LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
TRAGEDI


__ADS_3

            “Kalian lancang sekali!!”


 Deon menemukan dirinya berdiri di belakang Baram dan kini Baram sedang berteriak marah kepada empat pria yang diingat Deon sebagai rekan Akmana.


“Maaf kawan!! Hanya saja kamilah yang berhasil menemukan benda pusaka ini!!” ujar Sadana dengan wajah puasnya.


Di depan Deon sekarang ini, terlihat sebuah cincin dengan batu biru di atasnya. Batu biru di cincin itu bersinar dalam gelap layaknya bintang terang di langit malam. Kilauan batu biru itu, membuat Deon terpana untuk sejenak. Mungkinkah itu cincin yang pernah Madaharsa ceritakan???


“Keluar dari sini sekarang juga!!” teriak Baram geram.


“Kami akan keluar bersama dengan cincin ini!” ujar Sadana lagi. “Kami sudah melakukan pencarian benda pusaka ini selama lima tahun lamanya. Jika bukan karena bantuan anak di belakangmu itu, kami tak akan pernah bisa menemukan desa ini. Apa kamu tahu kenapa?? Anak itu kemungkinan adalah anak dari desa ini yang hanyut dua puluh tahun yang lalu. Akmana adalah anak dari desa kalian, keturunan kalian yang bisa bebas keluar masuk desa dan berkat itu dia punya cara untuk kembali dan menemukan desa. Tidak sepertiku!!”


“Jangan-jangan kamu!!” Deon mendengar suara Baram yang tercekat karena rasa takutnya.


“Benar! Aku adalah keturunan dari murid ketiga yang diusir dari desa ini ratusan tahun lalu!!”


Sadana mengungkap identitas dirinya dan membenarkan dugaan Deon terkait mimpi terakhirnya. Sudah kuduga!! Dialah penyebab bencana ini!!


Sadana mengambil cincin batu biru itu dan tidak lama kemudian, Duarr!!! Suara gelegar terdengar sangat kencang.


“Kamu tidak boleh menyentuh benda itu!!” Baram bergerak maju dan berniat untuk merebut kembali benda pusaka yang dijaga oleh Madaharsa. Sayangnya, Dar!! Kali ini yang terdengar bukan lagi suara gelegar guntur di luar, melainkan suara tembakan yang berasal dari pistoi salah satu rekan Sadana.


“Akhh!!” Baram merintih karena kakinya yang terluka.


“Apa yang kalian lakukan?” Kali ini giliran mulut Deon yang sejak tadi diam, angkat bicara. “Kalian ini peneliti bukan perampok! Kenapa kalian melakukan ini??”


“Maaf, Akmana! Sejujurnya aku sangat menyukaimu. Kamu anak baik dan pekerja keras. Sayangnya … aku harus memanfaatkanmu karena aku harus mendapatkan benda ini!”


“Kenapa kalian harus melakukannya??”            


“Semenjak diusir dari desa ini, leluhurku tidak pernah bisa berumur panjang. Umur kami selalu tidak pernah lebih dari 40 tahun. Berkat itu, kami diminta menikah muda untuk melanjutkan keturunan dan melakukan pencarian mengenai kutukan keluarga kami. Kami percaya jika kami menggunakan benda pusaka milik pembuka desa, kutukan kami akan berakhir!!”


Deon terkejut mendengar pengakuan Sadana. Inilah alasannya! Inilah alasannya kenapa keturunan murid pengkhianat itu begitu ingin merebut benda pusaka milik pembuka desa! Hukuman atas pengkhianatan itu bukan hanya dihapus ingatannya saja, melainkan umur yang pendek untuk setiap keturunan mereka. Mungkin ini adalah harga yang harus dibayar mereka setelah semua usaha pembuka desa mengobati muridnya waktu itu dan berakhir dengan pengkhianatan kejam.


Bruak!! Di saat Deon bicara dengan Sadana dan membuat Sadana teralihkan, Baram menjatuhkan tiga rekan Sadana dengan tiga pisau kecil miliknya. Sadana yang panik terus menembaki Baram dan membuat Baram bersimbah darah. Tapi Baram tidak diam begitu saja. Dengan tubuhnya yang penuh luka dan bersimbah darah, Baram masih berusaha untuk merebut cincin batu biru itu.


Sadana berniat untuk menembak Baram lagi, sayangnya peluru Sadana habis.


“Pelurumu sudah habis kan?” Baram mengangkat tangannya dan melayangkan pukulan keras ke wajah Sadana.

__ADS_1


Ting, ting. Cincin batu biru yang tadi ada di genggaman tangan Sadana, jatuh karena pukulan Baram. Cincin itu kemudian menggelinding ke dekat kaki Akmana.


“Ambil cincin itu, Akmana! Bawa cincin itu ke Madaharsa!! Perintah Baram.


“Tapi bagaimana denganmu, Baram??? Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini dengan keadaanmu seperti itu!!” Deon ingin sekali berlari membantu Baram. Hanya saja tubuhnya gemetar dan keberanian Akmana tidak sebesar keberanian milik Deon.


            “Ini sudah jadi tugasku! Cepat pergi, Akmana!! Aku tidak akan bisa bertahan lama menahan pria gila ini!!”


            “Maafkan aku, Baram! Aku janji akan kembali ke sini!!”


            Setelah mengatakan itu, tangan Deon mengambil cincin batu biru itu dan berlari keluar dari gua yang digali oleh Sadana dan tiga rekannya. Deon berlari sekuat tenaga menuruni gunung yang licin, menembus hujan badai yang lebat dan melawan rasa takutnya. Dalam benak Deon saat ini hanya ada dua hal: segera menemukan Madaharsa dan kembali menyelamatkan Baram.


            “Maaf, maafkan aku!!” Sekali lagi, mulut Deon berkata tanpa perintah Deon. “Kalau saja aku tidak menerima pekerjaan ini! Kalau saja aku tidak membiarkan mereka datang kemari! Kalau saja!!”


            Benak Deon memutar semua kenangan milik Akmana saat hidup di desa ini dan waktu-waktunya bersama dengan Madaharsa.


            Dar, dar!!


            Dari arah belakangnya, Deon mendengar suara tembakan. Deon tahu dengan jelas siapa yang melepaskan tembakan itu dan dalam sekejap air mata Deon jatuh. Deon tahu apa yang membuat Akmana saat ini menangis. Baram mungkin telah tewas.


            Deon terus berlari dengan membawa cancin batu biru di tangannya. Mulut Deon terus berkata memanggil nama Madaharsa. “Madaharsa! Madaharsa!!”


            “Kenapa denganmu, Nak??”


            “Tolong aku! Aku harus segera bertemu dengan Madaharsa!!”


            Begitu sampai di desa, penduduk desa terkejut menemukan Deon yang berlari masuk ke desa dan berniat untuk menuju rumah Baram di mana Madaharsa berada. Sayangnya Sadana berhasil mengejarnya dan meneriakkan bahwa Akmana adalah pencuri benda pusaka. Penduduk desa yang melihat cincin batu biru di tangan Deon, langsung menghadang Deon dan berniat untuk merebut benda pusaka yang mereka jaga!!


            “Dengarkan aku! Bukan aku yang mencurinya!! Aku harus membawa benda ini pada Madaharsa!!”


            Memakan umpan dari Sadana, penduduk desa justru menghajar Deon habis-habisan dan bukannya membiarkan Deon segera menemui Madaharsa. Cincin batu biru yang digenggam dan dijaga Deon kemudian direbut oleh penduduk desa.


            Dar!


            Pria yang mengambil cincin batu biru itu tiba-tiba ambruk setelah bunyi tembakan terdengar.


            Dar, dar!!


            Dengan pandangan yang sudah buram karena rasa sakit dan darah yang mengalir dari kepalanya, Deon melihat Sadana melepaskan satu persatu tembakan ke arah penduduk desa dan membuat kepanikan. Tidak! Cincinnya!!

__ADS_1


            “Kalian bodoh semua!!”


            Cincin batu biru yang tadi sudah susah payah dibawa oleh Deon dengan mengorbankan Baram, kini jatuh dan menggelinding ke arah Sadana.


            “Akhirnya … cincin ini kembali ke tanganku!! Aku yang sudah susah payah mencarinya! akulah yang berhak untuk mendapatkannya dan menjadi pemiliknya!!”


            Tidak!! Deon ingin sekali cepat bangkit dari posisinya dan merebut kembali cincin batu biru itu dari tangan Sadana. Sial!! Tapi tubuh Deon teruka sangat parah karena ulah penduduk desa yang memakan umpan Sadana mentah-mentah. Madaharsa!! Deon yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memanggil Madaharsa dalam benaknya dan juga dengan mulutnya sebagai Akmana.


            “Cincin ini milikku!!” Sadana memungut cincin batu biru di dekat kakinya dan berniat memasang cincin itu di salah satu jari tangannya.


            “Berhenti!!”


            Deon menoleh dan menemukan Madaharsa bersama dengan kepala desa-Ayah Baram berdiri tidak jauh darinya. Kepala desa langsung berlari menghampiri Deon dan bertanya tentang Baram.


            “Di mana Baram-anakku??”


            “D-dia masih di gunung. Tolong aku, Pak! Aku janji padanya akan kembali padanya dan menjemputnya setelah mengantar cincin itu pada Madaharsa!”


            “Aku mengerti, Nak! Tenang saja!! Bapak yang akan ke sana!” Sebagai Ayah, tentunya kepala desa berharap Baram-putra tunggalnya masih hidup. Meski harapan itu kecil, kepala desa segera pergi menuju ke gunung di mana Baram berada. “Nak Madaharsa! Bisakah Bapak percaya padamu??”


            “Ya, Pak.”


            “Apapun pilihan yang kamu buat nantinya, Bapak akan menerimanya! Sudah jadi tugasmu untuk menjaga benda itu dan sudah jadi tugas kami semua untuk membantumu, Nak!”


            “Ya, Pak!”


            Setelah mengatakan hal itu, kepala desa berlari ke arah gunung untuk menyelamatkan Baram.


            “Ma-madaharsa??” MUlut Deon bicara tanpa perintah darinya.


            “Terima kasih, Akmana! Kamu sudah melakukan sebisamu.”


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2