LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
PENGAKUAN TAK SAMPAI


__ADS_3

            Peringatan dari Madaharsa rupanya tidak membuat Sadana menghentikan niatanya. Sadana tetap memasang cincin batu biru milik pembuka desa ke jarinya dan duarr!!!!


            Apa ini?? Deon menatap langit. Tadi … hujan badai sudah cukup buruk. Guntur berulang kali menggelegar membuat telinga yang mendengarnya berdengung beberapa kali dan sekarang … ketika cincin batu biru itu berada di jari Sadana, guntur menggelegar lebih kencang dan hujan badai yang tadi sudah cukup deras semakin deras dan semakin menakutkan.


            Ini buruk! Sesuatu yang buruk akan terjadi! Pikiran Deon memberikan peringatannya setelah melihat situasinya saat ini.


            “Lepaskan cincin itu sekarang juga, Sadana!! Apa kamu tidak lihat guntur dan badai itu?? Cincin itu menolakmu!!” Sekali lagi mulut Deon bicara tanpa perintah dari otaknya. Buat apa kamu membujuk orang yang sudah kesetanan seperti dia, Akmana?? Dia sudah gila!! Deon mengeluh pada Akmana di dalam benaknya seolah Akmana akan mendengar keluhannya.


            “Tidak!! Akulah pemilik cincin ini sekarang, Akmana!! Cincin ini akan menyelamatkanku dari kutukan dan keturunanku nantinya!!”


            Madaharsa mendekat ke arah Deon dan berbisik. “Ini pertanda buruk!! Setelah ini … temukan tempat sembunyi. Sebisa mungkin naiklah ke gunung dan bersembunyi di tempat yang aman.”


            “A-apa maksudmu??”


            “Lihat itu!” Mata Madaharsa memberi lirikan sebagai isyarat ke arah Deon. “Batu itu mulai berubah warna. Semakin tidak cocok penggunanya, batu biru itu akan berubah jadi gelap nantinya. Semakin gelap warnanya semakin buruk apa yang akan terjadi sebagai balasannya.”


            Deon melihat batu biru yang tadi berkilau perlahan mulai berubah warna menjadi ungu. Madaharsa benar. Batu itu mulai berubah warna.


            “Aku akan mengalihkan pria gila ini dan segera temukan tempat bagimu untuk sembunyi, Akmana! Kalo bisa larilah ke salah satu sisi gunung!!”


Madaharsa bangkit menjauh dari Deon dan berdiri dengan penuh keberanian menghadapi Sadana. Untuk pertama kalinya, Deon melihat Madaharsa yang seperti ini. Padahal mata itu selalu terlihat lembut dan hangat! Deon menyayangkan situasi yang membuat Madaharsa berubah menjadi menakutkan sekarang ini.


“Apa kamu tahu benda pusaka itu bukan cuma satu, Sadana??” Madaharsa mulai bicara kepada Sadana sembari membuat pengalihan untuk Deon menyelamatkan diri.


            “Aku dengar memang begitu. Tapi satu benda ini saja sudah cukup bagiku. Dengan terus menggunakan cincin ini, aku dan keturunanku tidak akan berumur pendek!!”


            “Kamu salah, Sadana!! Cincin itu bukan untuk menghilangkan kutukan! Kutukan keluargamu tidak akan pernah bisa hilang sampai kalian merasakan penyesalan. Dari yang aku lihat … kalian sama sekali tidak menyesal bahkan setelah ratusan tahun berlalu!!”       


            “Tidak!! Aku tidak akan percaya padamu, Madaharsa!! Kamu hanya ingin menipuku agar aku melepaskan cincin ini.”


            Sadana sama sekali tidak tertipu dengan ucapan Madaharsa. Sadana tetap melancarkan niatnya untuk memasang cincin milik pembuka desa.  Duaaarrr!! Guntur yang lebih kencang menggelegar lagi dan kali ini membuat Deon bersama dengan Madaharsa merasakan getaran itu daratan.


            Sial!! Guntur ini!! Deon mengumpat dalam benaknya.


            Srett!! Di saat semua orang waspada dengan guntur, Sadana mengarahkan pistolnya ke arah Madaharsa. “Jika benar kutukan ini tak akan hilang bahkan setelah aku mendapatkan benda pusaka ini, mungkin jika aku membunuhmu-Sang Penjaga mungkin benda ini mau menerimaku sebagai penjaganya!”

__ADS_1


            “Kamu gila, Sadana!!!” Mulut Deon berteriak merasakan bahaya pada Madaharsa.


            Sadana tersenyum melihat ke arah Deon dan Madaharsa. Deon tahu senyuman di bibir Sadana saat ini adalah senyuman keputusasaan. Sial!! Kenapa bisa sampai pada situasi seperti ini? Apa pembuka desa tidak pernah menyadari apa yang akan terjadi pada tiga murid dan keturunannya ketika menyelamatkan mereka?? Apa pembuka desa tidak akan pernah menyadari akibat dari benda pusaka ini bagi keturunan muridnya??


            Kenapa??


            Kenapa?? Kenapa mereka begitu tergila pada benda yang bukan milik mereka?? Benda itu bukan milik mereka, jelas sekali benda itu tak akan berguna di tangan mereka! Kenapa mereka tidak pernah sadar dan selalu menginginkan milik orang lain?? Satu persatu pertanyaan itu muncul dalam Deon dan kali ini pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang Deon tanyakan melainkan pertanyaan yang Akmana tanyakan dalam keadaan tubuhnya yang sekarat karena luka-lukanya.


            Aku … aku hanya ingin pulang ke rumahku. Aku hanya ingin kembali ke tempatku berada. Itulah yang Sadana katakan padaku ketika mengajakku bekerja sama. Dia bilang dia hanya ini dan legendanya, tapi kenapa begini??


            Apa aku salah datang kemari? Apa aku salah ingin pulang kembali??


            Padahal … aku hanya ingin hidup dengan tenang bersama semua orang di sini, bersama dengan Madaharsa dan Baram.


            Padahal hanya sesederhana itu.


            Hanya sesederhana itu.


            Deon ingin menangis mendengar suara benak Akmana yang terdengar oleh pikirannya. Akmana, kamu!! Tubuh Deon bergerak tanpa kendalinya, padahal sebelumnya Deon tidak bisa bergerak sama sekali karena rasa sakitnya. Tapi entah kenapa … tubuh milik Akmana di mana Deon berada sekarang, bisa bergerak lagi.


            Maaf untuk semuanya!


“Maaf, Madaharsa!! Sayang sekali kamu lahir sebagai penjaga benda ini!! Kamu harus mati agar aku dan keturunanku bisa hidup!!!” Sadana mengatakan kalimat itu sembari tangannya menarik pelatuk pistol di tangannya dan … Dar!!!


            Dari mata Akmana, Deon melihat Sadana melepaskan tembakan dengan niat membunuh Madaharsa. Entah bagaimana Akmana menyadari niat Sadana itu, Deon tidak tahu. Tapi yang jelas Akmana tahu dan memaksa tubuhnya yang lemah, penuh luka dan bersimbah darah untuk bergerak dan menjadi perisai terakhir untuk Madaharsa.     


            Syutt!!


            Akhhhh!! Peluru itu bersarang di dada kiri Akmana di mana Deon berada dan melihat. Hanya dalam sekejap … tubuh Akmana sekaligus Deon ambruk dengan darah yang mengalir.


            “Akmana!!” Deon mendengar teriakan Madaharsa yang langsung menangkap tubuh Akmana di mana Deon berada sekarang. “Ke-kenapa kamu lakukan ini?? Kamu bodoh sekali!!”


            “Maaf untuk segalanya!! Ini adalah caraku untuk menebus kesalahanku pada mereka semua.” Dari tubuh Akmana, Deon melihat banyak penduduk desa yang kehilangan nyawanya dan terluka karena dirinya. Dalam benak Akmana juga, Deon melihat wajah Baram yang berjuang mati-matian demi tugasnya dan demi Madaharsa juga.


            Hueekkk!!  Darah segar keluar dari mulut Deon sebagai tanda kehidupan Akmana kini sudah berada di ambang batasnya.

__ADS_1


            Andai saja … aku punya keberanian. Aku ingin sekali mengatakan padanya kalau aku menyukainya. Aku menyukai semua waktu yang aku habiskan dengannya. Aku menyukai semua hal yang aku lakukan dengannya. Aku suka semua tentang dirinya. Aku suka, suka sekali. Dalam benaknya, Deon mendengar suara putus asa Akmana yang sedang membuat pengakuan pada Madaharsa. Sekali saja, aku ingin mengatakan hal itu padamu, Madaharsa. Sekali saja, hanya sekali saja.


            “Tidak, Akmana!!! Buka matamu, Akmana!! Aku mohon!!”


            Deon harusnya tidak bisa melihat adegan selanjutnya karena Akmana di mana dirinya berada dan melihat selama ini, telah kehilangan nyawanya dan menutup mata untuk selamanya. Tapi Deon masih bisa melihat adegan selanjutnya sama seperti ketika Deon melihat adegan di mana Sadana berniat untuk memanfaatkan Akmana dalam niat jahatnya mencuri benda pusaka yang dijaga oleh Madaharsa.


            “Tidak!! Akmana, bangun!! Kumohon bangun, Akmana!! Kumohon padamu!!”


            Deon berdiri di samping Madaharsa, melihat wanita itu menangisi Akmana dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Akmana dengan kemampuan penyembuhannya.


            “Kenapa?? Kenapa?” ujar Sadana. “Kenapa demi kamu, demi benda ini, kalian mau mengorbankan nyawa kalian?? Apa hebatnya pembuka desa ini?? Apa hebatnya dirimu, Madaharsa?? Kamu hanya wanita yang kebetulan lahir dari keluarga penjaga!! Kenapa kalian mau menjaga benda ini hingga mempertaruhkan nyawa kalian?? Padahal Akmana adalah anak hilang dari desa ini dan tidak memiliki ingatan apapun! Kenapa dia juga seperti ini??”


            Menyadari usahanya gagal untuk menyelamatkan Akmana, Madaharsa bangkit dengan air mata yang terus mengalir.


            “Kamu benar! Jika bisa memilih, aku tidak ingin hidup sebagai penjaga! Jika bisa memilih, aku tidak ingin hidup dengan tugas seberat ini! Tapi apa dayaku, aku lahir seperti ini dan tidak bisa mengubah apapun!!”


            Madaharsa mengeluarkan pisau dari tangannya. Sadana mengira Madaharsa ingin melawan dirinya dengan pisau kecil itu.


            “Apa kamu ingin membunuhku dengan pisau kecil itu, Madaharsa??”


“Tidak! Aku tidak akan membunuhmu dengan cara ini! Cara ini, terlalu mudah!” Madaharsa menggelengkan kepalanya sembari menggunakan pisau kecil itu untuk melukai telapak tangan kirinya. Tes, tes!! Darah merah segar mengalir dari luka Madaharsa dan jatuh ke tanah.


Apa yang kamu lakukan, Madaharsa?? Deon bertanya sebagai penonton yang kini keberadaannya tak terlihat bak bayangan dalam film.


“Apa yang mau kamu lakukan, Madaharsa??” tanya Sadara.


Grrr. Di saat yang sama, permukaan tanah mulai bergetar. Angin kencang dari badai semakin mengganas. Suara deburan ombak dari balik gunung pun terdengar semakin kencang. Hujan turun semakin deras bersamaan dengan guntur yang menggelegar. Duarrr!! Guntur menyambar salah satu rumah penduduk desa dan mengalirkan aliran listrik di sekitarnya.


“Akkhhh!” Teriakan kesakitan penduduk terkena sengatan listrik guntur terdengar begitu menyakitkan.


“Madaharsa!! Apa yang kamu lakukan?? Kamu ingin membunuh semua orang di sini??” Sadana mulai merasa ketakutan untuk pertama kalinya.


“Ada alasan kenapa kami para penjaga memiliki kemampuan penyembuh. Alasan besarnya adalah darah segar kami dilarang menyentuh tanah langsung!! Jika hal itu terjadi maka … “


Ucapan Madaharsa terhenti. Bersamaan dengan itu sesuatu keluar dari dalam tanah tepat di bawah bekas darah Madaharsa tadi jatuh.

__ADS_1


Itu!!!


 


__ADS_2