Love Catastrophe

Love Catastrophe
Astaga! Jodohku!


__ADS_3

"Ayah... Aku seorang perempuan."


Pernyataan tak terduga yang di lontarkan Shen Xueyue terus terngiang di benak Shen Jinglong, mengganggunya setiap saat. Bahkan rapat rutin yang biasa Shen Jinglong lakukan dengan para petinggi dan para pejabatpun harus di undur karena dirinya yang tidak fokus untuk pertama kalinya dalam sejarah.


Harusnya dia marah, harusnya dia juga murka. Tetapi saat tiba-tiba melihat ekspresi menyedihkan yang tampak pada wajah Xueyue saat itu, entah mengapa hatinya merasakan kepedihan yang dalam. Lebih sakit saat pedang tajam musuh menusuk jantungmu.


Tapi cerita itu... Mengingatkannya pada ibu suri yang seorang cenayang. Bahwa kelak dirinya akan memiliki seorang keturunan, di mana keturunannya itu akan membawanya ke dalam suatu kemakmuran tapi bisa juga kehancuran. Tinggal bagaimana keturunannya tersebut menyikapi takdirnya nanti.


Di bandingkan dengan putra dan putrinya yang lain, kelahiran Shen Xueyue dan juga kondisinya cukup membuatnya berfikir keras hari itu. Shen Xueyue tidak seperti seorang pangeran pada umumnya, namun juga tidak seperti seorang putri dari sebuah kerajaan. Seolah kelahiran Shen Xueyue membawakan sebuah rahasia yang tidak bisa terkuak saat kelahirannya terjadi.


Awalnya Shen Jinglong tidak mau mempercayai hal semacam itu.


Tapi ketika dirinya mendengar pengakuan yang secara tiba-tiba dari bibir Shen Xueyue bahwa dia sebenarnya terlahir sebagai seorang perempuan dan bukan seorang laki-laki, membuatnya ternganga untuk waktu yang cukup lama.


Tapi melihat bagaimana wajah dan bentuk tubuh Shen Xueyue saat ini, dia tidak mungkin meragukan pernyataan Shen Xueyue.


"Apa yang di pikirkan ibumu saat dia memutuskan untuk membuatmu hidup dengan menggunakan identitas sebagai seorang pangeran?" seru Shen Jinglong, tidak habis pikir. Dia merasa bingung, apakah dia harus marah atau bahagia?


Di satu sisi, keinginannya yang ingin memiliki seorang putri dari rahim permaisuri Yun pada akhirnya memang terkabul. Dan dia sangat bahagia sebab meskipun Shen Xueyue terlahir sebagai seorang laki-laki, dia sangat cantik dengan wajah feminim. Tapi di sisi lain, dia sedih dan kecewa, bahkan dia mungkin kini sedikit marah. Dia sedih karena saat dirinya menginginkan seorang putri dari Yun Xieya, dia berharap bisa memanjakannya sejak bayi. Memberikan mainan yang seharusnya seorang putri miliki, memberinya gaun yang cantik untuk di kenakan. Dia sudah membayangkan bagaimana sangat cantiknya putri dari rahim Yun Xieya jika itu sampai terjadi. Tapi kenyataan pahit itu menyatakan bahwa permaisuri yang dia cintai kembali melahirkan seorang bayi laki-laki.


Ini salahnya. Mengapa pada saat itu, dia tidak melihat secara langsung jenis kelamin Shen Xueyue setelah kelahiran. Padahal setiap kali permaisuri dan kedua selirnya melahirkan, meskipun tabib istana telah mengumumkan jenis kelamin apa bayi yang mereka lahirkan, dia akan melihatnya untuk kedua kali memastikan bahwa tabib tidak salah mengatakannya. Tapi entah mengapa pada hari kelahiran Shen Xueyue, dia tidak melakukannya dan melupakannya begitu saja.


Shen Xueyue berfikir sangat keras. Memikirkan kemungkinan yang bisa membuktikan bahwa ibunya pasti memiliki alasannya sendiri mengapa melakukan itu semua.


"Ibu... Mungkin memiliki alasan yang kuat di mana dia tidak bisa menjelaskan mengapa dan untuk apa, ayah. Aku tahu, ibu telah salah. Kesalahannya sangat fatal karena telah membohongi ayah Raja. Tapi ayah, bisakah kamu memaafkan kami? Bisakah ayah memahami pilihan yang di pilih oleh ibu? Mungkin sampai saat ini ibu belum mampu mengatakan yang sebenarnya. Tapi pasti suatu hari nanti dia akan mengatakannya." Shen Jinglong menatap rumit putrinya yang tampak menyedihkan. Shen Xueyue tiba-tiba bergidik, dan refleks menoleh menatap Shen Jinglong. Dia memekik dan berkata dengan nada suara ketakutan, "Ayah! Apakah kamu akan menghukum kami karena telah membohongi ayah selama bertahun-tahun? Bisakah ayah mengampuni kami? Dari bagaimana aku menilai tindakan ibu, ibu tidak mungkin memiliki niat buruk untuk ayah. Ibu jelas memiliki ketakutan saat tahu aku terlahir sebagai seorang perempuan." tiba-tiba Shen Xueyue merengek dan tanpa sadar air mata merembes dari pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya.


Shen Jinglong tersentak menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit terbaca. "Jika aku dan ibu harus di hukum mati karena telah menghina dan membohongi Yang Mulia, maka bolehkah aku meminta untuk kebebasan ibuku dan menimpakan hukuman ibuku ke pundakku saja?" 


Diam-diam Shen Xueyue mengepalkan kedua tangannya. Kali ini dirinya sedang bertaruh dengan hidup dan matinya. Jika ayahnya memilih untuk menghukum dirinya dan juga permaisuri Yun, dia akan memilih untuk kabur dari istana ini dengan kemampuannya sebagai roh siluman Rubah. Membawa pergi ibunya, dan menjauh sejauh mungkin dari negeri Hou secara diam-diam. Itulah rencana awalnya.


Siapapun tentu saja tidak ingin di hukum mati hanya karena sedikit kesalahan saja, bukan? Ibunya hanya mengubah statusnya dari yang seharusnya seorang putri menjadi seorang pangeran. Dia tahu bahwa keluarganya bukanlah dari keluarga rakyat biasa melainkan penguasa negeri Hou. Jika rakyat tahu bahwa seorang permaisuri telah membohongi kelahiran anaknya bahkan berbohong selama bertahun-tahun tentang identitasnya, bukankah rakyat akan mempermalukan keluarga kerajaan?


"Ayah..."


"Jadi... Sekarang kau ingin menggunakan status sebagai seorang putri atau seorang pangeran?" tanya Shen Jinglong, akhirnya.


"A-apa?!" Shen Xueyue tergagap untuk sesaat, sebelum dia menyadari kesalahannya yang bersikap tidak sopan dan cepat-cepat merubah ekspresinya kembali.


Shen Jinglong menatap putrinya intens dan penuh intimidasi. Shen Xueyue di sisi lain hanya bisa menelan ludah kering dengan jantung berdetak lebih cepat. Mendengar pertanyaan yang sulit untuk dia katakan, membuatnya bergerak gelisah.


"Ayo pilih?" itu bukan pertanyaan, namun lebih seperti sebuah pernyataan.


"I-itu...." kata-kata Shen Xueyue tercekat di kerongkongannya. Dia baru menyadari bahwa jika dia memilih untuk menggunakan status sebagai seorang putri, mungkin hidupnya harus berada seperti dalam sangkar emas. Dia akan sulit keluar dan bergerak bebas.


Tanpa Shen Xueyue tahu, sesungguhnya Shen Jinglong menghela nafas lega meskipun tidak kentara.


Kelahiran Shen Xueyue terdengar di seluruh wilayah Negara Hou sebagai seorang pangeran. Namun belum ada yang tahu jika dia sebenarnya perempuan. Jika ada satu saja pria yang memiliki ketertarikan pada Shen Xueyue dan menyadari keanehannya, maka itu akan menjadi lebih baik lagi. Sebab seluruh rakyat tidak akan mengetahui identitas Xueyue yang kedua setelah dia menikahi seorang pria, bukan?


Mungkin... Dia bisa benar-benar menerima proposal lamaran dari pejabat Wen?


Jika apa yang di ramalkan oleh ibunya tentang kelahiran Shen Xueyue adalah benar, maka kita akan lihat saja di masa depan nanti. Siapa pria yang akan menjadi menantunya untuk menjadi suami Shen Xueyue. Bukan tidak mungkin bahwa Shen Xueyue akan hidup tanpa pasangan hidup. Pikirnya.


"Tidak perlu kau katakan lagi." tukas Shen Jinglong mengejutkan Shen Xueyue. Untuk beberapa saat, suasana berubah hening di antara keduanya. Shen Jinglong memperhatikan Xueyue dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum pria itu hanya menghela nafas berat. Xueyue benar-benar memiliki ciri-ciri fisik yang sangat unik namun menarik.


"Baiklah. Ayah akan mengurus apapun yang kau minta. Dan... Kau bisa mengirim pesan pada dua teman yang ingin kau jadikan pengawal itu untuk datang ke istana. Tentu saja mereka harus melewati ujian yang berlaku terlebih dulu."


Xueyue, "....?!" dia tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa membuka tutup bibirnya ternganga menatap ayahnya yang tiba-tiba tersenyum tipis ke arahnya. "Ayah.. I-ini..."


"Ya. Ayah tidak akan menghukummu ataupun ibumu hanya karena kalian menyembunyikan fakta tentang jenis kelamin dan statusmu. Biarlah ini menjadi rahasia antara ayah, ibu dan kamu. Jika keluarga kerajaan yang lain dapat menerima keadaanmu, maka cukup keluarga kerajaan saja yang mengetahui. Tapi untuk sementara, kamu hanya bisa menggunakan identitasmu sebagai seorang pangeran untuk saat ini." Shen Xueyue spontan tersenyum dan hampir saja kelepasan untuk tertawa lepas. Namun, dia mengurungkan niatnya dan berlari menghampiri Shen Jinglong.


"Tidak masalah!" Xueyue terkikik hingga membuat matanya menyipit membentuk garis bulan sabit.


Satu lompatan dari Shen Xueyue yang tiba-tiba mengejutkan Shen Jinglong, membuat pria itu refleks menerima tubuh putrinya lagi yang berhambur ke dalam pelukannya dengan tawa lirih dan nada yang benar-benar menyenangkan untuk indra pendengaran Shen Jinglong. "Ayah, kau yang terbaik. Yue'er mencintaimu, ayah.. Sangat, sangat, sangat, dan sangat mencintaimu. Mmuaahh! Haha..!!"


Tubuh Shen Jinglong seketika membeku, ketika secara spontan Shen Xueyue melayangkan satu kecupan yang cukup lama di pipinya sebelum anak itu melepaskannya dan melompat kegirangan berputar-putar di sekeliling Shen Jinglong seperti bayi.


Tidak sepenuhnya Yun Xieya bersalah dalam hadirnya Shen Xueyue yang menyamar sebagai seorang pangeran dan bukan putri. Dia bukan Raja yang kolot seperti generasi sebelumnya.


Bahkan ibu suri telah memberitahukan hal tentang takdir Shen Xueyue yang akan terlahir sebagai berkah dari dewa. Terlebih, saat ibunya mengatakan bahwa takdir Shen Xueyue yang juga akan menikahi seorang pria berpengaruh di seluruh negeri di pulau ini.


Ya! Seorang pria. Sepertinya dulu ketika ibunya mengatakan tentang ramalan ini, dia berfikir bahwa ramalan ini berlaku mungkin untuk dua putrinya yang lain dan bukan Shen Xueyue.


Hanya saja pada waktu itu, dia tidak berharap lebih dan menganggap apa yang ibu Suri ramalkan itu hanya sebuah prediksi bualan belaka dan tidak akan pernah mungkin menjadi kenyataan. Namun sekarang, mau tidak mau dia harus mempercayainya.


Kasim kepercayaan Shen Jinglong mencuri pandang secara diam-diam ke arah Rajanya yang masih saja sibuk berkutat dengan pikirannya. Melihat bahwa Rajanya sedang memijat pelipisnya dengan ekspresi letih membuatnya meringis ikut merasakan lelah.


"Kasim Ye. Mulai hari ini, bawakan jubah putih sesuai dengan keinginan pangeran Xue. Suruh penjahit istana untuk membuatkan model yang sama seperti yang telah di gambarkan olehnya sendiri. Dan..." entah mengapa Minato linglung untuk beberapa saat ketika harus menyebut Xueyue sekarang. Apakah dia tetap harus menyebutnya sebagai seorang Putri, atau Pangeran? Haㅡah... Entahlah. Mendadak kepalanya kembali berdenyut sakit.


"Yang Mulia?"


"... Itu saja untuk saat ini."


"Baik Yang Mulia. Hamba akan melaksanakannya segera." kasim Ye berkowtow sekilas dan mundur beberapa langkah sebelum berbalik meninggalkan ruang kerja Rajanya.


Shen Jinglong mengambil secarik kertas dari kulit kayu murbei dan juga kuas tinta untuk menulis. Dengan gerakan tegas, pria itu menuliskan beberapa kata sebelum menggulung secarik kertas berukuran persegi sebesar telapak tangan itu lantas beranjak dari meja kerjanya.


Pria itu menghampiri sebuah sangkar emas berisi burung merpati berbulu putih dengan kaki emas. Perlahan dia membuka sangkar tersebut, mengambil burung merpati di dalamnya dan mengikat gulungan kertas berukuran kecil ke kaki kanan burung merpati.


Shen Jinglong mendongak ke atas langit yang gelap saat berada di jendela. Dia mengusap lembut pada sayap burung merpati sebelum melemparkannya ke langit, membiarkannya terbang ke awan dengan kepakan sayapnya yang indah.


Di sebuah barak tentara dengan suasana yang terlihat tampak mencekam, peralatan pelatihan yang menyeramkan, dan banyaknya senjata-senjata berbahaya yang berserakan di mana-mana, membuat barak tentara itu seperti tempat untuk penyiksaan para tahanan perang.


Di area belakang barak itu terdapat sebuah tanah lapang yang sangat luas dengan rumput hijau segar. Tidak jauh dari tanah lapang itu, ada sebuah hutan yang biasa di gunakan oleh para prajurit tentara di barak untuk berlatih bertahan hidup. Terlihat di sana beberapa sekelompok orang-orang mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng melekat pada sebagian wajah mereka. Topeng itu memiliki bentuk yang berbeda-beda sebagai identitas diri masing-masing para prajurit tersebut. Setiap bentuk topeng mewakili pangkat jabatan mereka. Di sana mereka tengah berlatih di tanah lapang.


Di baris depan, ada seorang instruktur yang mengawasi jalannya pelatihan. Dia pria dengan surai hitam legam, ada sedikit rambut di poninya yang menjuntai di satu sisi wajahnya berwarna putih keperakan. Pria itu memiliki mata obsidian yang sayu namun tegas. Di balik topengnya yang melekat pada sebagian wajah, tidak ada yang tahu bahwa dia memiliki sifat yang kejam saat menjalankan misi.


Burung merpati putih di atas langit yang terbang mulai membelokkan arahnya ke bawah dengan tikungan yang sangat tajam, terus mendarat ke bawah seolah tahu di mana tujuannya pergi. Tatapan pada matanya yang tajam mengunci target, memungkinkan arah kemana dia harus mendarat.

__ADS_1


Pria yang bertugas mengawasi jalannya latihan itu menyadari kehadiran burung merpati di atas langit. Dia lalu mendongak ke arah datangnya sesuatu yang hendak menghampirinya. Dengan lengan menekuk, pria itu mengangkatnya ke atas sejajar dengan kepalanya ke arah di mana burung itu berasal, sebelum burung merpati tersebut dengan mulus mendarat di atas lengan tangan kirinya.


Menyadari bahwa itu adalah burung merpati pembawa pesan milik Raja, pria itu segera mengambil secarik kertas yang di ikat pada kaki burung tersebut. Kakinya menjauh dari kerumunan dengan sendirinya ke tempat yang lebih sepi, dan matanya fokus pada gulungan kertas. Setelah membaca isi gulungan kertas tersebut, pria itu mendekati sebuah obor dan membakar gulungan kertas di tangannya.


Detik berikutnya, pria itu dengan sekali hentakan kaki melayang ke udara sebelum menghilang dalam sekejap mata.


Shen Jinglong sedang sibuk menulis sesuatu di meja kerjanya ketika suara pijakan kaki berhenti dan mengintrupsi kegiatannya. Bola matanya bergerak sekilas ke sisi kanan sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.


"Kau sudah datang, Bai Lang."


"Hamba Yang Mulia."


Untuk sesaat, Shen Jinglong menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan sembari meletakkan kembali kuas di antara kedua jarinya ke tempat semula. Dia beranjak dari kursi kerja dan berjalan dengan kedua tangan menyilang di belakang punggung, pria itu berjalan ke arah sumber suara yang tidak di ketahui berada di mana. Namun, tentu saja Shen Jinglong mengetahui di mana tempat yang biasa di gunakan untuk para prajurit bayangan melaporkan hasil kerjanya.


"Bai Lang. Ada sesuatu yang aku ingin kamu lakukan untukku. Dan ini berhubungan dengan pangeran Xue."


"Hamba siap kapanpun, Yang Mulia." Shen Jinglong berbalik, lagi-lagi menghela nafas letih. Dia sedikit ragu, apakah dia harus mengatakannya atau tetap di sembunyikan.


"Sebelum itu, aku ingin... Kamu tahu satu rahasia yang di miliki oleh pangeran Xue. Bahwa dia sebenarnya... Adalah seorang perempuan dan bukan laki-laki." jeda sesaat.


Untuk beberapa waktu, keheningan menjadi penengah di antara mereka. Bai Lang tidak berani berkomentar. Namun, di balik kegelapan, ekspresi wajahnya tidak mengalami sebuah perubahan dan kejutan mengenai berita itu.


Shen Jinglong tertawa seolah membodohi dirinya sendiri, "Aku tahu kau pasti terkejut, bukan?"


"Tidak. Hamba... Sudah mengetahuinya sejak lama sebelum ini." sontak saja, Shen Jinglong mendapat kejutan yang tidak terduga-duga dan menoleh ke arah sumber suara di mana Bai Lang berada. Seolah bertanya 'bagaimana kau tahu itu?' kepada prajurit bayangan itu. Bai Lang berkata dengan nada penuh permohonan maaf, "Maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia. Sebelumnya Permaisuri Yun pernah meminta hamba untuk mengawasi Pangeran Xue secara pribadi ketika masih kecil. Dan Permaisuri Yun juga memberitahukan rahasia itu agar hamba sewaktu-waktu tidak terkejut jika tidak sengaja mengetahui keanehan pada diri pangeran Xue."


Shen Jinglong masih mengalami shock ketika Bai Lang mencoba menjelaskan. Tetapi dia kembali sadar. Kenapa hanya dirinya yang tidak di beritahu? Kenapa permaisuri Yun istrinya yang paling dia percayai bahkan tega membohonginya? Apa yang di takutkan permaisuri Yun dengan kelahiran Shen Xueyue sebagai seorang perempuan?


Sepertinya dia harus meluruskan kesalahpahaman ini secepatnya.


Shen Jinglong mendesah, hal itu membuat Bai Lang menundukkan kepalanya semakin dalam merasa bersalah. "Baiklah, kalau kau sudah tahu rahasia itu. Dengan begini, aku tidak harus menjelaskan dua kali dan percaya kau tidak akan terkejut dan tetap menjaga rahasia kami untuk dirimu sendiri."


"Tentu Yang Mulia."


"Mulai saat ini, kau lepas topengmu itu dan gunakan identitasmu sebagai Bai Lang." Bai Lang melepaskan topengnya yang menutupi sebagian wajahnya. Di balik topeng itu, ternyata tersembunyi wajah tampan yang tidak pernah di ketahui oleh banyak orang-orang di sekelilingnya. Bahkan saat berada di dalam barak dan meskipun sedang beristirahatpun, Bai Lang lebih sering mengenakannya dan tidak membiarkan orang-orang melihat wajah aslinya.


"Kau menjadi pengawal pribadi Yue'er mulai dari hari ini. Besok, akan ada dua orang yang datang ke istana sebagai calon pengawal pribadinya juga yang dia minta. Aku ingin kau ikut denganku untuk menguji mereka sebelum aku menyetujui permintaan Yue'er. Kau akan bertindak sebagai penguji mereka."


"Baik Yang Mulia."


"Kau bisa kembali dan berkemas dari barak bayangan." dengan satu hentakan telapak kaki, Shen Jinglong mengetahui bahwa Bai Lang telah kembali ke tempatnya semula.


.


Seharusnya dua minggu Shen Xueyue baru bisa terbangun dari tidur panjangnya. Namun Xueyue justru tertidur hampir lebih dari satu bulan lamanya.


Dan selama itu pula, sebuah energi alam yang melimpah di alam roh dan siluman itu mendekat ke arah ruang ritual, dengan cepat di serap oleh inti kristal di dalam tubuh Xueyue secara rakus.


Selama penyerapan energi alam ke inti kristal di tubuh Shen Xueyue berlangsung, ekor pada diri gadis itu bertambah. Dari satu ekor, dua ekor, tiga ekor, hingga berakhir pada ekor ke empat. Meskipun ekor pada diri Xueyue bertambah, namun ukuran tubuh Xueyue tetap tidak berubah. Dia masih saja setinggi 50 sentimeter. Bulunya putih seperti anjing samoyed. Itu lebat dan tebal.


Shen Xueyue yang sedang tidur telungkup perlahan membuka matanya yang berubah menjadi beriris merah, mengerjap dengan mata sayu khas bangun tidur. Bola matanya tidak lagi berwarna coklat seperti saat dia dalam wujud manusia, namun berubah warna menjadi ruby. Saat dia berhasil tersadar sepenuhnya, tubuh rubahnya mulai bertranformasi menjadi wujud manusia kembali. Anehnya, dia memiliki penampilan yang sangat luar biasa dari seorang perempuan yang sangat cantik.


Sekarang, wujudnya berubah menjadi seekor rubah putih menjadi jingga keemasan, di bagian dagu, dada, hingga perutnya berwarna putih, dan kakinya hitam perpaduan coklat terang. Itu benar-benar berbeda dari wujud Rubah berbulu putih yang pertama kali di lihatnya.


"Aku ingin tampilanku yang sebelumnya. Lu Guan..." rengeknya saat Lu Guan dan Zhu Guang dua sahabatnya berhasil turun dan menemaninya di dalam kamarnya dalam wujud asli mereka yang sebagai binatang sebesar kucing.


Setelah Shen Jinglong pergi, dan dua pelayannya tidak lagi bertugas, wujudnya yang sebagai manusia tiba-tiba menyusut menjadi seekor Rubah kembali.


Dua pelayan Xueyue, An Xi dan An Nan telah berada di ruang istirahat mereka yang berada di samping kamar Xueyue. Membuat gadis itu lebih leluasa berbicara dengan dua sahabatnya.


Cahaya menyilaukan menyengat mata Xueyue sebelum cahaya itu redup dan wujud manusia dua sahabatnya muncul.


"Bukankah sebelumnya Tetua telah melatihmu?"


"Guan Guan... Xueyue itu kadangkala memiliki otak udang yang sulit untuk berfikir. Haha..." sindir Zhu Guang tertawa laknat. Hal itu sontak saja membuat Xueyue mencebik dengan wajah tertekuk masam. Namun dalam bentuk Rubahnya, itu sangat terlihat menggemaskan.


"Guan Guan~...." Xueyue merengek terdengar memilukan. Dia tiba-tiba berhambur ke pelukan Lu Guan dengan satu kali lompatan layaknya seekor anjing peliharaan yang merajuk kepada majikannya. Zhu Guang memutar bola matanya jengah.


"Terus saja merajuk seperti itu. Dasar, bayi!"


"Aishh!! Guang Guang! Kau tidak bisa, apa. Tidak mengejekku sehari saja." seloroh Xueyue semakin merengut kesal.


"Tidak." kata Zhu Guang singkat, padat dan jelas. Lu Guan tidak ingin ikut dalam perdebatan mereka, atau bahkan tidak beniat untuk melerai keduanya. Dia tiba-tiba merasa lebih nyaman menyentuh bulu-bulu halus dan hangat yang memenuhi kedua tangannya saat ini.


Xueyue melengos membuang wajah dengan kedua tangannya yang menyilang di depan dada. Merasa sedikit nyaman di gendong oleh Lu Guan. Dia mendengus kesal, namun tiba-tiba dia mengingat sesuatu dan berfikir keras, "Kenapa pendeta Tao itu menatapku seperti tadi?"


"Wajahmu seperti siluman rubah berekor sembilan yang pernah di temuinya dulu. Jika dia bisa mencium aroma wangi yang ada di tubuhmu, dia akan tahu bahwa kau juga termasuk siluman rubah." jelas Lu Guan. Mata Shen Xueyue melebar ketika mendengar penjelasan Lu Guan. Xueyue lalu mengendus kedua ketiaknya seolah ingin tahu, aroma wangi seperti apa yang di maksud oleh Lu Guan. Tapi ketika mendengar bahwa pendeta Tao itu sepertinya memiliki dendam kesumat pada siluman rubah, membuatnya sontak merasakan ketakutan, membayangkan bahwa pendeta Tao itu akan menyadari kejanggalan pada wujudnya saat ini, itu benar-benar tidak baik.


"Tenang saja." Zhu Guang menyadari kekhawatiran Xueyue, hal itu membuat gadis itu meliriknya ingin tahu. "Sebagian esensi kekuatan milik Dewi Bai Huli ada pada mutiara giok merah yang tersemat pada kalung di lehermu. Tidak ada yang akan menyadari ada kalung sihir itu di lehermu, mereka hanya akan menganggap itu seperti kalung usang yang tidak ada harganya. Itu juga membantumu untuk menyembunyikan wujud aslimu dari penglihatan seorang pendeta Tao. Dan setelah kau berhasil mengendalikan wujudmu dan juga kekuatan yang ada dalam dirimu, kau tidak lagi membutuhkannya. Itu hanya akan berubah fungsi menjadi jimat."


Shen Xueyue pada akhirnya bisa bernafas lega. Dia mengingat kembali bagaimana caranya menggunakan kekuatannya untuk merubah wujudnya dari siluman Rubah ke sosok manusia.


Belajar selama tiga bulan di dunia siluman tentu merupakan waktu yang cukup lama untuk bisa mengusai ilmu ilusi dan perubahan wujudnya.


Dan bagaimana dia bisa dengan begitu cepatnya tiba ke kamarnya saat kedatangan Shen Jinglong tiba terjadi, itu karena wanita tua Chu Yan yang bisa membaca kejadian di masa depan. Saat itulah, Chu Yan membantu Shen Xueyue dan dua sahabatnya dalam satu kali transfer langsung berada di dalam kamarnya.


Siapa yang tahu, bahwa posisi ketika Shen Xueyue kembali justru tidak benar. Dia mendarat dengan posisi tidak etis terjungkal dari tempat tidur dengan kepalanya yang berada di tanah sedangkan kaki kanan terlilit selimut.


Dengan satu kali berputar, wujud Xueyue kembali seperti sedia kala. Itu wujudnya yang pertama kali setelah dirinya terbangun di dunia parallel ini. Dia tersenyum lega ketika berhasil melakukannya.


"Hoaamm... Baiklah, aku ingin tidur. Kalian mau tidur satu tempat tidur denganku? Guan Guan, Guang Guang..."


"Tidak perlu. Kami akan mencari tempat lain untuk tidur." tukas Zhu Guang, memotong. Jika sampai dirinya tidur dengan Xueyue, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada tubuhnya nanti.


"Kalau begitu... Selamat malam! Jangan lupa, besok kalian akan melakukan ujian masuk sebagai pengawalku." Shen Xueyue menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya, sebelum dia benar-benar mulai mendengkur halus dengan nafas teratur.


Lu Guan dan Zhu Guang tidak berniat untuk merespon dan hanya menatapnya sekilas sebelum menghilang menjadi cahaya dan meredup kembali.

__ADS_1


.


Keesokan harinya saat subuh tiba, dua siluman sahabat Xueyue telah menghilang dari kamar gadis itu tanpa meninggalkan secarik catatan apapun.


Xueyue bangun dengan masih menguap lebar dan rambut yang berantakan. Dengan mata setengah tersadar, dia berjalan sempoyongan ke arah ruang kamar mandi. Shen Xueyue lupa bahwa dia sudah tidak lagi berada di dunianya yang modern. Tepat ketika dia masuk ke dalam kolam mandi, tubuhnya berjengit dengan penuh kejutan. Bulu kuduknya meremang dan dia berteriak.


"AAAAAAAHH!!" matanya melotot horror ketika rasa dingin yang menggigit menyambut kulit kakinya yang telanjang.


Sontak saja, teriakan histerisnya mengundang kegaduhan untuk semua penghuni di pavilionnya. Termasuk An Xi dan An Nan yang sedang menyiapkan air hangat untuk tuannya mandi. Keduanya langsung lari terbirit-birit menuju ke ruang kamar tuannya dengan perasaan cemas.


"Pangeran, apa yang terjadi?" pekik An Xi dengan nada suara khawatir. Dan dia tercengang saat mendapati Xueyue tengah memeluk tubuhnya di sudut ruangan, sedang berjongkok dengan mendekap selimut yang membungkus seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki dengan tubuh bergetar hebat. Gigi-giginya bahkan mengeluarkan suara bergemeletuk karena rasa dingin yang hebat menyerangnya.


"Astaga, Pangeran."


"Cepat ganti air mandinya dengan air hangat! Dan aku ingin teh panas sekarang!" titah Xueyue dengan suara bergetar dan tidak sabar yang kentara. Tidak lama setelah dia menjatuhkan perintahnya, An Nan telah bertindak dan membawa nampan dengan cawan berisi teh panas yang masih mengepul.


Udara pagi sangat dingin, saat Xueyue dengan ceroboh menenggak teh panas yang masih mengepul tanpa meniupnya terlebih dahulu, itu langsung menghangat di dalam tenggorokannya. An Xi dan An Nan yang melihat tindakan cerobohnya merasa cemas dan hanya bisa berteriak tertahan di tenggorokan mereka dengan mulut terbuka sebelum menutup kembali. Mereka takut jika lidah tuannya akan melepuh karena teh panas yang masih mengepulkan asap tebal.


Tapi siapa yang tahu, bahwa Xueyue justru terlihat baik-baik saja setelah dua tiga kali tegukan teh panas.


"Hangatnya...." helaan nafas lega Xueyue mulai rileks. An Xi terkikik lirih melihat tuannya mulai merasakan kenyamanan. Dia segera beranjak dari posisinya dan memerintahkan beberapa pelayan yang bertugas untuk menyiapkan air hangat untuk tuannya mandi.


.


Shen Qingtian tidak mengerti kenapa tiba-tiba ayahnya pagi-pagi sekali telah memanggil dirinya untuk hadir ke lapangan pelatihan rutin para pangeran. Di sana putra mahkota melihat sosok ayahnya telah berada di singgasananya dengan di temani jenderal Ren Ji. Dan satu pria tak di kenal yang dirinya sendiri belum pernah melihatnya. Pria itu jelas bukan seorang jenderal, tapi tentu saja juga bukan seorang prajurit biasa.


Sebagai Putra Mahkota negara Hou, meskipun dia telah di nyatakan demikian, Shen Qingtian belum sepenuhnya mengetahui tentang adanya barak pelatihan prajurit bayangan yang selama ini di kelola oleh Shen Jinglong ataupun Raja sebelumnya. Sebelum Shen Qingtian di nyatakan sebagai seorang Raja di masa depan, dia tidak akan mengetahui tentang adanya prajurit bayangan.


Posisi Putra Mahkota sendiri belum tentu bahwa dia sudah di nyatakan sebagai penerus tahta yang sah. Sewaktu-waktu gelar sebagai Putra Mahkota bisa saja di lengserkan hanya dengan satu kesalahan.


Oleh karena itulah, hak yang di miliki Raja, tidak sepenuhnya Putra Mahkota miliki juga.


"Ayah." Shen Qingtian membungkuk memberi penghormatan takzim. Shen Jinglong melirik putra sulungnya sekilas, lantas melambaikan tangannya, membiarkan putra mahkota kembali menegakkan tubuhnya. "Ayah, ini... Apa yang sedang terjadi?"


"Oh. Kau akan tahu nanti. Duduklah di tempatmu. Sebentar lagi kita akan memulainya."


Shen Qingtian tidak banyak mengejar penjelasan dari ayahnya dan mundur, mengambil tempat duduknya yang berada di sisi kanan Shen Jinglong.


Tidak lama setelah putra mahkota mengambil tempat duduk, dua adik perempuan dari selir ayahnya dengan riangnya berjalan mendekati podium mereka sedikit berlari. Dengan pekikkan semangat dan ekspresi centil khas seorang putri yang manja, keduanya memberikan hormat pada Qingtian.


"Putra mahkota! Salam untuk Kakak Putra Mahkota dari Ling'er." seru seorang gadis bergaun kuning soft. Gadis itu adalah putri kedua bernama Shen Lingling. Putri lain tentu saja Shen Jia yang mengenakan gaun berwarna pink soft juga memberikan salam yang serupa.


"En." Shen Qingtian bergumam lirih sambil mengangguk ringan.


Lantas, dua putri itu berbalik dan hendak melangkah ke tempat duduk mereka saat sebuah suara merdu dari seseorang yang mereka kenal tiba-tiba mengintrupsi dan membuat langkah Shen Jia terhenti.


"Selamat pagi kakak Tian." salam tidak biasa Shen Xueyue membuat semua orang yang tidak sengaja mendengarnya mengernyit penuh tanda tanya. Namun Xueyue tidak mengindahkan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya dan mengedarkan pandangannya dengan senyum sumringah cerah di wajahnya.


Shen Xueyue datang dengan momentum yang meriah. Mengenakan jubah putih baru yang dia pesan dari An Nan sehari sebelumnya. Di kedua sisinya, tentu saja dua pelayan setianya, An Xi dan An Nan. Xueyue berjalan penuh percaya diri mengangkat dagunya tinggi saat berjalan melewati kedua kakak perempuannya.


Shen Qingtian dan dua Putri yang menyadari kehadirannya memiliki kejutan di mata mereka saat melihat bagaimana penampilan meriah Shen Xueyue yang jarang terlihat itu. Terlebih mengenai jubah putih Xueyue yang terlihat seperti perpaduan hanfu pria dan wanita. Tetapi tatanan rambut Xueyue yang di biarkan tergerai tanpa adanya ikatan yang rumit membuatnya terlihat sangat cantik secara alami.


Pangeran ke-dua Shen Shiya, Pangeran ke-tiga Shen Wei, dan Pangeran ke-empat Shen Chengyi, duduk di sisi kiri Raja. Itu berhadapan dengan Putra Mahkota.


Dua di antaranya, sangat menyukai Shen Xueyue di bandingkan adik kandung perempuan mereka masing-masing. Hal itulah yang menyebabkan rasa dengki dan benci yang timbul pada diri Putri Shen Jia dan Putri Shen Lingling tiba-tiba.


Namun, apa peduli Xueyue?


Setelah memberikan salam kepada keempat Pangeran, Xueyue memekik gembira memanggil ayahnya ke arah Shen Jinglong yang duduk di atas kursi kebesarannya. Hal itu membuat gempar semua orang yang hadir di balai pelatihan tersebut. Mereka diam-diam mengumpat dengan tubuh gemetar ketakutan. Bahkan para pangeran dan dua putri yang menyaksikan tingkah Shen Xueyue yang tidak biasa dan tidak ada sopan santunnya hanya bisa menahan nafas mereka.


"Pagi Ayah!" pekik Shen Xueyue itu manja. Dengan sangat tidak tahu malunya, dia duduk di atas pangkuan Shen Xueyue dengan dua tangan yang melingkar di leher sang raja bergelayut manja tanpa rasa takut. Xueyue bahkan secara tiba-tiba melayangkan satu kecupan mesra ke pipi kiri Shen Jinglong tanpa malu.


Seolah dia baru saja memproklamirkan kepemilikannya.


Diam-diam Zhu Guang yang sudah berada di balairung pelatihan istana itu menahan tawanya yang hampir saja meledak. Dia tidak tahu bahwa Xueyue akan begitu sangat berani memperlakukan seorang Raja seperti ayahnya di dunia nyata. Sedangkan Lu Guan hanya bisa mendesah frustasi putus asa. 


'Setidaknya perhatikan sikapmu, Shen Xueyue.' batin Lu Guan, nelangsa.


Permaisuri Yun Xieya di samping sang raja tercengang menatap putrinya dengan mulut terbuka yang di tutupi oleh lengan jubah tangannya, tercengang. Sementara Shen Jinglong... Yun Xieya melirik takut pada sosok suaminya saat ini dengan perasaan cemas.


Xueyue memasang wajah tanpa dosanya, melayangkan sebuah kecupan singkat sebagai ucapan selamat pagi pada sang ayah. Hal itu sontak membuat seluruh pelayan dan kasim mulai berkeringat dingin.


"Kau... Turun!" perintah Shen Jinglong tegas. Tanpa sadar, wajah Shen Jinglong bahkan sudah mulai memanas dan kedua pipi pria itu memperlihatkan sebuah rona merah muda yang malu namun entah mengapa itu menyentuh hatinya hingga muncul sebuah musim semi di sana.


Shen Xueyue menggeleng keras dengan bibir mengerucut lucu, menolak. "Tidak. Aku merindukanmu, Ayah." rajuknya tak takut mati. "Jadi, biarkan aku tetap seperti ini untuk... Hm..." Xueyue memasang pose berfikir, "...Satu menit saja. Okay? Please...."


Shen Jinglong cengo. Dan dia tidak paham apa yang sedang di katakan oleh anaknya. Sedikitnya dia paham. Namun di akhir kalimat, otaknya mendadak kosong.


"Apa yang sedang terjadi pada adikku? Dia seperti bukan adikku." gumam Shen Qingtian, sendu. Pria itu menatap aneh Xueyue dengan ekspresi yang sulit di baca. Bagaimana Xueyue yang seorang pangeran semanja itu? Bahkan tanpa malu duduk di atas paha seorang raja. Apa dia tidak takut kehilangan lehernya?


"Baiklah. Hanya satu menit." sontak saja, suasana di balairung itu menjadi hening dengan sebuah kejutan yang tidak terduga saat Shen Jinglong dengan mudahnya mengizinkan pangeran Xue duduk di atas pangkuannya.


Apa-apaan ini?! Dunia sepertinya mau kiamat!


"Yeay!! Ayah memang yang terbaik!" pekiknya berseru ceria. Tanpa sadar, bola mata Shen Xueyue bergulir ke arah samping permaisuri Yun. Dan dengan cepat, ekspresi bahagia Xueyue berubah tercengang dalam satu detik berikutnya. Mengunci satu target yang membuat jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.


Itu adalah Bai Lang? Dan tidak tahu bagaimana akhirnya, Xueyue menggumamkan sesuatu yang hanya bisa dia dengar seorang diri.


"Astaga! What the ****... Oh Tuhan! Jodohku ada di sini ternyata!"


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2