LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
BENCANA SEPULUH TAHUN YANG LALU


__ADS_3

            “Baram …“ Algiz melepaskan pelukannya pada Isaz sembari menggelengkan kepalanya. “Ah, tidak! Sekarang aku harusnya memanggilmu dengan nama Isaz!”


            “Tidak! Kamu bisa memanggilku semaumu! Isaz, Leo, Baram, yang mana saja yang kamu suka, kamu bisa memanggilku semaumu.”


            Algiz tersenyum kecil mendengar dan melihat Isaz yang masih sama dengan terakhir kali dia lihat. “Aku akan memanggilmu Isaz saja, agar lebih mudah dan tidak membuat lima orang di sana bingung.” Algiz melirik ke belakang Isaz.


            Isaz yang menyadari lirikan Algiz yang mengarah pada lima rekannya hanya bisa menghela napas. Huft!! Isaz menarik lengan Algiz dan berniat untuk mengajak Algiz pergi. “Bagaimana kalo kita pindah tempat untuk bicara empat mata saja, Algiz??”


            “Ide yang bagus.” Algiz tersenyum kecil sembari mengedipkan matanya ke arah lima rekannya dan membuat lima rekannya kaget bukan main.


            “Apa aku salah lihat??” tanya Mannaz.


            “Tidak! Kamu tidak salah lihat! Aku juga lihat Algiz mengedipkan matanya pada kita berlima,” ujar Somilo.


            “Ada apa dengan Algiz??” tanya Dagaz. “Apa sesuatu terjadi padanya saat dia pergi tadi? Atau dia tadi makan sesuatu yang beracun yang membuatnya salah membuat ekspresi??”


            “Kamu benar. Aku juga melihatnya!” ujar Jeza.


            “Isaz!! Ada apa dengan kalian-”


Ansuz berniat untuk meminta penjelasan dari Isaz. Tapi niatnya itu langsung dihentikan oleh Isaz dengan tangannya yang bergerak ke depan. “Nanti. Nanti akan aku jelaskan. Sekarang aku harus bicara lebih dulu dengan Algiz. Kami berdua perlu banyak hal untuk menjelaskan banyak hal nantinya.”


Setelah mengatakan hal itu, Isaz menarik tangan Algiz dan pergi menuju ke ruang milik Algiz di mana dirinya biasa untuk istirahat.


Klik. Isaz mengunci pintu dengan rapat dan memastikan kuncinya benar-benar terpasang dengan baik. Setelah mengunci pintu. Isaz mengambil kursi dan duduk tepat di depan Algiz yang duduk dengan tenang di atas ranjangnya.


“Sekarang beri aku penjelasan, Madaharsa! Sejak kepan ingatanmu kembali?? Dari mana saja kamu dan apa yang kamu lakukan tanpa sepengetahuanku??”


Algiz menceritakan ke mana tujuannya pergi karena dadanya yang terasa sakit, menemukan Deon dalam keadaan yang tenggelam di lautan dan menyelamatkannya, hingga penemuan kerangka milik Akmana yang tidak jauh dari pantai di mana Deon berada saat ini. Algiz juga tidak lupa menceritakan apa yang terjadi  padanya dan Deon ketika menyentuh kerangka milik Akmana.


“Bagaimana bisa … kerangka Akmana bisa membuatmu ingat tentang ingatan yang bahkan selama sepuluh tahun ini tak bisa kamu ingat??” Isaz langsung mengajukan pertanyaan ketika Algiz menyelesaikan ceritanya yang cukup panjang.


Huft!! Algiz bersandar ke kepala ranjangnya. Dirinya sendiri tidak tahu kenapa kerangka Akmana mampu membuatnya ingat. Hanya saja … ada satu kemungkinan kenapa kerangka itu bisa membuat Algiz mengingat semua kehidupan lamanya sebagai Madaharsa. “Kurasa … karena Akmana mungkin pernah menyentuh cincin batu biru itu. Atau mungkin aku terlalu banyak memberikan energi padanya ketika berusaha menyelamatkannya meski berakhir dengan kegagalan.”


“Tapi kamu tidak mengingat ingatanmu ketika bersamaku atau menyentuhku?” ISaz sedikit tidak terima.

__ADS_1


 “Aku tidak tahu, Isaz. Hanya jawaban itu yang bisa aku pikirkan.” Algiz menggelengkan kepalanya karena rasa ragunya. Huft! Algiz menghela napas lagi dan menatap Isaz dengan tatapan dalam. “Kalo aku tidak salah ingat, aku bangun sekitar sepuluh tahun yang lalu kan??”


“Ya.”


“Apa itu ada hubungannya dengan bencana sepuluh tahun yang lalu di seluruh dunia??” tanya Algiz menebak.


“Ya.”


“Lalu bagaimana dengan orang dalam organisasi Pasukan Perlindungan Bencana?? Apa mereka semua punya kekuatan khusus karena kebangkitanku??” tanya Algiz lagi.


“Ya.” Isaz menjawab dengan nada datarnya.


“Termasuk kamu juga??”


“Ya, termasuk aku.”


“Kenapa??” Algiz tidak mengerti. “Siapa yang membuatku bangun? Apa itu Deon?”


Kali ini Isaz menggelengkan kepalanya. “Jika Deon yang membangunkanmu dari tidurmu seperti yang kamu inginkan, maka bencana sepuluh tahun yang lalu tidak akan pernah terjadi dan kami semua tidak akan pernah punya kekuatan ini.”


“Aku tidak tahu siapa pria gila itu. Tapi mungkin dia keturunan murid kedua sama sepertiku. Karena dia bisa menemukanmu yang tidur di laut, maka harusnya dia keturunan murid kedua sama sepertiku.”


“Kenapa dia ingin membangunkanku?” Algiz bertanya lagi karena masih tidak mengerti.


“Entahlah. Tapi … keturunan murid kedua tidak lagi sama seperti dulu, Algiz. berkat bencana yang kamu panggil waktu itu, kami yang tersisa beberapa tetap memilih tinggal dan beberapa lainnya memilih untuk pergi dari desa. Sebelum orang-orang yang memilih pergi meninggalkan desa, aku memastikan agar mereka tidak menceritakan kisah malam itu dan benda pusaka kita kepada keturunannya. Aku meminta mereka merahasiakannya karena aku yakin suatu saat nanti kamu akan bangun dan menyelesaikan tugasmu. Tapi mungkin saja … ada yang tidak menepati janji itu, Algiz.”


Huftttt!! Algiz menghela napasnya untuk ketiga kalinya dan kali ini lebih panjang dari sebelumnya. “Aku tidak heran. Mengingat keadaan dunia seperti sekarang ini, aku tak heran jika mungkin salah satu keturunan baik murid kedua dan murid ketiga membocorkan rahasia desa, bencana itu dan benda pusaka yang harusnya tersimpan di sana.” Algiz menatap dalam ke arah Isaz lagi dan tersenyum kecil. “Bagaimana denganmu, Baram?? Bagaimana kamu menjalani hidupmu selama ini?”


Isaz tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Algiz. “Kukira kamu tidak akan pernah menanyakan pertanyaan itu padaku, Madaharsa.”


“Aku tidak sejahat itu, Baram. Di dunia ini kamulah orang yang paling aku percaya. Dan apa yang aku yakini itu benar adanya bukan?? Kamu masih ada di sisiku bahkan setelah ratusan tahun berlalu.”


“Boleh aku merasa senang dengan pujian itu?” tanya Isaz.


“Ya.”

__ADS_1


“Lain kali, boleh aku membanggakannya??” tanya Isaz lagi.


“Kenapa tidak??” balas Algiz. “Ceritakan padaku hidup seperti apa yang kamu jalani selama ini! Kamu punya istri dan anak??”


Isaz tersenyum kecil sebelum menceritakan perjalanan panjangnya tanpa Madaharsa sembari menjaga cincin batu biru di dalam tubuhnya.


Setelah Madaharsa pergi tidur di laut untuk bertemu lagi dengan Akmana di masa depan, Baram bersama dengan beberapa orang desa yang selamat mulai membangun desa mereka yang hancur. Kali ini … tidak seperti sebelumnya, Baram melarang semua orang di desa untuk membahas mengenai malam bencana itu, kisah pembuka desa dan tiga muridnya, dan benda pusaka yang ditinggalkan oleh pembuka desa. Karena tidak ingin tragedi yang sama terulang, kisah desa itu dilarang dan sejak saat itu … tidak pernah ada yang membahas masalah itu. Bahkan jika ada pun, kisah itu hanya akan jadi mitos yang tidak bisa dibuktikan karena dua benda pusaka milik pembuka desa sudah tak lagi ada di desa.


Bertahun-tahun berlalu. Desa yang hancur kini telah berhasil dibangun lagi. Baram yang tadinya berharap untuk menunggu Madaharsa, didesak untuk menikah karena orang tuanya yang semakin tua sementara dirinya tetap muda sama seperti terakhir bertemu dengan Madaharsa. Baram kemudian menikah dan memiliki beberapa anak. Menemukan dirinya yang masih terus muda dan sepertinya akan berumur sangat panjang karena cincin batu biru di tubuhnya, Baram memutuskan untuk pergi dari desa dan menitipkan desa kepada anak-anaknya.


Baram berkelana ke seluruh penjuru dunia berharap bisa menemukan reinkarnasi dari Akmana dan membangunkan kembali Madaharsa. Hanya saja … ke manapun Baram pergi, Baram tak menemukan reinkarnasi Akmana. Tahun demi tahun berlalu dan berjalan begitu lambat. Baram yang sudah kehilangan harapan untuk menemukan reinkarnasi Akmana, kembali ke desanya dan itulah saat bencana itu terjadi.


Begitu sampai di desa … bencana besar itu terjadi. Gempa, gunung meletus dan tsunami. Baram yang khawatir dengan keberadaan Madaharsa di dalam lautan berniat untuk memeriksa laut di belakang gunung dan menemukan tubuh Madaharsa yang masih terlindungi oleh pelindung angin miliknya. Melihat Madaharsa lagi, Baram tentu saja merasa senang.


            “Setelah berusaha untuk menyelamatkanmu, di pantai aku menemukan mayat seorang pria yang sudah rusak. Kuduga dia menemukanmu dan berusaha untuk merusak pelindungmu. Pria itu mungkin mati dalam prosesnya untuk membuka pelindungmu secara paksa!” jelas Isaz.


            “Kamu tidak tahu siapa dia??”


            Isaz menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sekujur tubuh termasuk wajahnya rusak seperti terbakar.”


            “Lalu bagaimana kamu dan mereka semua punya kemampuan khusus??” tanya Algiz lagi.


            “Saat aku membawamu ke daratan, pelindungmu tiba-tiba terbuka. Mungkin karena mengenali cincin batu biru di dalam tubuhku, jadi pelindung itu terbuka. Sayangnya di saat bersamaan dengan terbukanya pelindungmu, seusatu terjadi. Rasanya seperti ada angin kencang menyambarku dan begitu aku membuka mata, aku mampu membuat es dari air di sekitarku.” Isaz menatap tangannya. “Mungkin udara di dalam pelindungmu bercampur dengan kekuatan tongkat yang kamu bawa dan siapapaun yang terkena angin itu … akan memiliki kemampuan.”


            “Bagaimana kamu bisa memastikan hal itu, Isaz?”


            “Semua orang yang punya kemampuan khusus saat bencana lokasinya tidak jauh dari lokasi kita. Semakin dekat jaraknya, semakin besar kemampuan mereka dan sebaliknya.”


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2