Love Catastrophe

Love Catastrophe
Kencan Bag. II


__ADS_3

Jalan menuju ke ujung sungai sebenarnya adalah air terjun. Di bawahnya ada sebuah gua dan sungai yang mereka lewati mulai mendekat ke arah jatuhnya air sungai. Itu adalah semacam dua air terjun. Dari atas tebing, dan dari bawah sungai.


Seharusnya mereka bisa saja terhanyut dan jatuh ke dalam gua air terjun, namun perahu mereka berhenti tepat di bawah air terjun. Shen Xueyue sempat kehilangan kata-katanya tidak mengerti dengan apa yang dia alami saat ini. Karena bagaimana bisa sebuah perahu tiba-tiba berhenti saat di ujung sana mereka bisa saja jatuh ke dasar jurang di dalam gua air terjun yang deras?


Song Shi Hua masih bersikap tenang. Dia segera membentuk segel tangan sebelum tiba-tiba air terjun itu membelah menjadi dua bagian membentuk sebuah jalan dan jalan menuju gua mulai terlihat. Itu memiliki tangga yang bisa di lewati dengan hanya berjalan kaki.


"Waaahhh.... Sangat menakjubkan!" Shen Xueyue memekik takjub.


Song Shi Hua tersenyum tipis. Dia lalu turun dari perahu dan memberikan tangannya kembali untuk Shen Xueyue genggam.


"Ayo."


Naruto mengangguk, "Enn..." mereka mulai berjalan di atas air seolah air sungai ini adalah jalan datar.


Saat mereka masuk ke dalam gua, Shen Xueyue sempat berhenti hanya untuk menikmati indahnya pahatan di setiap tebing di kedua sisi dengan decak takjub. Meskipun itu terkesan agak menyeramkan karena banyaknya patung dengan wajah-wajah yang seram dan terbelah di mana-mana, tetap saja itu sangat luar biasa.


"Ini adalah pintu gerbang ke kota hantu. Tidak banyak orang yang tahu jalan ini dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya."


"Oh... Ini benar-benar sangat keren." Shen Xueyue mengedarkan pandangannya sembari mengikuti Song Shi Hua dengan masih menggenggam tangan pria itu.


"Ya. Sebenarnya ada pintu masuk rahasia lain kota ini yang berada di kota Yuncheng. Itu berada di tengah kota. Hanya saja, tidak banyak orang yang mau melewati pintu itu meskipun merupakan pintu masuk rahasia. Dan kamu hanya perlu menggunakan koin khusus untuk bisa membuka pintu rahasia kota hantu."


Xueyue mendongak untuk menatap Shi Hua seolah menatap orang bodoh, "Jika di kota Yuncheng ada jalan, kenapa kita harus melewati jalan yang rumit dan sejauh ini?"


Song Shi Hua tersenyum misterius, dia berbalik untuk menatap Xueyue dengan senyum tipis.


"Aku tidak rela membuat tubuhmu menjadi bau karena kotoran." Shi Hua mencubit dagu Shen Xueyue, mendongakkannya untuk menatapnya dan menggerakkannya ke kanan kiri pelan. Shen Xueyue terhenyak dengan ekspresi linglung.


Itu benar, jalan rahasia yang di maksud agar bisa masuk menuju kota hantu sebenarnya adalah sebuah jalan di gang sempit yang kumuh di kota Yuncheng itu sendiri. Di sana ada sebuah toilet umum yang sudah tidak lagi terpakai. Sehingga tempat itu kini menjadi tempat pembuangan sampah.


Kau hanya harus melemparkan koin khusus ke dalam lubang toilet dan pintu gerbang kota hantu akan terbuka secara otomatis.


(¬_¬) Namun tentu saja, Song Shi Hua tidak akan mengatakannya di depan Shen Xueyue fakta tersebut. Karena itu terlalu memalukan, pikirnya.


".. Hah?" Xueyue cengo dan matanya berkedip lucu.


Song Shi Hua tertawa lirih, "Lupakan saja. Ayo." dia meraih tangan Shen Xueyue dan menggandengnya. Shen Xueyue tentu saja tidak lagi banyak bertanya dan menurut.


Keduanya kembali menuruni tangga yang menjorok ke bawah tanah. Semakin dalam, semakin menyeramkan tempat itu. Ada jurang tebing dengan cahaya hijau di bawah sebuah jembatan yang sudah usang dan rusak. Itu seperti api yang menyala berwarna hijau. Seperti api jiwa milik manusia yang telah tiada. Mungkinkah karena inilah kota hantu itu di namakan? Tidak banyak yang tahu bagaimana sejarahnya karena banyak sekali rumor yang beredar di kalangan masyarakat mengenai kota hantu itu sendiri.


Suara seram dan mencekam yang tiba-tiba terdengar membuat Shen Xueyue sesak nafas. Dia bahkan tidak menyadari bahwa genggaman tangannya pada Song Shi Hua telah terlepas.


"Eh? Huaㅡ" "Ah!!" punggung Shen Xueyue menabrak dada Song Shi Hua yang segera merapatkan diri pada Shen Xueyue. Pria itu menggeleng lirih memberikan senyum menenangkan ketika Xueyue berbalik untuk melihatnya.


"Jangan takut." Song Shi Hua berbisik pelan.


"Aku... tidak." Xueyue ragu menatap Shi Hua lekat tanpa berkedip. Walaupun sebenarnya dia merasa sedikit takut dan tubuhnya menegang karena perasaan tersebut. Dia tersenyum sambil menggeleng, "Ada kamu di sampingku." pria itu meremas bahu Xueyue dan memeluknya sekilas. Gadis itu agak sedikit di tenangkan.


Merasa itu cukup, mereka kembali berjalan untuk mencari jalan keluar. Tidak lama setelah mereka berjalan beberapa langkah, sebuah suara rantai tertarik menggema di ruang gua tersebut dengan bumi bergetar. Shi Hua kemudian melindungi tubuh Xueyue dengan mendekapnya erat di dalam dadanya.


Sebuah pintu rahasia akhirnya terbuka secara otomatis setelah sebelumnya Song Shi Hua menyalakan mekanismenya.


Pintu terbuka lebar, memperlihatkan suasana kota malam di sebuah pasar raya. Itu ramai dengan berbagai macam kedai yang menjual berbagai macam-macam jenis makanan dan minuman ataupun accessories di buka di mana-mana. Lentera-lentera malam terpasang di setiap sudut jalan.


Pemandangan pertama dari suasana suatu kota di malam hari menyita perhatian Shen Xueyue. Dia dengan riangnya melompat, berlari kecil mulai memasuki kota hantu tersebut penuh semangat. Rasa takut yang sebelumnya menggayut di hatinya lenyap seketika, tergantikan oleh rasa puas dan terpesona.


Song Shi Hua segera menarik pergelangan tangan Shen Xueyue, menyeretnya ke dalam sebuah kedai.


"Hua Hua?"


"Kau akan menyukainya di sini." Song Shi Hua membawanya ke sebuah kedai teh dan makanan kecil di pinggir jalan. Seorang pemilik kedai menghampiri mereka dan bertanya mengenai pesanan.


Dan Song Shi Hua hanya menyebutkan untuk membawa semua jenis makanan yang ada di menu kedai ini satu persatu agar Xueyue bisa memilihnya.


Xueyue berseru 'Wah!' saat pemilik kedai itu datang dengan membawa beberapa tumpukan loyang ukuran kecil.


"Silahkan makanannya!"

__ADS_1


Shen Xueyue bertanya penasaran, "Apa nama menunya paman?"


"Ada bakso gurita, kue mantou, kroket, tahu kukus. Dan ada satu menu istimewa di kedai ini." pemilik kedai itu menyeringai dan mengangkat satu piring menu dengan isi bola bola berwarna merah muda yang di beri kuah dan hiasan kelopak bunga plum.


"Menu ini bernama bola teratai. Nah, silahkan di nikmati dan rasakan keunikannya." pemilik kedai itu menyodorkan satu piring bola-bola teratai dengan saus khusus yang di taburi oleh kelopak bunga plum di hadapan Shen Xueyue dan Song Shi Hua yang masih menatap menu di atas meja dengan takjub namun ekspresinya masih datar dan senyum tipis di sudut bibirnya.


Tetapi saat pemilik kedai itu kembali ke tempatnya, Song Shi Hua segera menyingkirkan menu yang berbahan dasar daging itu dari hadapan Xueyue. Membiarkan gadis itu hanya memiliki satu menu yaitu menu istimewa dari kedai tersebut.


"Apanya yang istimewa dari bola teratai ini?" Shen Xueyue menatap lekat bola teratai yang baginya tampak biasa saja. Itu bahkan tampak sama seperti kue mochi.


Shen Xueyue hendak mengambil satu buah bola teratai itu menggunakan sumpit ketika mendengar tawa pemilik kedai.


"Haha... Sebelum kau memakannya, kau harus menunggu beberapa detik dan lihat saja apa yang akan terjadi pada bola teratai itu selanjutnya." pemilik kedai itu mengabaikan Shen Xueyue dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Xueyue dengan enggan menurut. Dia hanya harus menatap bola teratai itu sedikit lebih lama. Dan beberapa detik setelah dia menunggu, benar saja. Bahwa tiba-tiba bola-bola teratai yang semula bulat itu akhirnya memiliki reaksi aneh. Itu mulai mengembang dengan sendirinya dan pecah membentuk sebuah kelopak bunga, dan bentuk dari bola-bola teratai yang semula bulat tersebut benar-benar mekar menyerupai bunga teratai.


"Waahh.... Cantiknya." iris mata Shen Xueyue terbuka lebar berbinar penuh kejutan. Dia tidak tahu bahwa bola-bola teratai di hadapannya akan memiliki keistimewaan yang unik.


Tidak salah jika bola-bola teratai itu di sebut sebagai menu istimewa. Itu memang benar-benar terlihat sangat istimewa.


Shen Xueyue meraih sumpit yang sempat dia letakkan kembali, mengambil satu bola teratai yang sudah mengembang menjadi bentuk teratai ke dalam mulutnya.


"Hmm...!" Shen Xueyue mengunyahnya lagi, "Ini sangat lembut." "Paman, bagaimana cara membuat makanan ini?"


"Bagaimana bisa aku memberitahumu? Ini adalah menu istimewa dan resep rahasia dari kedai kami. Aku tidak mungkin memberitahukannya padamu, nak. Heh!" kata pemilik kedai itu dengan nada terkesan sombong.


"Dasar pelit. Hmph!" Shen Xueyue mendengus lucu, mempoutkan bibirnya kesal sambil masih mengunyah bola-bola berbentuk teratai. Pipi kanannya membengkak saat dia mengunyah kue itu di mulutnya. Pemilik kedai itu hanya menyeringai menggendikkan bahunya acuh. Song Shi Hua melirik sekilas Xueyue, mengambil sumpit miliknya sendiri dan mencoba satu bola-bola teratai ke dalam mulutnya. Saat bola teratai itu masuk ke dalam mulutnya, dia mengunyah sebentar dan mulai menilai resep di dalam rasa yang meledak di lidahnya. Dia menyeringai tipis.


Mengepalkan tangannya, dia menarik nafas dalam dan mulai menerka-nerka sambil meletakkan kembali sumpit di tangannya tampak rapi, "Madu dari biji teratai, di campur dengan pasta kacang." Shen Xueyue yang asyik mengunyah spontan terkejut karena celetukan penuturan Shi Hua dengan tatapan tidak percaya, "Di bungkus dengan nasi ketan..."


Pemilik kedai yang sedang menggiling tepung tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan dia tampak kagum saat mendengar Song Shi Hua tiba-tiba saja menjelaskan secara rinci isi resep dari menu spesialnya dengan ekspresi tidak percaya dan takjub. Dia berbalik untuk menatap pria itu dengan sorot mata aneh.


"...lalu membentuknya menjadi kelopak teratai. Setelah itu, di bungkus dengan daun teratai dan di kukus. Ketika ingin di makan, kau bisa menuangkan kuah yang terbuat dari air rebusan kayu manis yang di panaskan ke dalam mangkuk." Song Shi Hua menatap Xueyue menjelaskan dengan nada lemah lembut di akhiri dengan senyum tipis yang menggoda.


"Itu akan membuatnya terbuka, seperti sejenis kelopak teratai. Ahaha.. Ini.. Sangat menakjubkan." kata Song Shi Hua sedikit merasa bersalah pada pemilik kedai yang menatapnya kagum. Karena secara tidak langsung, dia telah membocorkan resep rahasia mereka dengan sangat gamblang.


"Baiklah kalau begitu." Xueyue menggebrak meja cukup keras, membuat semua pasang mata di sekitar mereka menatapnya aneh. "Paman, beri aku sepuluh piring lagi!"


"Hah? Ah, i-itu..." pemilik kedai sedikit gugup dan salah tingkah. Dia melirik Song Shi Hua yang menatapnya datar.


"Ayolah paman." Shen Xueyue memaksa dengan wajah memelas penuh harap.


"Ah, haha.. Baiklah, baiklah. Aku akan segera mengambilnya."


Tidak butuh waktu lama untuk pemilik kedai itu kembali membawa sepuluh piring berisi lima biji bola teratai yang masih berbentuk bulat.


Dengan antusias Shen Xueyue memakannya sangat cepat setelah bola itu mengembang. Dia bahkan tidak meminta pada Song Shi Hua untuk membantunya memakan semuanya. Dia hanya memikirkan perutnya sendiri karena pria itu menolak untuk memakannya.


Saat Shen Xueyue akan memakan bola-bola teratainya yang ke sembilan, Shen Xueyue tiba-tiba berubah menjadi lemas dengan pipi merah. Song Shi Hua menjadi cemas melihat Shen Xueyue tiba-tiba saja meracau tidak jelas.


Pria itu sejujurnya ingin mengatakan resep yang terakhir yang ada di dalam pembuatan kue bola-bola teratai tersebut. Namun dia tidak tega saat melihat Shen Xueyue sangat menyukai kue itu. Bahwa sebenarnya, resep utama yang harus ada di dalam bola-bola teratai adalah adanya sake khusus yang terbuat dari fermentasi buah apricot.


Walaupun di setiap resepnya hanya di butuhkan satu gelas sake apricot, namun jika itu terus di konsumsi, akibatnya kau akan mengalami halusinasi dan mabuk.


"Ini terlalu lezat." racaunya. Shen Xueyue menoleh, memperhatikan wajah Song Shi Hua yang juga melihatnya. Dia tersenyum lembut, lantas berkata, "Haㅡah... Hua Hua .. Aku mencintaimu." Xueyue mulai menjatuhkan wajahnya ke meja dan menatap Song Shi Hua lembut.


"Yue'er, ayo kita pulang. Malam semakin larut." Shen Xueyue menggeleng keras, menolak ajakan Song Shi Hua.


Gadis itu lantas beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan dengan langkah terhuyung-huyung karena mabuk.


"Yue'er..."


"Hua Hua, ayo kita ke kuil terlebih dahulu sebelum pulang." Shen Xueyue menarik pergelangan tangan Shi Hua, berlari tak tentu arah, Xueyue mulai cekikikan.


Song Shi Hua memiliki firasat buruk tentang bola teratai yang di makan Shen Xueyue sebelumnya. Sepertinya, itu bukan hanya sekedar resep yang telah dia sebutkan. Melihat situasinya, pasti pemilik kedai itu telah mencampurkan beberapa gelas sake ke dalam resep itu lebih dari yang seharusnya.


"Yue'er. Kuil bukan ke arah sana."

__ADS_1


"Maka tunjukkan jalannya. Ayo, ayo, ayo...!" racau gadis itu masih tidak mau berhenti.


Xueyue masih terlihat sangat normal, namun alam bawah sadarnya kini telah di ambil alih karena mabuk.


Terpaksa, Song Shi Hua mengajak gadis itu menuju ke arah kuil yang sudah dia ketahui. Kuil itu berada di luar pasar raya. Namun letaknya tidak begitu jauh dari lokasi pasar raya.


Di dekat kuil, ada sebuah danau yang terlihat sangat indah di penuhi oleh lentera-lentera yang masih menyala terang. Mereka seperti cahaya pada kunang-kunang. Saat Shen Xueyue melihat kuil di depannya, dia segera berlari. Namun gadis itu berhenti, menepuk dahinya, dia berbalik kembali untuk menjemput Song Shi Hua.


"Hua Hua.. Ayo cepat!" Shen Xueyue menarik pergelangan tangan pria itu secara paksa. Pria itu hanya bisa pasrah dan mengikuti Shen Xueyue masuk ke dalam kuil.


Sampai di dalam kuil, Xueyue mencari sesuatu ke sekeliling kuil. Namun dia berubah masam saat tidak mendapatkan apa yang dia cari. Saat dia melihat ada beberapa barang di dalam kuil yang dia butuhkan, dia kembali bersemangat dan segera mengambil beberapa barang di sana.


"Shi Hua. Ayo kita menikah." Shen Xueyue menyodorkan cawan berisi sake pada Song Shi Hua yang saat ini tengah menatap Shen Xueyue linglung. Karena kesal, Xueyue lantas mengambil tangan Shi Hua dan membimbing tangan pria itu untuk memegang cawan sake.


Setelah Song Shi Hua benar-benar mengambil cawan itu, Xueyue mengambil cawannya sendiri. Shen Xueyue menoleh ke arah Shi Hua yang masih menatapnya cengo. "Hey! Lihat ke depan."


Song Shi Chen yang tidak berdaya menurut, dan senyum Shen Xueyue semakin lebar.


Mereka menghadap ke depan sebuah patung dewa di kuil, berdiri dengan memegang cawan sake di depan wajah mereka.


Shen Xueyue mulai melakukan ritual menyembah langit bersama Song Shi Hua. Ini adalah salah satu ritual penting dalam upacara pernikahan. Melihat bahwa Shen Xueyue melakukannya dengan penuh semangat, Song Shi Hua tidak bisa mengecewakan keinginan gadis itu dan mulai mengikuti.


"Aku tahu, ritual ini belum lengkap. Tapi setidaknya, bagi kita, kau dan aku telah menjadi sepasang suami istri."


DEG!!


Jantung Song Shi Hua berdetak dengan irama indah menatap Shen Xueyue terharu. Gadis itu tersenyum ke arah Song Shi Hua hingga membuat matanya membentuk bulan sabit.


"Aku, Shen Xueyue berjanji. Akan selalu setia sehidup semati bersama Song Shi Hua meskipun maut memisahkan kami. Cinta kami akan tetap abadi walaupun maut menjemput. Aku, Shen Xueyue, berjanji. Tidak akan meninggalkan Song Shi Hua baik di kala suka maupun duka. Akan berjanji selalu bersamanya di tiga kehidupan selanjutnya."


Xueyue menoleh ke arah Shi Hua yang masih betah menatapnya. Seolah pria itu hendak menangis saat mendengar sumpah Shen Xueyue yang tiba-tiba.


"Shi Hua, ayo.. Selesaikan ritualnya."


Song Shi Hua tersenyum haru lantas mengangguk lirih, "Aku, Song Shi Hua berjanji, hidup matiku hanya untuk Shen Xueyue. Hatiku, Song Shi Hua, hanya milik Shen Xueyue. Aku, Song Shi Hua, akan selalu setia meskipun ajal menjemput. Bumi dan langit tidak akan pernah mampu memisahkan cinta kami walau jiwa kami hancur berkeping-keping sekalipun."


Shen Xueyue segera memeluk Song Shi Hua, menikmati hangatnya tubuh pria itu penuh kerinduan.


"Akhirnya. Kau benar-benar menjadi milikku seutuhnya mulai hari ini." Xueyue terisak dan tiba-tiba menangis karena bahagia.


"En.. Aku milikmu selamanya."


.


Setelah melakukan ritual pernikahan yang seadanya, Shen Xueyue kembali membawa Shi Hua untuk berkeliling beberapa kali menikmati suasana kota hantu. Seharusnya Shen Xueyue masih sedikit mabuk setelah memakan banyak bola-bola teratai. Namun lambat laun kesadaran gadis itu pulih dengan sendirinya. Hal itu jelas bahwa sake yang di campurkan pada resep bola-bola teratai tidak memiliki efek yang terlalu kuat.


Setelah puas, tepat jam sepuluh malam, Song Shi Hua membawa tubuh Shen Xueyue yang sudah terlelap tidur di pelukannya perlahan. Dengan sangat hati-hati, pria itu melesat di malam yang sunyi dalam hitungan detik. Dia mendarat tepat di balkon tempat Shen Xueyue tinggal.


Zhu Guang dan Lu Guan yang masih terjaga, segera membuka pintu balkon dan menemukan bahwa Song Shi Hua membawa Shen Xueyue.


"Kauㅡ" Zhu Guang hampir marah. Namun Lu Guan dengan cepat menahannya dan segera mengambil alih tubuh Shen Xueyue yang tertidur sangat nyamannya di pelukan Song Shi Hua.


"Terimakasih, telah menjaga Yue Yue." Lu Guan berucap lembut.


"Tolong awasi Yue'er untukku, tuan Lu." kata Shi Hua menatap dalam Shen Xueyue seolah tidak rela untuk berpisah.


"Pasti."


.


.


.


.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2