LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
PERMINTAAN PADA BINTANG JATUH


__ADS_3

            Sudah selama dua minggu, Deon bersama dengan kru melakukan proses syuting. Jalannya proses syuting kali ini lebih lambat dari kebanyakan syuting yang pernah Deon jalani. Alasannya pertama lokasi syuting yang memang tak mudah. Alasan kedua adalah cuaca. Musim hujan harusnya masih sekitar tiga bulan lagi, tapi terkadang hujan datang dengan cukup deras dan membuat lokasi syuting becek dan tak lagi bagus di kamera. Alasan ketiga adalah jarak. Jarak tempuh untuk dua lokasi utama di desa ini cukup jauh. Meski ada mobil sekalipun, membawa banyak properti tetap membutuhkan waktu.


            “Kamu baik-baik saja, Deon??” Niel merasa cemas karena cuaca hari ini lebih panas dari beberapa hari sebelumnya.


            “Aku baik-baik saja. Memang sedikit panas.”


            Setelah mengulang adegan yang sama hingga sepuluh kali, akhirnya jadwal hari ini berakhir dan Deon punya waktu istirahat selama beberapa jam. Wushhh!! Ditambah lagi angin kencang yang berembus dari arah pantai dan mungkin hujan akan turun lagi mala mini, sutradara meminta syuting di malam hari dibatalkan dan diganti dengan waktu istirahat.


            Duaaar!! Dan benar saja ketika kru akhirnya kembali ke desa, suara guntur menggelegar dan cukup memekakkan telinga.


            “Sutradara kali ini benar-benar punya firasat yang bagus. Setiap kali hujan mau turun, dia langsung meminat jadwal dibatalkan,” komentar Niel.


            “Bukan tanpa alasan Pak sutradara jadi sutradara yang melegenda di negara kita. Pengalamannya pasti sudah banyak sekali.” Deon memberikan pujiannyan kepada sutradara idolanya yang kini bekerja sama dengannya.


            “Kamu benar juga.”


            Karena berada di desa yang cukup terpencil, kru menyediakan mobil camp untuk para aktor, aktris dan sutradara. Sementara kru yang lain mendirikan beberapa tenda besar. Dua tenda besar untuk tidur kru pria dan kru wanita, satu tenda besar yang dijadikan tempat makan dan satu tenda lagi yang digunakan untuk ruang penyimpanan dan ruang rapat.


            Malam ini karena hujan yang mungkin akan turun selama semalaman, sebagian kru sibuk mengamankan semua peralatan dan memeriksa jika ada kebocoran di tenda. Sebagian kru lain menyiapkan makan malam yang diantar dari catering kota. Deon bersama dengan aktor lain, mengambil waktu santainya untuk beritirahat sejenak dan membersihkan diri.


            “Kamu mau makan?” tanya Niel yang datang dengan payungnya sembari membawa lima kotak makan untuk Deon, Niel, penata rias Deon dan dua pengawalnya.


            “Nanti saja. Kamu makan dulu.”


            Niel membagikan makanan untuk yang lain dan meletakkan makanan untuk Deon di meja. Nyam, nyam! Niel bersama dengan penata rias dan dua pengawal Deon makan dengan lahapnya dan hal itu menarik perhatian Deon.


            “Enak??” tanya Deon.


            “Nggak buruk.”


            “Pak Okta kapan datang? Katanya dia mau datang untuk mengantar truk makanan dari penggemar?” tanya Deon lagi.


            “Mungkin besok, mengingat hari ini hujannya mungkin akan deras.”


            “Kalo gitu … besok kita bisa sedikit makan enak.” Mungkin karena sudah bosan atau lelah, Deon tidak selera untuk makan.


            Krik, krikk!!


            Tes, tes!

__ADS_1


            Hujan deras yang mengguyur selama beberapa jam, akhirnya sedikit mereda. Deon yang tidak bisa tidur karena suara jangkrik yang menggema, hanya bisa membolak balik tubuhnya layaknya ikan yang digoreng. Kasurnya yang lebih kecil itu tidak lama kemudian terasa panas karena suhu tubuhnya sendiri.


            Ngok, ngoook!


            Ditambah lagi Niel mala mini ngorok dengan cukup kencang, menambah derita Deon yang tidak bisa tidur di saat matanya terasa panas karena merasa sangat ngantuk. Nggak bisa begini terus!! Aku harus cari udara segar!! Deon mengintip dari balik jendela dan memastikan jika hujan di luar benar-benar sudah reda.


            Yosh!!  Deon membulatkan tekadnya, bangkit dari tempat tidurnya yang kecil, mengambil jaket bulu miliknya yang tebal dan berjalan berjinjit untuk menghindari semua orang yang tidur di mobil camp bersamanya tidak terbangun karena gerakan kecil darinya.


            Krieeettt!  Deon membuka pintu mobil campnya sepelan mungkin dan sehati-hati mungkin karena tidak ingin membangunkan siapapun dan tidak ingin mendengar omelan Niel. Huft!!! Begitu berhasil keluar dari mobil campnya, Deon melihat sekelilingnya di mana semua kru rupanya sedang tertidur. Hujan yang cukup deras tadi, berhasil membuat kru bekerja dua kali karena berusaha untuk mempertahankan tenda dan menjaga peralatan untuk tetap kering. Bahkan kru yang bertugas sebagai penjaga pun juga tak bisa menahan kantuknya dan tertidur dalam posisi duduk menyandar tiang tenda.


            Kasian sekali!! Deon melewati kru yang bertuags untuk menjaga dan berjalan menuju ke arah gunung. Mata Deon menatap gua di mana selama dua minggu ini dilewatinya bersama dengan kru dan ke sanalah Deon menuju.


            Hosh, hosh!! Saat bekerja, Deon sama sekali tidak merasa lelah berjalan melewati gua itu. Tapi saat berjalan seorang diri, ditambah lagi di malam yang sunyi, napas Deon tersengal-sengal karena merasa lelah. Ditambah lagi Deon hanya mengandalkan senter dari ponselnya sebagai penunjuk jalan yang membuat pandangan Deon terbatas dan Deon terpaksa harus berjalan lebih lambat dari biasanya.


            Wushhh!! Angin kencang dari arah laut langsung terasa di wajah Deon begitu tiba di mulut gua tujuan.


            “Uwaah!!!” Deon merasa senang karena perjuangannya membuahkan hasil. Pemandangan laut di malam hari lengkap dengan bulan purnama dan beberapa bintang terang di langit menjadi bayaran yang pantas. “Padahal masih ada awan mendung tapi bulan dan beberapa bintang masih terlihat.”


            Byurr!!! Wushhh! Suara deburan ombak dan angin yang berembus, membuat Deon merasa tenang sekaligus mulai merasa lelah. Deon duduk dengan bersandar di gua setelah memastikan jaraknya yang aman dari ketinggian daratan dan laut di bawahnya. Deon duduk menatap langit malam dan memikirkan Algiz. Bagaimana kabarmu di sana, Algiz?  Aku di sini merindukanmu. Sudah dua minggu ini, aku belum cerita apapun padamu. Padahal mimpi-mimpi itu terus berdatangan ditambah lagi aku melakukan syuting yang sama persis dengan mimpi-mimpi itu.


            Ting!! Tiba-tiba sebuah bintang jatuh tertangkap mata oleh Deon. Tadinya Deon enggan membuat permintaan pada bintang jatuh karena sebelum-sebelumnya Deon menganggap bintang jatuh hanyalah batuan yang jatuh dari angkasa. Tapi setelah mimpinya dengan Madaharsa dan ucapan Madaharsa mengenai bintang jatuh, Deon kali ini membuat permintaan pada bintang jatuh. Aku harap aku bisa ketemu kamu lagi, Algiz.


            Di sisi lain.


            “Kerja bagus, Algiz.”


            Enam rekan Algiz memberikan pujiannya kepada Algiz karena telah berhasil menghentikan banjir di negara Cina.


            “Kalian juga, terutama kamu, Isaz.” Algiz merendah seperti biasanya.


            “Aku tidak akan bisa melakukan apapun jika bukan karena bantuanmu, Algiz! Sehebat apapun aku, kalo bukan karena kemampuanmu mengendalikan angin dan membuat angin itu sebagai dinding pelindung, meski aku mampu mengubah air menjadi es tapi air itu akan mengakap orang-orang lebih dulu. Kalo sudah begitu, kemampuanku mengubah air menjadi es akan membunuh orang-orang yang terbawa arus banjir!!”


            “Ya.”  Algiz berjalan mengikuti enam rekannya dan berada paling belakang. Algiz berjalan dengan tenang hingga sesuatu membuat dadanya terasa sakit dan membuat Algiz berlutut. “Akkhh!”


            Mendengar rintihan Algiz, tentu enam rekan Algiz langsung panik. “Algiz!!”


            “Dadamu sakit lagi??” tanya Isaz.


            “Ya.”

__ADS_1


            “Sudah beberapa bulan ini kamu terus merasa seperti ini. Padahal dokter tidak menemukan masalah apapun, tapi kenapa kamu terus merasa sakit??” ujar Mannaz panik.


            “Kita pulang sekarang!”


 Isaz bersiap untuk menggendong Algiz dan lima orang lainnya bersiap untuk melakukan teleportasi. Sayangnya Algiz langsung menolak niat Isaz dan lima rekannya.


“Nggak! Percuma aku pulang!!” Algiz mengangkat tangannya dan bersiap untuk melakukan teleportasi. “Aku harus pergi ke suatu tempat!”


“Algiz!!” Isaz berteriak untuk menghentikan niat Algiz. Tapi teriakan itu tidak didengar oleh Algiz karena hanya dalam hitungan satu detik, Algiz sudah menghilang dari hadapan Isaz dan lima rekannya.


“Sebenarnya ke mana Algiz pergi?” tanya Ansuz.


“Ya selama beberapa waktu ini Algiz selalu pergi sendirian dan tidak pernah mengatakan ke mana tujuannya pergi,” tambah Mannaz.


Isaz bersiap untuk teleportasi dengan wajah kesal. Kenapa kamu terus menemuinya, Rae?? Padahal takdir yang mengikat kalian berdua adalah takdir buruk, akhir yang menunggu kalian pun juga akan berakhir buruk.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2