LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
SKENARIO LONG JOURNEY TO YOU


__ADS_3

 


            Seperti ucapan Algiz pada Deon, Algiz benar-benar tidak datang mengunjungi Deon selama seminggu lamanya. Di sela waktu senggang syutingnya, Deon mencari tahu jika di beberapa bagian belahan dunia mengalami masalah seperti banjir bandang, peperangan dan gempa. Dia pasti benar-benar sibuk!


            Tapi Deon juga tidak kalah sibuk. Karena beberapa penundaan yang terjadi dengan berbagai alasan proses syuting Deon benar-benar dimampatkan. Jadwal kerja Deon benar-benar padat hingga dalam sehari Deon hanya bisa tidur antara 3-4 jam saja. Ditambah lagi … bagian akhir dari skenario sudah masuk dan bagian akhirnya benar-benar membuat Deon terkejut.


            Apa ini?? Deon terkejut melihat bagian akhir dari naskah skenario yang diterimanya. Kenapa begini akhirnya??


            “Kenapa dengan wajahmu, Deon?” tanya Niel. “Apa kamu kaget dengan akhir dari film ini?”


            “Ehm … ” Deon menganggukkan kepalanya pelan. Siapa yang akan menyangka peranku akan mati? Bukan hanya sekali tapi dua kali!!


            Skenario yang ada diperankan Deon, awalnya memiliki jalan cerita yang sama persis seperti kisah antara Akmana dan Madaharsa. Akaman datang dari kota ke desa Madaharsa dan membawa orang yang jadi penyebab hancurnya desa karena menginginkan benda pusaka yang tersimpan di desa. Demi menyelamatkan benda pusaka yang hampir dicuri, Madaharsa memanggil bencana tsunami yang membuat desa hancur dan penduduknya tewas.


            Sampai pada bagian ini, skenario yang diperankan Deon dan apa yang terjadi di masa lalu kurang lebih sama. Bagian yang berbeda adalah bagian di mana Madaharsa kembali bangun di masa depan untuk menemukan Akmana yang tewas dalam bencana yang dipanggilnya.


            Dalam skenario, Akmana yang bereinkarnasi menjadi orang biasa. Reinkarnasi Akmana jatuh ke dalam lautan di mana Madaharsa tertidur dan membangunkan Madaharsa. Setelah terpisah ratusan tahun, keduanya bertemu lagi dan sempat menjalin hubungan. Hanya saja … ada pihak yang tahu mengenai cerita di masa lalu dan hubungan Madaharsa dengan pria yang mirip dengan Akmana. Jika dia bagian cerita sebelumnya, orang yang membawa bencana adalah pria yang jadi teman Akmana maka dia di bagian cerita masa depan ini, musuh Madaharsa dan reinkarnasi Akmana adalah reinkarnasi Baram yang juga jatuh cinta dengan Madaharsa.


            Pada akhirnya reinkarnasi Akmana tewas di tangan Baram ketika berusaha menyelamatkan Madaharsa. Kehilangan Akmana untuk kedua kalinya membuat Madaharsa lelah dengan tugasnya. Madaharsa memilih untuk membuang dua pusaka yang dijaganya ke laut dan memilih untuk mati dengan harapan bertemu dengan Akmana di kehidupan setelah kematian.


            Inilah akhir dari skenario yang diperankan Deon kali ini.


            “Kamu tidak terima mati peranmu dibuat mati dua kali??” tanya Niel lagi.


            “Sedikit,” balas Deon.


            “Bukankah cerita dengan akhir yang tragis berakhir, selalu berhasil menarik penonton setianya?? Seperti titanic misalnya.” Niel bicara lagi.


            “Ka-kamu memang benar. Hanya saja … mati dua kali, bukankah itu terlalu tragis untuk tokoh Madaharsa dalam cerita ini??” Deon berusaha menjelaskan pendapatnya.


            “Kalo nggak suka dengan bagianmu, kamu bisa bicara dengan sutradara, Deon. Mungkin saja … sutradara kali ini mau mendengar pendapatmu dan mengubah skenarionya,” ujar Niel.


            Deon melakukan apa yang disarankan Niel. Sudah jadi hal yang wajah bagi pemeran untuk diskusi dengan sutradara dan penulis skenario jika ada bagian cerita yang menurut mereka kurang bagus. Sudah jadi hal yang biasa juga, beberapa bagian skenario berubah dari bagian awalnya. Dan Deon pun sudah beberapa kali melakukan hal yang sama.

__ADS_1


            “Maaf, Aktor Deon! Kali ini tidak bisa!!”


            Sayangnya … kali ini Deon tidak bisa melakukan apa yang biasa dilakukannya.


            “Kenapa, Pak?? Apa penulis skenarionya tidak mau mengubah bagian akhir ceritanya??” Deon meminta penjelasan.


            “Sudah jadi perjanjian antara aku, produser dan penulis skenarionya jika apa yang tertulis di dalam skenario ini tidak akan bisa diubah. Jika aku menuruti permintaanmu, maka aku akan melanggar perjanjian dan diharuskan membayar penalty yang tidak sedikit, Deon.”


            Siapa sebenarnya penulis skenario ini? Begitu mendapatkan jawaban sutradara, benak Deon langsung menanyakan pertanyaan itu. Siapa dia? Benak Deon masih terus bertanya dan berpikir. Madaharsa … Baram dan aku. Deon berpikir lagi sembari menatap skenario di tangannya. Akhir kisah Madaharsa dan Akmana hingga Madaharsa yang memilih tidur hanya diketahui oleh Madaharsa, aku, Baram dan orang-orang desa yang dulu hidup tapi sekarang sudah pasti mereka semua mati.


            Deon menggigit kukunya. Madaharsa kehilangan ingatannya ketika bangun sementara aku … baru saja mengetahui kisah itu belum lama ini. Mungkinkah orang yang menulis kisah ini adalah Baram?? Tapi kenapa? Kenapa dia menulisnya? Untuk membuat Madaharsa mengingat masa lalunya? Atau mungkin ada alasan lain??


            Dalam benaknya, Deon teringat wajah Algiz. Aku … harus bertanya pada Algiz mengenai masalah ini.


            *


            Dua hari kemudian setelah Deon menunggu dengan susah payah karena berbagai pertanyaan di dalam benaknya, akhirnya Deon bisa bertemu dengan Algiz.


            “Apa kabar??” sapa Algiz ketika datang menemukan Deon duduk dengan wajah mengantuk di mulut gua. “Kamu rindu aku kan??”


            Algiz tersenyum melihat tindakan Deon karena mengira Deon benar-benar merindukannya sampai tidak sabaran. “Wah … kamu benar-benar merindukanku seperti permintaanku, Deon!!”


            “Aku ingin tanya sesuatu, Algiz.”


            “Apa?” Algiz masih tersenyum merasa senang. “Tanya saja!”


            Deon mulai menjelaskan panjang lebar mengenai proyeknya saat ini ‘Long Journey to You’ hingga semua kemiripan skenario dengan apa yang terjadi di masa lalu dan perbedaannya dengan yang terjadi di masa kini.


            “Judulnya bagus sekali. Sesuai.”


            Setelah Deon selesai bercerita panjang lebar, itulah komentar yang keluar dari mulut Algiz dan berhasil  membuat Deon sedikit kesal.


            “Huh?? Apa kamu tidak paham maksudku??” tanya Deon.

__ADS_1


            Algiz menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil di bibirnya. “Paham kok. Kamu curiga … Isaz yang menulis cerita itu kan??”


            Deon menganggukkan kepalanya. “Ya. Bisa kamu tanyakan padanya??”


            “Nanti akan aku tanyakan padanya.” Algiz menjawab sembari memegang kepala Deon dan memainkan rambut Deon. “Tapi mungkin juga memang Isaz yang menulisnya, mengingat cerita itu sudah ada setahun lalu dan aku kehilangan ingatanku. Jika benar Isaz yang menulisnya, hanya alasan itu yang bisa aku pikirkan.”


            Deon sedikit tersipu malu melihat Algiz tersenyum padanya dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta. “I-itu terima kasih.”


            “Kapan proyekmu ini selesai??” tanya Algiz tiba-tiba.


            “Mungkin dua minggu lagi. Syuting di desa ini hanya tinggal seminggu dan seminggu sisanya, aku akan melakukan syuting di kota di mana aku tinggal. Kenapa??”


            “Setelah itu … apa kamu punya waktu luang??” Algiz bertanya lagi dan kali tangannya yang bermain-main di kepala Deon beranjak pergi.


            “Punya. Jika kamu ingin aku meluangkan waktu, aku bisa meminta manajerku untuk mengosongkan jadwalku.”


            Prok! Algiz bertepuk tangan dengan senyum lebarnya. “Bagus sekali!”


            Deon mengernyitkan alisnya merasa heran. “Apanya yang bagus?? Sebenarnya kamu mau apa, Algiz??”


            “Kencan. Aku ingin kencan denganmu.” Algiz bicara dengan wajah sedikit malu.


            “Kencan??” Deon sedikit terkejut dengan permintaan Algiz padanya. “Kenapa tiba-tiba??”


            “I-itu sekitar seminggu kemarin, aku berusaha menyelamatkan banyak korban dalam banyak bencana dan aku melihat beberapa pasangan yang sedang berkencan dalam perjalanannya. Jadi … aku juga ingin kencan seperti mereka.”


            Deon membeku melihat Algiz. Aku lupa! Wanita di sampingku ini adalah wanita berusia ratusan tahun yang sebelumnya hidup terkurung dalam desa karena kewajibannya.


            “Ka-kamu mau ke mana??” Meski merasa kaget, Deon berusaha untuk mewujudkan apa yang Algiz inginkan.


            Algiz mengeluarkan daftar panjang yang dibuatnya dan menyebutkannya satu persatu kepada Deon. “Taman bermain, bioskop, rumah makan, kafe … “ Algiz terus bicara sembari menyebutkan tempat-tempat wisata terkenal di berbagai negara.


            I-itu terlalu banyak! Bisa-bisa satu tahun pun tidak akan pernah cukup untuk mengunjungi tempat-tempat itu!!,  Deon berteriak dalam benaknya karena Algiz masih terus menyebutkan nama tempat-tempat yang ingin dikunjunginya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2