu namaku, bagaimana kalo aku memberimu nama samaran?”
“Ide yang bagus.” Algiz mengangguk kecil pertanda setuju.
“Dewangkara. Kamu bisa memanggilku dengan nama itu. Nama itu adalah nama samaran yang sering aku pakai.” Deon sekali lagi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan memulai pertemanan kecilnya dengan Algiz. Dia tentu tidak akan tahu jika nama asliku sebenarnya adalah Dewangkara dan bukan Deon. Jika masker di wajahku ini tidak terpasang, aku penasaran apakah dia masih mau jadi temanku?? Pertanyaan itu muncul di dalam benak Deon.
“Kamu bisa memanggilku dengan nama Rae.”
Algiz menerima uluran tangan Deon dan selama beberapa detik, keduanya terhubung karena jabatan tangan itu. Deon tersenyum senang karena jabatan tangan ini adalah awal yang baik baginya untuk terus berhubungan dengan Algiz.
Kenapa dia menyebutkan nama Rae? Mungkinkah itu nama asilnya sama seperti aku? Atau mungkin nama itu adalah nama yang biasa digunakannya sebagai nama samaran??
Algiz melepaskan jabatan tangannya dengan Deon. “Kenapa kamu bisa di sini? Di malam yang dingin ini, seorang diri?”
“Bosan. Kamu sendiri?” balas Deon.
“Bosan dan tidak bisa tidur.”
Deon melirik Algiz, tak berani melihatnya secara langsung. “Kamu juga dirawat di sini??”
“Ya, meski sudah sembuh. Tapi temanku masih dirawat di sini, jadi aku menemaninya.”
Teman? Mungkinkah rekan satu organisasinya?? Apakah pria bernama Isaz itu?? Dua kali aku bertemu, pria yang dipanggil dengan nama Isaz itu sepertinya memiliki hubungan dekat dengannya?? Deon menggaruk kepalanya karena merasa sedikit frustasi. Sial!! Aku tidak bisa bertanya padanya dan ini membuatku frustasi.
“Kenapa??”
“Ehh??” Deon kaget karena sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri. “Ya??”
“Menggaruk kepala itu. Kenapa??”
“Ha-hanya terlalu bosan saja.” Deon mengarang jawaban yang terlintas dalam benaknya begitu saja.
“Hati-hati! Kepalamu terluka. Apa kamu lupa??” Algiz mendekat ke arah Deon dan memperbaiki perban Deon yang nyaris lepas karena kecerobohan Deon.
__ADS_1
“Ah! Maaf dan terima kasih.” Setelah memperbaiki perban Deon, Algiz menatap ke arah pagar dan melihat bagaimana keadaan kota yang kini masih porak poranda. Deon melakukan hal yang sama dengan Algiz. “Kotanya berantakan.”
“Ya dan ini mungkin masih akan berlanjut.”
“Berlanjut??” Deon kaget mendengar ucapan dari Algiz.
“Apa kamu tidak melihat berita??” balas Algiz.
“Berita yang mana??” Deon buru-buru mengeluarkan ponselnya mencari berita terbaru.
“Bencana ini mungkin akan terus terjadi.”
Deon menemukan berita yang dimaksud oleh Algiz. Dalam berita itu tertulis jika keadaan bumi saat ini berada dalam bahaya. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu, gunung berapi yang aktif berubah status dari siaga menjadi waspada. Gelombang laut mulai tinggi dan gempa mungkin akan sering terjadi.
“Ini mirip dengan sepuluh tahun yang lalu,” gumam Deon.
“Ya.”
“Tapi … kalo ada mereka mungkin kita akan bisa sedikit mendapatkan kesempatan untuk selamat.” Deon mencoba memancing Algiz dengan sedikit membahas apa yang terjadi padanya beberapa hari yang lalu. Deon penasaran melihat reaksi Algiz.
“Mereka? Siapa??” tanya Algiz datar.
“Waktu gempa terjadi, aku bertemu dengan beberapa orang. Di antara mereka ada yang bisa terbang dan yang lainnya mampu mengangkat puing reruntuhan.” Deon melirik Algiz penasaran.
“Ah yang di berita itu.” Algiz menjawab dengan datar dan tenang.
“Kamu melihat berita itu?”
“Ya.”
“Mereka memang hebat. Mungkin bisa melindungi kita, tapi bagaimana pun mereka juga manusia. Sebagai manusia, mereka punya keterbatasan seperti umur. Ketika waktunya mati, mereka pasti juga akan mati.”
Deon tadinya penasaran dengan reaksi Algiz, tapi melihat Algiz memberikannya jawaban dengan tenang dan datar, Deon sadar Algiz mungkin sudah terbiasa sama seperti dirinya: berakting seolah itu bagian kehidupan mereka. Benar juga! Aku lupa kalo dia adalah anggota tertinggi dari Pasukan Perlindungan Bencana.
“Kulihat tadi kamu sedang mendengarkan lagu.” Algiz mengubah arah pembicaraan.
“Ya. Kamu mau dengar???”
“Ya.” Deon memberikan satu earphonenya pada Algiz dan memutar lagu yang tadi didengarnya baru setengah jalan. “Apa kamu suka? Kalo tidak suka, aku bisa menggantinya. Kamu tinggal bilang apa judulnya? Aku carikan.”
“Tidak usah. Lagu ini cukup enak didengar. Sebagai gantinya, aku akan membuatmu melihat ini.”
Algiz menggerakkan tangannya dan tiba-tiba seberkas cahaya kecil berkedip-kedip datang menghampiri Deon dan Algiz.
“I-ini??”
“Kunang-kunang. Di saat seperti ini-ketika bencana selesai terjadi-mereka akan dengan mudah keluar dari sarangnya.” Algiz mengangkat tangannya dan membiarkan bagian dalam telapak tangannya di atas. Tidak lama kemudian, kunang-kunang itu hingga di sana dan kemudian beterbangan lagi.
“Apa aku juga bisa melakukannya?” Deon penasaran.
“Coba saja.”
__ADS_1
Deon melakukan hal yang sama dengan Algiz dan benar saja, kunang-kunang itu hinggap sebentar di atas telapak tangan Deon dan kemudian terbang lagi.
“Kamu benar-benar hebat! Padahal mereka sudah sangat sulit untuk ditemukan!! Tapi kamu bisa memanggilnya dengan mudah!!” Deon memuji Algiz.
“Mereka akan menemani kita hingga matahari terbit.”
*
Isaz bangun dan tidak menemukan Algiz. Sial!! Rae, kamu ke mana? Padahal tubuhmu masih belum pulih sepenuhnya!!
Isaz berusaha mencari Algiz-rekannya yang harusnya berada dalam penjagaannya. Mengingat Algiz menghabiskan seluruh tenaganya demi melindungi banyak orang, Algiz harusnya masih berbaring di tempat tidur untuk beristirahat dan memulihkan tubuhnya. Tapi baru saja Isaz memejamkan matanya sejenak, Algiz sudah menghilang dari kamarnya.
Harusnya aku mengikatnya dengan erat di tempat tidur! Isaz mengomel di dalam benaknya karena ini bukan pertama kalinya Algiz menghilang tanpa sepengatahuannya.
Isaz mencari hampir ke seluruh rumah sakit dan tidak menemukan keberadaan Algiz.
“Isaz! Ke mana kamu?? Aku mencarimu di kamar dan tidak menemukanmu dan Algiz!!” Panggilan masuk dari alat komunikasi jarak jauh yang terpasang di telinganya membuat Isaz semakin merasa kesal saja.
“Algiz menghilang lagi. Aku sedang mencarinya.”
“Lagi??”
“Ya, lagi.”
“Haruskah aku meminta bantuan Mannaz untuk menemukan Algiz??”
“Nggak usah. Jangan buat keributan, Dagaz! Aku yakin Algiz masih di rumah sakit.”
“Kalo masih belum ketemu, panggil aku dan aku akan meminta bantuan Mannaz!”
“Ya.”
Panggilan dari alat komunikasinya terhenti dan sesuatu terlihat oleh Isaz dari jendela rumah sakit. Kunang-kunang? Dan lagi dalam jumlah banyak.
Isaz langsung menuju ke bagian atap yang belum sempat dicarinya. Algiz bisa memanggil hewan dan bicara dengan mereka. Tapi kenapa memanggil kunang-kunang??
Setelah mencari-cari lokasi atap, Isaz akhirnya menemukan pintu menuju atap. Tapi begitu sampai di atap dan melihat kunang-kunang yang beterbangan di dekat Algiz. Isaz menghentikan niatnya untuk mendekat ke Algiz. Isaz diam tepat di depan pintu atap dan melihat dari balik jendela kecil pintu atap. Siapa itu yang duduk di samping Algiz?? Tidak biasanya, Algiz mau dekat dengan orang lain!
Isaz menatap tajam pria di samping Algiz dan bertemu tatap dengan mata pria itu. Meski terpisah oleh jarak dan kaca, Isaz mengenali mata itu. Mata itu!! Tidak salah lagi, dia adalah Akmana!!
__ADS_1