
“Aku dengar kamu akan menikah dengan Baram?”
Deon menemukan dirinya berada di bukit dan duduk bersama dengan wanita bernama Madaharsa. Tempat ini lagi. Ini artinya aku sedang bermimpi lagi.
“Begitulah. Tradisi di desa ini mengharuskan kami-para penjaga untuk menikah dengan penduduk desa ini karena kami tidak boleh keluar dari desa dan meninggalkan desa.”
Deon menangkap wajah sedih Madaharsa. Ini adalah pertama kalinya, Deon melihat wanita dalam mimpi memasang wajah sedih. Padahal sebelum-sebelumnya, Deon selalu melihat senyuman dari Madaharsa yang hangat dan membuatnya ikut merasa senang.
“Apa kamu nggak ingin keluar dan melihat dunia luar?? Di luar sana banyak hal yang menarik, kamu bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai kebudayaan.” Sekali lagi mulut Deon bicara tanpa mendengar perintah dari otaknya.
“Keinginan itu adalah sesuatu yang mewah untukku. Kebebasan adalah hal yang mustahil untukku.”
“Sebenarnya kenapa kalian harus menjaga benda pusaka itu? Kenapa harus kamu dan keluargamu? Kenapa bukan orang lain??”
Sudah sejak lama Deon penasaran dengan benda pusaka yang mengikat Madaharsa dalam mimpinya. Madaharsa berulang kali menyebut benda itu, tapi hingga saat ini Deon masih belum tahu bagaimana bentuk dan penampakan dari benda pusaka itu.
“Dulu … ada seorang pria yang datang ke desa ini. Desa ini sebelumnya adalah hutan belantara dan gunung yang angker. Hutan dan gunung di sini dulunya tidak bisa ditinggali oleh manusia karena makhluk gaib yang mendiami hutan dan gunung iui. Pria itu kemudian membuka hutan dan gunung ini, membersihkan makhluk-makhluk gaib itu dan membuat tempat ini bisa dihuni oleh manusia. Awalnya pria itu tinggal seorang diri di desa yang dibukanya. Tapi seiring berjalannya waktu, ada manusia yang melewati tempat ini. Pria itu kemudian mengangkat tiga anak laki-laki sebagai anak angkatnya. Dari tiga pria itu, desa ini kemudian mulai terisi dengan keturunan mereka. Sayangnya satu dari tiga pria itu adalah pria yang serakah. Pria itu berniat buruk ingin merebut benda pusaka milik pria yang membangun desa ini. Sayangnya niat itu gagal. Pria jahat itu diusir dari desa.”
Deon mendengarkan dengan cermat cerita Madaharsa. “Terus, apa yang terjadi??”
“Dua anak yang tersisa, satu bertugas sebagai menjaga gunung di mana pria yang membuka desa dimakamkan. Satu lagi menjaga desa dan melestarikan peninggalan pria itu.”
Deon masih tidak mengerti. “Lalu benda pusaka itu apa? Bagaimana bentuknya? Apa yang sebenarnya kalian jaga??”
“Cerita turun temurun mengatakan benda pusaka itu berupa cincin milik pria itu. Cincin itu menyimpan kekuatan milik pria itu yang mampu membuatnya mengalahkan semua makhluk-makhluk gaib yang dulu menghuni desa ini. Cerita lainnya mengatakan benda pusaka itu berupa tongkat kayu yang digunakan pria itu untuk membuat aliran sungai di desa ini. Mana yang benar, kami tak tahu karena semua yang hidup bersama dengan pria pembuka desa telah meninggal ratusan tahun yang lalu.”
“Jadi kamu menjaga sesuatu yang kamu tak tahu apa itu??” Mulut Deon bertanya sesuatu yang sama dengan apa yang dipikirkan kepalanya.
__ADS_1
“Memang begitulah. Kami memang tak tahu apa yang kami jaga. Hanya saja keberadaan benda pusaka itu memang benar adanya, kami sebagai penjaga dan orang yang berdatangan ke desa ini untuk mencari benda itu adalah buktinya. Nenek moyangku meyakini cerita mengenai benda pusaka itu bocor ke luar desa karena pria yang diusir itu. Meski sudah mati, pria itu meninggalkan cerita pada keturunannya untuk menemukan benda pusaka itu. Obsesinya untuk menemukan benda itu turun kepada keturunannya.”
*
Deon bangun di malam hari dan merasa mimpinya kali ini memberikan suatu petunjuk yang lain. Mimpi ini belum pernah Deon mimpikan sebelumnya.
Hosh, hosh!!
Keringat deras mengucur di kening Deon karena mimpinya kali ini. Deon mengusap keringatnya dengan tangannya sembari memeriksa ruangannya berada. Niel tidur di sofa besar dengan nyenyak dan napasnya yang berbunyi kencang. Mungkin dia lelah! Pikiran itu muncul dalam benak Deon, mengingat Niel seharian terus menjaganya.
“Akhhh!!”
Deon memegang kepalanya yang masih terbalut perban. Deon bangkit dari ranjangnya dengan suara sekecil mungkin agar tidak membuat Niel bangun dan membuat kehebohan yang tidak penting di malam hari. Deon menuju ke kamar mandi dan melihat bayangan dirinya di cermin.
“Akhh! Pantas saja sakit. Keringat tadi pasti menembus perbannya dan membuatnya perih!!” Deon menatap dirinya di cermin sejenak dan kemudian memilih untuk mencuci mukanya. Byurr!!
Mungkin dia di sana! Pikiran itu muncul bersamaan dengan harapan kecilnya ketika wajah Algiz yang mirip dengan Madaharsa muncul dalam benaknya. Deon menjatuhkan pilihan tempat tujuannya untuk membunuh rasa bosannya.
Apa dia di sana? Apa aku bisa melihat dan bertemunya lagi? apa aku bisa bicara lagi padanya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benak Deon bersamaan dengan harapan kecil yang tanpa sadar dibuatnya.
Ting!!
Setelah memeriksa peta rumah sakit tempatnya berada dan menghindari perawat yang berjaga malam, Deon tiba di lantai paling atas di rumah sakitnya. Di mana pintu tangga menuju bagian atapnya?? Deon mencari-cari pintu itu sembari mengingat peta yang dilihatnya dalam waktu singkat tadi.
Klik! Kret!!
Deon berhasil menemukan pintu yang dicarinya karena begitu pintu itu terbuka, Deon melihat anak tangga yang bisa membawanya ke atas. Tap, tap. Deon mulai menaiki anak tangga dan menghitung setiap anak tangga yang dilewatinya untuk membunuh rasa sepi dan sunyi di malam hari.
__ADS_1
“Satu, dua, tiga … “
Deon menghitung dengan wajah riang karena harapan kecil yang dibuatnya. Klik, kreett. Sekali lagi Deon beruntung karena pintu atap yang harusnya dikunci dan tidak bisa dibuka dengan mudah oleh orang lain, hanya terkunci dengan pengaman biasa dan bisa dibuka oleh siapa saja yang memiliki tinggi di atas 120 cm.
Wushhhhh!!
Begitu pintu terbuka, angin malam yang dingin menusuk langsung menyerang tubuh Deon yang hanya berbalut piyama dan jaket tipis milik Niel. Grrr! Tubuh Deon sedikit gemetar karena rasa dingin yang menusuk. Tapi Deon tak peduli dengan itu. Deon yang tadi memiliki harapan besar untuk bertemu dengan Algiz yang mirip dengan wanita dalam mimpinya, harus menelan rasa kecewa karena tempat itu kosong.
Apa yang aku harapkan?? Deon menelan ludahnya sembari menelan pahitnya kecewa. Huft! Deon yang sudah terlanjut tiba di atap dengan susah payah, memilih untuk tinggal. Deon duduk di dekat pagar setelah memastikan pagar itu aman untuk bersandar. Deon mengambil ponselnya, memasang earphonenya, memutar lagi dan memeriksa jam di layar ponselnya.
Dua jam lagi sebelum matahari terbit.
Deon memejamkan matanya, merasakan angin dingin menusuk tubuhnya sembari menikmati lagu yang berputar di telinganya.
Tuk, tuk!
Deon yang baru saja memejamkan matanya sejenak, mendengar suara ketukan yang bukan dari earphonenya. Deon membuka matanya dan menemukan sosok yang dicarinya sedang menatap dirinya.
“Kita ketemu lagi!”
Deon tersenyum mendengar sapaan yang keluar dari sosok itu. “Ya, kita ketemu lagi.”
__ADS_1