Love Catastrophe

Love Catastrophe
Siapa Aku?


__ADS_3

Setelah Xueyue menyadari sesuatu yang salah terjadi pada tubuh yang dia tempati saat ini, dia kembali jatuh tidak sadarkan diri dan membuat semua orang yang ada di dalam kamarnya terutama permaisuri menjerit histeris karena cemas.


Tepat pada malam hari tiba, Xueyue kembali tersadar dan mulai mengerti tentang keadaannya saat ini. Semua orang termasuk ibu dan kakaknya telah kembali ke kediamannya. Meskipun mereka bersikeras ingin menetap, namun melihat kondisi Xueyue, mereka memutuskan untuk mundur terlebih dulu.


Otak Xueyue mendadak menjadi gila saat mengetahui bahwa jiwa miliknya yang sebenarnya saat ini tengah bersemayam di dalam tubuh milik seorang gadis muda yang masih belia.


Ya! Tubuh seorang gadis dan bukan seorang laki-laki! Dia tidak tahu mengapa dan bagaimana. Dia saat ini berakhir di dunia yang bukan dari dunianya. Dengan nama yang sama, keluarga yang sama. Hanya saja dirinya kini memiliki status yang berbeda. Dia bukan lagi dirinya di zaman modern. Dia kini berada di tubuh seorang putri yang di kenal dengan identitas pangeran sejak kelahirannya dari sebuah kerajaan kuno yang dia tidak pernah dengar sebelumnya. Kerajaan Huo? Di mana kerajaan Huo itu berada? Di dalam sejarah dunia tidak ada catatan terkait adanya sejarah tentang kerajaan Huo.


Saat ini Xueyue hanya bisa duduk bersila dengan tangan bertopang dagu. Sementara tangan lainnya berkacak pada lutut lainnya. Sama seperti bagaimana dia melakukannya saat masih menjadi seorang wanita tomboy di dunianya sebelumnya. Dia mencebikkan bibirnya cemberut dengan pipi gembilnya yang mengembung. Dua alisnya menukik tajam penuh konflik.


Jika Zhu Guang teman dekatnya saat ini berada di hadapannya, sudah pasti pria itu akan mengetuk dahinya dengan keras. Membuatnya tidak lagi menekuk wajah masam lantaran takut dirinya yang terlihat menggemaskan menjadi cepat tua karena garis keriput cepat muncul.


Melihat bagaimana tuannya menekuk wajahnya dengan raut wajah menakutkan, dua pelayan yang selalu setia menemaninya selama ini menatap tuannya cemas. Mereka ragu, apakah mereka harus berbicara atau tetap diam.


"Haㅡah.....!" pada akhirnya, suara ******* frustasi Xueyue yang kini beranjak dari tempat tidurnya itu membuat kedua pelayannya tersentak takut. Xueyue melirik tajam keduanya, lalu berkata, "Katakan! Apa kalian adalah pelayan yang di siapkan untukku selama ini? Bagaimana kalian pertama kali menjadi seorang pelayan dan berakhir menjadi pelayan pribadiku?" cerocos Xueyue mengintrogasi.


"H-hah?" kedua pelayan itu tertegun sesaat. Xueyue mendecakkan lidahnya sembari memutar bola matanya mulai jengah. Dia malas mengulang pertanyaan yang sama dua kali.


Xueyue hanya menatap tajam kedua pelayannya tanpa mau bersusah payah mengatakan apa yang ia tanyakan kepada mereka sekali lagi.


Kedua pelayan itu sejenak hanya bisa saling melirik satu sama lain dengan sikap takut dan ragu, lalu mengintip sekilas tuannya yang masih menatap mereka sedang menunggu untuk sebuah jawaban.


Setelah Xueyue tersadar, tabib yang dia ketahui bernama Mu Chen yang sebelumnya memeriksanya itu kembali memeriksa. Tabib itu mengambil kesimpulan bahwa Pangeran Xueyue saat ini mungkin telah mengalami cedera pada memori di kepalanya. Hal yang mungkin membuat pangeran Xueyue tiba-tiba kehilangan sebagian ingatan di masa lalunya.


Tentu saja itu hanyalah sebuah dugaan semata. Dan Xueyue jelas tahu bahwa dirinya tidak sedang mengalami gagar otak yang sampai bisa membuatnya menderita amnesia permanent. Tapi dia tidak akan mengatakan bahwa dirinya bukankah Pangeran Shen Xueyue mereka yang sebenarnya.


Xueyue ingat bagaimana terakhir kali dirinya meninggal dunia. Itu benar-benar kematian yang sangat tragis baginya. Dia tidak ingin mengingatnya, tapi semua kejadian itu terukir apik di dalam memori otaknya.


.


Hari itu, di sore hari, hujan badai yang lebat mengguyur kota A. Di mana Xueyue menetap saat itu.


"Aish!! Sial sekali, Chk!" gadis remaja setinggi 5 ft 6 in atau setara dengan 167 cm itu mendongak ke langit sore di luar toko setelah membeli beberapa makanan ringan. Meskipun terbilang sore, namun cuaca memperlihatkan langit hitam yang seolah sudah memasuki waktu malam.


Hujan lebat di sertai dengan kabut tebal mengguyur kota A hari itu. Sialnya, gadis itu benar-benar tidak tahu bahwa perkiraan cuaca pada hari ini akan sangat buruk sehingga dia keluar dari rumah tanpa membawa payung yang selalu dia bawa setiap saat sebagai persiapan. Entah mengapa dia benar-benar berfikir bahwa sekali saja tanpa membawa payung tidak akan sampai terjadi masalah. Toh cuaca pada saat dia keluar benar-benar sangat cerah. Siapa yang tahu bahwa tepat saat dia sampai di toko retail, cuaca berubah drastis.


Gadis itu kembali membuka pintu toko dan hanya menyembulkan bagian kepalanya ke dalam. Menoleh ke kiri, ada seorang pria dewasa berusia dua puluh lima tahun berdiri di balik meja kasir.


"Kakak Guo, apa masih ada sisa payung atau jas hujan yang di jual di toko?" serunya.


Pria yang di panggil Guo itu menoleh ke arah Xueyue dengan sorot mata berfikir. "Tunggu sebentar. Aku akan mencoba mengeceknya." katanya, sembari menaikkan kembali kacamata yang merosot ke pangkal hidung.


Suara klik beberapa kali dari mesin pembaca barkode berbunyi nyaring di samping pria bernama Guo Yang. Partnernya sedang melayani pembayaran dari pembeli lain. Raut wajah Guo Yang sedikit jelek dengan sorot mata putus asa, dia menatap penuh sesal ke gadis yang masih sabar menanti hasil yang di carinya itu.


"Xueyue, maafkan aku. Stock payung dan jas hujan di toko kami hari ini sold out." katanya dengan nada menyesal.


Xueyue itu hanya bisa tersenyum kering memaklumi. Walau dalam hatinya dia agak sedikit dongkol karena kecewa, "Oh, aku ada payung. Bagaimana kalau kau menggunakannya dulu." ujar Guo Yang cepat-cepat.


Xueyue sedikit ragu. Apakah dia harus mengambil tawaran yang di berikan oleh Guo Yang, atau tidak.


"Mm... Aku pikir.. Itu tidak perlu, kak."


"Aku benar-benar tidak masalah." imbuh Guo Yang cepat, dengan langkah tergesa-gesa pria itu membuka pintu yang berada di samping kasir. Tidak butuh waktu lama sebelum pria itu kembali membawa sebuah payung merah lantas keluar dari meja kasir untuk menemui Xueyue, "Xueyue. Ini.... Astaga!" pekiknya dengan mata melotot horror menatap Xueyue.


"XUEYUE! Jangan bermain ponsel saat hujan seperti inㅡ" belum kata-katanya selesai, sebuah suara guntur meledak tepat di samping Xueyue.


JEDAAAARRR!!


"Hiie...!!" cepat-cepat Xueyue melompat ke samping, dengan kedua tangan menempel pada kaca pintu toko layaknya seekor cicak menempel di dinding.


"XUEYUE!!" sebuah kilat putih itu dengan cepat menghantam tempat Xueyue berdiri seolah binatang buas hendak menerkam mangsanya.


Peringatan Guo Yang belum selesai ketika petir itu hampir menyambar gadis tersebut. Beruntung bahwa Xueyue menghindarinya dengan melompat ke samping.


Jantung keduanya berdegub sangat cepat kala melihat kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan beberapa pengunjung toko yang melihatnya menatap sosok Xueyue tercengang ketakutan dan cemas.


Xueyue sendiri masih shock pada apa yang baru saja terjadi, sorot matanya kosong menatap aspal yang menghitam mengeluarkan asap putih mendesis. Dia juga mendongak untuk melihat awan gelap mendung menggumpal masih memperlihatkan kilatan-kilatan putih di balik awan. Seolah kilat petir itu sedang tertawa cekikikan setelah hampir menamparnya begitu keras. Kedua telinganya berdenging menyakitkan membuatnya sementara tuli. Guo Yang yang berkali-kali mencoba memanggil Xueyue dan gagal menyadarkan gadis itu yang masih tampak ketakutan.


"Xueyue!! Sadarlah!"


'Mama, Papa. Kakak Tian. Yue'er hampir saja mati! Astaga!' batinnya horror dengan tubuh gemetar, dia kembali menatap tajam penuh ketakutan pada aspal hitam di sampingnya.


"HEY!" Guo Yang masih berusaha untuk membuat Xueyue tersadar kembali sembari menepuk bahu gadis itu beberapa kali. Bisik-bisik dari orang-orang yang berada di belakang Guo Yang membuat Guo Yang sendiri mendesah frustasi.


Menggelengkan kepala frustasi, Guo Yang menampar cukup keras pipi Xueyue, membuat gadis itu tersentak dan menoleh sekilas Guo Yang dengan sorot mata kosong masih terlihat ketakutan.


"Sudah 'ku bilang. Jangan bermain ponsel saat hujan lebat seperti ini. Apalagi..." Guo Yang mendongak mengedarkan pandangannya ke atas awan hitam yang menggumpal di atas langit.


JEDAAAARRR!!


Suara petir menyambar kembali terdengar berkali-kali di sepanjang waktu.


Guo Yang mendadak merasakan suatu firasat buruk yang tidak enak, kejadian buruk sepertinya akan terjadi. Melihat bagaimana hujan malam ini sangat lebat di sertai hujan petir di mana-mana. Di tambah, kabut di malam ini yang bercampur dengan turunnya air hujan deras membuat penglihatan seseorang menjadi kabur dan bermasalah. Hal yang mampu mengundang maut kapanpun, terutama di jalan raya. Apalagi, hujan yang di sertai dengan badai angin kencang seperti ini benar-benar sangat berbahaya bagi pengguna jalan raya karena jalan akan tertutup kabut.


"Lihat? Petir di mana-mana... Menunggulah di dalam sampai hujan sedikit reda. Itu tidak akan menunda pekerjaanmu, kan? Apa kau memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini juga?"


Guo Yang sudah seperti kakak bagi Xueyue. Tempat tinggal Guo Yang berada di bangunan yang sama dengan apartemen milik Xueyue tinggal. Kamar mereka persis bersebelahan. Terlebih, toko tempat Guo Yang bekerja berjarak sekitar satu kilometer dari apartemen mereka berada. Tentu saja kedekatan mereka ada alasannya.


Xueyue tersenyum kikuk, "Y-ya.. Sebenarnya ada pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga."


"Apa itu mendesak?" kembali Guo Yang melayangkan pertanyaan. Kali ini dia benar-benar tidak ingin membiarkan Xueyue pergi. Apalagi dalam kondisi hujan lebat seperti ini. Dia harus bisa membuat gadis di depannya tetap berada di dalam tokonya.


"Maaf kak. Aku tidak bisa." ujar Xueyue sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


Jika saja ponselnya tidak mati beberapa saat yang lalu saat dirinya mencoba menghubungi temannya, dia sudah pasti akan menerima tawaran Guo Yang. Sayangnya, ponselnya mati tepat setelah petir itu hampir menyambarnya. Dia bisa saja menghubungi beberapa partner kerjanya untuk memberikannya keringanan pada pekerjaannya karena cuaca dan kondisinya saat ini yang tidak mendukung. Namun, hari ini benar-benar adalah hari sial baginya.


Guo Yang menghembuskan nafas putus asa. Sepertinya, keputusan Xueyue benar-benar sudah bulat. Pikirnya, "Baik! Maka kamu harus mengambil payung ini. Hati-hati dengan jalanan yang licin. Kabut cukup tebal, jadi kau harus hati-hati dengan pandanganmu."


Xueyue hanya bisa tersenyum penuh terima kasih pada Guo Yang, "Baiklah Kak. Terima kasih dan aku akan menerimanya."


"Ingat! Jangan bermain ponsel lagi, okay?!"


"Aku tahu!" desisnya sebelum Xueyue benar-benar meninggalkan toko tempat Guo Yang bekerja. Sangat bodoh jika dia melakukan hal yang sama hanya untuk mengundang petir lagi. Apa dia ingin mati muda? Jangan konyol.


Guo Yang menatap punggung Xueyue yang lambat laun mulai menjauh dengan perasaan cemas dan khawatir. Entah kenapa hatinya mendadak tidak enak dan dia memiliki firasat buruk, bahwa sesuatu yang tidak diinginkan mungkin akan terjadi pada Xueyue. Tapi dia kemudian mengenyahkan pikiran buruknya tersebut. Menggelengkan kepalanya untuk menetralkan kembali perasaannya yang buruk sebelum dia kembali bekerja. Semoga Xueyue kembali dengan selamat. Batinnya, dalam hati.


Cak! Cak! Cak!


Bunyi kecipak dari air yang beradu dengan langkah kaki di tambah dengan suara air hujan yang semakin deras terus terdengar di telinga Xueyue. Hal itu cukup mengganggu indra pendengarannya. Di tambah lagi kilat putih yang berkali-kali memercik di langit menghasilkan suara menggelegar memekakkan telinga. Tubuh Xueyue refleks juga berkali-kali tersentak dan bergetar hebat karena terkejut dan juga trauma. Terlebih dengan kejadian yang baru saja dia alami di depan toko. Itu membuatnya mulai membangkitkan perasaan paranoid pada petir di hatinya.


Tanpa di duga, ketika Xueyue hendak menyeberang di persimpangan jalan, suara berdecit ban mobil yang tergelincir mendekat ke arahnya hampir menabraknya. Namun beruntung, mobil itu hanya menabrak tiang lampu rambu lalu lintas tidak jauh dari posisinya berdiri.


Xueyue hanya bisa menjerit dan menggenggam erat-erat gagang payung dengan tangan bergetar sementara dirinya meringkuk di samping mobil yang menimbulkan bunyi 'Uiu' nyaring sebagai peringatan dari pengaman mobil dengan pandangan horror dan kosong.


Melihat cuaca yang sangat buruk seperti saat ini, mustahil ada orang yang akan berlari hanya untuk sekedar melihat kejadian tabrakan mobil tersebut. Dengan langkah terhuyung lemah dan tubuh gemetar ketakutan, Xueyue kembali melangkah menjauhi lokasi kejadian tabrakan mobil yang hampir mencelakai nyawanya itu dengan mulut komat kamit.


Berkali-kali bibir Xueyue yang komat-kamit merapalkan kata-kata harapan untuk keselamatan hidupnya. Tanpa menoleh ke belakang, gadis itu terus melangkah ke depan.


Setibanya di sebuah persimpangan jalan lain, jalan satu-satunya menuju ke arah apartemennya, ada sebuah gang sempit yang hanya bisa di lalui satu arah untuk kendaraan mobil saja. Di kedua sisi samping jalan tersebut, terdapat beberapa bangunan yang belum sepenuhnya jadi. Namun tinggi bangunan itu lebih dari tiga puluh lantai.


Di ketinggian bangunan itu, terdapat alat berat yang mengangkut beberapa balok besi panjang yang beratnya berton-ton. Jika itu jatuh menimpa seseorang di bawah sana, sudah pasti orang tersebut akan hancur berkeping-keping.


Dan... Besi itu tiba-tiba saja bergerak gelisah ketika kilat petir yang sangat kuat di ikuti dengan angin deras menghantam alat berat yang menggantungnya. Detik berikutnya, Xueyue yang berada di bawah gedung tersebut mendadak menghentikan langkahnya dengan jantung yang berdegub kencang.


Tubuhnya tersentak kala dia mendengar suara petir lagi-lagi menggelegar keras. Di tambah, suara rantai besi bergemerincing berisik di tengah-tengah suara hujan turun.


Malam yang gelap, lampu-lampu yang redup, sementara hujan terus turun dengan derasnya. Kilat petir menyambar seperti lampu lighting yang ada di panggung konser, menyorot menyilaukan mata. Suasana malam itu begitu sangat mencekam. Membuat bulu kuduk Xueyue semakin meremang penuh ketakutan. Xueyue menyadari posisinya saat ini sangat buruk.


Hingga...


Perasaan bahaya membayang-bayangi dirinya dan membuat tubuhnya tanpa sadar mematung di tempat. Xueyue ingin cepat-cepat pergi dari tempatnya berdiri saat ini sesegera mungkin. Namun entah mengapa, kakinya serasa terpaku. Jantungnya berdegub semakin kencang, bahkan lebih dari seratus tujuh puluh beats per menit.


Ketika Xueyue menyadari adanya bahaya yang mendekat hendak menimpanya, itu terlambat. Balok besi panjang yang tergantung di atas bangunan tinggi tepat di atasnya itu mulai terjun dan jatuh dengan kecepatan yang sangat cepat ke bawah. Detik berikutnya, Xueyue hanya bisa mendelik semakin horror dan berteriak dengan sangat kencang.


"AAAAAAAAA....!!!"


BANG!! BOOMB!!


Besi itu dengan mulus jatuh menimpa tubuh Xueyue hingga membuat tubuhnya hancur tak terbentuk. Kedua mata indahnya menatap kosong awan gelap yang bergelayut masih menghempaskan air hujan deras. Air hujan terus menimpa wajah Xueyue yang kini berlumuran darah. Bibirnya yang terbuka sedikit itu terus memuntahkan darah dan telinganya berdenging nyaring tidak dapat mendengarkan suara air hujan kembali.


Rintik suara air dan gelegar petir yang memekakkan telinga menjadi musik penghantar kematian baginya.


Detik berikutnya, Xueyue sama sekali tidak menyadari apapun lagi setelah kesadaran merenggutnya.


Namun, dia semakin tenggelam ke dalam pusaran lubang hitam layaknya pusaran air laut yang menyedot seluruh perahu ke dalam. Dadanya seolah terisi penuh oleh air dan dia tidak mampu untuk bernafas, sebelum akhirnya dia kembali menutup matanya. Pasrah dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Saat dia tersadar, dan mengetahui situasinya saat ini, dia sudah berada di dunia yang entah di mana.


Ini dunia yang sangat aneh. Di mana semua orang memiliki pakaian kuno layaknya zaman kerajaan. Itu seperti dunia yang biasa dirinya tonton saat bersama dengan dua teman wanitanya. Sahabatnya yang mencintai drama kolosal yang bertemakan kerajaan istana ataupun sejenisnya.


Hal yang mengejutkan adalah, dia menjelma menjadi sesosok seorang pangeran dari sebuah kerajaan? APA-APAAN ITU?!! Haㅡah...


Meskipun ini bisa di anggapnya sebagai mukjizat baginya karena terlahir kembali di sebuah dunia kuno.


Kenapa dia mengatakan bahwa ini adalah mukjizat baginya? Karena dia punya mimpi ingin menikahi seorang pria tampan dan berwibawa dengan tubuh atletis bak artis kerajaan-kerajaan yang dingin. Itu sangat menggairahkan. Terlebih, mereka sangat seksi dengan rambut panjang mereka.


Membayangkan bahwa dirinya yang seorang wanita muda saat ini akan menikah dengan seorang pangeran, membuatnya sedikit bahagia. Haha!! Dia tertawa iblis.


Namun.... Tiba-tiba kesenangannya tidak bertahan lama.


"Tuan putri... Eh, bukan. Maksudku, Pangeran... Kami..."


"Apa tadi yang kau katakan?" senyum gila Xueyue yang diam-diam telah menyusun rencana secara matang buyar seketika saat mendengar pelayannya tiba-tiba menyebutnya sebagai pangeran. Apa maksudnya ini?!


"I-itu..." kedua pelayan itu menundukkan pandangannya dengan tubuh menciut karena takut.


"Baiklah. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padaku selama ini? Ceritakan dari awal. Dan.. Oh! Aku lupa menanyakan siapa nama kalian." Xueyue menepuk jidatnya dan menatap kedua pelayannya.


Melihat bahwa kedua pelayannya itu terlihat ketakutan melihatnya, dia sedikit membenahi sikapnya, "Dan... Bersikaplah lebih santai, okay? Aku juga tidak akan memakan kalian ataupun menghukum kalian."


"Emm.. A-apa... Tuan putri serius?"


"Ya!"


Sebenarnya, dua pelayan itu tidaklah setakut seperti saat ini ketika berhadapan dengan tuannya. Justru mereka sangat di sambut oleh tuan mereka layaknya seorang teman. Hanya ketika melihat bagaimana sifat tuannya saat ini yang berubah drastis sajalah mereka sedikit menjaga jarak karena takut.


Pada akhirnya, dengan perasaan cemas dan takut, kedua pelayan itu bergantian menceritakan kisah dari Putri Xueyue yang menjadi seorang pangeran sebenarnya selama ini.


"Nama hamba An Xi. Dan dia An Nan, ini di mulai saat sebelum anda di lahirkan. Jadi...."


.


Kerajaan Huo memiliki seorang Raja bernama Shen Jinglong. Dia adalah Raja generasi ke empat. Di bandingkan dengan ayahnya yang memiliki saudara kembar yang masih hidup, saudara kembar Raja Shen Jinglong meninggal di dalam kandungan saat proses melahirkan lantaran tidak mendapatkan cukup asupan gizi ketika masih berada di perut ibunya.


Beruntung bahwa berdirinya kerajaan Huo yang di pimpin oleh Raja Jinglong memiliki tradisi mengenai penerus tahta, kerajaan itu selalu di limpahi kebahagiaan dan tidak pernah terlihat ataupun terdengar berita-berita tentang adanya kudeta maupun perebutan tahta.


Setiap pangeran yang lahir di kerajaan ini, mereka harus mentaati peraturan yang telah di buat secara turun temurun. Begitu juga dengan para selir dan gundik Raja. Mereka harus mentaati peraturan yang di buat oleh ibu suri kerajaan tersebut.

__ADS_1


Di mana Ibu Suri kerajaan membuat titah, bahwa setiap selir hanya bisa mendapatkan satu keturunan dari Raja. Setelah mereka berhasil mengandung keturunan Raja, mereka harus puas dengan itu. Terkecuali bagi istri utama Raja atau sering di sebut sebagai Permaisuri Raja. Wanita nomor satu itu di harapkan mampu memberikan kurang lebih dua keturunan bagi Raja. Tentu saja di harapkan keturunan pertama dari Permaisuri adalah seorang putra.


Sebelum Permaisuri memiliki seorang keturunan, tidak akan ada wanita yang akan di boyong ke dalam harem istana untuk di angkat sebagai seorang selir. Bagaimanapun caranya, pihak keluarga istana akan membuat Permaisuri milik Raja hamil. Agar anak yang di lahirkannya bisa menjadi penerus tahta selanjutnya.


Jika keturunan pertama Permaisuri lahir seorang perempuan, maka Permaisuri akan kembali di tuntut untuk memiliki kehamilan kedua. Dan di harapkan akan melahirkan seorang calon Putra Mahkota. Setelah keinginan itu tercapai, baru setelah anak itu berusia satu tahun, Raja akan mengangkat seorang selir.


Setelah pengangkatan selir pertama, selir itu akan mendapatkan haknya untuk menghabiskan waktu satu malam pernikahan dan satu bulan mereka bersama Raja untuk mendapatkan keturunan selanjutnya. Tentu saja dengan pengaturan seperti itu pihak keluarga kerajaan mengharapkan selir itu akan cepat memiliki seorang keturunan.


Sebelum pengangkatan selir terjadi, wanita yang akan di jadikan selir tersebut akan di perintahkan oleh Ibu Suri dan ayah dari Raja untuk bersumpah di hadapan keduanya bersama Raja dan Permaisurinya.


Calon selir akan bersumpah untuk tidak memiliki niatan yang membahayakan posisi putra mahkotanya jika nantinya keturunan yang lahir dari rahim selir tersebut adalah seorang laki-laki. Jika ada sedikit saja niatan untuk merebut tahta calon Putra Mahkota di masa depan, hukuman mati akan di terima oleh ibu dan anaknya tersebut.


Begitu seterusnya.


Rumor mengatakan bahwa Ibu Suri berasal dari keluarga yang sangat misterius dan jauh dari peradaban orang-orang di kerajaan Huo. Di mana Ibu Suri terkenal sebagai wanita yang memiliki ilmu sihir yang aneh.


Itu terlihat dari bagaimana Ibu Suri mampu melihat niat buruk seseorang yang ingin mencelakai keluarga kerajaannya.


Ketika itu, tepat ketika pemilihan selir kedua untuk Raja Shen Jinglong di adakan, Ibu Suri tiba-tiba menolak wanita yang akan di nikahkan untuk Shen Jinglong karena wanita itu ternyata memiliki niat yang buruk. Tidak ada yang tahu akhirnya. Ibu Suri hanya memerintahkan para prajurit untuk menahan wanita itu ke dalam istana dingin di bawah tanah.


Konon katanya, kemampuan itu di namakan sebagai kemampuan yang dapat membaca pikiran dan masa depan. Namun anehnya, Ibu Suri tidak pernah bisa membaca pikiran Permaisuri kesayangan Raja Shen Jinglong yaitu Yun Xieya. Hal itu membuat semua orang merasa bahwa Ibu Suri hanya membual tentang kemampuannya tersebut.


Tetapi anehnya, itu terjadi secara turun temurun. Di mana setiap wanita yang berhasil menjadi Permaisuri Raja, hati mereka tidak bisa terbaca oleh Ibu Suri Raja. Ibu Suri menganggap bahwa wanita yang beruntung terpilih sebagai Permaisuri memiliki hati seputih dan sesuci hati para Dewi. Terlepas dari masa lalunya yang kelam.


Raja Shen Jinglong memiliki seorang Permaisuri bernama Yun Xieya dan dua orang selir. Berbeda dari generasi Raja sebelumnya, Shen Jinglong sendiri memutuskan untuk hanya memiliki dua orang selir meskipun dia tidak pernah menginginkannya. Selir pertama bernama Feng Wanlan, seorang wanita yang terlahir dari seorang biarawati kuil setelah menikah. Dia melahirkan seorang putra bernama Shen Shiya. Lalu selir kedua bernama Yang Guorui sebagai selir kedua setelah Feng Wanlan, keturunan Raja dari negeri padang pasir yang melahirkan seorang putra bernama Shen Chengyi.


Kedua selir itu berteman baik dengan Yun Xieya dan sangat akur. Membuat semua Permaisuri dan selir-selir dari kerajaan lainnya merasa iri di buatnya setelah mendengar kisah dari kerajaan Huo.


Meskipun demikian, tidak ada yang tahu bahwa Shen Jinglong akan memberikan keturunan kedua bagi kedua selirnya. Yaitu putri pertama yang di beri nama Shen Jia, dia lahir dari rahim Feng Wanlan. Sedangkan putri kedua Yang Guorui, di beri nama Shen Lingling.


Xueyue lahir setelah kelahiran Shen Wei yang adalah seorang pangeran ke tiga kerajaan di kerajaan Huo. Putri Shen Jia sebagai putri pertama, sedangkan Shen Lingling adalah putri kedua. Lalu, bagaimana dengan Xueyue?


"A-anda tentu saja terlahir setelah putri Lingling, Tuan putri." kata pelayan bernama An Xi.


Xueyue semakin menekuk wajahnya karena kesal. Cerita yang An Xi katakan adalah tentang asal usul negeri ini. Lalu dari mana letak cerita tentang dirinya?


An Nan tahu, apa yang kini tengah di pikirkan oleh tuannya. Hal itu membuatnya dengan cepat membuka suaranya melanjutkan cerita dari An Xi. "Tuan putri, biarkan hamba yang meneruskannya."


"Baiklah! Cepat ceritakan." titahnya dengan kaki masih bersila dengan bertopang dagu.


Malam semakin larut, suara binatang malam bernyanyi nyaring membuat suara-suara gaduh. Namun hal itu tidak menyurutkan keinginan Xueyue untuk terus mendengarkan kisah mengenai cerita tentang putri Xueyue yang sebenarnya. 'Bukankah seharusnya sebagian ingatan dari pemilik tubuh ini muncul di memory kepalaku? Hm.. Ini sangat aneh!' batin Xueyue.


"Saat Permaisuri mengandung anda, dia bertemu dengan seorang wanita tua di luar istana ketika Permaisuri sedang menuju ke kuil untuk meminta berkat. Sebelumnya, Raja mengatakan pada Permaisuri bahwa dia ingin sekali memiliki seorang putri yang terlahir dari rahimnya. Setelah kelahiran dua pangeran dari rahim Permaisuri, tentu saja Raja mengidamkan hal tersebut. Meskipun dua putri sudah terlahir dari para selirnya. Raja masih ingin berkhayal, bagaimana jika Permaisuri melahirkan seorang putri untuknya? Akan seperti apa putri yang di lahirkan langsung oleh permaisuri saat lahir? Apakah dia akan secantik Permaisuri, apakah dia akan memiliki rupa yang manis sepertinya?"


"Hah? Lalu...?" Xueyue mulai tertarik dengan jalan cerita An Nan. Dan dia mulai memiliki sorot mata berbinar cerah dan tidak membosankan.


"Permaisuri hanya mengatakan, 'Aku ingin seorang putra lagi, Tuanku!' Raja hanya tertawa saat itu. Dan berdebat hebat dengan Permaisuri meskipun itu bukan sebuah pertengkaran." An Nan menarik nafas memberi jeda, "Esoknya.. Permaisuri Yun berangkat ke kuil dalam rangka untuk meminta berkat Dewa. Dan di sanalah dia bertemu dengan seorang wanita tua yang tidak sengaja tertabrak oleh kereta kuda yang permaisuri tumpangi. Salah satu prajurit memarahi dan mengumpatinya. Namun dengan cepat Permaisuri menghentikannya. Dia seorang wanita yang benar-benar sangat lembut. Permaisuri dengan baik hati menolong wanita tua itu. Dan inilah awal tragedi itu terjadi."


"Tragedi apa?" Xueyue menyela semakin penasaran.


"Permaisuri... D-dia..." An Nan ragu. Melihat bahwa Xueyue benar-benar mengharapkannya untuk meneruskan ceritanya, dia diam-diam melirik An Xi meminta pertolongan.


Dinding dan tembok kerajaan semua memiliki telinga. Sedikit saja mereka mengatakan sesuatu rahasia yang hanya di ketahui oleh segelintir orang-orang tertentu, maka akan ada seseorang yang dari awal menentang mereka secara diam-diam memasang telinga mereka untuk menguping. An Nan takut dan mengkhawatirkan hal itu.


Rahasia ini hanya dia, An Xi, dan beberapa keluarga kerajaan saja yang mengetahui. Bahkan Raja Shen Jinglong tidak mengetahuinya.


"Cepat teruskan." desak Xueyue semakin tidak sabar. An Nan hanya bisa memilin ujung gaunnya sembari menggigit bibirnya gelisah.


"Tuan putri. Tapi ini adalah sebuah rahasia. Hamba benar-benar tidak berani untuk meneruskan pembicaraan ini." katanya penuh penyesalan. Tentu saja hal itu membuat Xueyue berdecak malas.


Namun Xueyue tidak bisa menampik bahwa apa yang di katakan oleh An Nan ada benarnya.


Diam-diam, ketiganya hanya bisa membisu. An Nan dan An Xi saling melirik satu sama lain. Sementara Xueyue sibuk dengan pikirannya yang mencari cara bagaimana dia bisa membuat dua pelayannya itu agar mau menceritakan kisah putri Xueyue yang sebenarnya.


"Ah! Aku tahu!" pekik Xueyue berbinar cerah dengan senyum lebarnya yang mampu membuat semua pria bertekuk lutut di hadapannya. "Ambil kertas dan juga kuas kemari. Sebanyak mungkin."


"Ah?" An Nan dan An Xi terkesiap menatap Xueyue penuh kejutan.


"Tunggu apalagi? Cepat ambil!" seru Xueyue, lagi.


"Oh. B-baik Tuan Putri." seketika An Xi segera beranjak dan berjalan menuju meja belajar di kamar Xueyue. Mengambil beberapa lembar kertas khusus dan kuas yang di perlukan. Setelah An Xi kembali, Xueyue meminta kertas itu di serahkan pada An Nan.


"Tulis di kertas saja semua poin-poin penting dalam cerita. Aku akan membacanya dan menanyakan beberapa pertanyaan dengan bahasa yang tidak akan orang lain mengerti."


An Nan yang mengerti maksud Xueyue segera melaksanakan perintahnya. Pelayan itu segera menulis dengan cepat di kertas semua poin penting cerita tentang tuannya.


Xueyue menunggunya dengan perasaan bosan, sehingga dia memilih untuk berbaring dengan kaki bertopang lutut dan kedua tangan yang menyilang menumpu kepalanya. Dia bernyanyi riang lagu dari zamannya. Yang sebenarnya hal itu sedikit mengganggu An Xi dan An Nan yang sama sekali tidak mengerti.


"Tuan putri." dua puluh menit berlalu, dan An Nan menyerahkan beberapa tumpukan kertas yang telah tertulis oleh tinta kepada Xueyue.


"Hooaammm... Kalian benar-benar sangat lama."


"Maafkan hamba, tuan putri." kata An Nan dengan nada menyesal merasa bersalah.


Xueyue tidak merespon dan hanya fokus pada cerita yang telah di tulis oleh pelayannya itu. Beberapa menit kemudian? Dia mendelik horror untuk kesekian kalinya.


"APA INI?!!"


.


.


.

__ADS_1


To be Continued....


__ADS_2