Love Catastrophe

Love Catastrophe
Bai Lang Kakakmu


__ADS_3

"Jadi kau akan pergi lagi?" Xueyue enggan melepaskan diri dari pelukan Shi Hua setelah mereka kembali ke kerajaan Hou. Tidak hanya dia, Shi Hua bahkan memiliki keinginan membawa kabur Xueyue dan mengajak kekasihnya itu untuk berkelana bersama.


Sayangnya, ini bukan waktu yang tepat untuk membawanya pergi. Dia harus kembali ke hutan kematian bersama Shi Wei. Dengan berat hati, Shi Hua hanya bisa memeluk Xueyue sekali lagi dan menyalurkan semua kasih sayang dan rindunya kepada Xueyue. Ini tidak cukup. Tapi setidaknya, rasa rindunya selama ini sedikit terobati.


"Perguruan Ni Shu sebentar lagi di buka. Aku dan Shi Wei harus bergegas sebelum hutan kematian yang mengelilingi perguruan Ni Shu di buka. Yue'er, berat untuk meninggalkanmu lagi. Tapi pasti aku datang lagi. Sampai waktunya tiba, tolong bersabarlah menungguku."


Tanpa kamu minta, aku akan menunggumu. Batin Xueyue. Dia tidak bisa mengucapkan kalimat itu meskipun dia ingin. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang meminta dirinya untuk menahan diri.


Pada akhirnya, dia hanya mengangguk tanpa daya.


Hati Song Shi Hua seperti di rajam, ketika melihat ekspresi menyedihkan Xueyue di hadapannya. Dia menjilat bibirnya, menatap bibir cemberut Xueyue sebelum tanpa permisi mengecupnya lama. Xueyue terkesiap dengan ciuman tiba-tiba Shi Hua. Namun tubuhnya segera rileks dan mulai menerima ciuman pria itu untuk di hayati. Merasa jika Xueyue menerima ciuman dari bibirnya, Shi Hua mulai sedikit berani ******* bibir Xueyue beberapa kali. Ciuman itu tak berlangsung lama, hanya 30 detik sebelum Shi Hua melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Xueyue dengan enggan.


Pria itu tersenyum, mengusap bekas air saliva yang membasahi sudut bibir Xueyue lembut. Shi Hua memperhatikan dua bola mata Xueyue yang sendu secara bergantian, kemudian memeluknya lagi.


"Yue'er, selama aku tidak ada, jaga dirimu baik-baik. Apa kau mengerti?"


Xueyue mengangguk, berkata aku mengerti dua kali hampir terisak karena air mata.


Dan akhirnya, mereka berpisah lagi. Namun kali ini Xueyue dapat yakin bahwa sebentar lagi, mereka akan di pertemukan kembali cepat atau lambat.


Bai Lang sudah lebih dulu menghilang meninggalkan Xueyue bersama dua pengawal barunya. Dan ketika Xueyue sedang bersama Shi Hua untuk mengucapkan salam perpisahan, Zhu Guang dan Lu Guan berdiri 2 meter agak jauh dari keduanya. Terkadang akan memperhatikan, terkadang akan tutup mata.


Xueyue kembali ke Pavillionnya sambil bersenandung riang. Ketika dirinya berjalan di lorong paviliun kediamannya, An Nan dan An Xi berjalan tergesa-gesa menghampiri Xueyue dengan ekspresi cemas dan sedih.


"Pangeran. Kenapa anda baru kembali?"


Xueyue terkesiap memandang keduanya dengan ekspresi kosong, "Ada apa? Apa ada masalah?"


"Memang tidak ada masalah. Tapi Pangeran, kenapa Anda tidak membawa kami juga?" An Xi melayangkan protes, mulai merajuk.


"Ya. Bukankah Pangeran selalu mengajak kami jika ingin keluar istana?" tukas An Nan menimpali ucapan An Xi. Mendengar keduanya melayangkan protes, Xueyue memutar bola mata malas. Memang benar, pemilik tubuh putri Shen Xueyue sebelumnya selalu mengajak keduanya kemanapun Shen Xueyue pergi, namun sekarang berbeda. Dan dia benar-benar tidak menginginkan seorang pelayan yang terlalu sering mengeluh dan menangis.


"An Nan, An Xi. Aku tahu kalian adalah pelayan setiaku. Pelayan yang di berikan permaisuri untukku. Tapi...." Xueyue menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya secara kasar, dia melanjutkan dengan ekspresi penuh permintaan maaf, "Maafkan aku. Tapi sepertinya, aku harus mengirim kalian kembali kepada ibuku."


Mata An Nan dan An Xi sontak melebar tak percaya ketika tiba-tiba Xueyue mengatakan sesuatu yang mereka tidak pernah duga. Apa mereka baru saja mendengar bahwa mereka akhirnya di buang?


"Tuan putri! Tuan putri! Kami mohon, jangan buang kami. Kami berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi yang bisa membuat Anda tidak suka. Tapi kami mohon, jangan buang kami seperti ini." An Xi berlutut mencium sepatu Xueyue dengan isak tangis yang sudah beranak sungai. Xueyue segera mundur saat An Xi hampir benar-benar mencium sepatunya. An Nan masih shock di tempat, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut tuannya.


Bahkan Zhu Guang dan Lu Guan sedikit terkejut karena keputusan Xueyue yang menurut mereka sedikit sembrono. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa meskipun mereka dekat dengan Xueyue. Semua keputusan ada pada Xueyue dan mereka tidak ingin ikut campur di dalam urusan istana. Di balik keputusan yang Xueyue buat, pasti ada alasan di belakangnya.


Xueyue mendesah, memijat pelipisnya yang mulai merasakan pening menyerang kepalanya dan berdenyut nyeri.


"Berhenti memohon. An Xi, bukan berarti aku tidak puas dengan kinerja kalian di sampingku. Tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan kalian tetap bekerja untukku."


Alasan Xueyue yang ingin kedua pelayannya itu kembali ke sisi ibunya adalah karena dia tidak ingin apa yang menjadi tujuannya terusik. An Nan dan An Xi bisa membuat rencananya perlahan hancur. Mereka selalu diam-diam melapor kepada ibunya, mengatakan apa yang selalu menjadi keinginannya, dan esoknya, permaisuri akan tiba.


Tujuan Xueyue kali ini adalah untuk mencari tahu jati dirinya yang sebenarnya tentang roh siluman rubah berekor sembilan. Dan hanya Zhu Guang dan Lu Guan yang dia butuhkan saat ini. Dengan kedua pelayan yang selalu berdebat perihal sikap tak sopan Zhu Guang dan Lu Guan di sisinya, itu sudah menandakan bahwa An Nan dan An Xi harus kembali ke sisi ibunya.


Identitas aslinya, dia hanya ingin Zhu Guang dan Lu Guan saja yang mengetahui. Selain mereka mungkin hanya beberapa orang-orang tertentu saja yang ia percayai yang suatu saat akan selalu berada di sisinya.


Mungkin... Song Shi Hua?


"Tuan putri..." An Xi terisak masih tidak mau menyerah.

__ADS_1


Xueyue melirik kedua sahabatnya seolah memberikan sinyal secara tersirat, dengan malas Zhu Guang menahan tubuh An Xi dan membiarkan Xueyue berlalu pergi. "Aku akan menemui ibuku. Tolong urus mereka untukku sebentar."


"Okay."


"Xueyue, apa kau yakin dengan keputusanmu?" Lu Guan berseru, menahan langkah Xueyue untuk sesaat.


Untuk beberapa alasan, An Nan dan An Xi yang melihat punggung Xueyue tetap berdiri di tempat, merasa sedikit ada secercah harapan untuk mereka. Namun harapan itu pupus saat Xueyue justru tetap pada keputusannya.


Xueyue mengabaikan jeritan An Xi yang memilukan di telinganya. Dengan langkah lebar, dia terus berjalan tidak mempedulikan seluruh pasang mata yang memperhatikannya.


Putri Shen Jia yang kebetulan saja lewat, saat dia menoleh, dia melebarkan matanya karena terkejut. Saat memperhatikan bahwa itu adalah Xueyue, Shen Jia mengernyit dalam, tenggelam hanyut ke dalam pemikirannya.


"Itu... Pangeran Xue? Tapi kenapa dengan..." kata-katanya tersendat. Dia mengepalkan tangannya berpikir keras, "Kenapa tiba-tiba pangeran Xue bersikap seperti seorang putri?" gumamnya mulai penasaran.


Tidak jauh dari Shen Jia, Pangeran Shen Shiya dan pangeran Shen Chengyi yang baru saja selesai berlatih pedang juga melihat Xueyue. Keduanya sama-sama penasaran dengan apa yang ingin di lakukan oleh Xueyue kali ini.


Shen Xueyue berjalan menuju ke arah Pavilion milik Permaisuri. Tidak baik jika mereka menyusul dan menghentikan Xueyue. Mungkin, Xueyue memiliki sesuatu yang mendesak sehingga ingin menemui ibunya.


"Ayo, Chengyi."


"Hm. Apa kita tidak akan menghentikannya? Aku dengar Ayah sedang berada di kediaman Permaisuri."


"Tidak perlu." Shen Shiya berkata singkat. Matanya masih tidak berkedip melihat ke arah Xueyue berjalan.


"Oh, baiklah." Shen Chengyi menurut, dan tidak lagi mengejar. Dia melirik sekilas Xueyue dengan pandangan mata rumit.


Shen Jinglong menegur beberapa kalimat pada permaisuri Yun Xieya saat dia berkunjung ke kediaman Permaisuri kesayangannya itu. Pria itu sedikit kecewa dan terluka saat mendengar kebenaran mengenai jati diri Xueyue yang sesungguhnya. Namun, dia tidak bisa menuntut lebih. Ibu Suri telah memperingatkannya sebelum kejadian ini terjadi. Sebelum Yun Xieya melahirkan, Ibu Suri telah mengingatkan untuk tidak terlalu gembira jika bayi Yun Xieya lahir.


Sebelum Shen Jinglong mendatangi permaisuri Yun, pria itu telah mendatangi kediaman Ibu Suri. Meminta pendapat bagaimana menyikapi masalah yang telah terjadi selama hampir tujuh belas tahun ini. Dia tidak mungkin mengungkapkan bahwa sebenarnya pangeran Xue adalah seorang putri.


"Jadi... Itu sebabnya kamu membuatnya hidup sebagai seorang pangeran?" tukas Shen Jinglong lelah.


Yun Xieya melirik Shen Jinglong ketika dia menundukkan pandangannya, dia berkata, "Aku tidak tahu mengapa, tapi di keluargaku sangat jarang melahirkan seorang putri. Aku adalah satu-satunya. Ketika itu, ayah Raja selalu memperlakukanku seolah aku juga seorang pangeran. Tapi juga memperlakukanku selayaknya berlian yang harus di simpan rapat-rapat. Rakyat tahu bahwa keluarga kerajaan melahirkan seorang putri. Tapi raja menyembunyikannya dan tidak membiarkan orang-orang tahu siapa diriku. Sebenarnya, kau sendiri tahu aib yang ku lakukan di masa lalu, bukan? Karena hal itu jugalah yang membuatku tidak ingin memiliki anak perempuan. Tapi aku bisa apa? Mungkin itu hukuman untukku."


Shen Jinglong kurang lebihnya mengerti sepenuhnya. Meskipun Yun Xieya memiliki masa lalu yang kelam, aneh baginya percaya bahwa ibu suri menganggapnya sebagai wanita suci pilihan untuk di jadikan sebagai seorang permaisuri. Bukan berarti dia tidak ingin Yun Xieya menjadi permaisurinya. Dia sendiri bahkan yang meminta pada ibu suri untuk menjadikan Yun Xieya sebagai permaisurinya. Karena pada dasarnya, orang yang tergila-gila adalah dirinya sendiri. Jatuh cinta pada Yun Xieya yang tidak pernah mencintainya pada awal pertemuan mereka.


"Ibu Suri mengatakan bahwa Yue'er di takdirkan menikah dengan seorang pria yang sangat berpengaruh di benua ini. Menurut Yang Mulia, siapa pria itu?" Yun Xieya tidak ingin terlarut kembali dalam kisah masa lalunya, sehingga dia dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan ke masalah putrinya. Mengingat perkataan ibu suri, dia tidak bisa tidak penasaran.


Otak Shen Jinglong bahkan buntu memikirkan siapa sosok pria yang akan meminang putrinya suatu hari nanti. Pria itu menggeleng dengan alis merajut erat, lalu mendesah frustasi. Yun Xieya tahu, suaminya juga tidak memiliki pendapat mengenai masa depan Xueyue yang dari awal saja putrinya sudah bertindak sebagai seorang pangeran.


"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri. Hamba sudah datang." sosok pria dengan jubah hitam dan tudung yang menutupi kepala hingga setengah wajahnya tiba-tiba saja muncul, berjongkok dengan sikap hormat.


"Kau kembali?" Yun Xieya menoleh ke arah seorang pria yang tengah bersujud di hadapannya dengan pandangan penuh kerinduan. Di sisi lain, Shen Jinglong juga menyambut pria yang baru saja datang dengan ekspresi datar namun tidak memperlihatkan adanya emosi lain yang negatif.


"Ibu." panggil pria itu lirih. Melirik sekilas sosok ibunya sebelum menarik kembali tatapannya dalam.


Yun Xieya berjalan perlahan mendekati pria yang memanggilnya ibu itu, dan dengan isak tangis yang telah tertahan, Yun Xieya menangis sambil merengkuh tubuh putranya ke dalam pelukannya.


Terisak, Yun Xieya berkata dengan pilu, "Ah, putraku. Akhirnya kau mau menemui ibumu kembali."


BANG!!


Xueyue tiba di saat yang tidak tepat. Dia membuka tutup mulutnya tidak percaya dengan mata terbuka lebar terkesiap. Menyaksikan sosok ibunya Yun Xieya tiba-tiba memeluk seorang pria yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya akan menjadi sosok saudaranya yang lain.

__ADS_1


Shen Jinglong dan Yun Xieya sontak terkejut dan membeku di tempat kala mereka melihat Xueyue sedang berdiri tidak jauh dari dirinya berada. Tidak lama kemudian, dua pelayan wanita menyusul di belakang Shen Xueyue, tubuh mereka gemetar karena takut. Mereka tidak berani menghadap tuannya, apalagi ada sang Raja yang berada di kediaman Permaisuri. Sudah pasti hukuman mati menanti mereka.


"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri, mohon maafkan hamba yang tidak bisa menahan pangeran Xue untuk sementara waktu menunggu di pintu masuk sebelumnya. Hambaㅡ" Shen Jinglong mengangkat tangannya membungkam mulut pelayan itu untuk tidak lagi berbicara.


"Kalian bisa kembali." titah Shen Jinglong tanpa mengalihkan matanya dari sosok Xueyue. Namun pandangannya tidak menyiratkan akan adanya kemarahan.


Shen Xueyue mengepalkan tangannya, mengumpulkan seluruh emosinya dan menekannya. Dia masih menatap ibunya yang memeluk seorang pria di hadapan ayahnya mulai melonggar. Tidak! Dia tidak berfikir bahwa ini adalah kasus yang sederhana. Dia juga tidak berfikir bahwa mungkin saja ibunya telah ketahuan berselingkuh di belakang ayahnya.


Ekspresinya saat ini sulit untuk di baca. Entah itu marah, kesal, kecewa, terkejut, Yun Xieya dan Shen Jinglong tidak bisa memprediksinya. Sosok pria yang kini berada di antara mereka, hanya Shen Jinglong dan Yun Xieya saja yang tahu tentang identitasnya. Putra mahkota dan pangeran yang lain bahkan tidak mengetahuinya.


"Yue'er iㅡ"


"Aaaa.... Maafkan aku karena datang di waktu yang tidak tepat." seru Xueyue canggung dengan bahasa yang biasa dia gunakan, dia menggaruk pelipisnya dengan gerakan kikuk, dan bola matanya bergerak linglung, "Baiklah, aku akan pergi dan kembali lagi nanti. Kalian bisa melanjutkannya. Haha... Sekali lagi, maafkan aku ayah, ibu." Xueyue mengumpat dengan mulut komat kamit dan wajah memerah karena malu.


Ketika Xueyue hendak berbalik meninggalkan kediaman permaisuri Yun dan berharap segera kabur dari suasana canggung di antara mereka, suara dingin Shen Jinglong yang tajam menggelegar menahan kakinya untuk tetap bertahan di tempat.


Sontak tubuh Xueyue membeku menahan nafas. Namun, dia tidak merasakan perasaan tertekan dan takut saat Shen Jinglong menegurnya.


Xueyue berbalik dengan gerakan lambat. Dia tersenyum kaku menatap Shen Jinglong yang menatapnya datar.


"Ya, Ayah?"


Gadis itu belum menyadari sosok pria yang sebelumnya di peluk oleh Yun Xieya. Shen Xueyue hanya melihat sepintas punggung kokoh milik pria itu dan tidak berfikir lebih karena pria itu mengenakan jubah bertudung yang juga menutupi kepalanya. Namun Xueyue sedikit merasa penasaran saat helai rambut putih keperakan milik pria itu melambai dengan bebas karena hembusan angin.


"Yue'er. Apa yang kau fikirkan tentang mereka?" Shen Jinglong bertanya dengan suara tegas dan menunjuk permaisurinya dengan lirikan mata tanpa ekspresi. Xueyue melihat ibunya yang secara perlahan telah melepaskan pelukannya dari pria yang tidak dia ketahui.


Gadis itu tidak bisa menahan kernyitan penasaran karena pria itu tidak juga berbalik untuk melihatnya. Ah! Lupakan, dia rasa pria itu tidak berani melakukannya karena di sini sedang ada ayahnya—Shen Jinglong yang seorang Raja.


"Em.. Aku..." Xueyue masih menatap lekat punggung kokoh pria itu dengan tatapan rumit, "tidak tahu. Itu adalah privasi Ibu dan Ayah. Jika Ayah saja bersikap seolah tidak terjadi apapun di antara mereka, itu berarti dia bukan orang yang ingin berbuat buruk. Selama dia tidak membahayakan kalian, aku tidak peduli siapa dia."


Shen Jinglong diam-diam menghela nafas lega dengan hembusan nafas yang sepelan mungkin. Sekilas dia menatap hangat permaisuri Yun yang sepertinya juga merasakan apa yang dia rasakan.


Yun Xieya tersenyum ke arah Xueyue . Seolah wanita itu mengatakan 'syukurlah' atas sikap Xueyue yang sesuai harapannya. "Yue'er, dia...."


Sejenak Yun Xieya mengalihkan pandangannya pada pria itu yang sontak mengangguk lirih dengan satu kedipan mata memberikan sinyal. Permaisuri Yun tersenyum menanggapi, lalu beralih menatap Xueyue kembali.


"Dia adalah kakakmu yang lain."


Kejutan datang menyambar dirinya, Xueyue melebarkan matanya berteriak, "Apa?!"


Xueyue membuka tutup bibirnya melirik ibunya lalu pria yang ternyata benar-benar adalah saudaranya yang lain. Dia masih tidak ingin mempercayainya.


"Bai Lang. Kau tentu ingin mengenal adikmu juga, bukan?"


Jantung Shen Xueyue serasa di rajam oleh cambuk berduri saat mendengar nama yang tidak asing di telinganya dari bibir Yun Xieya. Ketika itu, pria yang memiliki penampilan sangat misterius itu berbalik sambil membuka tudung kepalanya.


Tepat saat tudung itu terbuka menghadap ke arah Xueyue, gadis itu tidak bisa tidak tercengang. Menatap pria yang benar-benar sangat dia kenal.


"Kauㅡ" Shen Xueyue megap-megap.


"Ini aku." Bai Lang tersenyum tampan kepada Xueyue yang shock di tempat menunjuk dirinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2