
“Jika kamu ingin wanita itu bisa keluar dari tempat ini, ambil benda pusaka yang dijaganya! Harusnya begitu benda pusaka itu diambil, kewajiban wanita itu akan berhenti dan dia mungkin akan hidup seperti wanita pada umumnya!!”
Deon mendapati pikirannya terus memutar kalimat itu. Kenapa dengan otakku ini? Deon mengeluh kesal karena benaknnya memikirkan sesuatu yang jahat.
Buk! Deon merasakan tepukan kecil di bahunya. Deon menoleh dan menemukan Madahrasa mendatanginya.
“Ada apa dengan wajahmu? Kenapa lebam-lebam begitu?” tanya Madaharsa.
Melihat sosok yang memiliki wajah yang sama dengan Algiz tanpa masker hitamnya dan lokasi Deon berada, Deon tahu dirinya kini berada di dunia mimpi lagi.
“Ini … “ Tangan Deon bergerak tanpa perintahnya, menyentuh beberapa bagian wajahnya yang lebam dan terluka. “Aku ceroboh dan jatuh ketika turun dari bukit.”
“Ohh benarkah??”
Madaharsa menyentuh bekas luka milik Deon dan tidak lama kemudian bekas luka Deon yang tadinya terasa perih, tidak lagi terasa perih.
“Apa yang baru saja kamu lakukan?” Mulut Deon bertanya sesuai dengan apa yang Deon tanyakan dalam benaknya. Deon bahkan menundukkan kepalanya ke sungai untuk melihat bayangan dirinya dan benar saja, bekas luka dan lebam yang tadinya terasa perih itu menghilang tanpa bekas. “Kamu!! Kamu bisa-“
“Ssssttt!!” Madaharsa langsung menutup mulut Deon dengan jari telunjuknya. “Tolong rahasiakan ini! Bisa??”
Deon menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada seorang pun yang melihat dirinya dan ulah Madaharsa baru saja. “Kamu ini!!” Deon bicara dengan sedikit nada marah pada Madaharsa. “Kalau ini rahasia, kenapa kamu menggunakannya padaku? Bagaimana kalau ada yang melihatnya??”
“Tapi bukannya kamu temanku? Seperti katamu, teman harus saling tolong menolong.”
Jawaban polos dari Madaharsa ini mengingatkan Deon akan mimpinya sebelum ini di mana pria yang wajahnya mirip dengan Isaz-Baram memukul dan marah pada Deon karena memberikan harapan kosong pada Madaharsa.
Jadi ini maksudnya. Deon melihat ke arah Madaharsa. “Lain kali jangan lakukan ini lagi. Meski terluka, luka itu pasti sembuh nantinya. Aku hanya perlu menahannya dan bersabar selama beberapa waktu.”
“Tapi kamu akan merasa sakit, Akmana!”
Deon tersenyum mendengar nada suara yang penuh dengan rasa cemas itu. Deon menatap dalam ke arah Madaharsa. Deon melihat kedua mata Madaharsa dan kedua mata itu sama persis dengan mata Algiz. Yang membedakannya adalah kali ini Deon bisa melihat raut wajah Madaharsa yang cemas, khawatir dan satu lagi … perasaan yang sangat dikenal Deon: cinta. Mungkinkah wanita bernama Madaharsa ini menyukaiku? Pertanyaan itu muncul dalam benak Deon.
“Mana ada manusia yang tidak merasakan sakit, Madaharsa? Di dunia ini semua manusia pasti akan merasakan sakit dalam bentuk apapun. Luka di tubuh, luka di hati dan luka di pikiran. Tiga jenis luka penyebab rasa sakit itu adalah sesuatu yang akan dirasakan oleh manusia dalam hidupnya.” Deon menggenggam tangan Madaharsa. “Lain kali jangan lakukan ini lagi jika memang kemampuanmu ini adalah sebuah rahasia. Ya??”
__ADS_1
Madaharsa menganggukkan kepalanya. “Ya.”
“Siapa lagi yang tahu kalau kamu punya kemampuan ini selain aku?”
“Hanya kamu dan Baram.”
Baram, ya. Deon teringat dengan Isaz lagi. Mau di kehidupan ini atau kehidupanku, orang itu adalah orang yang selalu ada di dekatmu. Di sini, dia adalah calon suamimu dan di kehidupanku, dia adalah rekanmu. Deon melepaskan genggamannya di tangan Madaharsa. “Ingatlah ini, Madaharsa! Jangan mudah percaya pada siapapun!”
“Aku mengerti!”
“Satu lagi. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”
“Apa itu?”
“Kamu terikat di desa ini, gunung ini karena benda pusaka yang kamu jaga. Bagaimana jika benda pusaka itu menghilang atau direbut?” Mulut Deon mengajukan pertanyaan yang ingin Deon tanyakan. Untuk menuju ke atap gedung apartemennya, Deon perlu naik ke lantai paling atas
“Aku tidak tahu. Tapi mungkin aku akan mati. Tugasku adalah menjaga benda itu sampai pemiliknya lahir lagi. Jika aku gagal, maka mungkin aku akan mati.”
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Maksudmu??” Deon tidak mengerti.
“Mungkin saja jika aku gagal dengan tugasku, semua kemampuan yang aku miliki akan menghilang.”
Deg.
Hosh, hosh!! Deon terbangun dari tidurnya dengan jantung yang berdetak kencang. Deon terbangun dengan satu pikiran di dalam benaknya. Jika benda pusaka itu direbut, maka mungkin Madaharsa akan kehilangan nyawanya karena lalai menjaga tugasnya. Mungkinkah akhir dari kisah dalam mimpiku itu-
Deon langsung menggelengkan kepalanya, tidak ingin berpikiran buruk dengan sesuatu yang masih belum pasti. Naskah itu! Aku harus menemukan penulisnya! Penulis itu mungkin tahu bagaimana akhir kisah hidup Madaharsa dan benda pusaka yang dijaganya!
Mata Deon menatap ke arah naskah skenario yang berada di meja samping tempat tidurnya. Tik, tok! Dari naskah itu, mata Deon bergerak ke arah jam digital kecil yang berada tepat di samping naskah itu. Gawat!! Aku terlambat untuk bertemu Algiz!!
Deon bergegas bangkit dari ranjangnya, meraih jaket dan ponselnya, dan bergegas menuju ke atap gedung apartemennya. Dari lantai paling atas, Deon harus mencari pintu khusus yang akan membawanya ke atap. Pintu itu dikunci dan karena di masa lalu, Deon sering mengunjungi bagian atap sebagai tempat latihannya berakting, Deon memiiliki kunci cadangan pintu-pintu menuju atap gedung apartemennya.
__ADS_1
Kretttt!!
Begitu pintu bagian atap terbuka, Deon tadinya mengira dia akan melihat Algiz. Deon bahkan sudah menyiapkan kalimat maafnya karena terlambat. Tapi sosok yang menunggunya di atap bukan Algiz melainkan Isaz. Tidak seperti Algiz yang selalu mengenakan masker hitam untuk menutupi wajahnya, Isaz dengan terang-terangan menunjukkan wajahnya pada Deon.
“Si-siapa kamu?” Deon mengajukan pertanyaan itu sebagai bentuk kepura-puraannya.
“Leo. Aku teman Rae.”
Nama samaran? Apa mungkin nama-nama itu adalah nama yang mereka gunakan ketika sedang menyamar dan bertemu dengan orang biasa sepertiku.
“Ke-kenapa kamu yang di sini dan bukan Rae? Di mana Rae??”
“Rae sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditundanya.” Pria yang mengaku namanya segai Leo dengan kode nama Isaz itu bicara dengan santainya. Tapi Deon tidak percaya begitu saja. Karena Algiz pernah sekali tidak datang dan dia tidak mengirim orang lain.
“Kalau begitu, apa Rae yang mengirimmu kemari?” tanya Deon.
“Tidak.” Isaz mendekat ke arah Deon dan mencengkeram kerah piyama Deon.
Dia! Apa yang Isaz lakukan padanya, membuat Deon teringat dengan mimpinya sebelum ini. Dia benar-benar mirip dengan Baram! Mungkinkah …
Deon bukan Akmana-pria dalam mimpinya yang terima begitu saja menerima perbuatan buruk orang lain padanya. Buk!! Deon dengan tangannya, langsung melepaskan cengkraman tangan Isaz di kerah piyamanya. “Mau apa kamu??”
“Kamu!!” Isaz sepertinya marah dengan balasan Deon. Tapi dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya yang hampir terlihat marah, kembali ke ekspresi datarnya. “Sudahlah!! Aku datang ke sini hanya untuk memberikanmu peringatan!”
“Peringatan?? Peringatan apa?”
“Jauhi Rae!! Sebisa mungkin hindari dia!!”
“Kenapa??” Deon jelas tidak terima dengan peringatan itu karena bukan hal yang mudah Deon bisa bertemu dan dekat dengan Algiz hingga ke titik ini.
“Takdir yang menghubungkan kalian sangatlah buruk! Jika hubungan kalian diteruskan, akhir buruk itu akan terulang lagi!!”
Akhir yang buruk?? Kau tahu apa yang terjadi di masa lalu antara aku dan Algiz?? Deon menatap Isaz dengan mata terkejut dan tidak percaya. Mungkinkah kau orang yang menulis skenario itu dan menggunakan nama Madaharsa sebagai nama penanya??
__ADS_1