LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
PERJALANAN PANJANG UNTUK BERTEMU DENGANMU


__ADS_3

            Setelah pesta makanan yang dibuat oleh Deon karena permintaan makanannya yang sangat banyak, semua anggota kecilnya tertidur. Seperti biasa, Niel tidur dengan suara ngoroknya yang mengganggu dan berkat itu, Deon bisa terjaga dari tidurnya untuk bertemu dengan Algiz.


            Deon berjalan naik ke gunung, melewati gua yang dijadikan lokasi syuting dan menunggu di dekat mulut gua sembari merasakan angin laut yang dingin berembus ke arahnya. Wusshhh!! Belum lama Deon duduk bersandar, Deon sudah merasakan rasa kantuk menyerangnya karena rasa dingin dari embusan angin laut yang dingin.


            “Huaah!!” Deon menguap karena rasa kantuknya. Puk, puk! Deon memukul kedua sisi wajahnya untuk mengusir rasa kantuknya. Kamu nggak bisa tidur, Deon!   Tak ingin kalah dari rasa kantuknya, Deon mengambil ponselnya, memasang earphonenya dan memutar lagu-lagu dalam playlistnya.


            Satu menit, dua menit, lima menit.


            Satu lagu, dua lagu, tiga lagu.


            Tuk, tuk!! Setelah mendengar tiga lagu bukannya mengusir rasa kantuk, Deon justru semakin merasa mengatuk. Deon yang tak sudah tak kuat menahan rasa kantuknya karena tadi malam makan lebih banyak dari biasanya, menyandarkan kepalanya dan berniat untuk benar-benar tidur.


            Buk, buk!


            Deon ingat dirinya belum lama tertidur, tapi pukulan kecil mendarat di bahunya dan membuat tidurnya terganggu. “Eng??” Deon membuka sedikit matanya, lebih tepatnya mengintip untuk melihat gangguan apa yang datang mengganggu tidurnya.


            “Kamu benar-benar jahat! Padahal aku rela menunggumu ratusan tahun dan sekarang kamu sudah tertidur hanya karena tak kuat menungguku terlambat sedikit saja!”


            Melihat pemilik suara yang sedang mengomel padanya, Deon yang tadinya hanya membuka sedikit kelopak matanya langsung membuka seluruh kelopak matanya dan benar-benar terjaga.


            “R-Rae!!” Deon langsung menegakkan kepalanya dan menatap Algiz dengan mata berbinar lengkap dengan senyuman di bibirnya. “Ka-kapan kamu datang??”


            “Ba-baru saja!!” Algiz duduk di samping Deon. “Kalo ngantuk harusnya nggak usah datang. Kamu ini benar-benar!!”


            Eh?? Deon ingat Algiz yang sebelumnya bicara dengan sedikit menjaga jarak dan jika tidak perlu, Algiz tidak akan bicara. Tapi Algiz yang sekarang ada di hadapan Deon terlihat lebih akrab, lebih hangat dan sedikit berbeda dari Algiz sebelumnya.


            “Kenapa diam saja?” tanya Algiz karena tidak mendapat respon dari Deon.


            “Ka-kamu agak beda, Rae!!”

__ADS_1


            “Aku?? Beda di mana??” tanya Algiz dengan mengerutkan keningnya.


            Deon memperhatikan Algiz yang duduk di sampingnya dan mulai mencari perbedaan Algiz yang sekarang dan Algiz yang sebelum ini. “Kamu nggak pake masker hitam lagi dan terang-terangan muncul di hadapanku. Lalu … kamu sekarang juga bicara lebih banyak dari sebelum. Berekspresi lebih banyak dari sebelumnya dan sorot matamu terlihat lebih hangat dari sebelumnya.”


            “Aktor emang beda yah.” Algiz memuji Deon.


            “Begitulah. Banyak pengalaman yang aku pelajari ketika bekerja di bidang ini.” Deon merasa sedikit bangga akan dirinya dan pekerjaannya. “Tapi ada apa dengan perubahanmu ini, Rae??”


            Algiz mengulurkan tangannya dan membuat Deon bingung dengan tindakannya. “Kita kenalan lagi. Perkenalkan namaku Madaharsa.”


            Pertanyaan yang pagi tadi muncul di dalam benak Deon, kini benar-benar terjawab. “Ka-kamu beneran Madaharsa??”


Deon masih belum membalas uluran tangan Algizkarena terlalu terkejut dengan tindakan Algiz. Tapi Algiz tidak merasa heran dengan reaksi Deon dan sebaliknya Algiz justru menarik tangan Deon untuk berjabat tangan. “Ya, ini aku Madaharsa. Harusnya kamu juga sudah melihat ingatan dari kerangka milik Akmana bahwa Madaharsa-penjaga terakhir dari benda pusaka pembuka desa tidak mati dan memilih untuk tidur.”


“Y-ya, aku melihatnya.” Deon menganggukkan kepalanya lemah karena perasaannya yang masih campur aduk saat ini.


“Kamu tahu kenapa aku melakukan hal itu bukan??” Algiz masih terus menggenggam erat tangan Deon dan membuat Deon semakin gugup.


“Ya dan sekarang orang itu sudah di hadapanku. Kamulah reinkarnasi dari Akmana yang aku tunggu-tunggu.” Algiz melepaskan genggaman tangannya di tangan Deon dan melihat ke arah laut di mana bulan purnama masih bersinar terang lengkap dengan beberapa bintang di dekatnya. “Butuh waktu yang lama untuk bisa bertemu lagi denganmu. Sungguh perjalanan yang lama untuk bisa bertemu denganmu lagi.”


“A-aku yang sekarang bukan Akmana, tapi Deon. Kamu masih ingin bertemu denganku?” Deon melihat ke arah Algiz dan ingin memastikan reaksi Algiz.


“Baik kamu Akmana atau Deon, hal itu tidak mengubah perasaanku padamu. Dulu … aku menyukai Akmana. Dan sekarang … aku menyukaimu. Aku jatuh cinta dua kali kepada orang yang sama. Bukankah itu adalah buktinya??”


            “Ka-kamu sa-sangat terang-terangan sekali.” Deon masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Algiz.  Apa ini?? Dia berubah 180 derajat dari sebelumnya. Seingatku dalam mimpiku, Madaharsa bukan orang yang terang-terangan seperti ini. Kenapa sekarang??


            Deon melihat ke arah Algiz yang duduk dengan tenang, tersenyum dan sesekali memainkan tangannya. Deon tahu arti dari gerakan tangan Algiz itu karena tidak lama kemudian muncul kawanan kunang-kunang yang membuat suasana malam menjadi lebih indah. Kurasa … aku yang berlebihan. Dia tetap Algiz yang dulu sekaligus Madaharsa dalam mimpiku.


            “Mulai sekarang aku harus memanggilmu dengan nama apa??” tanya Deon memastikan. “Madaharsa, Algiz atau Rae??”  

__ADS_1


            “Rae saja. Sekarang aku masih bekerja sebagai Pasukan Perlindungan Bencana, aku masih harus merahasiakan identitasku. Siapa yang akan percaya bahwa umurku sudah ratusan tahun??”


            Uhuk, uhuk!! Deon langsung tersedak mendengar kalimat itu dari Algiz. Sial!! Aku lupa kenyataan itu!! Deon menutup mulutnya karena baru teringat kenyataan jika Algiz adalah Madaharsa maka Algiz sudah hidup lebih dari ratusan tahun lamanya.


            “Kenapa?? Di matamu, aku sudah terlihat seperti nenek berumur ratusan tahun??” balas Algiz.


             “Tentu saja tidak! Di mataku, kamu terlihat sangat cantik, bahkan masih sama dengan dulu saat masih hidup dengan nama Madaharsa.” Deon menggelengkan kepalanya, tidak berani. Mungkin aku bisa mati jika membahas umurnya yang sudah ratusan tahun!


            “Waktu itu … aku tidak mengenalimu karena ingatanku yang hilang. Jika saja kamu tidak mengajakku berteman, mungkin aku akan melewatkan kamu padahal aku memilih tidur untuk waktu yang lama agar bisa bertemu denganmu. Waktu itu … kenapa kamu berteman denganku??”


            “Kenapa kamu menanyakan itu lagi??” Deon berusaha untuk menghindari menjawab pertanyaan itu.


            “Kalo aku pikir-pikir lagi, kamu sedikit aneh, Deon. Apa sejak awal kamu sudah menyukaiku? Kamu mau berteman denganku karena alasan apa? Kekuatan yang aku miliki, rasa penasaran atau mungkin karena aku cantik?? Mana yang jadi alasanmu??”


            Deon kemudian menceritakan mimpi-mimpinya tentang Madaharsa yang muncul dalam tidurnya semenjak membuat harapan pada hujan meteor waktu itu. “Kalo kamu tanya mana yang jadi alasannya, kurasa semua bisa jadi alasannya. Apa aku tidak boleh berteman denganmu karena alasan-alasan itu?”


            Algiz yang sejak tadi hanya duduk memandang laut dan sesekali melihat ke arah Deon, tiba-tiba memeluk Deon dan membuat Deon kaget bukan main.


            “Ke-kenapa tiba-tiba memelukku?” Deon panik dan gugup melihat Algiz memeluk dirinya.


            “Aku bersyukur kamu membuat harapan itu, Deon. Berkat itu … kamu memaksaku jadi temanmu ketika aku tidak harusnya melupakanmu dan menemukanmu.”      


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2