
“Isaz!!”
Begitu kembali setelah mengunjungi Deon, Algiz langsung menghampiri Isaz di kamarnya. Seperti biasanya, Isaz belum tidur karena menunggu Algiz kembali dari perjalanan kecilnya.
“Kamu sudah kembali??” sapa Isaz.
“Ka-kamu belum tidur dan istirahat??” balas Algiz.
“Aku tidak bisa tidur kalo belum memastikan kamu pulang dengan selamat.” Isaz melemaskan lehernya yang kaku setelah menunggu Algiz dengan membaca buku. “Ada apa kamu mendatangiku?? Biasanya setelah pergi menemui Deon, kamu langsung tidur di kamarmu. Kenapa kemari??”
“Ada yang ingin aku pastikan. Bisa aku minta waktumu?”
“Jangankan waktu kecil ini, bahkan jika kamu minta hidupku, aku pasti akan memberikannya padamu, Algiz!” Isaz bicara dengan senyum dinginnya.
“Jangan bicara begitu, Isaz! Aku tak akan pernah meminta hidupmu!” Algiz menunduk merasa sedikit bersalah karena membuat Isaz hidup lama seorang diri.
Isaz bangkit dari duduk di ranjangnya, menghampiri Algiz yang berdiri di pintu kamarnya dan membelai rambutnya. “Aku tak pernah marah kamu membuatku hidup sangat lama, Madaharsa! Aku justru bersyukur karena kamu membuatku bertemu lagi denganmu. Penantian panjangku tidak sia-sia. Begitu kamu terbangun, aku menemukanmu. Selama sepuluh tahun ini kita bersama dan itu sudah cukup membuatku senang, Madaharsa.”
Buk!! Tiba-tiba Isaz memukul kepala Algiz setelah membelainya dan membuat Algiz langsung merengut kesal.
“Akhh!! Kenapa kamu memukulku??” tanya Algiz tidak terima.
“Hanya tidak suka lihat wajahmu yang terbebani itu! Jadi aku memukulmu untuk membuatmu sadar kalo aku hidup berumur panjang karena sudah jadi tugasku untuk membantumu dan menjagamu. Bagaimana pun, kamu adalah penjaga dan aku adalah satu-satunya orang yang tersisa dari masa lalu yang teringat akan hal itu!!”
Huft! Algiz yang tadinya ingin marah karena ulah Isaz itu langsung mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan terakhir Isaz. “Karena kamu membahas tentang hal itu, kebetulan sekali berhubungan dnegan apa yang ingin aku tanyakan.”
“Apa yang ingin kamu tanyakan, Algiz??” Isaz mengambil beberapa langkah mundur agar Algiz merasa nyaman untuk bercerita.
“Begini … “ Algiz memulai ceritanya dan menceritakan kembali apa yang didengarnya dari Deon secara lengkap tanpa ditambah maupun dikurangi.
“Apa yang ingin kamu pastikan adalah apakah aku penulis cerita itu, begitu?” tanya Isaz ketika Algiz menyelesaikan ceritanya.
“Ya.” Algiz menganggukkan kepalanya.
“Sayangnya penulis skenario itu bukan aku, Algiz! Bahkan jika aku punya alasan sekalipun untuk membuatmu mengingat kembali masa lalu yang sempat kamu lupakan, aku tidak akan melakukan tindakan bodoh dengan menulis cerita itu dan membuatnya menjadi film!” Isaz bicara dengan nada dinginnya.
“Kalo bukan kamu, lalu siapa??”
“Hanya ada satu kemungkinan, Algiz! Cerita itu dibuat oleh penduduk desa yang pergi dari desa dan mungkin cerita mengenai dirimu diturunkan kepada keturunannya.”
“Kalo itu yang terjadi … maka kita tidak akan pernah bisa menemukan siapa orangnya.”
“Memang butuh waktu, tapi aku pasti bisa menemukannya, Algiz.” Isaz menjawab dengan tenang. “Hanya saja … “
“Hanya saja apa??” tanya Algiz.
“Motif penulis itu, kira-kira apa motifnya menulis cerita itu?” balas Isaz.
“Jangan-jangan!!”
__ADS_1
Sebuah ide muncul di dalam benak Algiz dan di saat yang sama juga muncul di dalam benak Isaz.
“Mungkin penulis itu mengincar benda pusaka yang kita bawa!”
*
Dua minggu berikutnya berlalu dengan cepat. Semua syuting Deon pun selesai dan proyek Long Journey to You pun resmi berakhir dan masuk ke dalam tahap editing. Untuk merayakan selesainya syuting, semua kru film mengadakan pesta dengan semua aktor dan aktris yang berperan. Tak seperti di lokasi syuting, kini semua orang terlihat akrab dan beberapa staf mulai dengan terang-terangan untuk meminta foto bersama dengan aktor dan aktris favorit mereka.
“Cheese!!”
Klik, klik! Deon sebagai pemeran utama pria menerima banyak permintaan foto bersama dan menerima beberapa hadiah dari kru yang merupakan penggemarnya. Sebagai ganti hadiah yang diterimanya, Deon memberikan tanda tangannya kepada staf yang merupakan penggemarnya.
“Terima kasih, Aktor Deon!”
“Sama-sama.”
Pesta malam itu berakhir dengan cukup menyenangkan. Selain makan bersama, berbincang bersama, semua kru beserta semua orang yang terlibat termasuk para pemeran saling menceritakan kesan menarik masing-masing. Dan setelah empat jam menghabiskan waktu bersama, pesta berakhir.
Deon pulang bersama dengan Niel, penata rias dan pengawalnya.
“Kamu mau pulang atau tidur di sini?” Deon bertanya kepada Niel yang mengantarnya pulang ke apartemennya.
“Aku pulang saja. Kamu istirahat saja.”
“Ehm …” Deon menganggukkan kepalanya sembari berjalan ke atas ranjangnya.
“Deon?” Niel yang hendak pergi, mengurungkan niatnya dan mengikuti Deon ke kamarnya.
“Aku ingin minta libur selama seminggu. Apa boleh?” tanya Niel.
“Tentu. Bilang saja ke Okta kalo aku mengijinkanmu libur. Seingatku … selama dua minggu ke depan jadwalku tidak banyak. Aku juga sebenarnya ingin minta libur beberapa hari.”
“Kamu setuju???” Niel bertanya lagi untuk memastikan.
“Ya, liburlah! Tapi jangan lupa bawakan aku oleh-oleh!! Aku kangen masakan ibu dan nenekmu.” Deon bicara sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.
“Tentu, akan aku bawakan. Trims, Deon. Kamu memang yang terbaik.”
Setelah mendapatkan persetujuan dari Deon, Niel keluar dari apartemen Deon dengan senyum di bibirnya sementara Deon memejamkan matanya karena rasa kantuk yang teramat sangat menyerangnya.
“Deon, Deon!! Bangun!!”
Siapa? Niel?? Deon yang tertidur dengan nyenyak, rasanya belum lama memejamkan matanya. Tapi panggilan yang memanggil namanya tanpa henti, terus mengganggu tidur nyenyaknya.
“Deon, Deon!! Ayo bangun!!”
Siapa sih yang terus-terusan manggil?? Suaranya … bukan suara Niel. Deon tadinya tidak ingin bangun, tapi karena suara itu bukan Niel akhirnya Deon membuka matanya meski tidak ingin.
__ADS_1
“Deon!! Akhirnya kamu bangun juga!!”
Madaharsa?? Apa ini mimpiku yang lain?? Deon membuka matanya dan mendapati wajah Madaharsa tertangkap oleh matanya. Deon mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan.
“Madaharsa?? Apa ini mimpi yang lain??” gumam Deon.
“Mimpi?? Ini bukan mimpi, Deon!! Ayo bangun!!” Tidak seperti sebelum-sebelumnya, Madaharsa kali ini lebih agresif dan sedikit memaksa. Madaharsa bahkan menarik tangan Deon dan memaksa Deon untuk bangun dari tidurnya.
“A-aku masih ngantuk. Biarkan aku tidur lagi.” Deon masih bergumam dengan suaranya yang lemah dan memelas.
“Kamu nggak boleh tidur!! Kita janji mau kencan kan??”
Kencan?? Mendengar kata kencan, mata Deon yang masih setengah terbuka melihat sekelilingnya dan menemukan pemandangan kamar tidur apartemennya. Deon mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan jika apa yang dilihatnya saat ini masih kamar apartemennya. Dan begitu menyadari tempat yang terlihat oleh matanya adalah apartemennya sendiri, Deon langsung membuka matanya lebar dan melompat kaget. “Ehh??? Algiz??”
“Ya, ini aku Algiz. aku juga Madaharsa! Kenapa kamu tiba-tiba berteriak??”
Deon menarik selimutnya karena kaget menemukan Algiz berada di kamarnya. “Ke-kenapa kamu bisa ada di kamarku??”
“Aku bisa teleportasi ke mana pun, kenapa aku tidak bisa teleportasi ke kamarmu, Deon??” Algiz bicara dengan polosnya.
“Ka-kamu!!!” Dengan masih menutupi tubuhnya dengan selimut, Deon berdiri dari ranjangnya dan mendorong Algiz keluar dari kamarnya.
“Kenapa??” rengek Algiz. “Aku kan tidak melakukan sesuatu padamu!!”
Deon memijat kepalanya tidak percaya melihat wajah Algiz yang polos. “Apa selama ini Isaz tidak mengajari sesuatu?? Jangan masuk ke kamar orang sembarangan terutama pria!! Bagaimana jika aku menyerangmu dan melakukan sesuatu yang buruk padamu???”
“Kamu nggak bakal lakuin itu!!”
“Kenapa kamu seyakin itu?” Deon heran.
“Karena sebelum kamu nyerang aku, aku akan membekukan dulu tubuhmu itu supaya tidak bisa bergerak!!”
Ahhh! Deon baru ingat jika wanita di hadapannya saat ini bukan wanita biasa. Aku lupa dia bukan wanita biasa yang bisa dengan mudah diserang!! Deon melihat senyum kecil di wajah Algiz. Ini mungkin juga adalah peringatan untukku. Jika aku ingin melakukan sesuatu padanya, lebih baik aku ijin lebih dulu demi keselamatan nyawaku.
__ADS_1