Love Catastrophe

Love Catastrophe
Prolog


__ADS_3

Dia terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Untuk sesaat, otaknya menjadi kosong dan dia mulai menghirup oksigen secara rakus untuk menggantikan pasokan udara yang hilang dari paru-paru. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri dengan rasa pening yang sangat mengganggu, dan dadanya terasa penuh sesak seakan tertusuk beribu-ribu jarum.


"Pangeran! Anda sudah sadar?" seorang perempuan dengan busana kuno sederhana memekik di samping tempat tidur dimana ada sosok seorang manusia yang entah itu wanita atau pria baru saja tersadar dari tidur panjangnya dengan nada lega yang gembira.


Sosok muda berparas cantik yang baru saja tersadar itu untuk sesaat bergeming belum menyadari keadaannya saat ini, karena dia sedang berkonsetrasi pada kondisinya yang kurang menyenangkan. Bahkan ketika perempuan di sampingnya memekik, dia sama sekali tidak menggubrisnya.


"Syukurlah! Ini adalah kabar baik. Hiks... Oh Dewa! Terima kasih atas keajaiban yang kau berikan untuk Pangeran kami." kata perempuan lain dengan sesekali terisak karena terharu.


"Aku akan memanggil Yang Mulia permaisuri!" perempuan yang lain berbalik dan berlari meninggalkan ruangan tuannya dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Pangeran... Hiks.."


BRAAKKK!!


Suara pintu yang di dobrak secara paksa mengejutkan seluruh penghuni yang ada di dalam kamar tersebut, kecuali sosok di atas tempat tidur yang masih tampak shock dengan sorot mata kosong tengah melotot horror. Pelayan yang hendak keluar tertahan sesaat sebelum dia menunduk dalam, meminta izin undur diri.


"Ya-Yang Mulia Putra Mahkota?!" seru seorang pelayan yang duduk bersimpuh di atas tanah.


Seorang pria dengan jubah merah berbordir emas yang baru saja masuk itu tidak merespon seruan pelayan yang kini tengah menundukkan kepala memberi hormat takzim. Matanya yang tajam hanya terfokus pada satu-satunya orang yang sedang duduk di atas tempat tidur berselimut kain sutra tebal tepat di depannya.


Sorot mata pria itu gelap dan dingin, tajam menusuk hingga satu tatapannya saja mampu membunuh seseorang. Namun tidak ada yang tahu, emosi apa yang tampak pada mata tajamnya ketika melihat sosok bergeming yang baru saja tersadar itu.


Dengan langkah lebar, pria itu sudah mengambil posisi duduk di samping gadis itu, menatapnya dengan sorot mata rumit.


"Xueyue, adikkuㅡ" mendengar namanya di sebut, sosok yang kini sedang kehilangan setengah jiwanya itu tersentak, matanya melirik menatap mata gelap pria di hadapannya. Sosok itu memiliki iris mata coklat yang sangat cantik dan bersinar cerah dengan bulu mata lentik khas seorang perempuan. Bibirnya yang pucat dan kering bergetar seolah dia tengah mengatakan sesuatu. Namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.


Tenggorokannya terasa kering dan itu sangat menyakitkan.


Pria itu tanpa sadar menarik garis tipis dari sudut bibirnya membentuk seutas senyuman lega. "Syukurlah." gumamnya, dia menoleh menatap tajam salah seorang pelayan di ruangan itu. "Cepat panggilkan tabib Mu Chen kemari!" titahnya mutlak.


"Segera Yang Mulia." namun, ketika pelayan itu berbalik dan hendak meninggalkan kamar tuannya, seseorang melesak masuk menghalangi jalannya. Ketika melihat siapa yang datang, pelayan itu segera menundukkan pandangannya dengan hormat dan takut, lantas menggeser tubuhnya ke samping membiarkan orang itu melewatinya.


"Yang Mulia Permaisuri Yun." seru pelayan itu, memberi hormat.


"Anakku Xueyue!" pekik wanita paruh baya yang di sebut sebagai Permaisuri tersebut. Dia dengan tergesa-gesa mendekati sosok yang di panggil Xueyue di atas tempat tidur dan merengkuhnya ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Ha-hah?" orang yang di panggil Xueyue itu tersentak dan lambat laun kesadarannya mulai mengalami perubahan sedikit demi sedikit.


Mendengar isak tangis dari wanita yang tiba-tiba saja memeluk tepat di samping telinganya, membuat matanya berkedip penuh kejutan. Syaraf pada otaknya masih kosong untuk mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sampai akhirnya itu mulai bekerja dengan perlahan.


"Syukurlah, hiks.. Syukurlah kau telah sadar anakku. Ibu, Ibu sangat takut kehilangan dirimu. Berterima kasih kepada sang Dewa Agung yang telah mengabulkan semua doa-doaku." racaunya, dengan menangkup wajah anaknya penuh kasih sayang, dan wanita anggun itu berlinang airmata, menangis semakin keras sembari memeluk Xueyue.


"Ibu... Biarkan tabib memeriksa keadaan Xueyue terlebih dahulu. Mari, kita beri tabib Mu Chen sedikit ruang." ujar sang Putra Mahkota memberi pengertian, dan wanita yang di panggilnya sebagai ibu itu mengangguk, menyadari kesalahannya.


"Ya.. Hiks! Kau, kau benar." katanya, sembari menyeka airmata di kedua pipinya yang basah.


Seorang wanita berpakaian tabib yang sedari tadi berdiri di samping Putra Mahkota pun dengan kepala menunduk hormat segera mendekati tempat tidur orang yang bernama Xueyue itu. Sedikit tersimpan senyum tipis yang semua orang tidak bisa menyadarinya tersungging di sudut bibirnya.


'A-apa yang telah terjadi? Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang ini?! Kondisi macam apa semua ini?!' pekik jiwa sosok bernama Xueyue itu dengan nada horror. 'Pangeran apa?'


"Pa-pangeran, apa yang anda rasakan? Dapatkah anda mendengar suara saya?" tanya tabib itu lembut. Namun tiba-tiba Xueyue menoleh dengan gerakan cepat, dia menatap dengan pandangan kosong ke tabib di sampingnya dengan perasaan campur aduk, hal itu membuat tubuh tabib bernama Mu Chen itu tanpa sadar berjengit mundur menundukkan kepalanya dalam.


"Pangeran?" beo Xueyue. Mengapa mereka menyebut dirinya pangeran? Mendengar Xueyue mengucapkan panggilannya dengan nada tanda tanya, semua orang yang hadir di kamar tersebut tampak cemas kembali.


"Ah Xue, apa yang terjadi?" pria satu-satunya di kamar itu mencoba untuk bertanya tampak sedikit cemas. Dan suaranya berhasil menarik perhatian Xueyue untuk menatapnya dengan linglung.


"Ah Xue? Pangeran? Pangeran apa? Siapa yang mereka panggil dengan sebutan pangeran?" tanya Xueyue tiba-tiba cemas. Detak jantungnya berdegub semakin keras karena perasaan takut. Dan lagi...


Pria di hadapannya mengernyit bingung, bagaimana adiknya bisa melupakan tempat di mana dia tinggal? Bukankah ini kamarnya?


Sementara itu, seluruh pelayan sudah mulai menangis dalam diam dengan perasaan ketakutan dan khawatir. Tubuh mereka bergetar hebat ketika melihat pangeran mereka bertingkah aneh seperti saat ini, mereka merasakan hidup mereka sedang berada di seutas tali seolah terancam.


"Anakku. Apa kau melupakan ibumu ini?" sang Permaisuri mulai kembali terisak. Menunjuk dirinya sendiri.


Xueyue melihat sosok ibunya, memperhatikannya dengan seksama. Lalu pandangannya bergeser ke sosok pria di samping ibunya. Itu adalah kakak laki-lakinya yang sudah lama tidak pernah dia temui semenjak dirinya mulai memasuki bangku universitas. Namun melihat bagaimana busana yang di kenakan keduanya...


"Bu, kakak.. Ada apa dengan pakaian kalian berdua?" celetuknya, mata Xueyue bergerak ke atas dan ke bawah pada busana keduanya secara bergantian. "Bagaimana dengan dandanan dan riasan kalian? Ada apa ini? Apa kalian sedang mencoba membuat drama film dinasti kuno? Hahaha! Ini tidak lucu, bu!" cerocos Xueyue mulai ngelantur sambil tertawa.


Ucapan Xueyue sontak membuat bingung semua orang yang ada di dalam kamarnya. Terutama pria satu-satunya di sana.


"Ah Xue, apa yang sedang kamu coba katakan? Kami... Tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Gunakan bahasa kita sebelumnya yang bisa di mengerti oleh semua orang." kata pria itu akhirnya.

__ADS_1


Mendengar bagaimana nada dan cara bicara kakaknya yang terlalu formal dan berbelit-belit membuat kepala Xueyue mendadak berdenyut ngilu. Sejak kapan kakaknya berbicara seolah dia adalah seorang pangeran? Dan ada apa dengan penampilannya? Xueyue merasa itu seperti beban yang dengan cepat membuatnya lelah. Dia memijit kepalanya yang sedikit pusing.


"Dengar!" desisnya, lalu Xueyue secara refleks membenahi cara duduknya dengan kaki kiri bersila di tempat tidur sementara kaki kanan menekuk untuk menyangga lengan tangannya layaknya seorang laki-laki duduk di atas lantai.


Melihat bagaimana cara tidak etis Xueyue duduk, semua pelayan di kamar itu mendadak kehilangan nyawa mereka dan berhenti bernafas seketika. Meskipun hal itu seharusnya wajar. Sedangkan permaisuri hanya bisa membuka sedikit bibirnya dan menutupnya dengan anggun menggunakan telapak tangannya sebelum kembali tertutup rapat. Dan pria itu sedikit menegakkan tubuhnya karena tersentak kaget. Itu karena bagaimana tindakan Xueyue yang tidak sopan dan terlalu barbar.


"Hentikan sandiwara semua ini, bu. Ini benar-benar tidak lucu." sambung Xueyue dengan nada frustasi.


"Shen Xueyue! Kakak benar-benar tidak mengerti dengan pembicaraan yang sedang kamu coba jelaskan kepada kami. Ada apa denganmu, hah?! Kauㅡ"


"Qingtian. Jangan terlalu keras dengan adikmu. Dia baru saja mengalami trauma." potong sang permaisuri dengan nada memohon. Hal itu membuat pria bernama Qingtian itu seketika menggeretakkan giginya menahan emosi dan mau tidak mau harus menelan kembali kata-katanya di dalam tenggorokan.


Menggelengkan kepalanya lirih, dia mendesah putus asa sembari menekan pelipisnya yang mendadak berdenyut sakit, "Haㅡah... Ah Xue. Kau seorang Pangeran dari kerajaan Huo. Sudah seharusnya kauㅡ"


"APA?!" teriak Xueyue tiba-tiba memotong. Dia bahkan kini sudah beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri dengan tegap menatap pria bernama Qingtian itu dengan mata mendelik horror.


"Pa-pangeran?! Kerajaan Hou?!"


Merasakan sesuatu menarik perhatiannya, Xueyue menundukkan kepalanya. Dia melihat adanya rambut panjang yang tergerai melewati bahunya dan jatuh tepat di depan dadanya. Itu sebuah rambut yang sangat panjang, okay? Xueyue untuk sesaat kehilangan nyawa di tempat, mengambil helai rambut yang jatuh itu dengan perasaan campur aduk dan jari-jari tangan bergetar. Rambutnya adalah pendek cenderung bergaya laki-laki. Bagaimana itu tiba-tiba saja menjadi sangat panjang?


Ketika itu tersentuh oleh tangannya yang gemetar, perasaan familiar muncul di hatinya. Sensasi akar rambut yang tertarik jika dia mencoba menyentuh rambutnya dapat dia rasakan ketika helai rambut panjang yang ia coba sentuh itu mengenai kulit tangannya.


"I-ini, ini.. Ini..."


"Yue'er..." desis sang permaisuri dengan suara sangat lirih, menatap Xueyue mulai cemas. Sementara Qingtian hanya bisa menatap tingkah absurd adiknya yang tidak biasa itu dengan kernyitan dalam di dahinya.


"A-Apa ini? APA INI?!!" pekiknya semakin horror.


"Ah Xue?!"


"TIDAAAAAAAAAAKKKKKK!!!" pekik Xueyue sebelum dia kembali pingsan tidak sadarkan diri.


"PANGERAN!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2