LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
ANAK HILANG MENEMUKAN JALAN MENUJU RUMAH


__ADS_3

            “Akmana!!” Sadana memukul bahu Akmana. “Kamu benar-benar menemukan desa ini. Padahal aku sudah mencarinya selama lima tahun, tapi ternyata aku tidak pernah menduga gunung itu menghalangi desa ini.”


            “Apa benar di desa ini benar-benar ada benda pusaka itu?” Mulut Deon bertanya tanpa kehendak darinya lagi.


            “Ya, itu yang kami yakini dari cerita keluargaku.”


            “Bukankah dari cerita keluargamu, benda pusaka itu tersimpan entah di mana??”


            “Ya begitulah.”


            “Kenapa kamu ingin menemukannya, Sadana?”


            “Aku ingin melihat betapa hebatnya benda itu hingga keluargaku begitu terobsesi untuk menemukannya.”


            Deg. Jantung Deon berdetak kencang. Deon tidak bisa membedakan detakannya saat ini murni detakan jantung miliknya atau detak jantung tubuh Akmana. Tapi yang jelas Deon juga merasakan denyut jantungnya yang semakin kencang.


            Dia adalah keturunan dari murid jahat itu. Deon melihat ke arah Sadana dan teringat akan kisah tiga murid dari pembuka desa.


            Semua bencana ini, akhir yang buruk dari kisah Madaharsa dan kehancuran desa, semuanya adalah ulah dari pria ini. Itulah yang Deon yakini ketika melihat Sadana yang kini tersenyum lebar memandang ke arah desa di mana Madaharsa dan Baram tinggal. Sial kau, Akmana!!


            Deon marah pada Akmana melalui benaknya. Kau justru mengantarkan bencana ke desa ini!! Tapi … Deon merasa sedikit menyesali kemarahannya pada Akmana. Ini bukan sepenuhnya salah Akmana. Desa ini, gunung ini dan tempat ini, dulunya adalah rumah Akmana. Entah bagaimana caranya Akmana hanyut di laut itu.


            Deon menoleh ke belakang di mana laut besar itu belakang gunung itu berada. Entah bagaimana caranya Akmana hanyut ke laut itu dan kemudian berakhir ditemukan oleh Kakek Ian. Yang jelas … Ian-lah orang yang mungkin menceritakan masa lalu Akmana pada Sadana dan membuat Sadana yang sudah terobsesi untuk menemukan benda pusaka itu menggunakan Akmana untuk menemukan desa ini.


            “Ayo kita masuk ke sana! Kita mungkin tidak akan disambut dengan baik!! Tapi berusahalah!! Apa kamu sudah merusak perahu kita??”


            “Ya.”


            “Bagus! Cara itu akan jadi alasan kita untuk menetap di desa ini dan menemukan apa yang kita cari!!”


            Deon menatap punggung Sadana dan merasa ingin sekali memukul pria itu sekarang juga. Tapi apa daya, Deon tidak bisa bergerak sesuka hatinya karena dirinya terikat dengan tubuh Akmana. Sial!! Sial!!!


            Byur!!!

__ADS_1


            “Dewangkara!! Bangun!!!”


            Pandangan Deon untuk sementara kembali gelap. Satu-satunya yang terdengar oleh Deon adalah suara wanita yang memanggilnya dengan nama aslinya. Sudah lama aku tidak mendengar nama itu dipanggil. Siapa yang memanggilku dengan nama itu??


            Perlahan mata Deon mulai terbuka. Samar-samar, Deon melihat sosok yang dikenalinya. Sosok itu menatapnya dengan sorot mata panik, cemas dan juga khawatir.


            “Dewangkara!!! Bangun!!!”


            Sedetik setelah mendengar suara itu lagi, sebuah pukulan yang cukup kencang mendarat di dada Deon. Buk!!! Pukulan itu cukup kencang hingga membuat Deon yang masih setengah sadar langsung membuka matanya dan memuntahkan air dalam jumlah banyak. Hoekkkk! Uhuk, uhuk!!


            “Akhirnya kamu bangun juga, Dewangkara!!”


            Deon menolehkan kepalanya setelah selesai memuntahkan air yang mungkin berasal dari saluran pernafasannya. Deon menatap sekali lagi sosok yang sejak tadi memanggil namanya dan memukulnya dengan cukup kencang.


            “Ka-kamu!! Gi-gimana kamu bisa ada di sini??” Deon menatap sekelilingnya dan mendapati dirinya berada di pantai. Sekelabat ingatan terakhirnya pun muncul bersamaan dengan mimpi panjangnya yang buruk. Ahh!! Aku ingat, aku jatuh dari sana dan tenggelam!!


            “Kamu benar-benar tenggelam seperti yang aku khawatirkan!” ujar Algiz yang kini duduk dan memandang Deon dengan tatapan lega.


            “Jadi ini salahku??” balas Algiz dengan sorot mata tajam seolah ingin membunuh Deon sekarang juga.


            “Jelas bukan. Ini salah wanita itu yang tidak hati-hati dan membuatku jatuh saatb bekerja!”  Deon menjelaskan. “Hanya saja … ucapan yang keluar dari mulutmu itu sepertinya bisa jadi kenyataan. Aku hanya minta kamu berhati-hati saat bicara.”


            “Tidak berterima kasih padaku??” Algiz menyindir Deon, membalas ucapan Deon yang tadi terkesan menyalahkan dirinya.


            “Ya, terima kasih. Berkatmu, aku selamat.” Deon melihat sekelilingnya lagi dan menyadari bahwa tempatnya berada sangatlah sepi. “A-apa tidak ada yang mencariku??”


            Algiz menunjuk dirinya sendiri. “Aku.”


            Deon terkekeh melihat Algiz menunjuk dirinya sendiri. “Selain kamu.”


            “Tadi mereka mencarimu. Tapi karena ombak terlalu kencang, mereka menunda pencarianmu.” Algiz menolehkan kepalanya dan menatap Deon dari dekat dan membuat Deon gugup.


            “Apa??” Deon menyentuh wajahnya dan menemukan jika wajahnya sekarang tak memakai masker hitam seperti yang dilakukannya ketika bertemu dengan Algiz. Wajahku, aku tidak memakai masker karena kecelakaan itu terjadi saat syuting baru saja berakhir.

__ADS_1


            “Kamu adalah aktor terkenal dengan penggemar bermasalah itu.” Algiz bicara sembari membuka masker hitam yang terpasang di wajahnya.


            “Ya, begitulah.” Deon merasa gugup karena Algiz rupanya mengenali dirinya. “Ke-kenapa kamu membuka maskermu, Rae??”


            “Supaya adil. Aku sudah melihat wajahmu dan kubiarkan kamu melihat wajahku. Ternyata sebelum kita bertemu di atap rumah sakit waktu itu, kita pernah bertemu sebelumnya.”


            Bagaimana pun aku melihatnya, wajah Algiz benar-benar mirip dengan Madaharsa. Mereka berdua bak pinang dibelah dua. Apa Algiz adalah reinkarnasi dari Madaharsa?? Melihat wajah Algiz dengan jelas untuk pertama kali, membuat Deon terpana dan di saat yang sama benak Deon mengajukan banyak pertanyaan.


            “Y-ya. Kalau aku tidak salah ingat, kamu adalah wanita di bandara waktu itu dan wanita yang bertukar tempat duduk denganku di pesawat.” Deon mencoba berbohong dan menutupi fakta bahwa dirinya tahu Algiz bukanlah orang biasa.


            “Mengingat kita pernah bertemu di bandara waktu itu, harusnya kamu tahu sekarang kalo aku ini bukan orang biasa?” Algiz menatap tajam ke arah Deon.


            Glup. Deon menelan ludahnya karena tekanan yang muncul dari tatapan Algiz padanya. “Ha-harusnya begitu.”


            Algiz tiba-tiba membuat senyuman di bibirnya. “Yah … aku tidak menyalahkanmu untuk banyak kebetulan yang terjadi di antara kita. Hanya saja … “


            Glup. Deon menelan ludahnya lagi sebelum bicara karena rasa takutnya yang bercampur dengan rasa senangnya karena akhirnya bisa melihat Algiz tersenyum di depan matanya. “Ha-hanya saja kenapa??”


            Algiz mendekat ke arah Deon seolah ingin memeluk Deon. Glup. Deon menelan ludahnya lagi karena tiba-tiba jantungnya berdetak sangat kencang. Dag, dig, dug.


            “Ka-kamu terlalu dekat, Rae!!”


            “Itu!” Algiz mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah belakang Deon. “Di sana ada sesuatu!!”


            “A-apa yang kamu lihat??” Deon menoleh ke belakang dan mendapati sebuah kerangka tangan terlihat karena sinar bulan purnama. “I-itu!!” Deon panik dan gemetar karena ini pertama kalinya melihat kerangka sungguhan.


            Algiz bangkit dan berjalan mendekat ke arah kerangka tangan itu. Tanpa rasa takut sedikit pun, Algiz mengambil kerangka itu dan memperhatikannya dengan saksama. “Harusnya ini sudah berumur-“


            Algiz tiba-tiba mematung dan membuat Deon bingung.


            “Rae?? Ada apa?? Kenapa tiba-tiba kamu terdiam?” Deon mencoba memanggil Algiz. tapi Algiz masih terus mematung, diam dan tak bergerak. Kenapa dia?? Merasa ada yang aneh dengan Algiz, Deon memaksa tubuhnya yang masih sangat lelah untuk bangkit dan menghampiri Algiz.


“Rae?? Apa kamu tidak dengar??” Deon mencoba memanggil Algiz ketika jaraknya sudah dekat dengan Algiz. Tapi sekali lagi, panggilan itu tidak mendapatkan respon dari Algiz dan membuat Deon yang tadinya takut untuk mendekat, terpaksa untuk mendekat pada Algiz lebih dekat dan menyentuh kerangka yang ada di tangan Algiz.

__ADS_1


__ADS_2