
“Kenapa kamu terus menemui Madaharsa?”
Kali ini … tidak seperti mimpi-mimpi Deon sebelumnya, Deon tidak lagi duduk di bukit bersama dengan wanita bernama Madaharsa. Yang ada sekarang seorang pria yang wajahnya tidak asing di mata Deon, sedang mencengkeram kerah pakaiannya, menatapnya tajam dan bicara dengan nada kasar padanya.
“Apa salahnya aku bertemu dengan Madaharsa? Dia masih belum menikah denganmu, jadi kamu tidak bisa melarangnya untuk bertemu denganku!” Seperti sebelum-sebelumnya, mulut Deon bicara tanpa perintah dari otaknya. Di saat yang sama, Deon juga terkejut mendengar ucapannya sendiri. Menikah? Dengan Madaharsa? Pria ini??
Deen berusaha mengingat mimpi-mimpinya yang lain dan muncul satu nama dalam benak Deon: Baram.
“Apa tujuanmu mendekati Madaharsa?? Kamu ingin merebut benda pusaka yang dijaganya?? Seperti kebanyakan orang yang datang kemari!! Andai saja penjaga yang lahir sama seperti sebelumnya: pria, aku mungkin tidak akan khawatir!! Tapi Madaharsa adalah wanita dan kamu terus muncul di hadapannya, mengatakan ini dan itu mengenai dunia luar!! Tak tahukah kamu Madaharsa tidak akan pernah bisa keluar dari desa ini, gunung ini??”
“Aku tahu!” Deon membela dirinya sendiri. “Tapi apa salahnya aku menceritakan dunia luar padanya??”
Sreeet!! Cengkraman tangan pria itu di kerah Deon semakin mengencang. Sorot mata pria itu semakin menyala seolah ingin melenyapkan Deon saat ini juga. Tapi Deon tidak merasa takut sama sekali. Deon merasa perbuatannya tidak salah.
“Kamu benar-benar tidak tahu apa kesalahanmu, huh?? Dasar pendatang!!”
“Apa salahnya aku menceritakan dunia luar pada Madaharsa?? Di luar sana ada banyak orang yang berbeda dari orang-orang di sini. Kehidupan mereka dan cara hidup mereka berbeda dan itu akan memberikanmu banyak pelajaran! Apa kamu tak tahu itu??” Deon masih membela dirinya.
“Kamu benar-benar!!!” Cengkraman di kerah pakaian Deon dilepas. Tapi dalam hitungan detik, tangan yang tadi mencengkram kerah pakaian Deon melayang dan kemudian mendarat di wajah Deon. Buk!! Satu pukulan itu cukup kencang hingga mampu membuat Deon jatuh terjungkal ke belakang.
“Akhhh!” Deon meringis merasakan rasa perih di bagian wajahnya yang terkena pukulan. Deon mengusap bagian sudut bibirnya dan menemukan warna merah kental di tangannya. Sial!! Dia memukul bintang terkenal sepertiku!! Beraninya dia!! Deon bangkit dan berniat untuk membalas pukulan pria bernama Baram itu. Tapi begitu mendekat ke arah Baram dan melihat dengan saksama wajah pria itu, Deon sadar wajah itu tidak asing di ingatannya.
Isaz. Nama itu muncul di dalam benak Deon dan berkat itu pukulan yang hendak dilancarkan Deon berhenti tepat sebelum menyentuh wajah pria itu. Buk!! Sebagai gantinya, pukulan dari Baram mendarat untuk kedua kalinya di wajah Deon.
Huft!! Deon menggelengkan kepalanya karena merasakan pening akibat pukulan kedua yang diterimanya. Pukulan kedua lebih kencang dari sebelumnya dan itu cukup membuat Deon merasa pusing selama beberapa detik.
Srettt!! Pria bernama Baram itu menarik kerah pakaian Deon lagi dan membuat Deon yang masih belum bisa menghilangkan efek pukulan itu merasakan pusing lagi. Sial!! Pria ini benar-benar!! Dalam hatinya, Deon benar-benar merasa kesal.
__ADS_1
“Manjauhlah dari Madaharsa, Akmana!! Apa yang kamu lakukan hanya membuat Madaharsa semakin sengsara!! Takdir hidupnya sebagai penjaga tidak akan pernah bisa diubah!! Kenyataan bahwa dia harus terus hidup di sini dan tidak bisa keluar, tidak akan pernah bisa berubah! Apa yang kamu katakan dan apa yang kamu ceritakan tentang kehidupan luar, hanyalah harapan palsu bagi Madaharsa! Aku harap kamu sadar akan hal itu!!”
Setelah mengatakan hal itu pada Deon, pria bernama Baram itu pergi dan meninggalkan Deon begitu saja. Kemarahan Deon yang tadi sudah ada di ubun-ubun tiba-tiba menghilang ketika pria bernama Baram yang mirip dengan Isaz itu menyebutnya dengan Akmana dan bukan namanya Deon. Apa ini? Akmana? Siapa dia? Apa pemilik nama itu adalah aku??
Setelah mengatur pandangannya dan memulihkan kepalanya yang sempat berputar-putar. Deon berjalan entah kemana. Kakinya berjalan begitu saja seolah tahu ke mana tujuannya dan begitu mendongak, Deon tiba di sebuah tenda.
“Hai, Akmana!! Dari mana saja kamu??”
Deon melihat beberapa pria di dalam tenda itu. Pria itu mengenakan seragam yang sama dengan Deon: seragam ekspedisi yang muncul dalam film-film pencarian harta karun. Mungkinkah mereka??
“Jangan bilang kamu habis ketemu dengan kekasihmu-si penjaga wanita itu?”
“Apa bagusnya wanita itu? Dia mungkin memang cantik, tapi hidupnya terkurung di tempat ini, di desa ini! Dia tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini!!”
Salah satu dari lima pria di hadapan Deon, mendekat ke arah Deon dan merangkul bahunya. “Biar aku kasih saran padamu, Nak!”
“Jika kamu ingin wanita itu bisa keluar dari tempat ini, ambil benda pusaka yang dijaganya! Harusnya begitu benda pusaka itu diambil, kewajiban wanita itu akan berhenti dan dia mungkin akan hidup seperti wanita pada umumnya!!”
*
Sudah dua minggu semenjak Deon keluar dari rumah sakit. Mimpi-mimpi yang muncul dalam tidur Deon, semakin hari semakin terasa menakutkan. Padahal di dunia nyata, hubungan Deon dengan Algiz semakin baik dan semakin dekat. Entah bagaimana Algiz muncul di atap gedung apartemennya dan tempat itu menjadi tempat Deon ketemu dengan Algiz.
Meski Deon dan Algiz saling menyembunyikan identitas masing-masing karena alasan yang tidak diketahui, Deon dan Algiz nyaman menjadi teman. Berkat itu, topik pembicaraan keduanya seolah tak pernah habis. Dari makanan kesukaan, minuman kesukaan, lagu kesukaan, hingga film, ada banyak hal yang bisa dibahas bagi Deon ketika bersama dengan Algiz. Kadang-kadang Deon meminta Algiz untuk melihat film bersamanya dan mendengar pendapat Algiz sebagai penonton. Deon tidak tahu apakah Algiz sadar atau tidak, tapi film yang Deon minta Algiz untuk lihat adalah film di mana dia berperan sebagai aktor utamanya.
“Apa kamu percaya dengan masa lalu dan reinkarnasi?”
Karena mimpinya yang mengganggu selama beberapa hari terakhir, Deon mencoba bertanya kepada Algiz mengenai pendapatnya.
“Entahlah, aku nggak tahu. Kenapa tiba-tiba bertanya?” Seperti biasanya, Algiz menjawab dengan nada suara datarnya.
__ADS_1
“Selama beberapa bulan terakhir ini, aku terus bermimpi. Aku memimpikan seseorang yang sama berulang kali. Awalnya mimpi terasa menyenangkan, setiap kali bangun setelah mimpi itu, aku merasa sangat senang dan bahagia. Tapi belakangan ini, mimpi itu terasa semakin menyedihkan.” Deon menjelaskan meski hanya tidak secara rinci.
“Apa hubungannya mimpi itu dengan masa lalu dan reinkarnasi??” tanya Algiz.
“Dalam mimpi itu, aku melihat beberapa orang yang aku temui dalam kehidupan nyata, Rae. Mimpi itu … aku rasa adalah sebuah cerita masa lalu antara aku dan orang-orang yang aku temui sekarang. Aku hanya takut, akhir dari mimpi itu buruk dan berimbas pada kehidupanku sekarang.”
“Mimpi hanya mimpi. Dia hanya bunga tidur. Bahkan meski mimpi itu adalah ingatan masa lalu tentang kehidupanmu dulu, mimpi itu harusnya tidak berefek apapun pada kehidupanmu sekarang! Di kehidupan ini, kamu masih punya pilihan dan kamu masih bisa menggunakannya!”
Wushhh! Angin malam yang dingin dan menusuk, menerpa wajah Deon dan Algis. Deon mungkin merasa sedikit dingin, tapi hal itu tidak berlaku untuk Algiz.
“Kalau kamu merasa dingin, harusnya kamu pakai pakaian yang lebih tebal!”
“Maaf!”
“Kali ini aku akan sedikit membantumu.” Algiz mengangkat tangannya dan kemudian rasa dingin yang tadi sempat Deon rasakan langsung menghilang.
Deon tahu apa yang Algiz lakukan, tapi Deon menutup mulutnya rapat-raapt bersikap seolah tidak tahu dengan apa yang Algiz lakukan.
“Lihat!!” Algiz tiba-tiba menunjuk ke arah langit di mana binjatuh jatuh terlihat. “Ada bintang jatuh!!”
“Ah benar. Kebetulan sekali!!”
“Cepat buat permintaan!!” Algiz bicara dengan sedikit menaikkan nada bicaranya untuk pertama kali.
“Kenapa aku??”
“Bukannya kamu merasa mimpimu buruk?? Buat permintaan agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan!!”
Deon merasa sedikit heran dengan ucapan Algiz. Tapi Deon tidak mau ambil pusing dengan hal itu dan langsung membuat permintaan. Kuharap kehidupanku sekarang tidak berakhir buruk seperti kehidupanku sebelumnya. Kuharap aku bisa bersama dengan Algiz! Seperti ini sudah cukup!
__ADS_1