LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
ANAK YANG HILANG


__ADS_3

             Byur!!!


            Deon mencoba jatuh ke dalam air laut yang dingin dan berusaha untuk berenang sekuat tenaga menuju daratan. Sial!! Deon mengumpat dalam benaknya, menghadapi situasinya saat ini. Kesialan ini kenapa terus datang padaku?? Deon mengeluh sembari memaksa tangan dan kakinya untuk berenang ke arah pantai.


            Byur!!!!


            Deon terus berusaha berenang ke arah pantai, sayangnya ombak laut lebih kuat dari pada dugaannya dan terus menggulung Deon untuk menjauh dari arah pantai. Sial!! Deon mengeluh lagi.


            Blub, blub!! Uhuk, uhuk!!! Mulut dan hidung Deon mulai kemasukan air laut karena gulungan ombak. Sial!! Kenapa aku sial sekali???  Deon mengeluh lagi ketika saluran pernafasannya mulai tidak sanggup bertahan di dalam air laut yang dingin. Ini gelap sekali! Apakah aku akan mati di sini dan tidak akan ada yang menemukanku?? Pandangan Deon mulai kabur bersamaan dengan tubuhnya yang semakin jatuh ke dalam kedalaman lautan. Algiz! Tepat sebelum Deon kehilangan kesadarannya, Deon teringat dengan Algiz dan janjinya untuk bertemu malam ini. Deon menyayangkan janji yang dibuatnya karena sepertinya Deon tidak akan bisa menepati janji itu.


            Byur!!!


            Uhuk, uhuk!!


            Sesuatu menarik tangan Deon.


            “Hei di sini ada seorang anak!!”


            “Apa?? Anak??”


            “Ya!!”


            “Apa dia masih hidup??”


            Deon merasakan napas seseorang di dekatnya bersamaan dengan suhu tubuh orang itu yang terasa hangat.


            “Ya, dia masih hidup.”


            Melihat seseorang sepertinya berhasil menyelamatkan dirinya, Deon yang masih merasa lelah dan menggigil karena berjuang melawan kerasnya lautan akhirnya memejamkan matanya dengan perasaan lega. Aku selamat!


            “Hei, Nak!! Bangun!! Kamu harus mengisi perutmu itu!”


            Nak?? Deon tadinya ingin tidur lebih lama karena rasa hangat yang dirasakannya, tapi guncangan di tubuhnya membuat Deon akhirnya terpaksa membuka matanya.


            “Ehm??” Deon bangun dari tidurnya sembari mengucek kedua matanya.


            “Makan ini dulu, Nak! Kamu harus mengisi perutmu karena perutmu kosong!!”


            Deon menganggukkan kepalanya menerima nampan makanan yang diberikan oleh seorang wanita tua berusia sekitar 60 tahunan. Deon harusnya makan dengan tenang, tapi ketika melihat ukuran tangannya sendiri, Deon kaget bukan main. Apa ini? Kenapa tanganku jadi kecil??

__ADS_1


            “Makan dulu bubur itu, Nak! Setelah itu ganti pakaianmu dengan baju ini!! Kebetulan Kakek dan nenek punya cucu seumuranmu jadi ada baju yang bisa kamu pakai!”


            Begitu sosok wanita itu pergi ke ruang lain, Deon melihat ke arah cermin di ruangan kecilnya dan menemukan wajahnya yang memesona tak lagi terlihat memesona. Semua ketampanan yang dibanggakannya berubah menjadi wajah imutnya. Ini adalah wajahku waktu umur enam tahun!


            Deon mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya, tapi tubuhnya tidak mengindahkan perintah dari otaknya dan justru memakan bubur di depannya dengan tenang. Apa ini?? Untuk sejenak Deon merasa bingun dan berusaha untuk memproses situasinya saat ini.  Jangan-jangan ini … Deon ingat dengan baik hanya ada satu situasi di mana dirinya selalu gagal mengendalikan tubuhnya sendiri: mimpinya dengan Madaharsa.


            Apa ini?? Mimpi apa ini?? Pertanyaan itu muncul di dalam benak Deon, tapi Deon tidak bisa melakukan apapun yang ada dalam benaknnya untuk menemukan jawaban yang diinginkannya. Deon hanya bisa mengikuti tubuhnya yang bergerak sendiri dan mengikuti alur dari mimpinya kali ini.


            “Siapa namamu, Nak?”


            “Akmana.”


            “Dari mana kamu berasal? Kakek dan Nenek akan berusaha untuk mengembalikanmu ke rumahmu.”


            Kepala Deon menggeleng sebagai tanda bahwa dirinya saat ini tak tahu dari mana asalnya berada.


            “Kalau kamu tidak ingat dari mana kamu berasal, mau tinggal di sini sebagai cucu dari Kakek dan Nenek?”


            Kali ini kepala Deon mengangguk sebagai tanda setuju. Mimpi itu bergerak cepat dan kemudian tubuh Deon yang tadinya terlihat seperti anak umur 6 tahun kemudian berubah menjadi Deon dewasa. Hal pertama yang Deon lakukan ketika mimpi bergerak cepat adalah bersyukur. Syukurlah ketampanan dan pesonaku masih ada.


            “Hei, Akmana!!”


            “Kak Ian, lama tak jumpa.”


            Deon menatap sekelilingnya dan kali ini pemandangan di sekitarnya sudah berubah. Jika sebelumnya Deon melihat rumah sederhana yang berada di dekat pantai, kali ini Deon melihat bangunan besar yang diyakini sebagai perguruan tinggi di jaman dulu.


            “Bagaimana dengan studimu? Apa sudah mau selesai??”


            “Ya, Kak. Sidangku sudah selesai, aku hanya tinggal menunggu kelulusan saja.”


            Pria bernama Ian itu merangkul tubuh Deon seolah hubungan mereka dekat. Kedekatan itu, membuat Deon bertanya-tanya dalam benaknya, hubungan apa yang dimiliki Akmana dengan pria ini??


            “Kalo begitu kakek dan nenek tidak sia-sia membesarkanmu, Akmana! Studi yang harusnya memakan waktu empat tahun, bisa kamu selesaikan dalam waktu 3.5 tahun. Ini adalah pencapaian yang cukup hebat.”


            “Terima kasih untuk pujiannya, Kak.”


            “Padahal dulu Ayah dan Ibu begitu menentangmu karena mereka menganggap kakek dan nenek sudah terlalu tua untuk mengurus dan menghidupi seorang anak. Tapi siapa yang akan sangka, kamu ini anak yang baik dan pekerja keras. Ayah dan ibuku harusnya menyesal melihat pencapaianmu!”


            Deon ingin mengerutkan alisnya karena merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Ian. Tapi sekali lagi, tubuh Deon tidak merespon perintah dari otaknya saat ini.

__ADS_1


            “Kakak terlalu memuji. Aku ini hanya kebetulan ditemukan oleh kakek dan nenek. Mereka berbaik hati memberiku rumah dan sudah sewajarnya aku membalas kebaikan mereka.”


            “Aku datang kemari karena ingin menawarimu pekerjaan, apa kamu mau mendengarnya, Akmana??”


            Dalam benaknya, Deon merasa ucapan Ian itu terdengar tidak enak didengar. Deon yang sudah berpengalaman berakting selama beberapa tahun, hafal betul apa itu akting. Dan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ian adalah kalimat yang tidak punya ketulusan. Suara Ian sedikit bergetar dan membuat Deon sadar, apa yang Ian katakan mungkin adalah sesuatu yang mungkin memiliki niat tidak baik.


            “Aku punya teman. Mereka adalah anggota tim ekpsedisi. Karena kebetulan kamu juga mengambil studi arkeologi, mereka ingin mengajakmu. Apa kamu mau??”


            “Kenapa mereka ingin menawariku? Padahal aku ini masih anak baru.” Deon setuju dengan pertanyaan itu. Benar, ini mencurigakan! Jangan mau terima begitu saja!


            “Aku cerita pada mereka kalau kamu adalah anak dengan nilai terbaik tahun ini. Jadi mereka penasaran dan karena salah satu dari mereka juga berasal dari perguruan tinggi yang sama denganmu, mereka ingin merekrutmu.”


            “Kapan mereka akan melakukan ekspesdisi?” Mulut Deon bertanya tanpa perintah darinya sementara otak Deon mengomel. Jangan terima, bodoh!!


            “Tiga bulan lagi. Gimana?? Kamu mau ikut??”


            “Aku ikut, Kak. Itu tawaran yang menarik!!”


            Sial! Deon mengumpat menyadari tubuhnya saat ini benar-benar memiliki otak yang bodoh.


            Mata Deon gelap untuk sementara waktu dan membuat Deon panik setengah mati. Kenapa ini?? Kenapa tiba-tiba aku nggak bisa lihat apapun??


            “Kamu berhasil, Ian??”


            Begitu mendengar suara itu, pandangan Deon yang tadi sempat menghilang kembali lagi. Deon ingin berjalan mendekat ke arah suara itu, tapi ketika melihat tubuhnya sendiri, Deon menyadari ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Kenapa dengan tubuhku?? Deon mendapati tubuhnya tembus pandang bak hologram.


            “Ya, aku berhasil meyakinkan Akmana. Tapi kenapa kamu ingin sekali mengajak saudara angkatku itu untuk ikut dalam ekspedsimu?? Kenapa bukan aku saja yang pergi??”


            Deon melihat Ian sedang bicara dengan seorang pria. Deon mengenali pria itu. Dia kan … Pria yang sedang bicara Ian saat ini adalah satu dari empat pria yang datang bersamanya ke desa di mana Madaharsa berada.


            “Kamu tidak akna berguna.”


            “Kenapa bukan aku? Padahal aku ini lebih pintar dan lebih berpengalaman dari Akmana?? Jelaskan padaku, Sadana!!”


            “Meski kamu pintar dan berpengalaman sekali pun, semua itu tidak akan berguna karena yang bisa membuat kita menemukan desa itu hanyalah Akmana. Laut di mana Kakek dan Nenekmu menemukan Akmana adalah laut di balik gunung yang aku yakini sebagai desa dalam cerita kakekku. Sayangnya karena hukuman yang diberikan pada garis keturunanku, aku tidak akan pernah bisa menemukan desa itu. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Akmana! Dia pasti akan bisa menuntunku ke sana karena di sanalah dia harus pulang.”


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2