Love Catastrophe

Love Catastrophe
Sahabatku adalah Siluman


__ADS_3

BRAAAK!!


"Tuan Putri!" An Xi menjatuhkan pakaian baru yang telah dia siapkan untuk di antar ke dalam kamar Xueyue ketika matanya hanya mendapati kamar itu kosong tak berpenghuni.


Wanita yang sudah memiliki usia dua puluh tiga tahun itu berlari ke arah ruangan di mana Xueyue mandi, namun di sana juga tidak dia temukan keberadaan tuannya.


"Ya Dewa. Kemana Tuan putri Xueyue?" gumamnya dengan nada bergetar karena khawatir. Dengan langkah tergesa-gesa, An Xi berlari kembali ke dalam kamar tuannya, lalu keluar dari pavilion. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah mencari An Nan.


Di sisi lain, Nenek tua itu terus berjalan dengan langkah kaki tertatih tampak sangat kesulitan dan kelelahan. Terlebih dia berjalan menggunakan tongkat tua yang sudah hampir rapuh. Xueyue sedikit bosan dan merasa lelah karena dia harus mengikuti langkah nenek tua itu yang sangat lambat. Tidak jarang dia akan membuang nafas beberapa kali karena perasaan tidak sabar, tapi dia juga merasa iba dengan kondisi nenek tua itu.


Tiba-tiba langkah kaki nenek tua itu terhenti di depan sebuah gerbang batu berwarna merah yang sudah berlumut dan tak layak di kunjungi. Xueyue mengerutkan keningnya menatap lekat gerbang merah tersebut dengan perasaan campur aduk.


Sedikit perasaan aneh menggelayuti hatinya ketika melihat gerbang merah tersebut. Xueyue hanya melihat gerbang itu yang ujungnya terhalang oleh sebuah tembok tinggi. Xueyue tidak tahu kenapa nenek tua itu mengajaknya ke area terpencil di pinggir desa kerajaan Hou.


Nenek tua itu memutar kepalanya hanya untuk menatap Xueyue sekilas dengan kilat misterius, dia melambaikan tangannya pelan ke depan gerbang merah itu. Dan keajaiban aneh muncul setelah nenek tua itu menarik kembali tangannya.


Langkah kaki Xueyue tanpa sadar melangkah mundur dengan sentakan karena terkejut. Bola matanya membola horror ketika menatap gerbang itu tiba-tiba bergetar. Dan kejadian berikutnya, tembok tinggi yang ada di ujung gerbang yang sebelumnya dia lihat itu menghilang dalam sekejap mata. Di gantikan oleh pemandangan hutan yang sangat menakjubkan dengan kicau burung berisik di sekeliling.


Di tanah tepat di bawah gerbang, ada sebuah danau berisi air jernih yang dingin tiba-tiba muncul. Dan keadaan di sekitarnya berubah menjadi hutan dengan banyaknya pepohonan besar berdaun lebat.


Xueyue menoleh ke kanan kiri dan ke belakang, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru area hutan tersebut. Dan lagi-lagi dia harus terkejut ketika melihat keadaan di belakangnya yang sebelumnya merupakan area pemukiman desa, kini juga berubah menjadi hutan yang jarang di jamah oleh manusia.


Dan saat ini, dirinya berada di dalam hutan hanya bersama seorang nenek tua aneh yang keberadaannya saja terlihat misterius. Xueyue agak cemas. Bagaimana dirinya akan kembali nanti? Dia tidak tahu jalan pulang karena dia baru di dunia ini.


"Ne-nenek.. I-ini, ini.. Ini apa? Kenapa tiba-tiba saja kita berada di dalam hutan seperti ini? Bukankah tadi kita berada di tembok istana dan memasuki kawasan pemukiman milik warga setelahnya? Kemana hal-hal yang tadi kita lewati?" tanyanya dengan suara bergetar sedikit takut. Bahkan bulu kuduknya saat ini sudah berdiri tegak karena merinding saat melihat sesuatu yang selama ini dia anggap sebagai suatu hal yang mustahil terjadi, tiba-tiba terjadi tepat di depan mata kepalanya sendiri. Rasanya dia ingin pingsan dan menganggap bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi fantasy-nya saja.


"Kau akan tahu saat kita masuk ke dalam gerbang." Xueyue sedikit skeptis dengan ucapan nenek tua di depannya itu dengan mata menyempit tanpa sadar. Tapi melihat nenek tua itu tiba-tiba berjalan memasuki pagar beton berlumut yang mengitari gerbang itu, dia tidak bisa membantu selain tertegun di tempatnya.


Detik berikutnya, matanya sontak saja membola sangat lebar karena terbelalak tidak percaya dengan bibir terbuka lebar tidak etis.


"A-apa, apa-apaan ini?!" pekiknya seraya jari telunjukknya menunjuk nenek tua itu bergetar, dia memandang nenek tua itu horror dan mulutnya megap-megap seperti ikan koi yang kehabisan nafas.


Hal yang hanya pernah dia saksikan saat menonton drama fantasy di televisi, di mana seseorang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata mampu berjalan di atas air, kini dia melihatnya secara langsung tepat di depan matanya.


Ya! Nenek tua itu kini sedang berjalan di atas air dengan bunyi kecipak seirama langkah kakinya dan tidak tenggelam. Xueyue tidak bisa lagi berkata-kata. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk mengekspresikan perasaan terkejutnya saat ini.


Baiklah, bolehkah dia pingsan sekarang juga? Ini terlalu mengejutkan, kau tahu?


"Kenapa? Apa kau tidak ingin masuk?" nenek tua itu melihat ekspresi Xueyue yang ragu-ragu dan shock. Dia lantas memperhatikan air yang ada di bawah kaki Xueyue. Di mana air itu kurang lebih setinggi betis. "Apa kau khawatir pakaianmu akan basah?"


"T-tentu saja tidak! Tapiㅡ Hey!! Di lihat bagaimanapun juga, danau ini terlihat cukup dalam nek. Tidak adakah jembatan atau perahu untuk menyeberang ke sana?"


Nenek tua itu terkekeh mendengar lontaran spontan Xueyue yang menurutnya sangat lucu. Dan hal itu membuat bibir Xueyue merengut dan mengembung dengan wajah tertekuk masam karena kesal selalu di tertawakan oleh nenek itu. "Cobalah untuk berjalan di atasnya."


Xueyue? Dia speechless di tempatnya merasa seolah dirinya kini sedang di permainkan, "Apa kau sedang mempermainkan aku, nek? Aku bukan makhluk sepertimu yang memiliki kekuatan mistis aneh. M-mana, mana mungkin aku bisa berjalan di atas air?! Kau bercanda, ya?!"


"Hahaha... Bagaimana bisa aku bercanda padamu di saat penting seperti ini? Aku berkata serius. Cobalah untuk berjalan di atasnya. Itu akan terasa seperti kau sedang berjalan di atas jembatan yang terbuat dari kaca."


Untuk sesaat Xueyue kembali ragu menatap penuh lamun air di depannya. Apakah danau di depannya ini hanyalah sebuah tipuan mata? Tapi, melihat bagaimana riak yang bergerak di bawah kaki nenek tua itu bergetar, membuktikan bahwa air danau di depannya bukanlah sesuatu seperti sebuah tipuan.


Cukup lama Xueyue ragu dengan tubuh yang bergerak gelisah. Ketika dia mencoba untuk memberanikan diri mengangkat kaki kanannya ke atas air danau, detik berikutnya dia menariknya lagi. Mendesah putus asa, Xueyue menghentakkan kakinya dengan kedua tangan mengepal meninju udara ke bawah.


"Nenek, aku tidak yakin." rajuknya membujuk dengan ekspresi menyedihkan.


"Apa kau seorang idiot? Bahkan seorang wanita tua sepertiku saja bisa melakukannya!" kali ini nada bicara nenek itu tidak lagi halus melainkan kesal dan frustasi.


"Itu berbeda! Kau seorang wanita tua yang memiliki ilmu sihir aneh, di mana kau bisa melakukan segalanya hanya dengan satu lambaian tangan. Waass wuuss! Dan, walaaaa! Terjadilah keajaiban!" balas Xueyue ngotot dan tidak mau kalah. Dia bahkan memperagakan gerakan lambaian tangan nenek tua yang di gunakan untuk membuka portal dari gerbang sebelumnya.


Nenek tua itu membuka tutup mulutnya speechless untuk beberapa saat. Xueyue terengah-engah setelah meracau dengan nada tinggi, di tambah emosinya yang memuncak karena rasa frustasi.


Nenek itu lalu menghela nafas berat, mencoba untuk menenangkan emosinya yang hampir membuat darah tinggi naik. "Baiklah, baiklah. Sudah cukup. Sekarang cobalah untuk melangkah ke atas air itu. Kau tidak akan terjatuh. Apa kau tidak bisa mempercayai perkataan dari seorang nenek tua sepertiku? Kau tidak mungkin tidak percaya karena kau bahkan mau mengikutiku sampai di sini, bukan?"


"I-itu..." Xueyue tidak bisa membantahnya. Sedikitnya, dia memang memiliki rasa percaya pada nenek itu hanya karena perasaan penasarannya yang terlalu tinggi. "Haㅡah... Aku tidak punya pilihan lagi. Oh Dewa, tolong lindungi aku, tolong lindungi aku, tolong lindungi aku."


Dengan mulut komat kamit terus berdoa, Xueyue melangkahkan kakinya dengan kaki bergetar hebat. Melihat betapa lamanya Xueyue menjatuhkan telapak kakinya ke atas air danau, nenek tua itu semakin geram.


Tepat saat Xueyue tengah menutup matanya dengan bibir masih komat kamit, nenek tua itu dengan sekejap mata bergerak dan berdiri tepat di depan Xueyue. Dengan gemas nenek tua itu menyambar pergelangan tangan gadis di hadapannya, dan detik berikutnya menariknya masuk ke dalam dan menyeberangi danau secepat kilat.


Spontan, Xueyue yang merasakan adanya sentuhan pada kulit tangannya membuka matanya dan terbelalak melihat sosok nenek tua yang sebelumnya sudah berada jauh di tengah danau kini tepat di depannya.


"Astaga! Huh?! Eh?! AAH!!" Xueyue memekik saat tubuhnya tertarik dan terjatuh di dalam danau dengan mata melotot horror.


Tubuh gadis itu hampir saja terjerembab ke dalam air jika saja nenek tua itu tidak menahan berat tubuhnya dengan begitu mudah. "Eh? Aku tidak jatuh?" gumamnya heran, ketika merasakan tubuhnya masih berdiri dan tidak terjatuh di atas air. Dan dia semakin heran ketika tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang lagi-lagi di luar nalarnya terjadi.


"Aku.. Mengambang di air? Dan berjalan di atasnya? Waaahh... Luar biasa."


Cipak.. cipak.. Cak, cak, cak!!


"Ahahaha... Aku berdiri di atas air! Hahaha.. Aku sama seperti orang-orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh itu! Hahaha...!!" pekiknya, kegirangan. Dan terus saja dia menghentak-hentakkan kakinya ke air dengan semangat melompat-lompat penuh tawa bahagia.


Nenek tua itu hanya bisa mendesah, memutar bola matanya bosan melihat tingkah konyol bocah di sampingnya dengan tubuh yang bergoyang seiring gerakan riak air yang berombak. Dia bahkan saat ini berdiri dengan ombak kecil bergelombang mengombang ambingkan tubuhnya karena gerakan Xueyue.

__ADS_1


"Hentikan. Hey, bocah!" peringatnya cukup keras. Namun Xueyue tidak mengindahkan peringatan itu dan bahkan tidak mendengarnya. Dia masih saja asik bermain melompat di atas air dengan girangnya. "BOCAH! BERHENTI 'KU BILANG!!" teriaknya, mulai kehilangan kesabaran.


"Hiie!!" Xueyue berjengit mundur dengan tubuh tersentak kaget. Menatap takut-takut nenek tua itu penuh rasa waspada.


"Haishh...! Hatiku lelah." gumam nenek tua itu menggerutu lirih, dia kembali berjalan setelah merasakan ombak yang di hasilkan oleh gerakan kasar Xueyue kembali normal. "Cepat masuk sebelum hari mulai gelap."


"Oh.. Okay." gumam Xueyue seadanya. Dia masih memperhatikan nenek tua itu dengan sikap waspada.


Keduanya lalu melanjutkan perjalanan mereka memasuki gerbang merah yang berjarak hanya dua meter itu. Ketika Xueyue hendak melangkah masuk, dia di kejutkan dengan sosok nenek tua itu yang tiba-tiba saja menghilang.


"Nek? Kamu di mana?!" serunya dengan nada bergetar menahan perasaan takut dan cemas. Tapi tiba-tiba saja, pergelangan tangannya lagi-lagi di tarik paksa oleh tangan nenek tua itu yang hanya menyembul dari seberang gerbang.


"Eh?!" lagi, Xueyue tertegun. Kali ini dia terkejut dengan adanya suara air terjun yang jatuh begitu deras tepat di hadapannya.


Anehnya, dia tidak bisa melihatnya ketika masih berada di luar gerbang sebelumnya.


"Ini adalah gerbang menuju alam lain dunia luar di dunia ini. Di mana hanya makhluk-makhluk mitos yang pernah kamu dengar itu tinggal." jelas nenek tua itu di sampingnya.


Kali ini Xueyue tidak lagi terlalu terkejut. Dia hanya tidak mengerti kenapa tiba-tiba nenek tua itu mau menjelaskan hal-hal yang seharusnya hanya akan menjadi rahasia pribadi?


Nenek tua itu menatap Xueyue lekat cukup lama, mencoba untuk membaca ekspresi lain yang di perlihatkan oleh gadis itu. "Apa kau mencoba bertanya-tanya kenapa aku memberitahumu tentang hal yang seharusnya hanya aku yang mengetahuinya?"


"Y-ya.. Semacam itu." tukas Xueyue menggaruk pipinya yang sedikit merona karena malu.


"Dan betapa kekanak-kanakannya dirimu."


"Hah? A-apa?! Hey! Nenek, siapapun juga akan bertingkah seperti apa yang aku lakukan jika untuk pertama kalinya melihat hal-hal ajaib semacam itu?!" hardik Xueyue tidak mau di salahkan.


"Hahaha... Kau memang tidak berubah, ya. Xueyue."


"Apa?!" Xueyue tertegun saat tiba-tiba saja dia mendengar suara seorang pria yang begitu dekat dan terdengar sangat familiar di indra pendengarannya. Dia menoleh ke sumber suara, di mana tiba-tiba muncul seekor rusa putih bertubuh besar layaknya kuda dengan tanduk panjang mendekat ke arahnya.


Xueyue melangkah mundur tanpa sadar, dan detik berikutnya, tubuh rusa itu berubah menjadi sosok seorang pria yang entah mengapa dia mengenal sosok itu. Dengan mata menyipit, Xueyue memperhatikan perubahan dari rusa itu menjadi sesosok manusia. Dan ketika rusa itu benar-benar bertransformasi menjadi seorang pria tampan bermata Phoenix, mata Xueyue lagi-lagi harus merasakan sakit karena mendelik berkali-kali hanya karena sebuah perasaan terkejut.


"KAU? ZHU GUANG?!"


.


Ketika An Xi hendak keluar dari area pavilion tempat Shen Xueyue tinggal untuk mencari An Nan, sebuah pengumuman keras dari seorang kasim di luar gerbang pavilion terdengar nyaring, mengumumkan kedatangan dari Permaisuri Yun Xieya ke kediaman tuan putri Xueyue.


"Bagaimana ini, bagaimana ini?" racau An Xi semakin berkeringat dingin karena gelisah.


Tidak begitu lama sebelum akhirnya permaisuri Yun Xieya datang bersama dengan An Nan dan di ikuti oleh tabib Mu Chen yang dia sudah ketahui. Di tambah dua dayang kepercayaan Permaisuri Yun di belakangnya.


"An Xi! Ada apa denganmu? Kenapa kau tampak sangat gelisah dan cemas. Dan..." Permaisuri Yun berseru, menyempitkan matanya memperhatikan dengan seksama penampilan An Xi yang berantakan. Terutama pada mimik wajah An Xi yang sedikit khawatir dan takut. "Kau menangis?"


"Beribu-ribu ampun Yang Mulia Permaisuri!" An Xi menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di atas tanah dengan derai airmata penuh penyesalan. An Nan tahu, apa yang sedang terjadi kali ini. "Hamba... Tidak pantas hidup. Hamba pantas mati! Mohon ampuni hamba!"


Untuk sesaat, Yun Xieya sedikit terkejut dengan sikap An Xi yang memohon ampunannya. Tapi dia tahu, sesuatu pasti sedang terjadi pada diri putrinya saat ini.


"Bangunlah, An Xi. Tenangkan dirimu perlahan, dan coba jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi."


An Nan dengan cepat membantu An Xi untuk kembali menegakkan tubuhnya dengan benar, meskipun pelayan itu masih duduk di atas tanah bersimpuh dengan pandangan menunduk dalam. Sesekali An Xi terisak dengan rasa takut yang menjerat hatinya.


"Pangeran Xue... Hiks, dia tiba-tiba saja menghilang dari kamarnya lagi, Yang Mulia. Hamba takut.. Jika..." An Xi tidak tahan untuk mengatakan apa yang dia pikirkan saat ini, dia menggigit bibirnya kuat-kuat hingga membuatnya berdarah. Namun rasa sakit pada bibirnya tidak seberapa jika di bandingkan dengan perasaan khawatirnya terhadap tuannya yang kembali menghilang.


Yun Xieya memang merasakan kekhawatiran. Tapi entah mengapa, hatinya tidak sekhawatir saat Xueyue tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri selama berhari-hari.


"An Xi. Semua ini bukan salahmu." celetuk permaisuri Yun lirih. An Xi dan An Nan mendongak menatap sekilas raut wajah dari sosok permaisuri mereka yang menyendu sebelum menarik kembali pandangan mereka untuk menunduk. "Semenjak anakku tumbuh dewasa, perhatian dari kami terutama Raja sudah sangat jarang terlihat." imbuhnya.


Permaisuri Yun menoleh ke kiri, di mana di sana terdapat sebuah pohon wisteria yang tumbuh berbunga sangat lebat dengan warna violet perpaduan putih di ujungnya. Di bawah pohon wisteria itu, ada sebuah gazebo. Terdapat sebuah meja batu dengan empat kursi yang juga terbuat dari batu alam sebagai tempat bersantai. Permaisuri Yun berjalan ke arah gazebo di bawah pohon wisteria itu, dan duduk di bawahnya. Sementara An Xi dan tabib Chen mengikutinya, An Nan melangkah ke dalam pavilion.


Sejenak Permaisuri Yun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pavilion tempat tinggal putrinya dengan sorot penuh penyesalan dan rasa bersalah. Lalu dia berkata seolah bermonolog, "Bukankah semenjak dia berusia sepuluh tahun, kami semua sudah jarang menginjakkan kaki ke pavilionnya lagi? Yue'er pasti kesepian, dan hal itulah yang mungkin membuatnya ingin melihat dunia lain di luar istana yang lebih menarik perhatiannya daripada terus berada di dalam istana. Aku memahami keinginannya itu. Terlebih..." Permaisuri Yun menghela nafas berat, memory-nya kembali lagi ke masa di mana putrinya untuk pertama kali memiliki seorang teman kala itu.


Jika saja anak laki-laki itu tidak di tuntut untuk segera kembali ke negeri asalnya, tentu saja Xueyue putrinya tidak akan merasakan hal bernama kesepian selama hampir lebih dari empat tahun terakhir ini. Sayangnya, anak laki-laki itu bukan milik kerajaan mereka. Anak itu hanya di titipkan oleh teman lama sang Raja untuk di didik sebagai mana mestinya, dan akan di kembalikan setelah usia anak itu akhirnya beranjak remaja. Dia sendiri tidak banyak ikut campur sehingga kurang mengenal anak laki-laki dari kerajaan lain tersebut.


"Apa kita harus memanggil anak laki-laki itu kembali, Permaisuri? Agarㅡ"


Permaisuri Yun menggelengkan kepalanya untuk memotong perkataan abdinya. Dia merasa bahwa saran Mu Chen tidak akan pernah mungkin berhasil meskipun Raja sendiri yang meminta. "Anak itu adalah putra tertua dari Raja Song Qingdao. Yang tentu saja dia seorang pangeran yang mungkin akan di nobatkan sebagai seorang putra mahkota dari negeri Shandian."


"Maafkan hamba, telah lancang Permaisuri." ujar Mu Chen membungkuk penuh rasa sesal. permaisuri Yun hanya tersenyum hambar sebagai respon dengan sedikit kekehan menyedihkan.


"Aku bisa saja memohon pada Raja untuk menjodohkan mereka. Karena biar bagaimanapun juga, Xueyue sejatinya adalah seorang perempuan. Tapi sayangnya... Aku tidak bisa melakukannya. Aku takut sesuatu terjadi pada putriku." Permaisuri Yun mentertawakan nasibnya yang sedikit kurang beruntung atas jalan pikirannya sendiri.


"Permaisuri, jangan berkecil hati. Suatu saat nanti, hamba yakin bahwa Tuan putri Xueyue akan menemukan takdirnya yang sebenarnya."


"Takdir? Apa itu takdir?"


Ada semacam rahasia yang sebenarnya Permaisuri Yun sembunyikan selama ini. Mengenai mengapa dia tidak ingin memiliki seorang putri meskipun dia ingin. Tapi dia memilih untuk bungkam. Meski dia sudah berusaha membuat identitas anaknya yang seorang perempuan di sembunyikan, tidak menutup kemungkinan bahwa takdir putrinya yang sungguh memilukan akan benar-benar terjadi suatu saat nanti.


"Permaisuriㅡ" ucapan Mu Chen terputus karena dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan selanjutnya sebagai penghibur lara tuannya. Sedangkan... Dia menyadari bahwa ada kemustahilan pada takdir Xueyue di masa depan.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada takdir yang benar-benar telah menanti dari kelahiran Xueyue selama bertahun-tahun ini. Takdir itu juga bersinambungan dengan takdir yang permaisuri Yun cemaskan.


Permaisuri Yun tidak mengetahui apa yang telah terjadi di dunia luar kerajaan Hou selama ini. Bahwa akan ada badai dan kebahagiaan yang akan datang menjemput nasib putrinya.


Bahwa... Jauh di luar wilayah negara Hou dan negara Shandian yang sudah saling bersatu itu, telah ada beberapa negara yang tidak akan pernah bisa di bayangkan oleh Permaisuri Yun bahkan Xueyue sendiri nantinya atas takdir yang sesungguhnya.


.


"Apa putraku telah sadar dari komanya?" tanya seorang pria paruh baya namun tampan dan berwibawa kepada udara sepi. Tapi tanpa seseorang ketahui, sesungguhnya sesosok dengan busana khas prajurit bayangan berada di suatu tempat sedang melaporkan hasil misinya secara tersembunyi.


Pria yang sedang bertanya kepada prajurit bayangannya itu merupakan orang nomor satu di negera Hou, seorang Raja yang di kenal dengan nama Shen Jinglong. Pria itu memiliki mata seperti Shen Xueyue, dia memiliki poni panjang yang membingkai kedua sisi wajahnya yang membuatnya masih terlihat begitu awet muda walaupun usianya telah menginjak empat puluh tahun ke atas.


Sebagai seorang Raja, tentu Jinglong memiliki jubah kebesaran baginya. Itu sebuah jubah putih panjang menutupi pakaian hanfu hitam berbordir emas mewahnya. Di tutup dengan tali tipis jingga gelap di depan dada.


Jubah kebesaran Shen Jinglong di hiasi dengan motif-motif api merah di tepi bawah melingkar sesuai dengan nama negerinya, dengan huruf kanji dari kata 'Raja Keempat' di bordir secara vertikal di bagian belakang punggung.


Jubah itu adalah jubah yang telah turun temurun ada di setiap generasi. Di mulai dari era Raja generasi pertama sebagai bukti eranya.


"Hamba menjawab pertanyaan Yang Mulia. Pangeran Xue telah sadar dari komanya beberapa hari yang lalu. Saat ini Pangeran Xue hanya berada di kediamannya untuk waktu yang lama, Yang Mulia."


Shen Jinglong menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan seolah melepaskan beban berat yang telah di pikulnya. Kedua alisnya merajut dengan kerutan dalam, raut wajahnya sedikit berkonflik. Namun fokus matanya masih tertuju pada perkamen bambu di atas meja kerjanya.


"Baiklah, kau boleh kembali ke tempatmu." jeda sejenak, "Yingzi Yi." panggil Shen Jinglong pada prajurit bayangannya.


"Hamba Yang Mulia."


"...Terus awasi Pangeran Xue. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang salah dengannya selama ini."


"Segera laksanakan!" jawab Yingzi Yi tegas. Namun dia tidak terburu-buru untuk meninggalkan tempat Rajanya.


"Dan... Panggilkan seorang pendeta Tao ke istana. Aku ingin kediaman pangeran Xue di periksa."


"Perintah Yang Mulia akan segera hamba laksanakan. Apakah ada misi lain yang ingin Yang Mulia berikan kepada hamba lagi, Yang Mulia?"


"Cukup. Kembalilah ke tempatmu."


"Baik. Hamba mohon undur diri." setelah Yingzi Yi membungkuk sebagai tanda rasa hormat, dia menghilang dalam sekejap mata dari tempat persembunyiannya.


Meskipun keberadaannya tak terlihat oleh mata tajam namun teduh milik Shen Jinglong, tetapi Shen Jinglong mengetahui setiap gerak gerik dari prajurit bayangan yang selama ini di latihnya secara rahasia.


Firasat Shen Jinglong buruk ketika mendengar bahwa Xueyue di temukan tidak sadarkan diri dengan tubuh yang sepucat mayat. Bahkan, ada rumor mengatakan jika sebenarnya saat tubuh Xueyue di ketemukan, tubuhnya sudah tidak lagi bernyawa karena suhu tubuhnya sudah dingin karena membeku dan tak lagi hangat.


Dan itu bertahan selama tiga hari sebelum dirinya kembali dari urusan kerajaan yang di lakukan di luar provinsi kerajaan Hou. Hari ini, dia baru saja tiba saat mendengar bahwa pangeran Xue sedang beristirahat.


Sebagai ayah, tentu dia ingin melihat kondisi terbaru anak kesayangannya setelah dirinya mendengar berita putranya yang terluka. Namun, ketika mendengar bahwa putranya membutuhkan sedikit waktu untuk beristirahat, dia memutuskan untuk tidak menemuinya meskipun dia bisa melakukannya dan tidak akan ada yang menahannya.


Mungkin, dia harus menemui putranya besok. Toh sudah ada Permaisurinya yang kini tengah menjaga pangeran Xue. Jika Shen Xueyue terbangun, barulah dia akan datang untuk menemuinya. Namun sebelum itu...


Dia harus membiarkan seorang pendeta Tao datang untuk memberikan berkatnya dan melihat apakah ada sesuatu yang salah dengan bangunnya putranya yang sekarang. Dia takut, jika jiwa putranya akan tertukar dengan jiwa yang lain. Terlebih, dia pernah mendengar istilah meminjam tubuh mayat untuk menghidupkan roh yang tidak memiliki tubuh menggunakan sihir ilmu hitam.


.


Xueyue masih saja tidak berhenti memperhatikan sosok Zhu Guang yang kini tengah duduk di hadapannya dengan penampilan yang sangat berbeda dari yang dia ingat dulu. Dengan tatapan intimidasi dan intens seperti itu, tentu saja membuat Zhu Guang lama-lama merasa risih dan salah tingkah.


"Hey! Bisakah kau hentikan tatapanmu itu? Apa kau tidak lelah menatapku tanpa berkedip?" sindir pria itu dengan nada malas.


"Yaak!! Zhu Guang! Kau sendiri yang membuatku ingin menatapmu seperti itu! Ciih...! Kau benar-benar membuatku kesal sampai mati sekarang." gerutunya menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan membuang muka, terlihat sangat kesal dengan bibir terus menggerutu mengumpati sahabatnya.


Setelah sebelumnya mengejutkan dirinya mengenai wujud asli Zhu Guang, pria itu mengatakan bahwa kematian dirinya sebenarnya sudah di rencanakan oleh pria itu untuk membawa jiwanya kembali ke masa silam.


Hal yang membuat Shen Xueyue semakin kesal adalah, kenapa dia harus mati dengan cara yang sangat mengenaskan? Tubuh yang hancur, isi di dalam perutnya keluar berantakan, dan terus memuntahkan darah yang memiliki rasa asin berkarat. Itu seperti saat dimana seekor tikus yang hendak menyeberang ke jalan raya, namun sialnya tertindas ban mobil dan membuat semua organ dalamnya keluar berceceran dengan darah menggenang.


Coba bayangkan bagaimana menjijikkannya itu saat kau melihatnya sendiri. Apalagi, kau yang mengalaminya langsung sebagai tikus naas tersebut.


"Maafkan aku. Haha.." ujar Zhu Guang dengan ekspresi bersalah namun detik berikutnya berubah dengan ekspresi wajah tanpa dosa. Di tambah di akhir ungkapan maafnya di selipi oleh tawa renyah yang menggelikan tetapi terdengar buruk bagi indra pendengaran Shen Xueyue.


"Ckh!! Permintaan maafmu tidak tulus!" deliknya marah. Dan Zhu Guang terkekeh lirih masih merasa lucu.


Saat perjanjian dengan dewa kematian di buat, DiaㅡZhu Guang tidak ikut andil dalam mengambil keputusan. Tugasnya saat itu hanyalah mengumpulkan pecahan jiwa Xueyue yang mengambang ke udara sebelum jiwa itu benar-benar menghilang.


Dewi Bai Huli telah mengatakan bahwa usia Putri Shen Xueyue di dunia ini akan berakhir saat usianya menginjak enam belas tahun. Berbeda dengan Xueyue yang hidup di era modern dengan usia hidupnya yang bertahan hingga sampai dua puluh lima tahun.


Saat waktunya tiba, jiwa pada tubuh Shen Xueyue di dunia modern akan di tarik kembali untuk memasuki siklus pergantian tubuh di masa silam. Hanya saja, sebagai bayarannya Xueyue di dunia modern tidak akan di hidupkan lagi karena keputusan dari Dewa kematian yang mengatakan bahwa kematian Xueyue di dunia modern akan sangat tragis. Itu sudah tertulis di buku kematian setiap Dewa kematian yang bertugas untuk mencabut nyawa manusia. Hal itulah yang menyebabkan tubuh Xueyue di dunia modern tidak akan lagi bisa di selamatkan meskipun dengan peralatan medis yang canggih sekalipun.


Dewi Bai Huli jelas tidak bisa membantah dan menyetujui kontrak perjanjian tersebut. Dan Zhu Guang yang menjadi kandidat utama untuk mengawasi Shen Xueyue di dunia modern bersama dengan rekannya yang lain, yaitu burung bangau putih yang berleher dan memiliki ujung bulu berwarna hitam dengan kepala merah. Yang Xueyue baru saja ketahui bahwa jelmaan dari burung bangau itu adalah teman baiknya yang lain yang dia ketahui ternyata adalah Lu Guan.


Hari ini benar-benar banyak sekali kejutan yang Shen Xueyue terima setelah dia memilih untuk mengikuti nenek tua yang baru saja dia ketahui namanya adalah nenek Chu Yan. Seorang wanita tua yang menyukai hal-hal tentang boneka kayu.


.


.

__ADS_1


.


To be Continued...


__ADS_2