
Tepat sebelum matahari terbit, Algiz meminta Deon untuk kembali. Algiz mengantar Deon hingga ke ujung mulut gua yang lain.
“Bagaimana denganmu??” tanya Deon sebelum menuruni gunung dan kembali ke mobil campnya.
“Aku bisa melakukan teleportasi.”
“Kamu benar-benar hebat! Bisa melakukan apapun yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang!” Deon memberikan pujiannya. “Jujur saja … kadang aku merasa iri denganmu. Jika bisa aku ingin pergi ke tempat yang jauh seperti yang bisa kamu lakukan!!”
“Sebelum aku pergi, bisa aku tanya sesuatu.”
“Ya.”
“Kenapa kamu sama sekali tidak tanya bagaimana aku bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh kebanyakan orang?” tanya Algiz. “Kebanyakan orang biasanya langsung bertanya, ‘bagaimana bisa?’, ‘kenapa hanya kamu?’??”
Deon menggaruk kepalanya. Jelas aku tidak tanya, kan aku tahu siapa kamu sebenarnya. Tapi aku nggak bisa kasih jawaban itu kan!! Deon diam sejenak sembari memikirkan jawaban yang bijak. “Aku punya kamu sebagai teman saja sudah cukup. Aku ini punya masalah di mana aku tidak bisa punya teman. Bahkan belum lama ini, aku mengalami depresi karena kesepian.”
“Kamu bisa depresi?”
Eh?? Deon kaget mendengar pertanyaan Algiz. “Ya, bisalah. Kenapa nggak? Semua manusia kan bisa depresi.”
“Aku tahu itu. Tapi lihat kamu hidup dengan cukup santai, kukira kamu sangat-sangat menikmati hidupmu.” Algiz memberikan jawaban yang polos hingga membuat Deon ingin tertawa mendengarnya.
“Deon!! Di mana kamu??”
Dari kejauhan terdengar teriakan Niel yang sepertinya sudah menyadari hilangnya Deon semalaman.
“I-itu! kamu harus pergi, Rae!! Itu temanku yang sedang mencariku!!” Deon bicara dengan panik.
“Ya.” Algiz mengangkat tangannya dan bersiap untuk pergi dengan teleportasi.
“A-apa kita bisa ketemu lagi??” Deon bertanya tepat sebelum Algiz pergi.
Algiz menganggukkan kepalanya. “Ya, bisa.”
“Oke, pergilah kalo gitu. Kita ketemu lagi dua hari lagi di gua ini.” Deon meminta Algiz untuk segera pergi karena mendengar suara Niel yang semakin dekat.
Ting!! Algiz menjentikkan jarinya dan dalam sekejap mata menghilang begitu saja dari hadapan Deon.
__ADS_1
Ehhh?? Semudah itu?? Deon kaget melihat Algiz menghilang begitu saja. Enaknya!!! Jika aku bisa melakukan hal yang sama juga, aku pasti bisa menghindari penggemar fanatikku yang terus membuat ulah!!
“Deon!!!” Dari balik pepohonan di kaki gunung, Niel muncul dengan napas tersengal.
“Ya, aku di sini!!” Deon bicara dengan nada santainya seolah tidak terjadi apapun.
“Kamu!!!” Niel menghampiri Deon dan langsung melayangkan pukulan kecil di bahu Deon. Buk!! “Ke mana saja kamu?? Aku panik melihatmu menghilang!!!”
“Hanya jalan-jalan cari udara segar!!” Sekali lagi, Deon bicara dengan nada santainya.
“Deooonnn!!” Niel mengomel sembari memeriksa seluruh tubuh Deon. “Untung saja kamu tidak terluka!! Lain kali … bilang kamu pergi!!”
“Ya, ya, maaf.” Deon merasa sedikit menyesal melihat Niel yang panik setengah mati mencarinya. “Lain kali aku akan kirim pesan kalo mau jalan-jalan. Tapi-“
“Ta-tapi apa??” Napas Niel masih tersengal.
“Gara-gara siapa aku tidak bisa tidur dan harus keluar untuk jalan-jalan??” Deon bicara dengan nada santainya sembari menyipitkan matanya. Seperti biasa, Deon tidak ingin kalah bahkan jika itu manajernya sendiri yang sudah dianggapnya sebagai teman dan saudara.
“A-apa itu karena aku??” Niel langsung menunjuk dirinya sendiri begitu melihat tatapan Deon padanya.
“Ya, kamu ngorok kencang sekali. Bahkan sampai mengalahkan suara jangkrik di luar!!”
“Apa nanti malam perlu aku rekam??” balas Deon.
“Maaf, maaf! Akan aku usahakan untuk tidak begitu lagi.”
Niel menarik Deon untuk kembali ke camp mereka. Sebelum kembali, Deon melihat gua di mana dirinya keluar tadi. Gua ini!! Melihat pintu gua itu lagi, Deon kembali teringat dengan mimpinya semalam di mana dirinya berdiri bersama dengan Baram di depan mulut gua.
“Ayo cepat, Deon!! Kita harus bersiap untuk jadwal syutingmu!!” Niel menarik Deon lagi dan memaksanya berjalan lebih cepat.
Apa mungkin kedatanganku kemari bukan kebetulan saja?? Pertanyaan itu muncul di dalam benak Deon ketika mengingat kembali mimpinya semalam.
*
“Cut!! Ayo bersiap untuk set berikutnya!!”
Setelah seharian Deon melakukan syuting, Deon akhirnya punya waktu istirahat lebih banyak sekarang. Setelah mengulang adegan yang sama hingga lima puluh kali, Deon kini merasa lelah. Bukan karena lelah karena badannya yang letih, tapi lelah karena lawan mainnya benar-benar membuatnya kesal.
__ADS_1
“Kerja bagus, Deon!!” Niel langsung memberikan minuman dingin yang dibawanya dari truk makanan yang dikirim Okta atas nama penggemar Deon.
“Jangan kopi! Apa tidak ada minuman dan makanan manis?? Aku benar-benar kesal sekarang!!”
Niel yang paham langsung meletakkan kopi dingin di tangannya dan berlari ke truk makanan untuk mengambil makanan dan minuman dingin yang tersedia. Hanya dalam hitungan menit, Niel kembali lagi. “Hanya minuman coklat dan kue coklat, gimana??”
“Ya, itu lebih baik dari kopi dingin yang pahit.” Deon langsung mengambil makanan dan minuman dari tangan Niel dan melahapnya. Sementara itu Niel duduk di samping Deon sembari memegang kipas elektrik untuk Deon agar riasan Deon tidak rusak karena keringat.
Slurppp! Nyam, nyam!!
Berkat makanan dan minuman manis itu, mood Deon yang sempat memburuk langsung kembali membaik. Huft!! Deon menghela napas sembari bicara dalam benaknya sendiri. Untung saja semalam aku bertemu dengan Algiz. Kalo tidak, mungkin aku sudah menelan hidup-hidup aktris itu!!
“Sudah mendingan?” Niel bertanya untuk memeriksa.
“Ehm, berkatmu dan makanan ini.”
Deon memikirkan jalannya syuting selama dua minggu ini. Skenario ini, kira-kira siapa penulisnya? Aku benar-benar tidak sabar ingin mengetahuinya!! Kisah Madahrasa dan Akmana, benar-benar seperti dalam mimpiku. Pertemuan mereka yang dimulai oleh kecelakaan kecil yang dialami Akmana dan timnya ketika menjelajah untuk menemukan benda pusaka, hingga perasaan cinta yang muncul di dalam hati Akmana untuk Madaharsa seiring berjalannya waktu. Penulis itu seolah-olah berada di lokasi yang sama dengan Akmana dan Madaharsa, dan melihat kisah mereka dari dekat seperti yang aku lakukan ketika berada di dalam mimpiku.
“Bersabarlah, Deon. Aktris itu adalah salah satu penggemarmu.” Niel mencoba menenangkan Deon.
“Aku tahu itu. Tapi tetap saja membuatku mengulang adegan mudah itu hingga lima puluh kali, itu benar-benar membuatku kesal! Ditambah lagi hari ini sangat panas! Tanah yang basah oleh hujan, terasa seperti sauna karena sinar matahari yang terik!!” Deon mencoba menjelaskan. Deon ingat dirinya saat masih menjadi aktor kelas biasa, dirinya berusaha sangat keras karena tidak ingin membuat aktor senior mengulang adegan-adegan mudah karena dirinya.
Lima puluh kali!! Itu adalah jumlah adegan yang aku ulang untuk film action. Deon mengeluh lagi. “Oh ya, Niel! Apa masih belum ada kabar dari temanmu itu?”
“Ahh, aku hampir saja lupa, Deon. Untung kamu tanya.” Niel mengeluarkan ponselnya dan mengirim email ke email Deon. “Buka saja emailmu. Baru saja aku mengirim apa yang Virzha kirim padaku.”
“Ponselku kan di kamu, Niel!” balas Deon.
“Ah iya lupa lagi!!” Niel langsung mengambil ponsel milik Deon di tasnya dan memberikannya kepada Deon.
Tanpa banyak menunggu, Deon langsung membuka email dari Virzha dan hasil pencariannya selama dua minggu ini.
__ADS_1