
Di suatu negeri yang tampak dingin dan suram. Ada sebuah kerajaan yang selalu di sebut-sebut sebagai kerajaan termakmur di daratan selatan. Itu adalah negeri Shandian. Tempat kerajaan Shandian berada.
Song Qingdao adalah Raja saat ini di kerajaan Shandian. Generasi pertama, adalah Raja Song Qingwei yang telah lama meninggal karena sebuah penyakit. Generasi kedua, yaitu adalah Raja Song Moran yang entah bagaimana dia memiliki usia yang sangat panjang. Bisa di katakan bahwa usianya lebih dari seratus tahun. Namun sejarah menuliskan bahwa Song Moran sebenarnya telah lama mangkat. Generasi ketiga, adalah Song Gubai. Di mana Permaisuri Raja Song Gubai melahirkan seorang putra yang sangat bijaksana seperti ayahnya bernama Song Shi Wei. Sayangnya, Song Gubai tidak memiliki usia yang panjang. Dan tahta yang kosong di duduki oleh Song Qingdao sebagai generasi keempat.
Putra mahkota di generasi keempat, bukanlah Song Shi Wei yang seharusnya. Lantaran pangeran Shi Wei sendiri bukanlah orang yang haus akan kekuasaan, dia memilih mundur dan meminta pamannya Song Qingdao untuk menggantikannya sementara waktu. Baginya, menjadi bebas adalah impiannya. Dan dia memilih untuk tidak di nobatkan sebagai seorang Putra Mahkota meskipun seharusnya dialah yang pantas mendapatkannya.
Song Qingdao sendiri memiliki dua putra dari Permaisurinya yang bernama Yu Anlan, mereka adalah pangeran pertama Song Shi Hua dan Song Shi Chen. Selain itu, dari selir pertama Song Qingdao yang bernama Xiao Niu, lahir seorang pangeran yang di beri nama Song Mo Feng. Dan seorang putri bernama Song Yunlin.
Dan Song Shi Hua sebagai putra sulung Song Qingdao, juga memiliki sifat yang sebelas dua belas dengan pangeran Song Shi Wei. Keputusannya sama dengan Shi Wei. Bahkan, Shi Hua sangat menghormati Shi Wei seperti saudara kandungnya sendiri.
Namun, saat dia tumbuh di usianya yang ke sepuluh tahun, Qingdao menemukan fakta yang sangat mengejutkan tentang putra sulungnya. Di mana putra sulungnya memiliki kepribadian yang aneh dan sangat langka.
Orang bilang, putra sulungnya itu telah menderita gangguan kepribadian skizoid. Di mana si penderita mengalami kesulitan untuk mengekspresikan emosinya. Penderita gangguan kepribadian ini hanya menunjukkan sedikit reaksi atau tidak sama sekali ketika seseorang meneriakinya atau ketika orang-orang memujinya.
Hal ini membuat mereka sering dianggap "dingin" dan tidak ramah. Penderita gangguan kepribadian ini juga sulit untuk merasakan kesenangan dan tidak tertarik dengan hubungan seksual. Mereka juga sering dianggap tidak memiliki tujuan hidup dan ambisi.
Anehnya, Shi Hua sama sekali tidak menunjukkan semua itu. Walaupun Shi Wei selalu berbicara panjang lebar ketika berhadapan dengannya, namun Song shi Hua sama sekali tidak memperlihatkan adanya emosi tertentu di wajahnya.
Pada akhirnya, Song Shi Hua di kirim ke negara Hou oleh ayahnya. Di mana Song Qingdao dan Raja dari kerajaan negara itu bersahabat. Raja kerajaan itu tidak lain adalah Shen Jinglong. Dengan harapan bahwa putra sulungnya akan sembuh saat berada di negara Hou. Song Qingdao sangat yakin bahwa salah satu putri Shen Jinglong akan mampu membuat hati putranya tersentuh. Atau setidaknya ketika Shi Hua berada di negeri orang, dia bisa beradaptasi dengan baik.
Ketika usianya menginjak tujuh belas tahun, Song Shi Hua di tarik kembali ke negerinya. Meskipun sikapnya masih sama seperti sebelumnya, setidaknya dia bisa berinteraksi dengan adiknya Shi Chen. Pria itu juga mampu tersenyum walaupun hanya sekilas.
Karena Song Shi Hua kehilangan haknya sebagai Putra Mahkota, Song Shi Chen menjadi pilihan kedua Song Qingdao dan mengangkatnya sebagai Putra Mahkota kerajaan Shandian.
Awalnya Song Shi Chen menolak, dan menginginkan kakaknya yang di angkat menjadi Putra Mahkota. Baginya, Song Shi Hua adalah calon yang lebih pantas daripada dirinya. Siapa yang tahu, bahwa Shi Hua akan mangkir dan memilih pergi menjauh dari kerajaan untuk waktu yang cukup lama.
"Jadi... Shi Hua lebih memilih pergi berkelana bersama Shi Wei?" Qingdao menghela nafas frustasi berkali-kali setiap mendengar berita mengenai keputusan putra sulungnya yang tidak juga mau berubah.
"Hamba... Mohon maafkan hamba, Yang Mulia. Mungkin putra kita membutuhkan waktu untuk bisa menerima takdirnya." Yu Anlan mencoba untuk memberi pengertian kepada suaminya.
Qingdao masih memasang ekspresi datar. Semenjak keputusan putranya yang memilih untuk mengikuti jejak sepupunya Shi Wei, putranya tidak lagi pernah ada di dalam istana. Keduanya berkelana dari negeri satu ke negeri lainnya. Alasannya tidak di ketahui. Shi Wei hanya meminta padanya untuk mengijinkan Shi Hua mengikutinya sebagai teman seperjalanan.
"Yang Mulia?" Yu Anlan menyodorkan sepiring potongan buah apel di meja Qingdao, wanita itu mengambil satu potong apel hendak menyuapi suaminya. Dan Qingdao membuka mulutnya menerima suapan dari tangan istrinya.
"Apakah dia benar-benar bisa tersenyum saat berada di sana? Aku dengar, dia lebih dekat dengan Pangeran Xue daripada putri-putri Jinglong?" Qingdao masih meragukan berita tentang Shi Hua yang memiliki perkembangan saat berada di negara Hou.
Beberapa tahun yang lalu, mata-mata yang di kirimnya untuk memantau perkembangan Shi Hua mengatakan bahwa Pangeran Song Shi Hua di kabarkan sangat dekat dengan salah satu pangeran di kerajaan Hou. Itu jauh di luar harapan Qingdao yang ingin menjodohkan putra sulungnya dengan putri pertama di kerajaan Hou.
Pada saat mata-mata itu memberikan informasi mengenai hubungan Shi Hua dengan putri pertama yang cukup buruk pada pertemuan pertama, membuat Qingdao menghela nafas putus asa. Terlebih, putri itu sedikit berlaku kasar pada Shi Hua dengan mengatakan bahwa putranya adalah orang yang tidak menyenangkan yang asal usulnya tidak di ketahui. Apa maksudnya dengan itu?
Namun saat Shi Hua menemukan pangeran kecil bernama Shen Xue di istana, Shi Hua memiliki ketertarikan yang aneh. Saat interaksi keduanya terjadi, mata-mata Qingdao melihat adanya perubahan mimik wajah pada pangeran Shi Hua kala itu. Pangeran Xue kecil itu hampir memiliki kepribadian yang sama dengan Shi Hua, sama-sama pendiam.
Seharusnya, hal itu justru membuat keduanya tidak bisa saling berinteraksi satu sama lain. Tetapi, hal yang paling mengejutkan bagi Qingdao adalah, bagian di mana putranyalah yang menjadi orang pertama yang membuka suaranya untuk memperkenalkan diri.
"Sepertinya aku harus mengirimkan hadiah untuk Pangeran Xue itu."
Tanpa mereka sadari, putra bungsu Yu Anlan yang tidak lain adalah Song Shi Chen diam-diam mendengarkan pembicaraan keduanya. Saat remaja laki-laki itu hendak mengunjungi kediaman ibunya yang rutin.
__ADS_1
Mendengar bahwa kakaknya sangat dekat dengan pangeran dari negeri seberang yang tidak dia ketahui, membuat hatinya meradang dan rasa tidak terima muncul membakar dirinya. Perasaan marah dan kesal menggelayut di benaknya, lantas remaja laki-laki itu berbalik meninggalkan kediaman sang Permaisuri, mengurungkan niat awalnya dan beranjak pergi dengan hentakan kaki kesal.
Pangeran Shi Wei sedang duduk di atas cabang pohon di sebuah hutan, dia sedang memperhatikan sosok pria yang memiliki usia dua tahun lebih muda di bawahnya. Dia terkekeh ketika melihat orang yang ada di bawah sana bercerita tentang sesuatu yang membuatnya tertawa karena perasaan lucu.
"Apa kau akan menikahinya? Hei kawan! Dia jauh lebih muda darimu. Sebaiknya kau berikan saja dia pada adikmu itu haha..." tawanya menimpali.
"Jangan membuatku marah, Kak Wei!" peringat Shi Hua pada Shi Wei. Namun bukannya takut, Shi Wei justru semakin terkekeh. "Lagipula, aku sudah berjanji untuk menjemputnya. Sekarang usiaku sudah cukup matang. Sudah cukup untuk membawanya pergi."
"Apa kau yakin?" seru Shi Wei dengan mimik wajah serius. Kali ini, entah mengapa dirinya memiliki firasat yang tidak baik tentang apa yang ingin di lakukan oleh sepupunya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Shi Hua, balik. Perasaannya mendadak tidak enak ketika dia menatap wajah serius wajah datar sepupunya saat ini.
Song Shi Wei tidak langsung menjawab. Keduanya saling menatap satu sama lain untuk beberapa waktu sebelum Shi Wei menyeringai sangat tipis. "Shi Hua. Dari apa yang kau katakan padaku, aku pernah mendengar rumor bahwa putri bungsu kerajaan Hou memiliki temperamen yang sangat buruk. Aku tahu, aku tahu." katanya cepat ketika Shi Hua menatapnya dengan pandangan seolah tidak terima. "Aku tahu kalau kau lebih mengenal dia daripada aku. Tapi Shi Hua, sifat seseorang bisa saja berubah seiring dengan berjalannya waktu. Seharusnya kau tahu itu."
Song Shi Wei menyebut Shen Xueyue sebagai putri bungsu di karenakan Song Shi Hua telah menceritakan tentang identitas yang sebenarnya gadis itu. Meskipun seharusnya dia tidak mengatakannya, tapi Song Shi Hua sangat mempercayai Song Shi Wei yang tidak akan mungkin membocorkan rahasia ini kepada siapapun.
"Kakak Wei. Satu hal yang harus kau ketahui mengenai diriku." ucap Shi Hua. Dia menatap lekat Shi Wei dengan pendirian yang tinggi. "Meskipun orang lain mengatakan hal yang buruk tentangnya, meskipun itu juga bukan rumor dan itu adalah sebuah fakta yang sebenarnya, aku tetap tidak peduli. Aku mengenal dia. Aku tahu bagaimana dirinya. Aku hanya perlu meyakini satu hal. Bahwa hatiku telah memilihnya."
Kali ini, Shi Wei hanya menatap lekat mata penuh percaya diri Song shi Hua tanpa berniat untuk membalas. Melihat bagaimana Shi Hua dengan ketegasan hati, membuatnya sangat mengagumi keputusan adik sepupunya yang tidak mudah untuk di pengaruhi.
"Baiklah. Aku mengerti." kata Shi Wei mengangkat kedua tangan menyerah. Pria itu melompat dari dahan pohon yang sangat tinggi dan mendarat tepat di hadapan Shi Hua. Menepuk bahu Shi Hua dengan penuh kebanggaan.
"Kita lanjutkan perjalanan selanjutnya. Kali ini, mungkin kau akan bertemu dengannya." goda Shi Wei menyeringai. Shi Hua hanya tersenyum tipis menanggapi.
Keduanya lalu naik ke atas pelana kuda mereka masing-masing dan menuju ke arah utara.
.
Mengangkat tong kayu berisi air. Dari tong kayu kosong, dia harus mengambil air yang berada di sebuah danau tidak jauh dari barak tentara tersebut. Zhu Guang dan Lu Guan tidak memiliki kewajiban untuk membantu. Itu terlihat sangat lucu bagi ketiga pria yang bersamanya karena harus melihat seorang gadis sedang bekerja keras layaknya prajurit laki-laki pekerja keras. Beruntung Xueyue bukanlah orang yang suka bermanja ria dan mengeluh.
Di dunia modern di masa lalu, sebelum dirinya bertemu dengan Lu Guan dan Zhu Guang, ibunya Yun Xieya sering kali membuatnya harus bekerja keras membersihkan rumah yang sangat luas. Di tambah, dia juga di minta untuk mengurus kebun pribadi yang berada di belakang rumahnya. Tidak hanya berupa pohon buah-buahan, namun juga kebun bunga dan sayuran.
Bagi Xueyue, Yun Xieya merupakan salah satu maniak flora di dunia nyatanya yang dulu. Apapun jenis flora baru yang di lihat ibunya, flora itu akan membuatnya lupa pada keluarga, wanita itu akan dengan senangnya memboyong tanaman baru itu ke rumah.
Di dunia modern, melakukan pekerjaan tersebut mampu membuat perasaan Xueyue tanpa sadar bahagia, walau pada awalnya dia bergerumul karena kesal, namun saat dia melakukannya, hatinya merasa senang.
Hal-hal berat yang di lakukannya saat ini, bisa di bilang ringan baginya. Sebelum bertemu Zhu Guang dan Lu Guan, saat dirinya masih satu rumah dengan keluarganya, ayah dan kakaknya Shen Qingtian membuatnya harus berlatih karate. Qingtian bahkan memaksanya untuk memukul batu bata tebal hingga terbelah menjadi dua.
Sayangnya, tubuh yang dirinya tempati saat ini memiliki fisik yang sangat lemah. Dia yang seorang pekerja keras sebelumnya, kini terlihat sempoyongan saat melakukan pekerjaan berat. Ilmu bela diri karatenya tidak berlaku sangat banyak di sini.
"Hah... Hah... Hah... Bai Lang! Akuh... Hah... Hah.. Aku lelah.." rajuknya dengan nafas ngos-ngosan.
Ketika dirinya hampir saja menjatuhkan diri ke tanah dengan ekspresi kelelahan seolah akan pingsan kapan saja, tiba-tiba sebuah bayangan hitam dengan cepat mendekatinya dan meraih tubuhnya.
"Eh?!"
Bai Lang yang hendak menolongnya membola karena terkejut. Dia menyusul Xueyue saat pemilik bayangan itu mulai menginjakkan kakinya ke tanah dengan membopong tubuh lemah Xueyue di depannya.
__ADS_1
"Hey!" Shen Xueyue berseru ingin memaki orang yang telah lancang menyentuh tubuhnya. Namun suaranya tercekat dan tertahan di kerongkongan saat melihat siapa orang yang datang tersebut.
Pria itu mampu menyihir kewarasan Shen Xueyue untuk sesaat, membuatnya lupa akan waktu dan matanya tidak berkedip menatap wajah tampan milik pria yang sedang menggendongnya.
"....Yue'er? Apa ini kamu?" tanpa di duga, pria itu juga dalam kondisi yang serupa saat menatap kecantikan Xueyue yang tidak pernah dia bayangkan selama ini akan bertemu kembali.
"Kakak Hua..." gumam gadis itu tanpa sadar.
Tubuh pria itu tiba-tiba menegang menatap bola mata Xueyue yang tampak linglung dan tertegun penuh ketidakyakinan. Song Shi Hua tidak pernah mengatakan nama aslinya kepada Shen Xueyue selama dia bersama gadis di hadapannya itu. Lantas, bagaimana bisa Xueyue mengetahui namanya?
Huangshulang!
Ya! Dia adalah Huangshulang. Teman masa kecil Shen Xueyue yang memperkenalkan dirinya sebagai Huangshulang. Huangshulang adalah nama panggilan yang dia katakan hanya pada Xueyue. Namun saat ini Xueyue bahkan melupakan nama itu?
"Oh ****!" desis Zhu Guang, mengumpat. Bai Lang menyadari umpatan tiba-tiba Zhu Guang dalam bahasa aneh yang tidak bisa di mengerti oleh orang di dunia ini.
Zhu Guang melihat Song Shi Hua yang menggendong Xueyue dengan tatapan geram. Dia berjalan sangat cepat menuju ke arah keduanya. Baik Lu Guan dan Bai Lang, keduanya mengikuti di belakang.
Meskipun Shi Hua terkejut, namun dia tidak menganggapnya terlalu penting. Dia kemudian dengan sangat hati-hati membiarkan kedua kaki Xueyue menginjak tanah kembali. Tetapi keduanya tetap tidak melepaskan tatapan mata mereka satu sama lain. Shen Xueyue tersenyum penuh kekaguman. Sementara Song Shi Hua, dia juga tersenyum tipis merasakan sensasi geli dan bahagia saat melihat bagaimana ekspresi Xueyue yang sangat menggemaskan.
"Apa kau akan tetap menatapku seperti itu terus?"
"Eh? Ah... M-maaf, maaf. A-aku... Aku tidak bermaksud begitu." kata Xueyue salah tingkah. Xueyue terkekeh lirih melihat tingkah konyol Xueyue. Dan gadis itu hanya bisa mengumpati dirinya sendiri yang bodoh berkali-kali dalam gumamannya.
Ketika dia hendak memukul kepalanya untuk menyalahkan diri sendiri yang terlihat memalukan, tangan Shi Hua dengan cepat menahannya. Menggenggamnya lembut dengan tatapan intens yang mampu membuat orang mabuk. "Jangan memukulnya."
"Aku? Tidak.. Aku.. Aku tidak memukulnya." elak Xueyue, seketika dua pipinya tersipu dan merona karena malu. Song shi Hua masih tersenyum lembut memperhatikan.
Untuk beberapa saat, keheningan merajai suasana di antara mereka dan merubahnya menjadi canggung.
Dalam hati Xueyue, dia tidak pernah menduga bahwa pria yang pernah di kaguminya juga akan berada di dunia yang sama dengan dirinya saat ini.
Song Shi Hua, adalah cinta keduanya setelah patah hati dari Bai Lang. Dia tidak tahu, apakah rasa yang pernah ada itu bisa di anggap sebagai sebuah perasaan cinta, atau hanya sekedar rasa kagum. Namun dia meyakini satu hal, bahwa Song Shi Hua adalah sosok yang pernah membuatnya mampu melupakan tentang keberadaan Bai Lang di dalam hatinya.
"Aku datang untuk menepati janjiku sebagai Huangshulang."
"Apa?!" Shen Xueyue terkejut menatap lekat Shi Hua tidak percaya.
Apakah Shi Hua baru saja mengatakan bahwa dirinya adalah Huangshulang?
.
.
.
To be Continued....
__ADS_1