
Tanah di bawah darah Madaharsa, terbelah dan sebuah tongkat kayu muncul dari dalamnya. Tongkat itu bergerak mengikuti darah Madaharsa dan langsung ditangkap oleh Madaharsa.
Itu! Deon terkejut mendapati benda pusaka kedua muncul begitu saja dari dalam tanah hanya dengan menggunakan darah Madaharsa. Benda pusaka itu keluar dengan sendirinya! Kenapa begini?? Kenapa bisa?? Bukannya benda itu tidak akan muncul jika bukan pemiliknya yang memanggilnya?? Kenapa benda pusaka itu merespon panggilan Madaharsa? Apa karena Madaharsa adalah penjaganya??
Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Deon tanyakan pada Madaharsa. Tapi saat ini Deon tidak bisa bertanya pada Madaharsa karena dirinya bukan lagi bagian dari adegan di hadapannya. Deon hanyalah penonton yang hanya bisa melihat saja.
“Kenapa kamu bisa??” Deon melihat Sadana juga sama kagetnya sama seperti dirinya. “Bukannya hanya pemiliknya yang bisa memanggil benda pusaka itu??”
“Apa kamu lupa cerita turun temurun dari pembuka desa dengan tiga muridnya, Sadana??” Madaharsa bicara dengan dingin sembari memegang tongkat kayu yang kelihatannya sederhana dan tidak memiliki kekuatan bahkan mungkin jika tongkat kayu itu tergeletak di tanah, ornag-orang mungkin hanya menganggapnya sebagai tongkay kayu biasa bukan tongkat kayu istimewa. “Dalam cerita … murid ketiga berkhianat, dihapus ingatannya dan diusir dari desa. Bersamaan dengan itu sebuah kutukan sebagai hukuman pengkhianatannya kepada orang yang telah menyelamatkannya dan memberinya hidup, mengikutinya-murid ketiga dan keturunannya tidak akan pernah bisa memiliki umur panjang. Untuk murid kedua, keturunannya diberi umur panjang, kebebasan dan keturunan yang banyak jumlahnya. Dan untuk murid pertama yang paling sabar, dia dan keturunannya diberi sebagian kecil kemampuan milik pembuka desa dengan batasan tidak memiliki kebebasan, keturunan yang hanya ada satu di setiap generasinya dan begitu keturunannya lahir, penjaga sebelumnya akan mengembuskan napasnya. Apa kamu paham sebagian kecil dari kemampuan milik pembuka desa??
“Jangan bilang kamu-“
“Benar … kami para penjaga bisa memanggil dan menggunakan benda pusaka milik pembuka desa.” Madaharsa memasang senyumannya. Tapi kali ini bukan senyuman hangat yang biasa ditunjukkannya kepada orang-orang. Senyuman Madaharsa kali ini adalah senyuman yang penuh rasa sakit, kehilangan dan penyesalan. Deon tahu arti dari senyuman Madaharsa saat ini. “Bukankah kamu bilang kamu ingin datang menyembuhkan kutukan itu?? Cincin itu tidak akan pernah bisa menyembuhkanmu karena berada di tanganmu. Orang yang bisa menyembuhkan kutukan itu adalah kami para penjaga dan untuk melakukan itu kami perlu menggunakan benda pusaka itu!”
Tangan Sadana bergetar. Dari posisinya … Deon dapat dengan jelas melihat Sadana mulai menyesali pilihannya. Kamu memang bodoh! Keserakahan memang tidak akan pernah berakhir baik!! Kamu mungkin berniat baik untuk menyembuhkan kutukan pada keturunanmu, tapi cara yang kamu tempuh untuk mendapatkannya telah membunuh banyak orang!! Bagaimana pun baiknya niat awal itu, tapi jika dalam prosesnya kamu mengambil jalan yang salah, niat baik itu tidak akan pernah terwujud. Deon mengambil pelajaran berharga dari perbuatan Sadana.
“Ji-jika … aku memberikan cincin ini padamu, apa kamu akan menghilangkan kutukan kami??” Sadana bertanya dengan suara bergetar.
“Jika kamu memberikannya sebelum membunuh Akmana, mungkin aku akan menyembuhkan kutukan keturunanmu. Tapi tanganmu sudah terlalu banyak berlumuran darah, hatimu kotor dan penuh kelicikan. Sama seperti leluhurmu, kamu tak pantas diselamatkan!!”
Madaharsa mengangkat tangan kanannya ke seluruh batas wilayah desa di belakangnya. Wushh!!!
__ADS_1
Ini sama seperti yang dilakukan Algiz waktu itu!! Deon mengenali gerakan Madaharsa yang sama persis dengan apa yang Algiz lakukan. Jika Deon berada dalam tubuh Akmana, mungkin Deon tidak akan bisa melihatnya. Tapi saat ini Deon adalah penonton yang bisa melihat segalanya. Dan sekarang Deon tahu apa yang sedang Madaharsa lakukan. Itu adalah dinding pelindung dari angin yang sama dengan yang pernah dibuat Algiz. Apa yang ingin kamu lakukan, Madaharsa??
Tidak lama kemudian, Madaharsa mengangkat tongkat kayu di tangan kirinya bersamaan dengan itu air mata Madaharsa yang jatuh semakin deras.
Apa ini?? Jantung Deon berdetak lebih kencang. Deon tahu sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini. Apapun yang kamu ingin lakukan, jangan lakukan, Madaharsa!! Deon berteriak sekencang mungkin dengan harapan Madaharsa dapat mendengar suaranya.
Madaharsa kemudian mengayunkan tongkat kayu di tangan kirinya dan memukul permukaan tanah dengan sangat kencang. Pukulan itu membuat tanah bergetar dengan hebatnya bak gempa sedang terjadi. Tidak lama kemudian … gunung terbelah dan dari posisinya Deon dapat melihat dengan jelas air laut di belakang gunung sudah berubah menjadi gelombang tsunami yang besar dan menakutkan.
Ini … Deon benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ini sama persis dengan apa yang ditemukan oleh Virzha!
“Akhhh!!” Penduduk desa yang ketakutan melihat pemandangan bak kiamat itu berlari ke sana ke mari untuk menyelamatk diri mereka. Beberapa berlari ke arah luar desa, tapi karena dinding pelindung angin yang dibuat oleh Madaharsa, penduduk desa tidak bisa keluar dari desa. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan naik ke gunung. Benar! Naik ke gunung! Itu sebabnya … Madaharsa tadi meminta Akmana untuk lari ke gunung! Sejak awal Madaharsa sudah berniat untuk-
“Kamu gila!! Apa kamu ingin membunuh semua penduduk desa yang melindungimu selama ini??” teriak Sadana ketakutan.
Sadana melepaskan cincin batu biru yang kini berubah hitam dan melemparkannya kepada Madaharsa. “Ambil ini, Madaharsa!! Hentikan semua ini!! Aku masih ingin hidup! Aku masih ingin hidup lebih lama lagi!!” Sadana kini memohon di depan Madaharsa. Tubuhnya gemetar ketakutan dan kali ini, Sadana telah benar-benar menyesali perbuatannya.
“Harus kamu ketahui, Sadana! Di antara dua pusaka milik pembuka desa, benda di tanganku inilah yang paling mengerikan. Cincin itu memang indah dan memiliki kekuatan penyembuh, tapi hanya itulah kekuatannya dan kekuatannya terbatas. Pembuka desa dapat mengambil alih tanah dan gunung ini dari makhluk gaib dengan menggunakan tongkat ini bukan dengan cincin itu.” Madaharsa bicara dengan bangga sembari air matanya yang terus mengalir karena mendengar teriakan ketakutan dari penduduk desa. Madaharsa kemudian memasang pelindung kecil pada tubuh Akmana yang telah kehilangan nyawa dan membuat tubuh itu melayang di udara. “Semuanya sudah terlambat, Sadana!! Terima hukumanmu!”
Sekali lagi … Madaharsa memukulkan tongkat kayu di tangan kirinya ke permukaan tanah dan bersamaan dengan itu … gelombang tsunami yang tadi terlihat langsung bergerak melewati gunung yang terbelah jadi dua dan menyambar segala hal di desa. Deon yang melihat hal itu merasa ketakutan karena takut dirinya juga akan terbawa gelombang tsunami itu. Tapi air laut yang datang itu melewatinya begitu saja seolah Deon tak pernah ada di sana.
“Maaf, maafkan aku!!”
__ADS_1
Dari tempatnya berada yang tertutup oleh air laut, Deon melihat ke arah Madaharsa yang kini melayang di udara sama seperti Algiz bersama dengan tubuh Akmana yang telah kehilangan nyawanya.
“Akhhhh!! Penjaga, tolong!!”
“Penjaga, tolong kami!!”
“Madaharsa … tolong kami!!”
Deon mendengar teriakan semua penduduk desa yang kini tenggelam dalam gelombang air laut dan bersiap ditarik kembali ke laut. Bersamaan dengan itu, Deon melihat Madaharsa menangis sejadi-jadinya karena apa yang dilakukannya sebagai penjaga benda pusaka milik pembuka desa.
Tes, tes! Deon ikut menangis melihat bagaimana menderitanya Madaharsa yang harus mengamil langkah mengerikan itu. Inilah maksudnya. Deon mulai memahami apa yang pembuka desa berikan kepada dua muridnya dan keturunannya.
Murid pertama yang sabar akan memiliki sebagian kecil kemampuannya bahkan mampu menggunakan benda pusaka miliknya. Akan tetapi harga yang dibayar untuk kemampuan dan kelebihannya itu, dia tidak memiliki kebebasan, terikat dengan tanah dan gunung ini, dan jika terpaksa harus melakukan hal mengerikan ini demi tugasnya.
Murid kedua. Meski hidup bak manusia pada umumnya, memiliki kebebasan untuk keluar masuk desa dan kehidupan yang nyaman di desa ini. Tapi mereka yang tinggal di sini memiliki kewajiban untuk membantu penjaga melaksanakan tugasnya meski nyawa mereka taruhannya. Seperti yang saat ini mereka alami.
__ADS_1