
Deon malu mendengar ucapan Algiz yang seolah sedang memujinya, sedang menggodanya dan sedang merayunya. Apa-apaan aku ini?? Deon memarahi dirinya sendiri yang merasa malu di saat dirinya adalah aktor papan atas yang terkenal dan sudah sangat berpengalaman. Kenapa kamu merasa malu dan tak karuan di saat seperti ini??
“Ba-bagaimana akhirnya kamu memilih untuk jadi aktor, Deon?” Pertanyaan Algiz itu berhasil menyelamatkan Deon yang sedang merasa tak karuan saat ini.
“I-itu cerita yang cukup panjang … “
“Kamu bisa meringkasnya, Deon.”
Melihat Algiz yang sepertinya tertarik untuk mendengar hidupnya, Deon mulai menceritakan kisah hidupnya dari hidupnya yang serba biasa hingga akhirnya bisa jadi aktor terkenal seperti sekarang ini. Deon adalah anak yatim piatu. kehilangan orang tuanya di usia sepuluh tahun dan kemudian tinggal di panti asuhan. Meski begitu hidup Deon tidaklah begitu buruk karena orang-orang di panti asuhan sangat menyayangi. Memainkan drama kecil di panti asuhan adalah hal yang paling Deon kuasai dan hal itulah yang jadi alasan Deon tertarik dengan dunia seni peran. Setelah lulus SMA, Deon memulai hidupnya dengan bekerja di rumah teater dan mulai menjajal berbagai peran. Tak lama kemudian, Okta-pemilik agensi di mana Deon bernaung menawarinya peran kecil sebagai aktor baik itu film dan TV. Tapi karena agensi itu awalnya adalah agensi kecil, jadi peran yang Deon dapatkan masih peran-peran kecil. Beruntung tidak lama kemudian Niel bergabung dan membantu Deon untuk mendapatkan peran-peran besar mulai dari peran pemeran kedua. Setahun setelah kerja samanya dengan Niel dan Okta, Deon mulai mendapatkan penghargaan sebagai pemeran pembantu terbaik dan di tahun berikutnya, Deon mulai mendapatkan penghargaans ebagai aktor terbaik karena pesatnya kemajuan yang Deon buat.
“Jadi … di kehidupan ini pun kamu juga kehilangan orang tuamu.” Algiz bicara dengan nada sedihnya. “Sama seperti Akmana.”
“Ah … soal Akmana. Apa Akmana benar-benar anak yang hilang dari keturunan murid kedua?” tanya Deon. “Sejujurnya aku penasaran dengan hal itu mengingat bencana itu datang karena Akmana membawa Sadana ke desamu.”
“Bencana itu bukan salah Akmana! Dia dan Baram punya nenek moyang yang sama, tentu kembali ke desa itu sudah jadi hak Akmana. Yang salah adalah Sadana! Dia memanfaatkan kebaikan Akmana, menipu Akmana dan membuat Akmana merasa bersalah!” Algiz menggelengkan kepalanya. “Soal keluarga Akmana … aku tahu sedikit keluarga itu.”
“Gimana keluarga Akmana??” Deon penasaran.
“Sama seperti Baram, Akmana adalah anak tunggal. Mungkin jika Akmana tidak hilang, anak yang akan jadi calon suamiku harusnya Akmana. Ibuku dan Ibu Akmana adalah teman dekat dan berasal dari desa yang sama. Mereka ada pendatang dan jatuh cinta kepada laki-laki dari desaku. Karena kewajiban yang diemban oleh ayahku sebagai penjaga, umurnya tidak akan panjang. Jadi … Ayah menitipkan ibuku dan aku pada keluarga Akmana karena hubungan baik ibuku dan ibu Akmana. Tapi ketika Akmana hanyut di laut dan tak kunjung ditemukan, Ibu Akmana syok berat. Dia jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Sementara Ayah Akmana yang terus berusaha mencari Akmana, akhirnya hanyut di lautan dan ditemukan tidak lama kemudian di pantai. Dua tahun kemudian, ibuku yang tidak bisa menahan rasa kehilangannya yang bertubi-tubi-dari suami hingga teman baiknya-akhirnya meninggal dunia karena sakit. Dan semenjak aku jadi anak yatim piatu, keluarga Baram-lah yang menjaga atas permintaan ibuku.”
“Ja-jadi pada awalnya Akmana-lah-“
Deon tidak melanjutkan pertanyaannya. Tapi Algiz memahami pertanyaan Deon itu dan langsung memberikan anggukan kepala sebagai jawaban.
“Ya. Jika Akmana tidak hanyut dan hilang, calon suamiku adalah Akmana. Ini mungkin aneh … tapi saat Akmana datang ke desa bersama dengan Sadana, aku ingat dengan baik tatapan matanya membuatku merasa rindu. Hanya saja … karena kejadian itu sudah berlalu cukup lama, aku melupakannya dan benar-benar tak mengira jika Akmana yang hilang karena hanyut itu masih hidup di luar desa.”
“Apa Baram tahu soal ini??” Deon bertanya lagi.
__ADS_1
“Ah soal Baram … “Algiz membulatkan matanya karena hampir melupakan hal penting mengenai Baram. “Kamu tahu rekanku yang bisa mengeluarkan es dari tangannya bukan??”
“Aku tahu. Aku masih ingat wajahnya dengan baik. Deon menganggukkan kepalanya. Aku tahu! Bagaimana aku bisa lupa? Dia mendatangiku secara pribadi untuk memintaku menjauh dari Algiz. Pria yang dipanggil dengan nama Isaz itu memiliki wajah yang sama dengan Baram. Mungkinkah itu bukan kebetulan semata??
“Dia adalah Baram.” Algiz bicara dengan senyuman kecil di wajahnya dan senyuman itu sama persis dengan senyuman yang Deon lihat di mimpinya ketika menghabiskan waktu bersama dengan Madaharsa. “Sama sepertiku, dia berumur panjang. Lebih tepatnya … dia berumur panjang karena perbuatanku.”
Deon mengingat ingatan di dalam benaknya di mana Madaharsa memasukkan cincin batu biru ke dalam jantung Baram sebagai permintaan. Berkat cincin itu, Baram bisa hidup ratusan tahun. Hebat sekali cincin itu!! Tak heran … banyak yang menginginkan cincin itu! Tapi ada yang salah di sini. Deon melihat ke arah Algiz dengan wajah penasaran lagi. Seingatku cincin itu hanya berfungi untuk menyembuhkan. Membuat seseorang berumur panjang termasuk dalam kategori penyembuhan. Tapi bagaimana dengan membuat es keluar dari tangannya? Kemampuan itu jelas bukan kemampuan penyembuhan!! Bagaimana bisa Baram-
“Algiz … bisa aku bertanya??” Deon tiba-tiba terpikirkan sesuatu dalam benaknya.
“Apa??”
“Seingatku Baram yang aku lihat dalam kenangan waktu itu adalah manusia biasa, kenapa sekarang dia tiba-tiba bisa mengeluarkan es? Apa itu karena kekuatan cincin itu??”
Algiz menggelengkan kepalanya. “Bukan karena itu! Baram punya kekuatan itu sejak sepuluh tahun yang lalu.”
“Sepuluh tahun yang lalu??” Benak Deon teringat akan ucapan salah satu penjaganya yang menjelaskan tentang organisasi Pasukan Perlindungan Bencana dan kemampuan anggotanya yang tidak biasa. “Bencana itu, apa itu ada hubungannya??”
“Eh??” Deon kaget dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Ha-hanya karena seseorang berusaha membangunkanmu dari tidurmu sebelum waktunya, bencana mengerikan itu terjadi?? Sehebat itu??”
“Ya, sehebat itu. Bukankah kamu sudah melihat bagaimana dahsyatnya kekuatan dari benda pusaka yang ada di dalam diriku?? Efeknya sehebat itu dan bisa kamu bayangkan jika benda itu berada di tangan yang salah.”
Deon menganggukkan kepalanya lagi sembari membayangkan ucapan dari Algiz. “A-aku bisa bayangkan. Mungkin orang itu akan jadi raja dan berlaku semena-mena di dunia ini.”
Wushh!! Bersamaan dengan angin yang berembus, langit malam yang gelap mulai berubah. Berkas-berkas sinar matahari mulai menerangi gelapnya malam dan bulan yang terang mulai terlihat samar.
“Sudah waktunya aku pergi, Deon.”
__ADS_1
“Ehm.” Deon menganggukkan kepalanya.
Algiz bangkit dari duduknya dan bersiap untuk melakukan teleportasi. “Aku mungkin akan sibuk selama beberapa hari dan tidak bisa datang menemuimu. Kamu tidak marah kan?”
Deon mengerutkan alisnya, tidak mengerti. “Kenapa aku harus marah??”
Algiz tersenyum kecil melihat reaksi Deon. “Mu-mungkin kamu akan merindukanku.”
“Hah??” Deon panik mendengar jawaban itu dari Algiz. “Ng-nggak kok.”
“Ehhh??” Senyum di bibir Algiz menghilang dan raut wajah Algiz berubah menjadi kecewa. “Kamu tidak merindukanku?? Kamu jahat sekali!! Padahal selama ratusan tahun, aku sangat-sangat merindukanmu.”
Dia! Benar-benar! Bagaimana dia bisa mengatakannya dengan mudahnya seperti itu?? Deon menundukkan kepalanya merasa malu dan tidak percaya dengan Algiz yang saat ini sedikit lebih terang-terangan dan lebih agresif.
Cup! Di saat Deon sibuk dengan pikirannya sendiri, sebuah ciuman kecil mendarat di atas kepalanya dan membuat Deon melongo menerima ciuman tak terduga itu.
“Kamu!!”
Deon menatap Algiz dengan wajah kaget setengah mati sementara Algiz melihat Deon dengan senyuman paling lebarnya. “Rindukan aku, Deon!! Butuh waktu lama bagiku untuk bisa bertemu denganmu lagi! Butuh banyak perjuangan bagiku untuk bisa berdiri di depanmu lagi seperti ini! Jadi rindukan aku! Aku tak banyak meminta, tapi tolong sukai aku dan cintai aku!”
Ting! Setelah mengatakan itu, Algiz tersenyum kecil dan menghilang dalam sekejap mata dengan teleportasinya.
Sial!! Deon mengumpat dengan senyuman di bibirnya. Rasa hangat dari kecupan kecil Algiz di kepalanya terasa masih hangat dan membuat Deon merasa senang. Sial!! Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya seperti keinginannya!
__ADS_1