LONG JOURNEY TO YOU

LONG JOURNEY TO YOU
KECELAKAAN


__ADS_3

            “Sebenarnya benda pusaka itu apa? Kenapa semua orang begitu menginginkannya?”


            Deon mendapati dirinya berada di belakang Baram, berjalan di tengah kegelapan dan hanya terdengar suara napasnya saja.


            “Apa kamu tahu kemampuan milik Madaharsa??”


            “Ya, aku tahu sebagian yang dia tunjukkan padaku.”


            “Dari cerita nenek moyang kami, kemampuan itu hanya sebagian kecil dari kemampuan milik pembuka desa. Dari cerita nenek moyang kami, kemampuan Madaharsa bisa dikuasai orang lain jika orang itu memegang benda pusaka milik pembuka desa. Hanya saja bagaimana benda pusaka itu? Tidak ada satu pun cerita yang benar. Beberapa sesepuh desa mengatakan benda itu berupa cincin dan beberapa sesepuh lain mengatakan jika benda pusakah itu berupa tongkat kayu. Mana yang benar, kami tidak tahu. Kami hanya tahu benda itu ada, tersembunyi entah di mana dan karena benda itu pula, Madaharsa tidak akan pernah bisa keluar dari desa ini.”


            Huft!!  Deon menghela napas mendapati dirinya berada dalam mimpinya lagi untuk kesekian kalinya. Bagaimana aku bisa menemukan hubungan masa ini dengan masaku berada jika bahkan pria dari jaman ini pun tak tahu bagaimana bentuk benda pusaka itu??


            “Kenapa bertanya? Apa kamu juga ingin mendapatkan benda pusaka itu, Akmana??” tanya Baram dengan nada dingin.


            “Tidak! Aku tidak butuh benda itu! Dari pada melihatnya sebagai benda pusaka, aku lebih melihatnya sebagai benda terkutuk! Benda itu ada pemiliknya kan?? Dan benda itu hanya akan bekerja pada pemiliknya?? Jadi buat apa aku susah mencari benda yang tidak akan pernah bisa aku gunakan??”


            Baram menghentikan kakinya dan membuat Deon nyaris menabraknya.


            “Kenapa tiba-tiba berhenti??” Deon mengeluh.


            “Akhirnya aku paham kenapa Madaharsa suka bicara denganmu. Pikiranmu itu benar-benar bersih dan Madaharsa pasti bisa melihatnya dengan jelas sejak pertama kali bertemu denganmu!”


            “Maksudnya?” Deon sama sekali tidak paham.


            “Ehm … bagaimana yah mengatakannya. Kamu mirip seperti kami yang selama ini tinggal di desa ini dan menjaga rahasia mengenai benda pusaka ini bersama dengan keluarga Madaharsa.”


            “Aku masih tidak paham.”


            “Seperti yang kamu katakan, aku dan kebanyakan orang di desa ini juga menganggap benda pusaka itu sebagai benda terkutuk. Benda itu mengikat Madaharsa dan keluarganya selama ratusan tahun. Hal yang sama juga berlaku bagi kami. Kami mungkin punya kebebasan, tapi mulut kami diharuskan menjaga rapat-rapat mengenai rahasia benda pusaka itu. kami juga punya kewajiban untuk terus menjaga Penjaga dan menikah dengan keturunannya.”


            “Oh … kukira kalian semua juga penasaran dengan benda pusaka itu.” Kali ini mulut Deon bicara sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh otaknya.


            “Kami memang penasaran, tapi lebih berharap benda itu tidak ditemukan kecuali oleh pemiliknya.”


            “Ah soal pemiliknya! Bukannya pembuka desa itu sudah meninggal ratusan tahun?” Deon sudah lama ingin menanyakan hal itu dan baru kali ini, mulutnya mengeluarkan pertanyaan itu.


            “Aku nggak tahu ini benar atau tidak. Tapi dari cerita nenek moyang kami, pembuka desa mungkin akan lahir lagi di waktu tertentu dan ketika dia lahir, benda pusaka itu akan keluar dengan sendirinya.”


            “Siapa yang akan percaya dengan cerita itu??” Deon setuju dengan mulutnya.


            “Kamu mungkin tidak percaya tapi Madaharsa adalah buktinya.”

__ADS_1


            “Maksudnya??” Deon masih tidak mengerti.


            “Selama ratusan tahun, penjaga dan keturunannya selalu lelaki. Tapi di generasi ini, keturunan penjaga adalah wanita. Kelahiran wanita dalam keturunan penjaga dipercaya sebagai tanda bahwa kelahiran pembuka desa tidak akan lama lagi.”


            *


            “Cut!!”


            Syuting hari ini sudah mencaapai adegan di mana hubungan Akmana dekat dengan Madaharsa dan Baram mulai merasa cemburu dengan keberadaan Akmana. Tokoh Baram yang sudah lama memendam hati pada Madaharsa yang tidak lain adalah teman kecilnya, merasa cemburu dengan keberadaan Akmana yang sering menghabiskan waktu bersama dengan Madaharsa.


            Dalam mimpiku memang jelas terlihat kalo Baram memang menyukai Madaharsa sebagai wanita. Meski Madaharsa bilang menikah dengan Baram adalah kewajiban, tapi hal itu tidak berlaku untuk Baram. Dari skenario yang diperankannya, Deon menarik kesimpulan itu dan menemukan kenapa Baram dalam mimpinya selalu melihatnya dengan tatapan cemburu.


            “Ternyata di mana pun aku berada, aku tetaplah orang yang memesona,” gumam Deon bangga pada dirinya.


            “Deon??? Kamu bicara apa??”


            Niel sepertinya mendengar gumaman kecil Deon yang sedang membanggakan dirinya. Deon melirik kecil pada Niel dan mencoba bertanya kepada Niel. “Menurutmu, aku ini tampan??”


            “Kalo nggak, tidak mungkin banyak penggemarmu dari kalangan wanita, Deon!”


            “Aku ini memesona??” tanya Deon lagi.


            Deon mendengus kesal ke arah Niel. “Apa susahnya bilang ya dari pada memberikan penjelasan panjang seperti itu??”


            “Aku ini seorang pria. Aku tidak mungkin bilang kamu tampan dan memesona dengan terang-terangan bukan?? Kamu ini bintang terkenal, Deon. Mau orang salah paham mendengar apa yang aku katakan??” jelas Niel.


            “Ah … “ Deon mengangguk setuju. “Kamu benar juga.”


            Setelah break selama lima belas menit, syuting dilanjutkan lagi. Karena beberapa kali adegan duduk di mulut gua terlihat berbahaya, kru film memasang pengaman pada Deon dan lawan mainnya. Jadi ketika sial mungkin sedang menghampiri, baik Deon dan lawan mainnya tidak akan langsung menghadap Tuhan.


            “Oke, action!!”


            Syuting dimulai lagi. Langit malam yang jadi latar belakang dan kebetulan beberapa bintang terang muncul, menambah indahnya pemandangan yang tertangkap oleh kamera.


            “Kelak jika kamu sudah kembali ke kotamu berada dan merindukan tempat ini dan aku, lihatlah ke langit. Berdoalah dan jika beruntung melihat bintang jatuh di sana, maka itu adalah tanda aku mendengar doamu!”


            “Bintang jatuh? Kenapa harus bintang jatuh?”


            “Dalam cerita nenek moyang kami, benda pusaka yang dibawa oleh pembuat desa ini berasal dari bintang jatuh. Dalam cerita itu juga, katanya pembuat desa menyerang makhluk-makhluk yang dulu menghuni hutan dan gunung di sini seperti ratusan bintang jatuh.”


            “Maksudnya hujan meteor??”

__ADS_1


            “Ya, mungkin kalian menyebutnya dengan cara seperti itu.”


            “Oke, cut!!”


            Berkat mimpinya, syuting ini harusnya berjalan dengan mudah untuk Deon. Tapi karena beberapa kali lawan main Deon yang berperan sebagai Madaharsa merasa gugup hingga melupakan dialognya, syuting yang harusnya mudah berubah menjadi sulit. Beruntung di malam yang dingin ini, syuting adegan terakhirnya berjalan lancar dan hanya perlu mengulang hingga tiga kali take saja.


            “Oke, kami akan melepaskan alat pengamannya.”


            Kru film yang bertugas melepaskan pengaman mendekat ke arah Deon dan lawan mainnya. Dengan sangat hati-hati kru film yang sudah professional itu mulai melepaskan pengaman di tubuh Deon. Sayangnya-


            Wushhhh.


            “Akhhh!!”


            Angin kencang yang berembus dari arah laut membuat lawan main Deon terkejut hingga dia kehilangan keseimbangannya. Lawan main Deon-aktris muda berusia 20 tahun bernama Inas itu adalah wanita yang sedikit ceroboh dan mudah gugup. Mungkin karena aktris baru, mungkin juga karena berhadapan langsung dengan idolanya yang tidak lain adalah Deon, wanita muda itu berulang kali membuat kesalahan di lokasi syuting dan membuat Deon kesal setengah mati. Sayangnya kesalahannya kali ini benar-benar fatal.


            Inas yang kehilangan keseimbangannya tanpa sadar meraih bahu Deon dan membuat Deon yang berdiri lebih dekat dengan batas daratan dan laut di bawahnya akhirnya jatuh.


            “Deon!!!!”


            Teriakan kencang terdengar dari semua orang termasuk Niel yang berdiri menunggu Deon di samping sutradara.


            “Deon!!!” Niel mendekat ke arah mulut jurang dengan wajah khawatir.


            “Huft!!” Deon mencoba untuk tetap tenang di tengah situasinya yang tergantung dengan tali pengaman dan menatap laut di bawahnya. “A-aku baik-baik saja, Niel! Menjauh dari sana, biarkan kru professional yang menarikku ke atas.”


            Srekk, srekk!! Kru professional yang bertugas melepaskan pengaman Deon, berusaha untuk menarik Deon ke atas. Sayangnya … pengaman Deon sudah hampir terlepas semua dan tidak mampu menahan tubuh Deon lebih lama.


            Wusshhhhh!!


            Angin kencang dari laut berembus lagi dan membuat tubuh Deon berayun kencang. Klik. Pengaman terakhir yang menjaga Deon tergantung, akhirnya benar-benar terlepas dan Deon jatuh bebas ke laut di bawahnya.


            “Deon!!!!!”


            Teriakan kencang Niel bersama dengan seluruh orang yang panik melihat Deon jatuh, terdengar dengan jelas di telinga Deon. Hanya saja … Deon tidak bisa bereaksi apapun mendengar teriakan itu selain mengulurkan tangannya ke atas untuk menggapai langit.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2