
Baram mungkin tidak bisa mengikuti Madaharsa karena dinding yang dibuatnya. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Deon sebagai satu-satunya penonton. Deon mengikuti Madaharsa masuk ke dalam lautan dan ketika sudah berada di tengah lautan yang dalam, Deon melihat Madaharsa membuat pelindung dari anginnya dan darah dari tangannya.
“Benda ini harus disembunyikan dan kali ini aku akan ikut bersembunyi bersamamu. Biarkan aku ikut untuk menebus kesalahanku pada mereka yang telah mati.” Lautan di sekitar Madaharsa mulai menutup dan membuat Madaharsa tenggelam ke dalam lautan.
Tidak!! Madaharsa, jangan lakukan ini!! Deon berteriak kencang, berusaha untuk mengubah niat Madaharsa. Tapi sekali lagi, Deon adalah penonton. Baik keberadaannya, napasnya, suaranya dan gerakannya tidak akan pernah bisa mencapai Madaharsa.
Tongkat kayu di tangan Madaharsa seolah mendengar perasaan dan penyesalan Madaharsa. Tongkat kayu itu kemudian mengubah ukurannya menjadi setipis jarum dan masuk ke dalam telinga Madaharsa. Sementara itu, Madaharsa memejamkan matanya dan bersiap untuk tidur panjang di dalam kedalaman laut yang tenang, sepi dan gelap.
“Kita akan bertemu lagi, Akmana!! Saat itu terjadi … aku akan mengatakan perasaanku padamu kalau selama ini … aku menyukaimu.”
*
“Deon!!!”
“Deon!!”
“Deon!!”
Deon membuka matanya mengenali suara yang sedang memanggilnya. Itu Niel! Dia pasti sedang mencariku bersama dengan kru film. Deon mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan menemukan Algiz masih di hadapannya dan matanya yang berlinang karena air mata. Gawat!! Kalau mereka menemukanku di sini, mereka juga akan melihat Algiz!!
“Rae, Rae!!” Deon mengguncang tubuh Algiz dan membuatnya segera sadar. Apa dia juga melihat apa yang aku lihat?? Sembari mengguncang Algiz, Deon bertanya-tanya dalam benaknnya ketika melihat air mata Algiz yang mengalir di wajahnya.
“Uhm??” Algiz merespon panggilan Deon.
“Deon, Deon!!!”
“Kamu harus pergi, Rae!! Mereka mencariku!! Bisa gawat kalo mereka melihatmu di sini!” Tanpa banyak bicara, Deon langsung meminta Algiz untuk segera pergi dari hadapannya.
“Ah, iya.” Algiz langsung mengangkat tangannya dan bersiap untuk menjentikkan jarinya untuk melakukan teleportasi. Tapi tepat sebelum Algiz menjentikkan jarinya, Deon menghentikan tangan Algiz sejenak. “Kenapa?”
“Nanti atau besok, bisa kita ketemu lagi?? Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu.”
Algiz menganggukkan kepalanya. “Ya.”
Setelah mendapatkan jawabannya, Deon menarik tangannya menjauh dari tangan Algiz dan membiarkan Algiz menjentikkan jarinya untuk melakukan teleportasi. Hanya dalam satu kedipan mata saja, Algiz menghilang begitu saja seolah tak pernah ada di sini bersama dengan Deon.
“Deon, Deon!!”
__ADS_1
“Deon, Deon!!”
Deon mendengar panggilan itu lagi. Sebelum menjawab panggilan itu, Deon melihat dirinya sendiri dan memperhatikan apakah ada yang aneh dengan dirinya. Setelah memastikan tidak ada yang aneh dengan dirinya, Deon mengembuskan napas panjang dan berteriak. “Aku di sini!!”
“Deon??” Orang pertama yang tiba lebih dulu di depan Deon adalah Niel. Tanpa banyak bicara, Niel langsung memeluk erat Deon dan setelah itu memeriksa semua bagian luar tubuh Deon. “Ka-kamu baik-baik saja, Deon??”
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja.” Deon bicara dengan senyum kecilnya sembari bicara dalam benaknya. Ya … aku beruntung. Kalau aku tidak memgenal Algiz dan jadi temannya, mungkin aku sekarang sudah kehilangan nyawaku dan terbaring tidak bernyawa di tanah ini sama seperti Akmana.
Tes, tes. Niel menangis melihat Deon. “Untung kamu selamat, Deon! Padahal ombaknya sangat besar, melihatmu terombang-ambing, aku tadi gemetar setengah mati, Deon!!”
Deon menepuk bahu Niel, mencoba untuk menenangkan manajernya. “Lihat, aku baik-baik saja kan?? Sudah berhenti menangis!! Kamu ingin semua kru ingat wajah cengengmu itu, Niel??”
Tap, tap. Hanya dalam hitungan detik, beberapa kru yang lain datang menyusul. Mungkin karena mendengar suara Deon atau mungkin mendengar suara tangisan Niel, Deon tidak tahu jelasnya. Hanya saja begitu kru yang mencari Deon menemukan Deon, mereka semua melihat Deon dengan tatapan lega dan kemudian menangis sama seperti Niel.
“Kenapa kalian semua menangis??” Deon terkekeh melihat lebih banyak orang yang harus dihiburnya padahal dirinyalah korban yang harus dihibur.
“Syukurlah Aktor Deon baik-baik saja.”
“Kami tak bisa membayangkan jika kami menemukan Aktor Deon tak lagi bernapas.”
“Kami bersyukur, sungguh-sungguh bersyukur Aktor Deon selamat.”
“Ayo kita kembali, Deon.” Niel yang sudah puas menangis, menarik tangan Deon dan berniat untuk mengajaknya kembali.
“Tunggu sebentar!!” Deon menolak bergerak.
“Kenapa-“ Niel melihat penolakan Deon sementara Deon melihat ke arah lain. Niel yang penasaran, melihat ke arah yang Deon lihat dan menemukan ada kerangka tangan tidak jauh dari tempat Deon bersama dengan semua kru yang mencarinya berdiri. “Deon, itu!!”
“Kurasa kita harus menguburnya dulu.”
“Akhhhh!!”
Kru pencari yang melihat apa yang Deon lihat langsung berteriak kaget karena mereka tidak pernah menyangka jika mereka akan menemukan kerangka tulang manusia di tanah dekat pantai.
Satu jam kemudian.
“Ya, Tuhan!! Aktor Deon!!” Sutradara langsung memeluk Deon ketika melihat Deon kembali bersama dengan Niel dan kru yang mencarinya. “Syukurlah kamu selamat dan baik-baik saja, Aktor Deon!!”
__ADS_1
“Seperti yang Bapak lihat, sepertinya saya masih punya stok cadangan nyawa, Pak.” Deon bicara dengan nada guyonnya.
“Ini benar-benar sebuah berkah!!” Sutradara melepaskan pelukannya di tubuh Deon dengan sedikit air mata yang nyaris jatuh di wajahnya.
“Ya, Pak.”
Setelah itu … satu persatu orang yang terlibat di proyek ‘Long Journey to You’ mulai mengucapkan rasa syukurnya kepada Deon yang berhasil selamat setelah kecelakaan nahas itu. Tidak terkecuali, aktris lawan main Deon yang ceroboh dan jadi penyebab kecelakaan nahas yang menimpa Deon. Aktris itu menangis sembari menggenggam tangan Deon ketika melihat Deon berhasil kembali dengan selamat.
“Kamu memaafkannya begitu saja??” Niel mengeluh melihat Deon memaafkan lawan mainnya begitu saja setelah apa yang terjadi padanya.
“Mau gimana lagi, itu memang kecelakaan, Niel. Bukankah kamu sudah marah padanya??” balas Deon.
“Kamu tahu??” Niel langsung mengubah nada bicaranya karena tertangkap basah oleh Deon.
“Kamu manajerku selama lima tahun, Niel. Nggak mungkin aku nggak tahu. Kejadian kayak gini kan bukan satu dua kali terjadi, jadi aku sudah kenal baik gimana reaksimu di saat seperti ini.” Deon menjelaskan.
“Cih … harusnya aku marah pada aktris itu lebih buruk lagi kalo tahu kamu akan memaafkannya dengan mudah seperti ini.” Niel mengeluh lagi.
“Trims, Niel. Selain Okta, cuma kamu yang akan marah seperti ini buatku.” Deon melihat ke arah Niel dan teringat tahun-tahun pertamanya saat jadi aktor. Deon berulang kali dimarahi oleh sutradara dan lawan mainnya karena kesalahan yang dibuatnya. Hanya Niel dan Okta yang terus mendukung dan percaya padanya. Deon juga teringat dengan saat dirinya terus mengambil film action dan thriller, berulang kali Deon mengalami kecelakaan selama syuting dan Niel-lah orang yang selalu marah pada kru karena kurang memperhatikan keselamatan dan keamanan Deon.
“Dengar kamu bicara gitu, buat aku malu, Deon.”
“Ha ha ha!!” Deon tertawa mendengar reaksi Niel. Karena mengingat ingatan lamanya bersama dengan Niel, Deon tiba-tiba teringat akan waktu pertamanya bertemu dengan Niel dan di saat yang sama, Deon teringat pertanyaan yang dulu selalu ingin ditanyakannya kepada Niel. “Niel??”
“Ehm, apa??”
“Kenapa dulu kamu mau jadi manajerku?? Padahal dulu, aku ini hanyalah aktor pembantu yang belum punya banyak pengalaman.”
Niel yang sedang membersihkan tempat tidur Deon, langsung menghentikan tindakannya karena sepertinya kaget mendengar pertanyaan Deon. Tangan Niel sedikit bergetar dan ini adalah pertama kalinya, Deon melihat Niel memberikan reaksi itu padanya.
“Mu-mungkin … aku bisa melihat bahwa kamu akan jadi aktor besar di masa depan.”
__ADS_1