LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
PILIHAN MADAHARSA


__ADS_3

            Byur!!! Gelombang laut yang besar menggulung semua yang ada di desa dan kemudian menyeret mereka semua kembali ke laut.


            “Madaharsa!! Teganya kamu melakukan ini pada penduduk desa yang melindungimu!!” Sadana berteriak memaki Madaharsa sebelum kematian yang dingin dan sepi menjemputnya. “Kamu gila, Madaharsa!! Kamu gila!! Kamu tak pantas jadi penjaga!!”


            “Panggil cincin itu!” Madaharsa mengabaikan makian Sadana dan justru memberikan perintah kepada tongkat kayu di tangannya. Hanya dalam hitungan detik cincin batu biru yang ada di jari Sadana yang sudah berada dalam gulungan ombak, berpindah ke jari Madaharsa.


            Dia bisa memanggilnya dengan cara itu?? Deon sebagai penonton, melongo kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Madaharsa baru saja. Kalau begitu caranya kenapa dia harus memanggil ombak itu dan membuat banyak orang mati?? Kenapa??


            Sebelum Deon menemukan jawaban untuk pertanyaannya itu, Madaharsa turun ke darat setelah melayang selama hitungan menit dan buk!! Madaharsa mengayunkan tongkat di tangan kirinya lagi dan memukul tanah. Kreeekkk, sreeet. Hanya dalam hitungan detik gunung yang tadi terbelah dua kembali menyatu seolah tidak pernah terbagi menjadi dua. Hanya saja … sebuah gua yang tadinya tidak ada, kini terbentuk sebagai hasil dari penggalian yang dilakukan Sadana untuk mendapatkan cincin batu biru.


            Ah, cincinnya! Deon yang teringat akan cincin batu biru yang sempat berubah warna nyaris berwarna hitam legam, kini kembali berubah menjadi warna biru yang berkilau sama seperti sebelumnya. Cincin yang kini berada di jari Madaharsa itu kembali ke waran semulanya seakan menjadi isyarat bahwa Madaharsa memang diijinkan untuk memakai dan menggunakan apa yang tersimpan dalam cincin itu.


            Desanya benar-benar hancur dalam semalam. Deon memperhatikan sekelilingnya dan kini melihat tak banyak yang tersisa dari desa yang tadinya terlihat, nyaman dan penuh dengan segalanya. Desa itu kini berubah menjadi tanah kosong karena sapuan gelombang tsunami yang Madaharsa panggil. Tak hanya penduduknya, bahkan semua bangunan yang ada kini hilang tak bersisa.


            “Nak Madaharsa!!”


            Deon mendengar suara tak asing yang memanggil Madaharsa. Suara itu! Deon menoleh ke arah gunung dan menemukan bahwa kepala desa yang tadi pergi bersama dengan beberapa orang untuk menyelamatkan Baram kini kembali dengan membawa tubuh Baram.


            “Pak!” Madaharsa langsung berlari ke arah kepala desa dan sebagian orang yang selamat. “Bagaimana, Baram? Apa dia??”


            “Dia masih hidup meski sekarat, Nak. Bisakah kamu??” Kepala desa tak mengatakannya dengan jelas, tapi Deon sebagai penonton paham maksud dari ucapan Kepala desa itu.


            “Harusnya masih sempat.”


            Tanpa banyak bicara, Madaharsa meletakkan tangannya di atas luka-luka Baram. Bersamaan dengan itu batu biru di cincin milik Madaharsa bersinar dan mulai menyembuhkan semua luka-luka Baram. Perlahan … napas Baram yang tadi terasa berat, kembali normal sebagai tanda pengobatan Baram berhasil.


            “Terima kasih, Nak Madaharsa.” Kepala Desa memeriksa keadaan Baram dan mengembuskan napas lega karena putra tunggalnya kini berhasil diselamatkan seperti sebuah keajaiban.  “Bagaimana dengan Nak Akmana? Dan ke mana semua penduduk desa??”


            Madaharsa mengayunkan tongkat di tangan kirinya dan membuat tubuh Akmana yang tadi diselamatkannya dari gelombang tsunami, turun ke tanah.

__ADS_1


            “Nak Akmana, dia-“


            Madaharsa menganggukkan kepalanya. “Seperti yang Bapak lihat, Akmana meninggal karena melindungiku. Tapi luka-lukanya disebabkan oleh penduduk desa yang mengeroyoknya.”


            “Kenapa itu bisa terjadi, Nak??


            “Sadana menipu penduduk dan mengatakan bahwa Akmanalah yang mencuri benda pusaka ini.” Madaharsa duduk di samping tubuh Akmana yang mulai pucat, kaku dan dingin. Madaharsa membelai wajah Akmana dan menangis lagi. “Maafkan aku, Pak. Karena Sadana sudah kehilangan akalnya, karena aku terlalu marah pada semua orang yang menyakiti Madaharsa dan melihat mata penduduk desa yang mulai menginginkan benda pusaka ini, aku terpaksa memanggil tsunami dan membuat mereka terbawa ke laut. Hanya itu … satu-satunya cara untuk membungkam keberadaan dua benda pusaka ini!!”


            Pertanyaan yang tadi Deon tanyakan, akhirnya terjawab bersamaan dengan tangisan kehilangan dan penyesalan dari Madaharsa.


            “Nak Madaharsa.” Kepala desa menepuk pelan bahu Madaharsa. “Kami tidak marah dengan pilihanmu, Nak. Sejak awal kami sudah tahu bahwa kami harus membantumu menjaga benda pusaka ini dengan nyawa kami. Maaf … telah membuatmu melakukan semua ini, Nak!”


            Melihat Madaharsa menangis keras karena kehilangan dan penyesalannya, Deon ingin sekali memeluk Madaharsa saat ini juga. Tapi Deon tidak bisa menyentuh Madaharsa apalagi memeluknya. Yang ada … Deon semakin menjauh dari Madaharsa seolah ditarik oleh sesuatu yang tak diketahuinya.


            Madaharsa!!  Deon berteriak memanggil nama Madaharsa, tapi usahanya sia-sia karena Madaharsa tak akan pernah mampu mendengar suaranya.


            Keadaan gelap dan hening untuk sejenak. Untuk sejenak … Deon tidak bisa melihat dan mendengar apapun.


            Begitu bisa melihat dan mendengar, Deon tiba-tiba berdiri di dekat Baram dan Madaharsa yang sedang berdiri di depan sebuah makam. Deon menyipitkan kedua matanya untuk melihat pemilik makam itu dan menemukan nama Akmana tertulis di kepala makam itu. Ini … makam Akmana.


            “Tugasku masih belum selesai, Baram.”


            “Aku tidak yakin kamu masih mau menikah denganku, Madaharsa.”


            “Aku memang tidak bisa menikah denganmu, Baram.” Madaharsa menganggukkan kepalanya lemah. “Setelah kehilangan Akmana, aku baru sadar perasaan di hatiku ini ada untuknya dan akan selalu begitu.”


            “Lalu apa yang akan kamu lakukan, Madaharsa?? Kamu masih punya tugas untuk melanjutkan keturunan penjaga. Keturunan penjaga tidak boleh terputus karena dua benda pusaka ini masih harus dijaga. Kamu tentu tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi bukan??”


            “Aku tahu itu. Maka dari itu … “ Madaharsa melepaskan cincin batu biru di jari telunjuknya dan membuat cincin itu masuk ke dalam tubuh Baram.

__ADS_1


            “A-apa yang baru saja kamu lakukan, Madaharsa??” Baram terkejut mendapati cincin batu biru itu masuk ke dalam tubuhnya.       


            Deon sebagai penonton juga sama terkejutnya dengan Baram. Hanya saja … untuk memastikannya Deon bahkan berusaha untuk mengambil cincin batu biru yang kini tersimpan di jantung Baram.


            “Di dunia ini hanya kamu yang bisa aku percaya, Baram. Aku membuat cincin itu masuk ke dalam tubuhmu. Bantu aku menjaganya!!”


            “Kamu!! Apa maksudnya dengan bantu menjaganya??” Baram meminta penjelasan dari Madaharsa.


            Ya … apa maksudnya??, Deon juga tak ingin kalah dari Baram.


            Madaharsa mengangkat tangannya dan melihat tangannya dengan wajah sedih. “Dengan tanganku ini, aku sudah membunuh banyak orang. Aku harus membayar dosaku, Baram!!”


            “Kamu tidak berdosa!! Apa yang kamu lakukan adalah tugasmu dan sudah jadi kewajiban bagi kami semua untuk membantumu, Madaharsa!!” Baram berusaha meyakinkan Madaharsa.


            Byurr!! Kuburan Akmana berada di dekat pantai. Madaharsa menatap makam Akmana dalam dan tersenyum. Setelah puas melihat makam Akmana, Madaharsa mengayunkan tongkat kayu di tangannya dan membelah lautan di hadapannya.


            “Madaharsa!! Apa yang mau kamu lakukan??”            


            Madaharsa menoleh dan tersenyum pada Baram. “Dengan cincin itu di jantungmu, kamu akan hidup untuk waktu yang lama. Kita akan bertemu lagi ketika Akmana terlahir kembali!!”


            “Madaharsa!!!” Baram berusaha menghentikan niat Madaharsa itu, tapi tubuh Baram tidak bisa mendekat ke arah Madaharsa karena dinding pelindung yang dibuat oleh Madaharsa. “Madaharsa!! Kumohon kembali!! Jangan lakukan ini!!”


            Madaharsa mengabaikan teriakan memohon dari Baram. Madaharsa terus berjalan masuk ke dalam lautan yang dibelahnya dan begitu Madaharsa melewatinya, lautan itu kembali menutup dan tidak membiarkan Baram untuk mengikuti Madaharsa.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2