LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
BISA JADI TEMANKU?


__ADS_3

“Berhenti!!”


            Baru saja Deon melangkahkan kakinya beberapa langkah, sosok yang diyakini Deon sebagai Algiz langsung memintanya berhenti. Apalagi dengan nada sedikit berteriak. Apa kehadiranku nggak diharapkan? Pertanyaan itu muncul dalam benak Deon yang ragu harus melangkahkan kakinya lagi atau tidak.


            “Kembali ke pintu itu dan anggap kamu tak pernah melihatku!!”


            Mendengar kalimat itu, Deon akhirnya mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya. Ternyata benar, kehadiranku nggak diharapkan. Andai saja dia adalah penggemarku, mungkin pendekatan ini akan lebih mudah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Deon mengharapkan seseorang menjadi penggemarnya. Padahal biasanya Deon akan bertanya-tanya dalam benaknya kenapa semua orang begitu mengaguminya bahkan hingga ke titik tergila-gila.


            Kaak! Kaak!!


            Deon menatap kawanan burung yang masih beterbangan di atas kepala sosok yang diyakininya sebagai Algiz. Deon teringat akan makanan ringan yang tersisa di saku jaketnya. Ahhh, lucky!! Deon bersorak dalam benaknya menemukan sebuah alasan kecil agar dirinya masih bisa tetap berada di atap dan mendekati sosok di hadapannya sekarang.


            “I-itu … “ Deon menunjuk kawanan burung dengan tangan kanannya dan tangan kirinya mengeluarkan remah-remah makanan yang mampu diambilnya. “Apa aku tidak bisa memberi mereka makan??”


            Kaaak! Kaaak!!


            Melihat makanan di tangan kiri Deon, beberapa burung langsung bergerak ke arah Deon dan membuat Deon panik. Jujur saja, Deon bukanlah manusia yang bisa hidup berdampingan dengan hewan-hewan. Di masa lalu, Deon punya beberapa pengalaman buruk dengan hewan seperti dikejar kawanan anjing, kawanan kucing dan kawanan burung.


            “Akhhh!!”


            Jadi ketika beberapa burung mendekat, Deon menarik sedikit badannya untuk menjauh, tangannya gemetar, kedua matanya menutup dan kedua kakinya seolah berkata bahwa Deon harus lari sekarang juga.


            “Tenang, mereka nggak bakal menyerangmu!”


            Deon membuka sedikit matanya yang tertutup dan mendapati sosok yang diyakininya sebagai Algiz sudah berdiri di dekatnya dan ditambah lagi sudah memegang tangan kiri Deon. Tangan itu tak lagi gemetar dan burung-burung mulai mengambil makanan di tangan kirinya.


            “Ehhh??” Melihat pemandangan di mana burung-burung hanya mengambil makanan dari tangannya dan tidak menyerangnya, Deon merasa sedikit takjub. Ternyata begini rasanya ketika makanan di tanganmu dihampiri mereka.


            “Kamu aneh!” Begitu makanan di tangan kiri Deon habis dimakan, sosok yang Deon yakini sebagai Algiz langsung melepaskan genggamannya di tangan Deon dan kembali duduk di tempatnya duduk semula. “Kamu takut tapi masih mencoba untuk memberi mereka makan.”


            Deon masih berdiri di tempatnya. Tangan kiri Deon mengeluarkan bungkusan kecil makanan di jaketnya dan memberi makan lagi kawanan burung yang sekarang sepertinya sudah tidak lagi merasa takut dengan Deon. “A-aku punya pengalaman buruk dengan beberapa hewan di masa lalu. Tapi melihatmu bersama mereka dengan santainya membuatku merasa sedikit iri.”


            Kaaak!! Kaaak! 


            Kali ini  burung-burung yang mendekat pada Deon untuk meminta makan semakin banyak saja. Di balik maskernya, Deon merasa senang dengan pengalaman kecilnya sore ini.


            “Iri??”


            “Ehm. Setiap kali aku naik kapal, ada banyak orang yang melakukan apa yang sedang aku lakukan sekarang ini. Melihat burung-burung itu sepertinya tidak akan menyerang, aku ingin mendekat dan mencoba melakukan hal yang sama. Tapi-“

__ADS_1


            “Tapi rasa takutmu jauh lebih besar, begitu?” Sosok yang diyakini Deon sebagai Algiz menyela ucapan Deon seolah mengatakan jika dia membaca apa yang ada di dalam benak Deon.


            “Ehm.” Deon menganggukkan kepalanya setuju.


            “Pengalaman buruk apa yang membuatmu takut dengan hewan?”


Di balik maskernya, Deon tersenyum lagi karena sosok yang diyakininya sebagai Algiz menaruh perhatian padanya hingga bertanya padanya beberapa kali.


            “A-aku pernah dikejar kawanan anjing, kawanan kucing, kawanan burung.”  Deon menjawab dengan sedikit rasa malu.


            “Mereka mengejarmu begitu saja??”


            “Ya.”


            “Tanpa alasan?”


            “Ya, tanpa alasan!” tegas Deon.


            “Kalo begitu, itu aneh sekali.”


            Kaak! Kaaak! Deon mulai menikmati waktunya bermain-main dengan burung yang beberapa kali hinggap di tangannya.


            “Kasihan sekali.”


            Komentar itu begitu singkat, tapi entah kenapa mendengarnya Deon merasa senang. Deon merasa lawan bicaranya kali ini sudah menaruh minat padanya.


            “Buruknya lagi ketika aku datang ke kebun binatang dan taman safari, kelompokku dan mobil di mana aku berada selalu sial karena dikejar kawanan hewan. Mobil yang membawaku di taman safari pernah dikejar beberapa harimau dan singa bahkan gajah.”


            Sosok yang diyakini Deon sebagai Algiz tiba-tiba merentangkan tangan kirinya ke samping. Entah itu tanda atau sebuah kebiasaan, Deon tidak tahu. Hanya saja begitu tangan itu direntangkan, burung-burung yang tadi terbang ke sana kemari dan beberapa bermain dengan Deon, langsung turun dan hinggap di tangan itu. Sosok itu menatap burung-burung itu dan tak lama kemudian burung-burung itu kembali beterbangan.


            “A-apa yang baru saja kamu lakukan?” tanya Deon.


            “Bicara pada mereka dan bertanya.”


            “Ka-kamu bisa bicara pada mereka?” tanya Deon gugup.


            “Begitulah.”


            Dalam sekejap, Deon teringat akan mimpinya bersama dengan wanita bernama Madaharsa dan satu kemampuan Madaharsa yang bisa bicara pada hewan. Tak salah lagi, wanita ini mungkin memang ada hubungannya dengan Madaharsa.

__ADS_1


            “A-apa yang kamu tanyakan pada burung-burung itu?” tanya Deon lagi.


            “Pemikiran mereka tentang kamu.”


            “A-aku??” Deon menunjuk dirinya sendiri karena kaget. “Apa mereka nggak suka aku???”


            “Nggak!”


            “Lalu?” tanya Deon lagi.


            “Sebaliknya. Mereka menyukaimu. Di masa lalu, mungkin kawanan hewan yang mengejarmu itu merasa menyukaimu. Hanya saja … kamu waktu itu  masih kecil. Melihat banyak hewan berlari ke arahmu, instingmu menganggapmu bahwa itu serangan. Jadi kamu ketakutan dan rasa takut itu membuat kawanan hewan itu menilaimu terlalu lemah.”


            Sekali lagi, Deon teringat akan mimpinya bersama dengan Madaharsa. Madaharsa juga pernah mengatakan hal yang sama padaku.


            “A-apa kamu yakin mereka menyukaiku?” Deon menengadah menatap kawanan burung yang beterbangan di atas kepalanya.


            “Ya. Hewan tidak pernah berbohong. Beberapa dari mereka mungkin licik, tapi kebanyakan mereka jujur. Bahkan kejujuran mereka jauh lebih baik dari manusia itu sendiri.” Sosok yang diyakini Deon sebagai Algiz bangkit dari duduknya dan menekan salah satu telinganya.


            Meski wajahnya ditutup oleh masker hitam dan kepalanya ditutup oleh tudung jaket hitam, Deon tahu ada alat komunikasi yang terpasang di telinga Algiz sama seperti sebelumnya.


            “Bisakah kamu sembunyi??”


            “Kenapa??”


            “Akan buruk bagimu jika rekanku menemukanmu.”


            “Y-ya.”


            Deon melihat sekelilingnya dan menemukan tempat persembunyian. Deon bergegas bersembunyi di belakang pintu di mana dirinya tadi masuk. Tapi sebelum menutup pintu itu, Deon mengajukan satu pertanyaan terakhirnya pada sosok yang diyakininya sebagai Algiz.


            “Bisa kita ketemu lagi??”


            “Kenapa kamu ingin kita lagi?” balas Algiz.


            “Aku ingin kamu jadi temanku dan untuk melakukannya, kita perlu ketemu lagi dan bicara untuk saling mengenal. Bisa??”


            “Kamu ini benar-benar aneh!” Mendengar jawaban itu, Deon mengira niatnya akan berakhir dengan kegagalan. Tapi- “Kalo kita ketemu lagi, kita bisa jadi teman. Sekarang tutup pintunya dan jangan mengintip!!”


            Karena merasa senang dengan jawaban itu, Deon melakukan apa yang diperintahkan oleh Algiz padanya. Deon diam selama beberapa saat sebelum akhirnya rasa penasaran menghampirinya dan begitu Deon mengintip dari  celah pintu, sosok itu telah menghilang.

__ADS_1


__ADS_2