
Ini hanya cerita sebuah desa kecil di kaki gunung. Sekitar lima ratus tahun yang lalu ada sebuah desa kecil yang terkenal. Desa itu ada di kaki gunung dan lautan indah berada di sisi lain gunung. Desa itu hidup dengan tentram selama ratusan tahun. Di desa itu ada sebuah legenda mengenai pendiri desa.
Pendiri desa itu adalah seorang pria yang religius. Dulu sebelum pria itu datang, tanah desa itu hanyalah hutan lebat yang gelap dan tak bisa dikunjungi bahkan ditinggali oleh manusia. Dari cerita yang beredar hutan di kaki gunung itu terkenal angker karena banyak dihuni oleh makhluk gaib. Pendiri desa itu tidak sengaja tiba di tanah itu setelah memilih berkelana selama bertahun-tahun. Karena tertarik dengan tanah yang subur di hutan itu, dalam semalam pria itu mengusir semua makhluk gaib yang tinggal di hutan untuk waktu yang lama dan mulai membuka hutan itu sebagai desa.
Selama bertahun-tahun, pria itu hanya tinggal seorang diri di desa itu. Hidup dengan tenang dan damai. Sampai perang terjadi dan tiga orang pria datang ke desanya dalam keadaan terluka. Pria pembuka desa itu juga dikenal dengan kemampuan penyembuhannya dan dengan kemampuan itu, pria itu menyembuhkan tiga pria asing yang datang ke desanya.
Tidak lama kemudian, tiga pria itu menjadi murid dari pembuka desa itu dan memulai kehidupan mereka sebagai anak angkat dari pembuka desa. Pria pembuka desa itu mengajari banyak hal kepada tiga muridnya itu dari pertanian, perairan, dan bahkan pengobatan. Entah bagaimana kemampuan penyembuh dari pembuka desa itu sampai ke telinga orang-orang, tapi yang jelas orang-orang mulai berdatangan ke desa itu. Awalnya orang-orang yang datang hanya karena ingin berobat, tapi lama-lama orang-orang mulai berdatangan untuk tinggal dan menetap.
Tiga pria murid dari pendiri desa itu kemudian jatuh cinta dan menikah dengan wanita pendatang. Ketiganya memiliki keturunan dan diperkenankan untuk terus tinggal di sana. Sayangnya salah satu dari tiga murid itu rupanya memiliki niat buruk di hatinya. Dia terus tinggal di desa itu untuk mencuri benda pusaka milik pembuka desa yang tidak lain adalah gurunya.
Murid jahat itu sudah merancang rencana liciknya dan melancarkan aksinya untuk mencuri benda pusaka milik gurunya, sayangnya rencana itu gagal karena gurunya sudah mencium niat jahat muridnya itu.
Alhasil sebagai hasil dari niat jahat itu, murid jahat itu beserta keturunannya diusir dari desa dan tepat sebelum pergi, pembuka desa menghapus ingatan pria itu mengenai lokasi dan nama desa itu dengan harapan muridnya yang jahat dan keturunannya itu tidak kembali lagi ke desanya.
Di usianya yang menginjak lebih dari seratus tahun, pria pembuka desa itu akhirnya mengembuskan napasnya. Dia meninggal dengan meninggalkan wasiat kepada dua muridnya. Satu muridnya yang paling sabar dianugrahi sebagian kecil kemampuan miliknya, sayangnya keturunannya hanya akan ada satu setiap generasinya dan diberi tugas berat untuk menjaga dua benda pusaka miliknya. Sementara muridnya yang satu lagi akan dianugrahi banyak keturunan dan bertugas untuk melestarikan desa dan menjaga desa bersama dengan keturunan dari murid yang lain. Murid dengan satu keturunan tiap generasinya akan terikat dengan desa itu dan tidak akan pernah bisa keluar dari desa meski memiliki banyak kemampuan spesial. Sementara murid yang punya banyak keturunan, meski hidup seperti manusia lainnya, dia memiliki kebebesan untuk keluar dari desa.
Selama beberapa tahun, dua murid dan keturunannya itu hidup dengan tentram di sana. Keturunan dua murid itu melaksanakan tugasnya dengan baik meski beberapa kali hampir gagal. Sayangnya suatu kali keturunan dari murid jahat itu berhasil menemukan desa itu, masuk ke sana dengan menipu penduduk desa dan berniat untuk mencuri benda pusaka milik mantan gurunya. Penjaga-sebutan untuk keturunan dari murid sabar yang memiliki sebagian kemampuan milik pembuka desa, mengetahui niat jahat itu. Tepat sebelum benda pusaka itu direbut dan dibawa keluar desa, penjaga itu meluluhlantakkan desa itu beserta semua orang yang ada di dalamnya. Entah bagaimana tsunami datang dan menembus gunung yang jadi pembatas desa dengan lautan di belakangnya. Tapi yang jelas desa itu hancur dalam semalam.
Diketahui penjaga yang meluluhlantakkan seluruh desa itu adalah satu-satunya perempuan dalam keturunan penjaga yang pernah ada dan nama dari penjaga wanita itu adalah Madaharsa.
Grrr. Tangan Deon bergetar membaca apa yang didapatkan Virzha untuk permintaannya mengenai Madaharsa. Apa ini?? Kenapa akhirnya begini?? Deon menundukkan kepalanya teringat bagaimana wajah Madaharsa dalam mimpinya yang terlihat bahagia akan berubah menjadi sedih.
“Niel!!” Deon memanggil Niel.
__ADS_1
“Ya??”
“Aku minta nomor Virzha. Aku ingin bicara sendiri dengannya.”
“Tentu.” Niel membuka ponselnya, mencari nomor kontak Virzha dan memberikannya kepada Deon. “Ini.”
Deon menuyalin nomor kontak Virzha dan tidak lama kemudian langsung menghubungi Virzha.
“Halo, Virzha. Ini aku, Deon.
“Ya?”
“Aku sudah membaca apa yang kamu kirimkan pada Niel. Aku ingin meminta bantuanmu lagi. Apa bisa??” tanya Deon.
“Katakan saja. Sebisa mungkin akan aku usahakan.”
“Ini mungkin akan sulit mengingat desa itu hanyalah cerita dari mulut ke mulut. Tapi aku akan mengusahakannya sebisa mungkin.”
“Aku tak peduli butuh berapa lama, tapi tolong diusahakan.”
“Aku mengerti, akan aku usahakan.”
Klik. Deon mengakhiri panggilannya dengan Niel dan berisitirahat lagi. Pikiran Deon sekarang benar-benar tak karuan. Kenapa akhirnya begini?? Madaharsa yang aku kenal dalam mimpi tidak akan mampu menghancurkan desa dan membunuh semua orang. Tapi … tugas itu memang. Deon menggelengkan kepalanya karena perasaan ragunya. Kritt, kriit. Deon menggigit jarinya yang sudah jadi kebiasaan buruknya ketika sedang frsutasi.
__ADS_1
“Deon!!”
“Ehm??” Deon tersentak mendengar panggilan Niel dengan nada tinggi padanya. “Kenapa??”
“Kenapa kamu menggigit jarimu lagi?? Bukankah sudah kubilang untuk berhenti melakukan itu??”
“Ahh!” Deon yang tidak sadar dengan kebiasaannya itu, langsung menarik tangannya menjauh dari mulutnya. “Maaf, aku nggak sadar!!”
“Ganti dengan ini!!” Niel memberikan coklat batang kepada Deon sebagai ganti kebiasannya mengigit jari.
“Trims, Niel. Kamu memang manajer terbaikku.”
“Oke, set-nya sudah siap!!”
Teriakan kru film kepada semua aktor dan aktris yang tadi tengah istirahat, terdengar. Niel buru-buru memanggil penata rias Deon dan memintanya untuk memperbvaiki riasan Deon sebelum kembali syuting.
Deon berusaha untuk fokus dengan naskah di hadapannya. Deon memang berhasil melakuaknnya: berakting dengan baik di depan semua orang. Hanya saja pikiran Deon terus memutar mimpi-mimpinya bersama dengan Madaharsa.
Kenapa aku terus merasa jika akhir dari cerita itu ada yang salah?? Madaharsa yang aku kenal tidak akan pernah bisa melakukan hal itu! Tapi … tapi bagaimana jika akhir itu memang benar adanya??
__ADS_1