
“Kamu ini aneh!”
Deon menemukan dirinya duduk di bukit yang sama lagi dan menyadari pemandangan di hadapannya saat ini adalah mimpi-mimpinya bersama dengan wanita bernama Madaharsa.
“Kenapa aku aneh?? Aku hanya ingin jadi temanmu, kenapa kamu malah menganggapku aneh??” Mulut Deon mengajukan keluhan yang sama persis seperti yang ada di dalam benaknya saat ini.
“Apa kamu tidak lihat, penduduk desa menghindariku?”
“Ahh, apa mereka menghindarimu? Kukira sikap mereka yang memang tidak suka dengan orang asing. Aku juga merasa mereka menghindariku.”
“Kamu aneh sekali.”
“Sekali lagi kamu bilang aku aneh, aku akan terus datang ke sini dan menghantuimu!” Deon menatap wanita bernama Madaharsa yang duduk berjarak lima langkah darinya. Deon ingin bertanya kenapa penduduk desa menghindari wanita di sampingnya itu. Tapi mulutnya tidak akan bergerak sesuai dengan perintah otaknya. “Kenapa mereka menghindarimu? Apa ada yang salah denganmu?”
Lucky! Deon bersorak dalam benaknya karena mulutnya sepertinya kali ini mendengar perintah dari otaknya.
“Mereka takut dengan penjaga.”
“Penjaga? Siapa kamu??”
“Ya, aku.”
“Kamu penjaga apa??”
“Sesuatu yang disimpan di dalam desa ini.”
“Terus kenapa mereka takut denganmu??”
Wanita bernama Madaharsa itu kemudian mengangkat tangan kanannya ke arah Deon dan tiba-tiba, wushhhhh!!
Deon tersentak karena ada angin yang cukup kencang menerpa wajahnya seolah baru saja menamparnya. “Apa yang baru saja kamu lakukan?? Kamu punya tangan tak terlihat??”
“Bukan. Penduduk desa takut denganku, karena aku mampu mengendalikan angin. Di masa lalu, penjaga dan penduduk hidup berdampingan. Tapi suatu hari terjadi masalah.”
“Masalah apa?”
“Wanita yang akan dinikahi oleh penjaga, diculik oleh salah satu penduduk desa.”
“Lalu apa yang terjadi??” Deon merasa kesal karena mulutnya bertanya tanpa perintah darinya.
“Penjaga itu mengamuk dan menghancurkan separuh desa. Kamu lihat bagian timur desa!”
Kepala Deon bergerak melihat ke arah yang ditunjuk oleh Madaharsa. “Ya, aku lihat. Bagian yang kering dan tandus itu, apa itu ulah penjaga yang kamu ceritakan?”
“Ya dan sejak kejadian itu, penduduk desa menghindari penjaga dan keluarganya karena tidak ingin hal yang sama terulang.”
“Lalu bagaimana dengan penjaga yang ingin melanjutkan keturunan?” Sekali lagi, mulut Deon bicara tanpa perintah dari otaknya. Padahal aku tidak ingin menanyakan hal itu!!
__ADS_1
“Kami akan memilih mereka. Siapapun yang dipilih harus mau jadi keluarga penjaga.”
“Bagaimana kalau orang itu tidak mau?”
“Maka desa ini akan hancur. Hanya penjaga dan keturunannya yang bisa menjaga benda itu!”
*
Di hari berikutnya, Deon diharuskan kembali ke kotanya dan harapannya untuk bertemu dengan wanita yang dipanggil dengan nama Algiz menjadi kecil. Tapi ternyata pikiran itu salah. Deon mungkin harus menunggu sekitar dua minggu lamanya, tapi penantian itu sepertinya cukup karena berkat itu Deon bisa melihat wanita itu lagi.
Drrrttttt!!
Beberapa kali getaran terjadi dan Deon tahu apa yang menyebabkan getaran itu terjadi. Gempa.
“Keluar semua!!”
Dua minggu ini, Deon sibuk dengan pekerjaannya di dalam kota. Deon sibuk memilih naskah film yang masuk sembari sibuk pemotretan untuk iklan majalah.
“Deon!!” Niel dengan cepat menghampiri Deon dan langsung menarik Deon berlari bersama dengan semua orang yang berusaha menyelamatkan diri.
Ting!!
Ting!!
Notifikasi dari ponsel semua orang berbunyi di saat yang bersamaan dan membuat semua orang berpikiran hal yang sama: sesuatu yang buruk mungkin terjadi.
“Di mana pintu daruratnya??” Niel berteriak bertanya.
Drrrttttt!! Kreeeeettt!!
“I-itu!!” Niel panik mendengar suara efek dari gempa disusul dengan suara retakan.
Beruntungnya Niel dan Deon berada di studio tiga lantai di mana Deon tadinya melakukan pemotretan di lantai dua. Jadi tidak butuh waktu lama bagi Deon dan Niel bersama dengan kru lainnya untuk keluar dari gedung.
Drrrrtttt! Kreeettt!!
Bruukkk!!
Suara retakan yang tadi terdengar rupanya bukan berasal dari gedung di mana Deon dan Niel berada. Melainkan berasal dari gedung yang berada tepat di sebelah gedung Niel dan Deon.
Karena gempa yang berulang kali terjadi, gedung lima lantai itu langsung ambles dan rata seolah gedung itu tak pernah ada.
Wussshhhh!!
Angin kencang tiba-tiba berembus, membuat Deon teringat akan mimpinya. Angin ini … Deon langsung melihat sekelilingnya mencari sosok yang diharapkannya untuk bertemu selama dua minggu ini. Dan benar saja, sosok itu melayang di udara di ketinggian gedung lima lantai tepat di atas kepala Deon.
“Algiz,” gumam Deon.
__ADS_1
Deon menatap ke arah Algiz dan berharap Algiz akan mampu mengenalinya. Tapi mengingat Algiz yang sudah bertemu dengannya dua kali dan sama sekali tidak memberikan reaksi mengenalinya, Deon sadar keinginan sederhananya itu adalah mustahil.
“Algiz!!”
Suara lain berteriak memanggil wanita yang ingin Deon lihat selama dua minggu ini. Deon melihat ke arah lain dan menemukan ada beberapa pria yang berlari mendekat ke arah Deon. Salah satu dari pria itu, Deon mengenalinya: Isaz.
“Aku sudah mengunci yang selamat, Isaz!” teriak Algiz.
“Bertahanlah! Mungkin akan ada gempa susulan!”
“Ansuz, Mannaz!! Lakukan dengan cepat!!” Isaz bicara pada beberapa rekan di belakangnya.
Dua orang pria bertubuh tinggi dengan cepat maju dan kemudian melakukan hal yang sama dengan yang pernah Algiz lakukan: mengangkat satu tangannya. Akan tetapi apa yang mereka lakukan sepertinya berbeda dengan yang Algiz lakukan. Karena puing-puing gedung yang hancur tiba-tiba terangkat seolah tidak terikat hukum gravitasi.
“Ada sepuluh orang. Lima orang hanya mengalami luka ringan, lima lainnya terluka parah.”
“Yang luka parah lebih dulu. Di mana posisinya, Mannaz?”
Deon yang melihat percakapan dua orang pria itu bisa dengan mudah menebak mana pria dengan nama Mannaz dan mana yang bernama Ansuz. Pria yang lebih tinggi dan lebih kurus adalah Mannaz sementara pria dengan tinggi yang hanya beda tiga centi adalah Ansuz.
“Di sebelah kananmu, Ansuz!”
Kaaakkk, kaaakkkk!
Deon mendengar suara burung. Deon menengadahkan kepalanya ke atas dan menyadari ada beberapa burung yang beterbangan di dekat Algiz yang masih malayang di udara.
“Isaz!!”
Deon mendengar teriakan Algiz di saluran komunikasi milik Isaz yang berdiri tidak jauh darinya.
“Aku tahu!” Setelah menjawab Algiz, Isaz berteriak pada rekan-rekannya. “Bersiap!! Gempa susulan akan datang!!”
Drrrttttt!! Kreeetttt!!! Kreeetttt!
Kali ini suara retakan itu terdengar lebih dekat. Deon melihat ke bawah kakinya dan menemukan retakan yang didengarnya berasal tepat dari bawah kakinya. Gawat!!! Tanahnya akan!!
Deon meraih tangan Niel dan mencoba untuk menarik Niel bersama dengan kru lain untuk menjauh dari retakan. Tapi sebelum Deon berhasil melakukan itu, tanah di bawah kakinya sudah longsor.
“Akhhh!!”
Deon menutup matanya bersiap menerima kematiannya bersamaan dengan teriakn histeris orang-orang di dekatnya. Tapi ketika tubuhnya tidak merasakan apapun, Deon memberanikan dirinya membuka matanya dan menemukan dirinya bersama dengan beberapa orang di dekatnya kini melayang sama seperti Algiz.
Kenapa ini??
__ADS_1