
“Ke mana kita harus pergi, Baram??”
Lagi-lagi Deon menemukan dirinya berada di hutan, berjalan menyusuri hutan mengikuti Baram.
“Aku juga tidak tahu. Hanya saja-“ Suara Baram terhenti karena hujan deras dan berangin yang tiba-tiba datang. Baram menengadah menatap langit di atas dan membuat wajahnya basah oleh air hujan. “Kunang-kunang ini tidak mungkin muncul di saat begini?”
Deon menengadahkan kepalanya dan melihat beberapa kunang-kunang terbang dengan cahaya yang nyaris tak terlihat di bawah hujan deras dan berangin. Jelas sekali Deon melihat kumpulan kunang-kunang itu sedang berjuang mati-matian untuk memandu mereka di tengah badai meski nyawa mereka sebagai taruhannya.
Aku malu pada diriku sendiri. Kalimat itu tiba-tiba muncul di dalam benak Deon dan Deon yakin pikiran itu bukan berasal dari dirinya melainkan dari Akmana.
“Ayo!!” Baram mulai berjalan lagi, menembus hutan di pegunungan di tengah hujan deras dan berangin.
Aku malu pada diriku sendiri.
Aku sangat malu, sangat malu sekali.
Mulutku ini bicara tentang keindahan dunia luar di mana bisa bertemu dengan banyak orang di sana. Hanya saja … apa artinya orang banyak itu?
Jika dibandingkan dengan beberapa orang di sini, orang banyak itu tak terlihat berharga. Mungkin Madaharsa merasa sedikit kesepian, mungkin Madaharsa merasa sedikit bosan, tapi dia punya Baram, punya keluarga kecil dari Baram yang begitu peduli padanya.
Meski beberapa penduduk desa merasa takut padanya, tapi mereka menjaga Madaharsa dengan baik. Mereka khawatir jika Madaharsa mengalami apa-apa.
Jika dibandingkan dengan orang banyak di luar sana, beberapa orang di desa ini jauh lebih berarti.
Mulutku ini … Deon memukul mulutnya sendiri karena perasaan menyesal dan malu yang tiba-tiba menyerangnya. Apa yang Baram katakan, memang benar adanya. Harapan yang aku berikan pada Madaharsa, hanyalah harapan kosong semata.
Buk!!
Deon yang sibuk dengan pikirannya sendiri dan berjalan tanpa melihat, tiba-tiba menabrak Baram di depannya. “Uh!!” Deon mengangkat kepalanya dan melihat Baram diam mematung. “Kenapa berhenti, Baram??”
“Gua ini!! Apa sebelumnya ada di sini??”
Deon mengambil satu langkah ke samping untuk melihat apa yang Baram lihat. Lohh gua ini?? Deon sama kagetnya dengan Baram. “Sejak kapan gua ini ada??” Sekali lagi, mulut Deon bicara tanpa mendengar perintah darinya.
__ADS_1
Deg. Tiba-tiba saja, jantung Deon berdetak sangat kencang hingga membuat Deon merasa sakit. Di depan mulut gua yang gelap itu, Deon tiba-tiba merasakan firasat buruk datang menyerangnya. Wusshhhh!! Angin kencang yang berembus bersama hujan deras, membuat Deon semakin merasa takut akan sesuatu yang buruk yang akan terjadi ke depannya.
*
Buk!! Deon terbangun karena kepalanya baru saja membentur dinding gua yang keras dan membuat Deon terpaksa membuka matanya. “Akhhh!!” Deon meringis menahan rasa sakit di kepalanya dalam keadaan mata setengah terbuka. Sial!! Aku ketiduran di sini!
“Bagaimana kamu bisa tidur di tempat seperti ini??”
Mendengar suara bicara padanya, Deon menoleh ke kiri dan menemukan seseorang sedang duduk bersama dengannya. Dengan cahaya bulan purnama yang menerangi, Deon dapat dengan jelas melihat kedua mata yang sedang menatapnya dengan saksama.
“Akhhhh!!!” Kali ini Deon teriak bukan karena sakit, tapi karena kaget setengah mati. Saking kagetnya, semua indra Deon yang tadinya merasa lelah tiba-tiba aktif hanya dalam hitungan detik.
“Akhhhh!!!”
“Akhhhh!!!”
“Akhhhh!!!”
Suara teriakan kaget Deon menggema di dalam gua dan membuat telinga Deon bersama dengan sosok di sampingnya merasa sedikit terganggu.
Deon langsung menutup mulutnya karena merasa bersalah. “Maaf, aku tadi kaget sekali.” Deon kembali duduk di tempatnya semula dengan jantung berdetak kencang. “Ke-kenapa kamu bisa di sini? Ba-bagaimana kamu bisa menemukanku di sini??”
“Jangan tanyakan itu! Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini!! Ketika aku melakukan teleportasi, aku tiba-tiba sampai di tempat ini dan menemukanmu tidur di sini seperti gelandangan! Apa kamu kehilangan semua uangmu dan akhirnya terlantar di sini?”
“Ehhh??” Deon kaget mendengar pertanyaan Algiz. Aku?? Jadi gelandangan?? Itu adalah sesuatu yang mustahil karena aku menghasilkan banyak uang yang cukup untuk dua generasi!
“Apa kamu menjual tempat tinggalmu dan pindah ke sini??” Algiz bertanya lagi.
“Bu-bukan gitu. Kebetulan akua da pekerjaan di dekat sini. Bukannya aku sudah cerita kalo akua da pekerjaan di luar kota?” Deon mengingatkan.
“Ah benar. Aku lupa. Tapi …” Algiz melirik Deon. “Melihat kamu tidur seperti itu, siapapun pasti mengira kamu adalah gelandangan.”
Gelandangan lagi?? Dia benar-benar!! Bagaimana bisa bintang terkenal sepertiku dianggap gelandangan bahkan ketika aku tidur di pinggir jalan! Di negara ini hanya ada sebagian kecil orang yang tidak kenal siapa aku!! Deon terkekeh karena pikirannya sendiri. “Lain kali, aku nggak akan tidur di sini lagi.”
__ADS_1
“Ya, jangan lakukan itu lagi! Meski kamu tidak punya uang, jangan tidur di sini! Bagaimana jika kamu berguling dan jatuh ke sana??” Algiz menunjuk laut di bawah mereka.
“He he he.” Deon terkekeh lagi sembari membayangkan dirinya jatuh ke laut dan menghilang tanpa bisa ditemukan. “Ya, ya, aku nggak akan tidur di sini lagi.”
“Terus kenapa bisa tidur di sini??” Algiz bertanya lagi. “Padahal di sini cukup dingin.”
“A-aku tidak bisa tidur. Karena pekerjaanku, aku harus tidur bersama dengan teman-temanku di sini dan mereka cukup berisik.” Deon menjelaskan alasannya tiba di gua meski hanya sebagian saja. Nggak mungkin kan aku bilang pada Algiz, aku datang ke sini karena rindu padanya!! Siapa aku ini?? Aku hanya sedikit dari beberapa temannya!! Bahkan jika aku rindu padanya, aku tak punya hak dan keberanian untuk meminta bertemu dengannya!!
“Tapi … di sini tidak buruk juga.” Deon melirik Algiz dan menemukan wanita itu sedang menatap ke arah langit di mana bulan purnama dan bintang di sekitarnya bersinar cukup terang. “Pemandangan di sini cukup bagus juga.”
“Ya, aku juga setuju untuk itu.”
“Tapi … entah kenapa rasanya ada perasaan nostalgia di sini,” ujar Algiz.
“Eh??” Deon kaget mendengar ucapan Algiz. “Apa kamu pernah kemari sebelumnya??”
“Nggak. Aku nggak pernah ke sini. Ini pertama kalinya.”
Apa mungkin tempat ini adalah-
Algiz tiba-tiba mengangkat tangannya. Deon yang tadinya memikirkan sesuatu, tiba-tiba tertarik dengan apa yang ingin dilakukan oleh Algiz.
“A-apa yang mau kamu lakukan??” tanya Deon.
“Seperti biasa.”
Algiz membuat gerakan dengan tangannya dan tidak lama kemudian kumpulan kunang-kunang muncul dan beterbangan di dekat Deon dan Algiz. Kawanan kunang-kunang yang dipanggil oleh Algiz, lebih banyak dari pada kawanan yang Algiz panggil ketika berada di atap gedung apartemen Deon.
“Waahh!!” Deon merasa kagum melihat banyaknya kunang-kunang yang datang ke arahnya karena panggilan Algiz. “Mereka banyak sekali di sini.”
“Ya. Di tempat seperti ini, kunang-kunang jumlahnya lebih banyak dari di kota.”
Di balik masker hitamnya, Deon tersenyum melihat dirinya bisa melihat Algiz setelah sekian lama. Ini pasti karena bintang jatuh tadi. Benak Deon tiba-tiba berkata seperti itu.
__ADS_1
Huft!! Deon menatap Algiz yang sibuk menatap langit malam dan isinya. Dia pasti juga merasa senang sama seperti aku. Sayang sekali, aku tidak bisa melihat senyuman yang selalu tersembunyi di balik masker hitam itu.