Love Catastrophe

Love Catastrophe
Kencan (SEASON SPECIAL : Song Shi Hua x Shen Xueyue)


__ADS_3

Song Shi Hua tidak henti-hentinya menatap benda bulat kecil yang tersemat di jari manis tangan kanannya. Di balik topengnya, dia tersenyum dengan sangat tulus. Jantungnya belum juga berhenti berdegub kencang setelah pertemuannya dengan Shen Xueyue beberapa waktu yang lalu.


Dia tidak pernah menyangka bahwa gadis itu akan memberikannya sebuah cincin sederhana namun penuh makna dan mengatakan bahwa benda itu semacam ikatan yang biasa seseorang berikan untuk kekasih mereka. Terlebih saat...


Song Shi Hua tiba-tiba tertawa lirih ketika mengingat apa yang mereka lakukan sepanjang hari ini.


"Hua Hua, kau harus selalu memakai cincin ini. Kemanapun, dan di manapun dirimu berada. Cincin ini sengaja aku tempa dengan menggunakan darahku sendiri dan khusus untukmu. Ini tanda bahwa aku serius ingin memiliki ikatan lebih dari sekedar seseorang yang penting di hatimu." Shen Xueyue dengan semangat menyematkan cincin di jari manis tangan kanan Song Shi Hua. Lantas dia mendongak, menatap penuh cinta pada mata pria itu yang biasanya dingin kini terlihat menghangat.


Cincin itu sengaja di buat saat dia usai dari kelas akademi. Dia berlari menuju ke tengah kota hanya untuk menemukan sebuah toko perhiasan khusus, di mana di toko itu kau bisa menempa sendiri perhiasan yang kau inginkan.


Song Shi Hua, "....." dia tidak bisa berkata-kata menatap cincin di jarinya tanpa berkedip. Rasa-rasanya dia ingin menangis karena terharu. Song Shi Hua tidak pernah menduga bahwa selama ini ternyata perasaannya terhadap Shen Xueyue tidak pernah bertepuk sebelah tangan.


"Tapi... Kau mengatakan kau menggunakan darahmu? Apa maksud dari perkataanmu itu?" Shi Hua menatap cemas Xueyue. Hal itu sontak membuat Shen Xueyue tertegun untuk beberapa saat dan mulai gugup.


Dia tidak ingin jika Song Shi Hua tahu bahwa dia telah mempelajari beberapa metode membuat alat menggunakan darahnya untuk mempererat hubungan di antara mereka.


Di dalam salah satu buku yang dia baca di perpustakaan kuil Dewi Bai Huli, ada salah satu jenis buku yang menjelaskan mengenai ilmu tempa menggunakan bahan yang jarang di gunakan tetapi sangat bermanfaat bagi penggunanya.


"Itu... Tentu saja! Maksudku adalah, bahwa aku menggunakan seluruh kerja keras sampai titik darah penghabisan membuat satu khusus untukmu. Soal darah, aku hanya menggunakan satu tetes untuk di campurkan ke dalamnya." katanya, berusaha mengelak. Song Shi Hua ragu, namun dia tidak bisa tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Shen Xueyue.


"Jadi, mana hadiah untukku?" Xueyue menyodorkan telapak tangannya, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan secepat mungkin. Dia menengadah ke atas meminta pada Song Shi Hua dengan senyum lembut.


Song Shi Hua segera mengambil sesuatu yang telah dia persiapkan. Itu benda berupa kalung yang dia kenakan sebelumnya. Dengan penuh kasih sayang, Song Shi Hua membantu gadis itu untuk mengenakan kalung miliknya ke leher Xueyue. Garis bibirnya menukik membentuk senyuman tipis. Kalung itu memiliki permata merah sebagai liontin.


"Itu juga sama. Batu merah yang menjadi liontin terbuat dari darahku yang sengaja aku bekukan menjadi semacam kristal." mata Xueyue terbuka lebar dengan bibir sedikit terbuka karena tertegun. Dia tidak tahu bahwa mereka ternyata memiliki pikiran yang serupa ingin menggunakan darah masing-masing sebagai hadiah meskipun bentuknya berbeda.


"Aku sudah lama membuatnya. Dan itu khusus untukmu. Saat aku membuatnya, aku menemukan sebuah buku tempa yang sangat langka. Di mana saat kau membuat sebuah alat tempa, dan kau memasukkan setetes darahmu ke dalamnya, maka alat itu akan memiliki fungsi lain." Song Shi Hua tidak berbohong. Itu benar-benar dia buat ketika dia berpisah dengan Shen Xueyue kala hari itu. Dia terus belajar dan berlatih menjadi kuat. Dia juga menghabiskan banyak waktunya untuk membaca berbagai macam buku yang ia jumpai. Salah satunya adalah buku yang serupa dengan buku yang Xueyue baca.


Walaupun Shen Xueyue berusaha untuk mengelak bahwa dia juga menggunakan darah yang serupa, Song Shi Hua tahu bahwa Xueyue mencoba berbohong untuk menghindari dirinya agar tidak mencemaskannya.


Tanpa di sadari, ikatan mereka telah menjadi semakin erat karena darah yang mereka berikan satu sama lain. Dan itu cukup membuat Song Shi Hua bahagia.


"Hua Hua, aku lupa mengatakannya. Cincin itu tidak akan pernah bisa di lepas karena aku membuatnya agar tetap melingkar di jarimu. Tapi ada satu cara agar cincin itu terlepas. Yaitu tentang perasaanmu terhadapku." jelas Shen Xueyue, ekspresinya menyendu menatap Song Shi Hua lekat.


Ada satu kalimat di dalam buku tempa yang Xueyue baca kala itu, di mana di dalam kalimat itu tertulis, 'Cara agar alat tempa mampu menyesuaikan ukurannya secara otomatis dan tidak akan mudah terlepas'. Di sana di jelaskan secara detail dan di sebutkan juga bahan baku pembuatan alat tempa tersebut. Terserah apapun alat yang akan seorang penempa buat, alat itu akan tetap memiliki fungsi sama setelah penggunanya menggunakannya.


Hanya saja, alat ini di buat khusus secara berpasangan. Seperti halnya perhiasan, sepasang baju zirah, atau alat lainnya. Di mana alat itu di gunakan untuk sepasang kekasih. Alat ini memiliki sihir khusus yang hanya sepasang kekasih yang bisa mengenakannya.


Song Shi Hua tidak bertanya, namun dari sorot mata Xueyue tahu Shi Hua menginginkan penjelasan, "Jika kamu tidak mencintaiku, cincin itu bisa kapan saja kamu lepas dan akan kehilangan sinar redupnya. Jika kamu benar-benar tulus mencintaiku, cincin itu tidak akan pernah bisa di lepas oleh siapapun meskipun secara paksa. Lingkaran merah yang melingkar adalah darahku." cincin itu berwarna emas, ada garis melingkar indah sebagai ukiran hiasan yang berwarna merah.


Dengan kata lain, jika hati seseorang benar-benar mencintai kekasihnya, seberat apapun cobaannya, maka cincin itu tidak akan pernah terlepas.


Contoh kasarnya, meskipun salah satu mengalami bencana, di mana salah satu mungkin tanpa sengaja melupakan salah satunya, cincin itu tidak akan terlepas. Karena di dalam hatinya, cinta itu masihlah ada. Hanya otaknya saja yang melupakan bahwa dia tidak memiliki perasaan apapun pada kekasihnya.


Jadi, itu juga bisa menjadi salah satu bukti bagi sepasang kekasih untuk membuktikan tentang perasaan mereka masing-masing tanpa bisa di sembunyikan. Jika mulut berkata tidak, namun hati tidak bisa berbohong. Dan di sinilah khususnya manfaat dari benda tempa khusus ini di buat. Secara ajaib benda tersebut akan dengan sendirinya merespon hati seseorang yang memakainya.


Itu jika barang yang di berikan adalah berupa cincin. Jika itu kalung, baju, atau semacamnya, maka benda itu memiliki cara kerja mereka sendiri untuk menentukan bagaimana benda itu membuktikan perannya.


Syarat khususnya adalah, mereka harus sepasang.


Xueyue mengangkat jari-jarinya dan memperlihatkannya pada Song Shi Hua, "Lihat! Aku juga memakai cincin yang sama. Jika kamu atau aku dalam bahaya, maka lingkaran merah itu akan berkedip beberapa kali sebagai sinyal kita. Jika kamu merindukanku, cincin di tanganku akan bersinar sangat terang. Dan jika kamu bersedih, itu akan menjadi redup." gadis itu tersenyum, "Ini seperti hati dan jiwa kita saling terkait. Kamu juga akan merasakan hal yang sama jika aku mengalami hal yang serupa pula."


Mendengar hal itu, Song Shi Hua tidak bisa tidak terkejut. Apa benda ini seluar biasa itu? Dia tidak bisa tidak memandang takjub Xueyue. Pria itu tersenyum memberikan Xueyue keyakinan, "Aku tidak akan pernah melepaskannya meskipun maut memisahkan kita."


"Hua Hua! Jangan mengatakan hal yang menakutkan seperti itu." Xueyue memotong segera. Ada jejak kekhawatiran di wajahnya saat Song Shi Hua mengatakan tentang maut. Walaupun itu hanya kiasan, Shen Xueyue benar-benar tidak menyukainya.


"Maafkan aku." Shi Hua tersenyum penuh sesal dan lebih memilih untuk tidak membicarakannya lagi, meminta maaf.


"Baiklah! Sebagai permintaan maafmu, aku ingin kamu membawaku untuk berkencan hari ini." celetuk gadis itu.


Song Shi Hua menyentil hidung Xueyue dan mengetuk dahi gadis itu lembut lalu berkata, "Apapun untukmu."


"Ahaha..." Shen Xueyue meringis sambil tertawa, "Jadi, kemana kita akan pergi?" Xueyue menatap Song Shi Hua dengan mata anak anjingnya yang berkedip lucu.


"Suatu tempat yang menyenangkan dan bagus." Song Shi Hua menjawab seadanya. Pria itu dengan cepat meraih tubuh Xueyue, memeluk dan membawanya terbang melompati satu atap ke atap yang lain.


Xueyue tampak sangat menikmati suasana di antara mereka. Dia melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk leher Song Shi Hua dan hanya menatap pria itu tanpa berkedip saat Shi Hua membawanya pergi.


Daripada melihat pemandangan kota Yuncheng di bawah sana, dia lebih menyukai menikmati pemandangan di atasnya. Yaitu memandangi wajah tampan kekasihnya yang selalu membuat hatinya bergetar sangat nyaman.


Saat kelas selesai, itu jam empat sore hari. Sekarang petang tiba. Bulan purnama telah muncul meskipun malam belum datang sepenuhnya dan menjadi lentera di malam hari. Song Shi Hua menurunkan tubuh Xueyue di atas atap paling tinggi, membiarkan gadis itu menyesuaikan diri sebentar sebelum melepaskan tubuh Xueyue sepenuhnya.


"Indah?" Song Shi Hua meminta Xueyue untuk melihat ke arah bulan purnama bersinar berada. Gadis itu melangkah dua langkah ke arah bulan di hadapannya. Itu datar.

__ADS_1


"Hmm... Ini kurang menyenangkan." Xueyue berbalik menghadap pria itu dan berkata, "Kau mengatakan bahwa kita akan ke tempat yang paling menyenangkan. Tepati janjimu."


Song Shi Hua berfikir sejenak, selama dirinya menjadi murid di akademi Yunshu, dia lebih fokus pada pendidikannya dan tidak pernah pergi kemanapun hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Jadi tempat apa yang cocok untuk mereka kunjungi hari ini?


"Apa ada festival menarik malam ini? Aku ingin menikmatinya bersamamu." Shen Xueyue memekik.


"Baiklah. Ada satu tempat. Dan aku yakin kau akan menyukainya." Song Shi Hua membawa Xueyue kembali terbang.


Di sebuah jembatan yang berada di sudut kota, ada sungai yang mengalir tenang. Song Shi Hua kembali menurunkan Xueyue di jembatan itu lantas memintanya untuk menunggu. Tidak butuh waktu lama untuk Song Shi Hua kembali membawa beberapa lentera di tangannya. Di sela-sela jarinya, Song Shi Hua juga membawa beberapa tusuk permen buah dan kue beras.


Xueyue tersenyum cerah ketika melihat Shi Hua membawa barang-barang itu. Dia lalu berlari menghampiri pria itu dan mengambil alih beberapa lentera dan permen buah dari tangan Song Shi Hua.


"Untuk apa ini?" Xueyue dengan wajah polosnya menggigit permen buah di tangan kirinya. Mengunyahnya perlahan dan berkedip lucu.


Song Shi Hua tersenyum misterius. Dia berjalan ke arah sungai dan Xueyue mengikuti di belakang. Song Shi Hua menggunakan elemen apinya untuk menyalakan semua lentera di tangannya lantas memberikannya pada Xueyue, "Tulis beberapa permohonan."


"Enn..okay!" Xueyue mengangguk, mengambil sebuah kuas khusus untuk menulis dari tangan Shi Hua dan mulai menuliskan keinginannya di setiap sisi kertas lentera. Pria itu juga melakukan hal yang sama. Mengikuti dengan menuliskan permohonan di lentera yang lain.


"Nah, kau hanyutkan mereka di sungai."


"Bersama?" Shen Xueyue tertawa lirih meminta Song Shi Hua secara tersirat. Pria itu tahu apa yang di inginkan kekasihnya. Dan Shi Hua hanya tersenyum tipis dan mendekat ke belakang gadis itu. Dengan posisi memeluk dari belakang, pria itu mulai mengulurkan kedua tangannya untuk memegang punggung telapak tangan Xueyue yang membawa lentera. Keduanya lantas berjalan mendekati sungai, berjongkok dan bersama-sama menghanyutkan satu lentera bergantian.


Xueyue memekik girang dengan tawa lucu, dia bertepuk tangan lirih merasakan kehangatan. Melihat itu, Shi Hua hanya memperhatikan dari samping wajah Shen Xueyue saja.


Saat Shen Xueyue menoleh ke belakang, tidak sengaja bibir Xueyue menyentuh pipi Shi Hua yang begitu sangat dekat. Shen Xueyue terkejut dengan mata membola menahan nafas. Detik berikutnya, Xueyue dengan cepat segera membuang muka dan beranjak berdiri, wajahnya merona karena malu. Dia bergerak salah tingkah, mencoba menghindari tatapan intens Song Shi Hua kepadanya.


Pria itu terkekeh merasa sangat lucu. Untuk mengusir suasana canggung di antara mereka, Song Shi Hua melirik permen buah dan kue beras yang dia bawa selain lentera.


Dia berkata, "Makanlah."


Xueyue yang masih bergerak gelisah karena malu, melirik dua tusuk permen buah lainnya di tangan Song Shi Hua, dia mengambilnya cepat dan mulai memakannya dengan membelakangi Song Shi Hua. Melirik bahwa di tangan lain ada tiga tusuk kue beras, Xueyue tidak bisa menahan diri untuk tidak terkikik.


Song Shi Hua mengernyitkan dahinya bingung, "Kau masih tidak bisa menjauh dari kue beras?" tubuh pria itu membeku sebelum Song Shi Hua juga merasa canggung karena malu. Song Shi Hua berusaha untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya di kegelapan malam. Tanpa sadar dia bahkan mengalihkan pandangannya dan mulai bergerak salah tingkah. Hal itu semakin membuat Xueyue tertawa lepas merasa puas. "Tidak apa-apa. Aku tahu itu. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan." kata Xueyue kemudian.


Hal itu membuat suasana canggung di antara mereka sedikit mencair.


Song Shi Hua tahu apa yang di maksud oleh Xueyue dengan kalimat 'merasakan apa yang kau rasakan' tersebut. Itu jelas tentang soup malatang. Di mana gadis itu juga tidak pernah bisa meninggalkan soup malatang sebagai makanan favoritnya.


Shen Xueyue masih sedikit terkejut mengetahui bahwa hampir keseluruhan apa yang Song Shi Hua di dunia ini sukai, juga sama dengan Song Shi Hua di dunianya yang sebelumnya. Di zaman modern, Song Shi Hua juga sangat menyukai kue beras. Sementara laki-laki lain tidak menyukai hal-hal makanan manis, Song Shi Hua justru sebaliknya.


Shen Xueyue menghela nafas panjang, tatapannya menerawang ke arah di mana lentera yang mereka hanyutkan mulai mengalir ke hulu. Dalam hati ia bertanya, kemana perginya lentera itu setelah melewati sungai ini?


"Ayo?" Song Shi Hua mengulurkan telapak tangannya yang menengadah. Meminta Xueyue untuk menggenggamnya erat.


Shen Xueyue tertegun untuk sejenak. Menatap Song Shi Hua linglung sebelum dia tersenyum malu-malu dan mengangguk mengambil uluran tangan pria itu. Keduanya kembali melompat terbang menuju ke arah di mana lentera milik mereka terhanyut. Xueyue serasa di awang-awang saat pria itu dengan sangat lembut meraih pinggangnya, membawanya terbang di malam yang cerah di temani dengan sinar remang-remang yang di hasilkan dari lentera-lentera gantung di sepanjang jalan.


Song Shi Hua mendarat di sebuah perahu kosong. Namun ada seorang pria tua si pemilik perahu itu di sisi sungai di bawah pohon, sedang tidur. Song Shi Hua meraih kantong koin emasnya, mengambil beberapa koin dan melemparkannya pada pria tua yang terkesiap bangun seketika karena gerakan perahunya yang tiba-tiba bergerak dan di ambil alih oleh seseorang.


Ketika pria tua itu hampir meledak, Song Shi Hua segera berseru.


"Perahu anda saya beli, tuan tua." hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Song Shi Hua sebelum dia mengambil dayung dan mulai mengayunkannya untuk menjalankan perahu.


Pria tua itu tertegun, segera menyadari bahwa ada satu gold ingot yang cukup untuk baginya makan selama satu tahun. Dia hanya bisa berkata terimakasih berkali-kali. Satu keping emas setara dengan seratus keping uang perak, dan setara dengan seribu keping uang perunggu.


Jadi, jika perahu itu di hargai uang satu gold ingot, itu sebenarnya terlalu sangat mahal. Oleh karena itu, pria tua itu hampir menangis saat mendapatkan satu gold ingot di tangannya.


Xueyue tersenyum lebar dengan gigi putih rapinya yang tidak pernah pudar. Senyumnya terus tersungging seiring dengan perjalanan mereka. Song Shi Hua hanya memperhatikan gerak gerik Shen Xueyue yang duduk di ujung depan perahu, ikut menikmati kebersamaan mereka.


Di sepanjang aliran sungai, banyak sekali lentera-lentera persegi kecil dan berbagai macam bentuk bertebaran hanyut mengikuti arus. Shen Xueyue mengambil satu, saat sebuah lentera menabrak perahunya. Dia tertawa lirih, mengangkat tinggi-tinggi lentera itu. Gadis itu menoleh ke arah Song Shi Hua yang selalu tersenyum tipis ke arahnya. Setelah puas, Xueyue mengembalikan lentera itu ke sungai dan mendorongnya sedikit dengan membuat arus air menggunakan telapak tangannya ke dalam air. Tubuhnya membungkuk hampir sejajar dengan air sungai. Dia mencelupkan sebagian telapak tangannya ke dalam air sembari merasakan dinginnya air yang menyentuh kulitnya.


Perahu semakin berjalan cepat. Arus air tiba-tiba menjadi deras dan Song Shi Hua harus mengendalikan perahunya agar tidak hanyut terlalu jauh.


Tepat dari arah depan, ada dua tikungan arus sungai. Melihat bahwa tikungan di sisi kanan itu di tutup dengan sebuah bambu, dan lentera-lentera banyak sekali yang terdampar di sana, Song Shi Hua mengambil rute kiri.


"Hua Hua, sungai ini mengarah kemana?" Xueyue bertanya dengan ekspresi polos.


"Hmm.. Orang mengatakan arus yang kita lewati menuju ke kota hantu."


Mata Xueyue membulat sempurna. Tubuhnya tanpa ia sadari mulai bergetar dan bulu kuduknya berdiri karena merinding. Dengan suara terputus-putus dia membeo, "Ha-hantu? H-Hua Hua.. Mu-mungkin sebaiknya kita kembali saja. A-ayo..."


Song Shi Hua melongo melihat Xueyue tiba-tiba mengajaknya untuk kembali. Namun ketika pandangan matanya menangkap gemetar pada tubuh Xueyue, Song Shi Hua tahu apa yang membuat gadis itu memutuskan untuk kembali. Dia tertawa lirih dengan kepalan tangan yang menutupi bibirnya menahan tawanya dan hampir meledak. Matanya menyipit membentuk bulan sabit saat dia tertawa.


"Yue'er, tenang saja. Ini hanyalah sebuah nama. Kota itu di kenal sebagai kota hantu karena suasana desa itu yang selalu ramai di waktu malam hari tiba dan sepi saat di siang hari. Kota Yuncheng memiliki dua sisi berbeda. Sisi gelap, dan terang. Sisi gelap di huni oleh mereka yang tinggal di kota hantu. Penduduk di kota hantu tetap sama seperti kita. Manusia biasa."

__ADS_1


"Huㅡfft.... Syukurlah." Shen Xueyue mendesah lega. Song Shi Hua kembali terkekeh geli.


Pada akhirnya Shen Xueyue tetap pada keputusannya untuk terus maju. Song Shi Hua mendayung ke sungai sisi kiri. Setelah perahu itu melaju cepat karena arus yang deras, memasuki rute kiri sedikit dalam, arus sungai mulai melambat kembali.


Shen Xueyue tersenyum cerah saat matanya menangkap beribu-ribu lentara mengapung di depannya. Gadis itu memekik memanggil Song Shi Hua dengan antusias, "Hua Hua! Lihatlah, lentera-lentera itu mengapung semakin jauh di sana! Waahh...." mata Xueyue membulat lebar mengedarkan pandangannya melihat semua lentera dengan terpesona. "Sebelah sana juga. Begitu sangat banyak. Bukankah di jalan lain sungai ini mereka terdampar?"


"Mungkin, ada mekanisme di bawah air yang berjalan sehingga membuat semua lentera itu terbawa arus sampai ke sana."


Selang beberapa waktu, perahu mereka memasuki kawasan di mana hanya ada reruntuhan dengan tebing bebatuan di kedua sisi sungai yang tinggi terbengkalai.


Saat Song Shi Hua menemukan satu lentera yang tiba-tiba hanya berputar-putar di pusaran air, tiba-tiba lentera itu tenggelam. Mata Song Shi Hua bergerak tajam ke arah bahaya datang. Dia merasakan adanya hawa membunuh mendekati mereka.


Shen Xueyue yang menyadari ada bahaya yang mendekat spontan memekik, "Hua Hua, awas!!"


Song Shi Hua segera menyambar tubuh Shen Xueyue dan membawanya terbang sebelum mendarat di atas tebing. Perahu yang mereka tumpangi mulai sedikit oleng saat beberapa buah suriken menghantam perahu itu sangat keras. Jika saja mereka tidak segera bereaksi, mungkin bukan perahu namun tubuh mereka yang akan terkena lemparan suriken itu.


"Hua Hua, siapa mereka?" jantung Shen Xueyue berdegub kencang, firasatnya buruk.


"Tunggu di sini."


"Hati-hati!" Xueyue memperingatkan. Song Shi Hua turun dari tebing dan menemukan beberapa kelompok orang berbaju assassin serba hitam dengan topeng layaknya prajurit bayangan berbentuk seperti iblis menemuinya. Empat pedang tajam dari empat orang mengarah kepadanya seolah mengancam. Namun ekspresi Song Shi Hua tetap tenang dan datar.


"Untuk apa kalian mengikuti kami? Apa ada sesuatu yang kalian inginkan?" tanya Song Shi Hua dengan nada normal. Tidak ada nada angkuh maupun mencoba untuk memprovokasi saat dia bicara pada orang-orang yang telah berbuat buruk pada mereka.


"Serahkan dia pada kami." pria yang di sinyalir sebagai pemimpin kelompok tersebut berseru to the point menunjuk Shen Xueyue. Shen Xueyue yang di tunjuk menelan ludah kering. Dengan tubuh merinding, dia mulai berspekulasi bahwa mungkin orang-orang ini telah mengetahui identitasnya sebagai roh siluman rubah.


"Oh... Apa begini cara kalian meminta sesuatu pada kami? Apa ada yang memerintah kalian untuk mengambilnya?"


"Banyak omong!" pemimpin itu memiringkan wajahnya, menggendikkan dagunya memberikan instruksi untuk menyerang Song Shi Hua pada bawahannya.


Dua pria berbaju hitam lainnya maju satu persatu mulai menyerang Song Shi Hua dari sisi yang berbeda dan menghunuskan pedang mereka, dengan cepat Shi Hua mengelak, menghindar tepat di antara dua pedang yang menjepit kepalanya. Dalam satu gerakan, Shi Hua hanya menangkis pedang mereka menggunakan sarung pedang miliknya. Menekan titik akupunktur ke orang pertama kemudian orang kedua yang menyerangnya dan membuat keduanya berdiri di tempat membeku.


Dua orang lain datang bersamaan, dengan gerakan zig zag cepat layaknya angin, Shi Hua melompat secara horizontal dan berputar di tengah-tengah antara dua pedang yang mencoba menebasnya lagi. Detik berikutnya, Shi Hua berdiri dengan posisi berbalik ke posisinya sebelumnya ke kedua penyerang yang baru saja ingin menebasnya. Dengan cepat, dia hanya memukul titik akupunktur lagi di bagian dada dan perut mereka. Langkah berikutnya, Shi Hua sudah melesat ke arah pimpinan kelompok tersebut dengan pedang miliknya.


Setelah beradu pedang satu pukulan, sarung pedang milik Song Shi Hua berhasil menekan tepat di nadi leher pemimpin kelompok itu setelah sebelumnya menekan satu titik akupuntur agar pemimpin itu tidak bisa bergerak.


Ketika Shi Hua berhasil mengunci gerakan pimpinan kelompok itu menggunakan sarung pedangnya untuk mengancam, empat bawahan pemimpin itu secara bersamaan ambruk dan tumbang begitu saja di atas tanah, tidak sadarkan diri.


Saat itulah, Song Shi Hua tersenyum tipis mengejek.


"Kauㅡ" pemimpin itu mendesis, "Kau sangat keji! Cepat lepaskan titik akupuntur kami!" perintah pria itu angkuh.


"Kau yang pertama menyerangku. Bagaimana bisa kau mengatakan aku ini keji? Apa kau tidak salah menuduh?" Song Shi Hua berucap lembut namun menohok.


"Baiklah, baiklah. Aku akan mengatakannya. Tuanku menginginkan dia."


Song Shi Hua masih tetap tenang, "Oh..? Aku tidak mengijinkan kalian untuk mengambilnya. Jadi, pergilah dan katakan pada tuanmu. Hadapi aku dulu sebelum kalian bisa mengambilnya dariku."


Pemimpin kelompok itu memicingkan matanya tajam, "Apa kau tahu siapa tuanku?"


Song Shi Hua hanya memperlihatkan benda di tangannya sebagai identitas dari kelompok mereka. Mata pemimpin itu membulat terkejut dan segera meraba-raba tubuhnya setelah Shi Hua melepaskan titik akupuntur pemimpin itu. Itu benar-benar miliknya dan berhasil di curi oleh Song Shi Hua tanpa dia sadari. Pertanyaannya adalah, sejak kapan Shi Hua mendapatkannya?


"Hadiah ini aku akan menerimanya. Terimakasih." Song Shi Hua berbalik dan menghentakkan kaki kanannya lalu terbang ke tempat Xueyue berada.


"Hua Hua, siapa mereka?" Xueyue menatap Song Shi Hua dengan nada suara khawatir.


Pria itu menatap benda di tangannya. Itu giok merah dengan bentuk api menyala, "Tidak perlu menanyakan siapa mereka. Tidak penting."


Xueyue tidak bisa tidak penasaran. Namun jika Song Shi Hua saja tidak ingin membahasnya, maka itu tidak perlu. Dia hanya harus menekan rasa penasarannya dan percaya bahwa Song Shi Hua mampu menyelesaikan mereka dengan cepat.


Tepat pukul tujuh malam, perahu yang Song Shi Hua dan Shen Xueyue naiki mulai memasuki sebuah tebing batu yang tingginya hampir setara dengan tinggi gunung, itu menghimpit aliran sungai yang bila kau melewatinya menggunakan perahu, perahu itu akan mengalir dengan sendirinya tanpa harus di gerakkan dengan dayung.


Shen Xueyue sedikit terkesiap saat melihat dua patung berdiri di ujung tebing saling berhadapan. Dia benar-benar kagum dengan pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Ini adalah lembah kematian. Bukti dari para pendiri kota Yuncheng yang pernah bertarung satu sama lain di sini." jelas Song Shi Hua menjelaskan.


"Hoo...." desah Xueyue singkat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2