LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
ALGIZ DAN MADAHARSA


__ADS_3

Di sisi lain.


            “Kamu dari mana saja, Algiz??” Isaz yang panik melihat Algiz tiba-tiba menghilang, langsung menghampiri Algis begitu Algiz muncul dengan teleportasinya. Apa ini? Apa ini air mata?? Isaz memperhatikan wajah Algiz yang basah dan menemukan bagian basah itu hanya di sebagian kecil wajah Algiz. “Algiz, ada apa?? Sebenarnya kamu dari mana??”


            Algiz menatap Isaz dalam dan memperhatikannya selama beberapa menit hingga membuat Isaz bingung dan heran.


            “Ke-kenapa kamu memandangku seperti itu?? A-apa ada yang salah dengan wajahku??” Isaz gugup untuk sejenak karena tatapan dalam Algiz padanya. Isaz ingat … selama ini meski dirinya berusaha untuk dekat dengan Algiz, tapi Algiz sendiri berusaha menjaga jarak darinya. Di antara enam rekan Algiz di Pasukan Perlindungan bencana, Isaz-lah rekan yang paling dekat dengan Algiz. Tapi kedekatan Algiz dan Isaz hanya sebatas rekan, tak pernah bisa lebih meski itu hanya teman.


            “Kamu … “ Algiz mengangkat tangannya dan melektakkannya di dada Isaz.


            “A-apa yang mau kamu-“ Isaz belum menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba rasa sakit yang teramat sangat menyerang dada Isaz. “Akkhhhh!! Algiz, kamu!!”


            Isaz merasakan sakit hingga rasanya kematian sudah dekat dengannya. Ini!! Isaz merasakan sesuatu dalam dadanya ditarik keluar dengan paksa dan tidak lama kemudian di tangan Algiz muncul cincin batu biru yang selama ini tersimpan dalam tubuh Isaz.


            “Ternyata benar di sini,” ujar Algiz menatap cincin batu biru yang ditariknya dari tubuh Isaz dan kini berada di tangannya.


            “Akhhh!!” Isaz merintih kesakitan dan membuat lima rekannya muncul karena mendengar rintihan Isaz.


            “A-apa yang terjadi??” tanya Mannaz.


            “Algiz!! Kapan kamu kembali??” tanya Ansuz begitu melihat Algiz.


            “Isaz! Kenapa denganmu?” tanya Dagaz yang langsung menghampiri Isaz yang kini jatuh berlutut di depan Algiz.


            “Algiz!! Isaz!! Apa yang terjadi?? Cincin apa itu di tanganmu, Algiz??” tanya Jeza.


            “Diam semua!!” Isaz teriak untuk menghentikan liam rekannya yang panik karena melihat dirinya jatuh berlutut di depan Algiz.


            “Isaz! Apa yang-“ tanya Somilo.


            “Kubilang diam!!” Isaz menyela dengan nada membentak. “Biarkan aku bicara dengan Algiz dulu!!”


            Mendengar bentakan Isaz, lima rekan Algiz dan Isaz tidak punya pilihan lain selain menutup mulut mereka rapat-rapat. Lima rekan Isaz tahu betapa Isaz sangat menjaga Algiz hingga tak pernah membiarkan siapapun menyentuh Algiz kecuali dirinya.


            “Algiz … bagaimana kamu tahu benda itu ada di dalam tubuhku??” Isaz mencoba bangkit dari posisinya meski tubuhnya masih merasakan rasa sakit yang luar biasa karena cincin batu biru yang sudah ratusan tahun lamanya berada di tubuhnya, tiba-tiba dikeluarkan begitu saja. “A-apa ingatanmu sudah kembali, Algiz??”


            “Apa maksudnya dengan ingatan??” tanya Mannaz.


            “Ya, apa maksudnya dengan itu??” tanya Dagaz. “Jelaskan ini, Isaz!!”


            “Sebenarnya … apa yang terjadi dengan kalian berdua??” tanya Somilo.


            “Kubilang diam!!” Isaz berteriak lagi karena lima rekannya yang terus bertanya dan memotong percakapannya dengan Algiz. Isaz memberikan tatapan tajam ke arah lima rekannya sebagai peringatan terakhir darinya sebelum akhirnya kembali menatap Algiz lagi. “Algiz! jawab aku! Apa kamu mendapatkan ingatanmu??”

__ADS_1


            Algiz mendekat lagi ke arah Isaz dan memasukkan kembali cincin batu biru itu ke dalam dada Isaz.


            Akhhhh!  Untuk kedua kalinya, Isaz merasakan rasa sakit yang teramat sangat karena perbuatan Algiz itu. Isaz mencoba menahan rasa sakitnya dan sekali lagi, berusaha untuk meminta jawaban dari Algiz.  “Algiz, jawab aku!!”


            “Tak kusangka benda yang harusnya hanya bisa menyembuhkan bisa memberimu kemampuan untuk mengendalikan air dan es, Baram??” Algiz mendekat ke arah Isaz dan memeluknya. “Lama tidak bertemu, Baram!  Kamu pasti sudah menungguku untuk waktu yang lama?”


            “Kamu sudah ingat semuanya, Madaharsa??” Isaz masih tidak percaya mendengar nama lamanya disebutkan lagi.


            “Ya, aku ingat semuanya. Semuanya, Baram.”


            *


            Karena apa yang terjadi pada Deon, sutradara membatalkan jadwal selama satu hari dan menggantinya dengan istirahat bagi para aktor dan aktris. Sementara itu sutradara bersama dengan kru film yang bertugas, melakukan rapat untuk membahas kecelakaan yang terjadi pada Deon dan agar kejadian yang sama tidak terulang untuk kedua kalinya.


            “Kamu ingin ikut atau diam di sini?” Niel bertanya kepada Deon. Karena hari ini jadwal dikosongkan, Niel berniat untuk ke kota dan membeli beberapa kebutuhan Deon dan dirinya yang mulai menipis bersama dengan pengawal Deon dan penata riasnya.


            “Tidak. Aku ingin istirahat saja.” Deon menjawab dengan nada malas sembari terus berbaring di atas tempat tidurnya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


            “Baiklah kalo gitu, lebih baik kamu istirahat. Tapi mumpung aku ke kota, apa ada yang ingin kamu makan atau kamu beli, Deon?” tanya Niel lagi.


            Mata Deon yang tadi setengah tertutup dan malas untuk dibuka, tiba-tiba terbuka lebar begitu mendengar pertanyaan Niel. Deon tersneyum dan membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Deon mengubah posisinya menjadi duduk dan melihat Neil dengan mata berbinar.  “A-apa aku boleh makan semua yang aku inginkan??”


            “Ya, untuk hari ini pengecualian. Pak Okta memberi ijin.” Niel paham arti mata berbinar Deon yang menatapnya saat ini. Niel langsung mengeluarkan ponselnya, membuka catatan kecil dan bersiap untuk mencatat semua yang Deon inginkan.


            “Kalo gitu … aku ingin makan ayam goreng pedas dan rasa keju. Aku ingin es krim. Aku ingin makan mie indomie ukuran besar dua bungkus. Aku ingin makan camilan ikan kering. Aku juga ingin makan asinan buah. Aku ingin makan pizza, burger dan nuget. Kalo ada aku ingin makan toast spesial. Terus siomay dan batagor, kalo ada juga telur gulung. Bakso juga enak dan lebih baik yang ukuran besar seperti bakso beranak agar kita bisa makan bareng. Kalo ada juga aku ingin makan coklat batangan yang ada pahitnya, kamu tentu tahu coklat kesukannku bukan?”


            “Lalu tambah lagi … aku ingin makan topoki, kimbab dan odeng. Apa aku boleh makan gorengan lain? Kalo boleh pisang goreng, hongkong dan tape goreng juga enak.”


            “Apa ada lagi?? Kamu tidak ingin minuman spesifik??” Niel mengingatkan.


            “Ehm??” Deon berpikir sejenak. “Ehm … the rasa yogurt kesukaanku. Beli itu beberapa botol untuk disimpan di sini. Dan juga beli beberapa buah, terserah apa yang penting bisa aku makan. Mumpung di sini kita punya kulkas dan isinya sudah mulai berkurang.”


            “Ada lagi?” Niel bertanya lagi kalau-kalau pesanan Deon masih kurang.


            “Teh untuk dietku, bukannya tinggal sedikit??” Deon berbalik bertanya.


            “Aku sudah mencatatnya dalam belanjaanku.”


            “Kalo gitu sudah, itu saja. Kamu bawa dompetku kan??” Deon bertanya lagi.


            “Aku bawa. Kenapa?? Kamu ingin membayarnya??” tanya Niel.


            “Bukannya aku yang harus bayar karena aku minat banyak sekali?” balas Deon.

__ADS_1


            Niel menggelengkan kepalanya. “Nggak usah. Apa yang kamu minta, Pak Okta yang bayar. Dan kamu … sangat cerdas sekali meminta banyak sekali makanan ketika Pak Okta yang membayarnya.”


            Deon tertawa kecil. “Aku sudah membuatnya jadi orang kaya, jadi sekali-kali biarkan dia membayar makanan untukku. Kamu juga, Niel!! Ajak mereka beli banyak makanan dan keperluan mereka mumpung Okta yang membayarnya. Nanti masukkan ke tagihanku dan Okta pasti tidak akan bisa berkata tidak.”


            “Kamu yang bilang yah??”


            Deon menganggukkan kepalanya. “Ya, serahkan padaku soal itu.”


            “Bagus … kita pesta nanti malam.” Penata rias Deon tersenyum senang.


            “Apanya yang pesta??” ujar Niel. “Kalian semua hanya akan membeli daging saja, sisanya kalian akan makan sisa Deon. Meski Deon memesan banyak makanan, dia hanya boleh makan paling banyak tiga sendok saja atau tiga gigitan saja.”


            “Eh??” Penata rias Deon kaget sementara Deon menganggukkan kepalanya paham akan keadaannya yang masih terikat dengan pekerjaan di mana Deon harus menjaga bentuk tubuhnya.


            “Tiga sendok atau tiga gigitan sudah lebih dari cukup untukku karena setidaknya aku sudah makan dan merasakannya.” Deon bicara dengan senyum di bibirnya sebelum kembali meringkuk di dalam selimut tebalnya yang hangat.


            “Selama aku pergi, jangan membuat ulah, Deon!” Niel mengingatkan.


            “Aku tahu. Hati-hati di jalan.”


            “Aku pergi dulu.”


            Setelah kepergian Niel bersama dengan penata rias dan pengawalnya, Deon yang merasa bosan kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Deon mengambil ponselnya, memutar beberapa lagu dengan earphone yang terhubung dengan kedua telinganya dan membayangkan apa yang dilihatnya kemarin karena kerangka yang ditemukannya dengan Algiz.


            Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul dalam benak Deon ketika mengingat bagaimana Madaharsa memilih untuk menenggelamkan dirinya atau lebih tepatnya tidur di dalam lautan yang dalam. Mungkinkah?


            Deon menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu di dalam benaknya. Hanya saja pertanyaan itu terus berputar dalam benak Deon dan membuatnya penasaran. Mungkinkah Algiz dan Madaharsa adalah orang yang sama?


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2