
Keesokan harinya, tepat saat fajar menyingsing, deretan kereta kuda berjajar di depan halaman istana. Itu hanya dua. Selebihnya, adalah beberapa kuda tanpa kereta.
Shen Xueyue memicingkan matanya saat mengetahui bahwa di setiap kereta kuda, dua saudara perempuannya Shen Jia dan Shen Lingling telah berada di dalamnya.
Masih sisa satu kereta kuda. Dan mendadak perasaan Shen Xueyue tidak enak.
"Kenapa kau belum masuk ke dalam kereta?" Shen Xueyue tersentak memutar tubuhnya hanya untuk melihat pamgeran Shen Shiya di belakang punggungnya menatapnya.
"Aku..." Xueyue menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Eh, A Xue? Kau juga akan ikut?" Shen Chengyi bertanya setelahnya. Xueyue hanya menanggapi dengan tersenyum kikuk.
Lu Guan dan Zhu Guang tahu apa yang sedang di fikirkan oleh Xueyue. Jadi mereka datang dengan membawa tiga kuda. Dua kuda milik mereka, dan satu kuda putih yang telah Xueyue lihat sebelumnya. Melihat mereka membawa satu kuda lebih, Shen Qingtian yang baru saja datang mengerutkan alisnya.
"Kenapa lebih satu kuda?"
"Terimakasih, Guan Guan!" belum Lu Guan menjawab, Xueyue sudah menghampiri kuda putih miliknya. Menyeretnya dan berkata, "Kakak, aku akan naik kuda sendiri bersama mereka. Kembalikan saja kereta kuda itu ke tempat semula karena aku tidak membutuhkannya." katanya, menunjuk kereta kuda yang berada di belakang kereta milik Shen Jia dan Shen Lingling dengan dagunya.
Shen Jia mendecih sinis, "Kau? Menunggang kuda? Jika Ayah sampai tahu kau menunggang kuda, maka Ayah akan murka padamu."
Xueyue menyipitkan matanya, "Siapa yang peduli."
"Kauㅡ" Shen Jia mendesis kesal, mendelik dengan mata melotot tajam ke arah Xueyue penuh aura permusuhan. Namun Xueyue segera mengindahkannya dan sibuk dengan kuda miliknya sendiri.
"Apa kau yakin, A Xue?" Shen Shiya bertanya dengan nada cemas. Dia takut jika Shen Xueyue tidak akan bisa menunggangi kudanya dengan baik karena Xueyue sepertinya baru pertama kalinya menunggang kuda. Terlebih, perjalanan ini akan terasa sangat panjang dan memakan banyak waktu. Bagi Xueyue yang selalu di manjakan, hal berat yang biasa seorang laki-laki lakukan pasti akan terasa sangat berat.
Xueyue tersenyum meyakinkan, "Kak Shiya... Percayalah padaku. Ada mereka yang akan selalu menjagaku." Shen Shiya melirik Lu Guan dan Zhu Guang yang di tunjuk Xueyue dengan tatapan sengit.
Shen Lingling yang berada di dalam satu kereta bersama Shen Jia menatap Xueyue sendu. Sebelum gadis itu menundukkan pandangannya dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia berfikir dengan sedih, kenapa kakaknya Shen Chengyi lebih memperhatikan pangeran Xue di bandingkan dirinya? Dia juga adiknya, lalu kenapa perhatian mereka sangat berbeda? Apa yang menjadi pembeda antara dirinya dengan pangeran Xue? Apa karena pangeran Xue adalah seorang pangeran dan kakaknya lebih menginginkan seorang adik laki-laki daripada adik perempuan? Dia sangat ingin tahu.
Tidak lama setelahnya, Bai Lang juga datang membawa kudanya di belakang Lu Guan mengikuti. Melihat pria itu datang, Xueyue memutar mata dan membuang mukanya dengan penuh rasa benci, lalu membalikkan tubuhnya untuk menaiki kudanya dengan satu lompatan saja. Ekspresi Bai Lang berubah sendu ketika Xueyue terlihat begitu acuh tak acuh terhadapnya. Namun dia tidak bisa berbuat lebih banyak untuk mendapatkan hati gadis itu kembali untuk saat ini.
Jujur saja dia sangat menyesal karena tindakannya yang sangat gegabah. Mengapa dia tidak bisa menekan perasaannya untuk Xueyue? Dia adiknya. Ha—ah... Helaan nafas panjang hampir membuatnya mati karena emosinya.
Ketika Shen Qingtian, Shen Shiya dan Shen Chengyi memperhatikan Xueyue yang baik-baik saja dengan kudanya, mereka mencoba untuk mengenyahkan rasa kekhawatiran mereka di balik punggung masing-masing lantas kembali ke kuda mereka. Shen Du adalah orang yang pendiam dari semua pangeran. Dia juga adalah pangeran yang tidak peduli dengan kehadiran Xueyue dan memilih mengacuhkan adik kandungnya tersebut dengan menyibukkan diri.
Terkadang Xueyue bertanya-tanya ketika dia melihat Shen Du. Mengapa Shen Du selalu menatapnya dengan sorot mata dingin dan tak tersentuh setiap kali mereka bertemu. Apa Shen Xueyue asli di dunia ini pernah menginggung perasaan saudaranya itu sebelumnya? Konflik apa yang sedang terjadi di antara mereka?
Rombongan mereka berangkat tepat saat pukul lima pagi. Shen Jinglong dan Permaisurinya, di temani oleh dua selirnya hanya melepas kepergian mereka melalui halaman balairung utama yang memiliki ketinggian yang bisa melihat sampai ke gerbang pintu masuk istana.
Shen Qingtian, Shen Shiya, dan Shen Chengyi masih sangat mencemaskan keadaan Shen Xueyue yang ingin menunggang kuda seorang diri. Meskipun tiga pengawal pribadi Xueyue berada di belakang gadis itu untuk menjaganya, namun rasa kekhawatiran ketiga pangeran masih sangat kentara. Ingat, Shen Xueyue tidak lagi di perbolehkan mengikuti kelas seni bela diri dan menunggang kuda sejak dia selalu jatuh sakit-sakitan.
Bai Lang bahkan tidak bisa tidak melambat di belakang dan terus mengawasi Xueyue setiap saat.
Melihat bahwa cuaca semakin terik, dan mereka tidak ada banyak waktu lagi, Shen Qingtian bermaksud untuk sedikit mempercepat laju mereka. Tapi dia masih melirik Xueyue.
Lu Guan bukannya tidak menyadari kekhawatiran Putra mahkota, sehingga dia menendang sedikit lebih keras kudanya dan mendekati Xueyue.
"Xueyue, kau bisa sedikit mempercepat langkah kudamu? Kau bisa mengontrol kudamu sendiri, kan?"
"Ya?"
"Kalau begitu, kau tidak bisa membuang-buang waktu dan membiarkan kakakmu terus memperhatikanmu." refleks Xueyue diam-diam melirik Shen Qingtian dan melihat apa yang di katakan Lu Guan ada benarnya. Lu Guan menambahkan, "Kita harus segera mempercepat perjalanan sebelum hari mulai petang."
Xueyue mengerti dan dia mengangguk sambil tersenyum, "Jiaahh! Jaaa..." Xueyue mendekati Shen Qingtian dan berseru, "Kakak Putra Mahkota, percepat laju perjalanan kita. Aku tidak apa-apa."
__ADS_1
"Tapi..." Shen Qingtian meragu.
Shen Xueyue tersenyum memberikan keyakinan, "Percayalah. Adikmu ini adalah seorang gadis yang tangguh." gadis itu mendongakkan dagu dengan senyum tengilnya penuh kepercayaan diri, lalu dengan sekali hentakan, Shen Xueyue segera memecut kuda putihnya dan detik berikutnya mendahului para pangeran yang berada di depannya.
"A Xue! Pelan-pelan!" Shen Shiya berseru dengan nada cemas. Detik berikutnya, Shen Qingtian juga menyusul.
"Ayo Shiya, Chengyi, Shen Du! Kita tidak bisa membuang-buang banyak waktu." kata Shen Qingtian, melaju lebih cepat dan mendekati Xueyue sebelum pria itu memimpin barisan. Shen Xueyue memekik kegirangan saat Shen Qingtian tidak lagi mencemaskan dirinya dan terus mempercepat kudanya di depan Xueyue sebagai pemandu.
Di kehidupan sebelumnya, Shen Xueyue sering menghabiskan waktu bersama dengan Song Shi Hua di pacuan kuda hanya untuk menemani pria itu menunggang kuda sebagai olahraga akhir pekan. Song Shi Hua adalah seorang pria yang lahir dari keluarga terpandang. Hobi yang di lakukan oleh keluarga Song tidak jauh dari olahraga mahal. Seperti balap motor, balap mobil, pacuan berkuda, bermain golf, dan hal-hal lain yang sungguh menguras kantong.
Song Shi Hua tak jarang akan selalu membawanya untuk menghabiskan waktu bersama mereka di pacuan kuda. Kuda putih adalah favorit Xueyue, sedangkan kuda hitam adalah milik Song Shi Hua. Awal mulanya, tentu saja Song Shi Hua-lah orang yang mengajari dirinya menunggang kuda. Beruntung bahwa itu hanya membutuhkan waktu seminggu sebelum dia bisa menunggang kudamya sendiri. Saat itulah, Shen Shi Hua memberi hadiah seekor kuda jantan putih yang selalu di gunakan Xueyue pada gadis itu.
Perjalanan mereka tidak memiliki pengawal. Mereka juga hanya mengenakan pakaian sederhana dan tidak memakai pakaian sutra berkelas yang biasa mereka kenakan saat di istana. Masing-masing dari pangeran, mereka memiliki dua pengawal pribadi yang juga akan sama-sama masuk ke akademi dan bersekolah bersama.
Biasanya, pengawal pribadi sudah seperti saudara sendiri sehingga mereka memiliki hak khusus yang sama seperti tuan mereka.
Prajurit biasa tidak di butuhkan. Jadi perjalanan mereka tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang mengikuti ataupun menjaga keamanan mereka.
Tidak hanya di negara Hou saja yang Rajanya Shen Jinglong mengirim seluruh keturunannya untuk mengikuti pendaftaran di akademi Yunshu sekte Baishan di kota Yunchen.
Tidak jauh berbeda dengan negara Shandian, Song Qingdao, Raja kerajaan Shandian juga mengirim keturunan mereka untuk berangkat secepatnya menuju ke benua di mana hutan kematian berada. Itu hanya Song Shi Chen, Song Mo Feng, dan Song Yunlin. Sementara Song Shi Wei dan Song shi Hua, mereka bahkan sudah terlebih dulu berangkat sebelum pengumuman bahwa Akademi Yunshu sekte Baishan itu akan segera di buka.
Shi Wei adalah orang pertama yang memiliki inisiatif untuk segera berangkat setelah mengetahui sejarah akademi Yunshu sekte Baishan. Ayahnya Song Gubai, kala dia masih hidup menceritakan tentang sejarah akademi Yunshu, sehingga menimbulkan ketertarikan di hati Song Shi Wei hingga menjadi ambisi. Dan saat dia tahu kapan tepatnya akademi Yunshu sekte Baishan itu akan di buka untuk penerimaan murid baru, tanggal berapa, jam berapa, dan pada tahun berapa, Song Shi Wei adalah orang yang sangat ambisius untuk sampai di sana dan menjadi orang yang pertama kali mendaftar sebagai murid. Karena itulah, dia yang menyukai kebebasan dan tidak terikat oleh peraturan istana bisa memanfaatkan kesempatan. Di mana dia bisa mencari informasi dengan bebas selama masa mengembaranya keliling dunia bersama Song Shi Hua.
Di negara bagian barat laut, beberapa orang-orang yang memiliki peluang untuk meningkatkan kemampuan mereka juga bertindak sama. Mereka segera bergegas menuju ke hutan kematian setelah mendengar informasi mengenai pembukaan pendaftaran akademi Yunshu. Tidak hanya mereka mengirim para pangeran kerajaan mereka, beberapa orang-orang yang hidup dalam bayang-bayang negara bagian barat laut selama ini juga segera mengikuti meskipun mereka hanya tergolong dalam orang-orang biasa dan juga buronan.
Seluruh negara yang ada di benua five core elements segera di gemparkan dengan munculnya perguruan tertua yang terkenal di seluruh dunia itu. Perguruan akademi Yunshu dari sekte Baishan yang di mana mereka mengajarkan Ni Shu dan di pimpin oleh tokoh terkenal yang abadi bernama Bai Mochen. Perguruan Yunshu di kenal juga sebagai perguruan Ni shu. Namun saat Bai Mochen memutuskan untuk mundur dari jabatannya, perguruan itu di kenal sebagai akademi Yunshu sampai saat ini.
Mungkin buku yang Shen Xueyue pelajari adalah tentang sejarah dunia ini di masa lalu. Sehingga belum banyak buku baru di ruang perpustakaan kediaman wanita tua Chu Yan yang di perbaharui kembali.
"Rajaku. Berita buruk. Pangeran kedua telah lepas dan telah melarikan diri dari penjara bawah tanah."
Sebuah kejutan terlihat di raut wajah sang Raja, "Bagaimana mungkin? Penjara pangeran telah di segel dan tidak mungkin baginya untuk membobol segel itu dengan kekuatannya sendiri. Setinggi apapun kekuatan dari orang yang di penjara, dia hanya akan terkoyak."
"Hamba tahu itu, Rajaku. Hamba menyadari bahwa segel yang Rajaku pasang bukanlah segel biasa. Itu adalah segel yang bisa membelenggu segala macam kekuatan termasuk iblis level tertinggi sekalipun. Tapi Rajaku, tembok penjara yang mengurung pangeran kini memiliki lubang besar. Sepertinya, pangeranku mencoba memaksa menghancurkannya." ungkap kasim itu dengan suara bergetar, "Sebagai antisipasi, hamba telah mengerahkan beberapa prajurit khusus untuk mengikuti jejak darah pangeran."
Sang Raja semakin gelisah meskipun tidak terlihat jelas di wajahnya ketika mendengar kata darah. "Panggil Jenderal Jiang kemari."
"Baik Rajaku." kasim itu segera undur diri.
Raja itu mengepalkan tinjunya hingga tulang-tulang jarinya berbunyi nyaring. Dia berfikir keras, hingga seorang pria paruh baya muncul di hadapannya. Setelah pria paruh baya itu memberikan hormat, sang raja hanya mengangguk singkat.
"Perintahkan prajurit terbaikmu untuk mencari keberadaan pangeran kedua." tubuh jenderal itu menegang sebelum kembali tenang lalu menundukkan pandangannya mengerti dengan kondisi saat ini.
"Baik Yang Mulia."
Raja itu melirik ke samping kanan dengan helaan nafas panjang. Dalam hati dia berharap, semoga putranya cepat-cepat di temukan.
Seorang pria dengan jubah biru compang camping yang penuh noda darah di sekujur tubuhnya berjalan tertatih di atas hamparan gumpalan salju tebal. Kakinya bergetar tertatih-tatih. Terseok-seok saat berjalan, melangkah tanpa menoleh ke belakang. Nafasnya putus-putus dengan menggigit giginya rapat hingga berbunyi berderit, seolah nyawanya telah berada di ujung tanduk. Matanya setengah sadar setengah kosong, seolah dia tidak memiliki jiwa.
Rasa dingin salju yang beradu dengan kaki telanjangnya tidak menghentikan semangatnya untuk terus berjalan semakin menjauhi kota gurun es. Meskipun pandangannya menjadi buram karena rasa sakit yang mendera tubuhnya dan hampir membuatnya pingsan, dia terus menggeretakkan giginya dan meneruskan langkahnya tidak putus asa. Kedua tangan dan kakinya menghasilkan bunyi bergemerincing seirama langkah kakinya karena gelang rantai baja yang masih membelenggu di kedua sisi.
"Haㅡah... Haㅡah..." suara hembusan nafas yang terputus-putus terus terdengar di tengah-tengah badai salju yang menerpa wajah dari hidungnya. Hembusan asap tebal keluar dari bibir yang bergetar terbuka saat dia menghembuskan nafas. Membuktikan bahwa suhu dingin saat ini benar-benar bisa membuat seseorang terbunuh seketika.
Hingga detik berikutnya, pria dengan pakaian compang camping bernoda darah itu terjerembab karena tersandung batu yang tersembunyi di balik tumpukan salju yang sudah meninggi setinggi lutut. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan dia terjatuh tak berdaya.
__ADS_1
Salju terus turun, dan perlahan-lahan mengubur tubuh pria itu di dalam gumpalan salju yang hampir setinggi setengah meter.
"Cepat cari di manapun! Aku tidak mau dengar laporan kegagalan dari kalian. Bagaimanapun caranya kalian harus bisa mendapatkan pangeran kedua kembali!" perintah seorang perwira tertinggi pemimpin dari semua prajurit yang berada di belakangnya.
Derap langkah kuda terus melaju melewati gundukan salju yang terus menumpuk. Bahkan tanpa mereka sadari, tidak jauh dari langkah mereka berada, orang yang sedang mereka cari sekarang sedang tertimbun di dalam tumpukan salju.
Semua jejak langkah dan darah segar yang menetes dari tubuhnya berhasil di sembunyikan oleh gumpalan salju yang menumpuk karena badai salju. Anjing pelacak yang di kerahkan merekapun, tidak bisa mencium jejaknya. Seakan semua indra penciuman mereka menjadi sia-sia di tengah-tengah hujan badai salju.
"Yue'er.... Haㅡah... Haㅡah.. Tunggu aku." racau pria itu dengan mata sayu yang lambat laun mulai menutup, dan akhirnya, dia tidak sadarkan diri.
.
"Ugh! Sakit, sakit, sakit!!" Shen Xueyue mengerang kesakitan dengan tangan mencengkeram erat dadanya.
"Shen Xueyue!" Zhu Guang segera terbang dari kudanya dan mengambil alih kendali kuda Xueyue ketika tiba-tiba gadis itu mengerang kesakitan hampir terjatuh dari atas pelana kuda.
Perasaan cemas bergelayut di setiap wajah para pangeran termasuk juga Lu Guan dan Bai Lang selain Zhu Guang yang tiba-tiba bertindak cepat.
"Apa yang terjadi?!" tanya Zhu Guang berbisik lirih dengan nada takut.
Shen Xueyue menggeleng keras, dia bahkan tidak tahu apa yang kini tengah dia rasakan. Namun jantungnya tiba-tiba berdenyut sakit seperti di tusuk seribu belati. Wajahnya berubah pucat dan dia hampir saja pingsan jika saja Zhu Guang tidak segera mendekap tubuhnya erat.
Entah bagaimana caranya, kuda milik Zhu Guang menyusul sang pemilik sesuai dengan arah kemana pria itu pergi. Seolah kuda coklat tua itu mengerti kata tuannya.
"Kita akan beristirahat sementara di sana." Shen Qingtian memimpin dan segera memacu kudanya mendekati tepi sungai yang mengalir deras tidak jauh dari mereka. Melihat kondisi adiknya yang tiba-tiba sekarat, jantungnya berdetak cepat tak karuan. Namun dia adalah seorang putra mahkota sehingga dia harus mampu menyembunyikan kekhawatirannya yang sebenarnya sangat berlebihan.
Segera Zhu Guang mengambil tubuh Shen Xueyue dan merebahkan tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati di atas tikar dari tumpukan jerami yang telah di siapkan oleh Lu Guan sebelumnya.
"Hati-hati." kata Lu Guan, membantu Shen Xueyue untuk merebahkan diri.
Melihat nafas Shen Xueyue yang kesulitan dan terengah-engah seperti seseorang yang hampir mati, Shen Qingtian segera mengambil tindakan. Zhu Guang sudah berlari menuju sungai dengan membawa alat untuk mengambil air.
"Xueyue, minumlah. Pelan-pelan."
Melihat bagaimana Zhu Guang bersikap begitu sangat khawatir pada adik mereka, tiga pangeran yang sangat menyayangi Shen Xueyue merasa iri. Bagaimana tidak, cara Zhu Guang bertindak seharusnya seperti sikap seorang kakak yang berusaha untuk menolong adik kesayangannya yang sedang sakit. Wajah kesakitan Zhu Guang bahkan membuat mereka cemburu.
"Bagaimana perasaanmu?" Shen Xueyue yang pucat hanya tersenyum tipis, masih merasa sedikit kesakitan. Namun itu jauh lebih baik dari yang sebelumnya.
Xueyue lantas menggeleng, "Sudah jauh lebih baik." gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Jangan membuatku takut." Zhu Guang berkata sendu.
"Aku tahu. Terimakasih."
Namun Xueyue sendiri bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba hatinya merasakan rasa sakit yang jarang sekali dia rasakan. Ada sebuah suara yang tiba-tiba saja memanggilnya dengan nada sangat menyedihkan. Tapi dia bahkan tidak mengerti, bagaimana suara itu tiba-tiba menyebabkan dadanya mendadak berdenyut menyiksanya.
Seolah pemilik suara itu terhubung sangat dekat dengannya.
'Siapa dia?' jelas, itu bukan suara Song Shi Hua kekasihnya.
.
.
.
__ADS_1
To be Continued...