LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
PERTEMUAN KEDUA


__ADS_3

Deon menemukan dirinya berada di bukit yang sama di mana dirinya bertemu dengan Madaharsa. Melihat pemandangan yang sama, Deon yakin bahwa kali ini dirinya berada di ruang mimpinya.


            Mimpi lagi.


            Kaakk, kaaakkk!


            Deon menengadahkan kepalanya melihat burung-burung beterbangan tepat di atas kepalanya. Deon terus menengadah ke atas hingga-


            “Maaf, mereka mengganggu yah??”


            Deon menurunkan pandangannya dan menemukan wanita bernama Madaharsa sudah duduk di sampingnya seperti mimpi-mimpi sebelumnya.


            “Sedikit.” Seperti sebelum-sebelumnya, mulut Deon bicara tanpa mendengar perintah darinya.


            “Mereka temanku. Mereka ingin kenal denganmu, makanya mereka beterbangan di atas kepala kita. Mereka sedang menghafalmu dan mengenalmu.”


            Deon menengadahkan kepalanya lagi menatap burung-burung kecil berwarna-warni yang beterbangan di atas. “Kamu bisa bicara dengan mereka??”


            “Ya. Bicara dengan beberapa hewan adalah satu dari beberapa keistimewaan keluargaku.”


            “Selain burung, kamu bisa bicara dengan hewan apa lagi?” Kali ini mulut Deon bertanya sesuai dengan apa yang otaknya ingin tanyakan.


            “Banyak. Kucing, anjing, burung, kupu-kupu.”


            “Bagaimana dengan hewan buas?”


            Wanita bernama Madahrsa menyipitkan kedua matanya menatap Deon. “Kenapa kamu ingin tahu? Kamu ingin menangkap hewan buas untuk kamu ambil kulitnya??”


            Deon menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Tentu bukan!!” Deon menggaruk kepalanya. “Aku hanya berpikir kalo kamu bisa bicara dengan hewan buas, maka setidaknya kamu bisa menyelamatkan diri jika tak sengaja masuk ke dalam sarang mereka.”


            “Ahhh, begitu rupanya.” Madahrsa membuat tawa kecil karena merasa telah sangka kepada Deon saat ini. “Aku bisa bicara dengan mereka, tapi tak semua hewan buas mau mendengarkan bahkan jika kita bisa bicara pada mereka.”


            “Kenapa?”


            “Hewan buas mengandalkan kekuatan mereka. Jika di mata mereka kamu lebih lemah, bagaimana kamu bicara kamu akan tetap jadi mangsa mereka. Tapi jika di mata mereka kamu terlihat kuat, bahkan jika kamu tidak bisa bicara pada mereka, mereka akan tetap memilih untuk menghindari masalah. Hewan buas menggunakan insting.”


            Deon menganggukkan kepalanya setuju. Tapi dalam sekejap Deon sadar akan pertanyaan aneh yang keluar dari dalam mulutnya tadi. Kenapa aku mengajukan pertanyaan itu? Apa aku punya niat lain??


            Wushhhh!!


            Angin berembus kencang. Kawanan burung yang tadi beterbangan di atas kepala Deon, terbang pergi dan hinggap di pohon di dekat Deon.


            Ah, akhirnya mereka pergi. Kalo di dunia nyata, aku pasti sudah lari. Burung adalah salah satu kelemahanku. Ah tidak!! Aku memang takut dengan beberapa hewan!!


            Kawanan burung yang hilang kemudian berganti menjadi kawanan kupu-kupu.

__ADS_1


            “Ini??”


            Deon mencoba mengulurkan tangannya untuk meraih kupu-kupu terdekatnya. Kupu-kupu itu menghindar tapi justru hinggap di tangan Madaharsa.


            “Mereka lebih pemalu dari burung.”


            *


“Cut!”


            Syuting iklan selama dua hari berakhir dan kini Deon punya setengah hari untuk liburan dan besok pagi-pagi sekali, Deon harus naik penerbangan paling pagi untuk mengejar jadwalnya yang lain.


            “Jadwalnya kosong kan setelah ini?” Deon bertanya pada Niel sembari beberapa kali menundukkan kepala kepada kru yang bekerja bersamanya dan beberapa kali mengulang kata yanga sama ‘terima kasih’.


            “Ya.” Niel memberikan minum sembari menuntun Deon ke kamar ganti dan mengganti pakaiannya. “Apa ada yang ingin kamu lakukan, Deon?”


            “Jalan-jalan. Bisa kita jalan-jalan di sini? Mumpung di sini.” Deon bicara dengan sedikit semangat.


            “Aku sudah menduganya. Mau ke mana?” tanya Niel.


            “Di sini ada tempat menarik apa saja??”


            Sembari membantu Deon mengganti pakaiannya, Niel memberikan ponselnya. Selama menunggu Deon syuting iklan tadi, Niel bermain dengan ponselnya dan mencari semua tempat menarik di kota ini. Niel sudah menduga Deon akan meminta jalan-jalan mengingat suasana hatinya yang baik bahkan setelah kejadian mengerikan dua hari yang lalu.


            “Pilih dan tentukan mana yang kamu ingin datangi, Deon.”


            Deon menjatuhkan pilihannya.


            Satu jam kemudian.


            Setelah berpisah dan berpamitan dengan kru, Deon menuju ke daftar tempat yang dibuatnya. Pertama membeli oleh-oleh. Mobil yang disewa oleh Niel dari pihak hotel dalam sekejap penuh dengan oleh-oleh yang Deon beli. Bahkan Niel sampai harus membeli satu koper lagi untuk membawa oleh-oleh yang Deon beli.


            Puas membeli oleh-oleh, Deon berjalan bersama dengan Niel dan dua pengawalnya ke beberapa tempat wisata menarik. Tidak seperti di ibu kota, penggemar Deon sedikit lebih sopan. Mereka meminta ijin lebih dulu untuk mendekat, bersalaman, meminta tanda tangan hingga berfoto bersama. Penggemar Deon bahkan menunggu Deon selesai makan, untuk mendekat ke arah Deon.


            “Haruskah aku membeli satu koper lagi??” Niel bertanya pada Deon ketika dalam perjalanan kembali ke hotel.


            “Apa tidak cukup??” tanya Deon.


            “Tadinya cukup untuk oleh-oleh. Tapi para penggemarmu memberikan banyak barang.”


            “Kalo tidak cukup, beli lagi saja.” Deon menjawab dengan enteng.


            Niel menyipitkan matanya melihat Deon. “Deon??”


            “Ehm, apa?”

__ADS_1


            “Bisa aku tanya.”


            “Tanya saja.” Deon menjawab dengan kepala yang melihat ke arah jalanan yang dilewatinya.


            “Kamu agak aneh.”


            “Aneh gimana?” Deon masih enggan melihat Niel.


            “Biasanya ketika penggemar fanatikmu membuat masalah, kamu enggan menerima barang-barang dari penggemarmu yang lain. Kenapa sekarang kamu malah menerimanya dan berniat membawanya pulang??” Melihat respon Deon hari ini, Niel sudah menahan rasa penasarannya sejak tadi.


            “Anggap saja, moodku sedang baik.” Sekali lagi, Deon menjawab dengan enteng.


            “Kurasa efek liburan itu benar-benar-“


            “Niel!!” Deon yang sejak tadi enggan melihat Niel karena lebih tertarik melihat jalanan, tiba-tiba menolehkan kepalanya.


            “Ya??”           


            “Itu!” Deon menunjuk ke arah bagian atas hotelnya yang penuh dengan kumpulan burung yang beterbangan dan berputar-putar di sana.


            “Itu apa?” Niel mencoba melihat arah yang ditunjuk Niel.


            “Burung-burung di atas hotel itu! Apa kemarin ada?? Seingatku kemarin sore saat kita pulang, aku nggak lihat burung-burung itu!!”


            “Benarkah??” Niel mengerutkan alisnya ragu. “Aku tidak bisa mengingatnya. Mungkin iya, mungkin tidak.”


            Mungkinkah- Tiba-tiba Deon teringat akan salah satu mimpinya di mana dirinya melihat kawanan burung yang beterbangan di atas kepalanya karena Madaharsa. Deon tahu mimpi itu mungkin tidak ada hubungannya. Deon juga tahu wajah wanita yang dipanggil Algiz itu mungkin hanya kebetulan semata mirip dengan Madaharsa. Tapi … Deon sedikit berharap bahwa wanita yang dipanggil Algiz itu mungkin ada hubungannya dengan Madaharsa dan mimpi-mimpinya.


            Jadi ketika Niel dan dua pengawalnya lengah, Deon mencoba menemukan jalan menuju ke atap paling atas hotel di mana dirinya tinggal. Kebetulan sekali salah satu pegawai hotel yang bertugas membersihkan kamar adalah penggemarnya. Dengan bantuan pegawai itu, Deon bisa menemukan jalan menuju ke atap paling atas hotelnya yang berlantai enam.


            Kaak, kaaak!!


            Begitu tiba di atas hotel, Deon menemukan kawanan burung itu sedang beterbangan di atas seseorang yang duduk di atap. Sosok itu menoleh ke arah Deon. Harusnya Deon tidak mengenali sosok itu karena sosok itu mengenakan masker hitam sama seperti Deon, tapi Deon ingat betul mata yang menatapnya saat ini.


            Kaaak, kaaak!


            Di balik masker hitamnya, Deon membuat senyum kecil dengan bibirnya. Padahal kemungkinan itu hanyalah kemungkinan yang sangat kecil. Tapi sepertinya mimpi itu memang ada hubungannya denganmu, Algiz.


            Deon berjalan mendekat ke arah sosok yang menatapnya saat ini. Kita bertemu lagi, Algiz.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2