
Sementara itu, seorang guru dengan jubah hitam muncul di pintu gerbang selatan. Tepatnya di area pendaftaran yang di jaga oleh Lin Jin dan Du Xie berada, pria itu mendekati Du Xie dan bertanya tentang murid baru yang memiliki elemen angin.
Mendengar tujuan guru itu, Lin Jin tersenyum penuh penyesalan, "Guru Chao, maaf. Murid itu tiba-tiba pergi mengejar Tetua Bai."
"Tetua Bai Jierui dari puncak keabadian?" beo guru yang di sebut guru Chao itu terkejut.
"Ya. Aku kurang begitu tahu kemana mereka pergi." Lin Jin menambahkan.
Setelah memastikan, guru Chao keluar dengan perasaan rumit. Jika murid itu mengejar Bai Jierui, sudah pasti bahwa Bai Jierui yang akan mengambil alih murid itu. Jika dia mencoba untuk melawan tetua Bai, dialah yang akan kalah. Lebih baik jika dia membiarkan Bai Jierui untuk membimbing murid baru berelemen angin itu. Sepertinya, hal itu jauh lebih baik karena Bai Jierui adalah guru yang paling tepat bagi pengguna elemen angin.
"Hey, pak tua mesum. Sepertinya kau tidak menganggapku seorang laki-laki seperti yang lainnya." Bai Jierui melirik Xueyue dengan tatapan menilai.
Pria tua itu mendengus, "Hmph! Dari wajah dan bentuk tubuhmu saja sudah membuktikan bahwa kau adalah seorang perempuan. Tubuh laki-laki yang seperti apa yang terlihat di dirimu itu?! Pendek!"
Mendengarnya, Xueyue tidak bisa menahan diri dari perasaan bahagia. Dari sekian banyak orang di dunia ini, hanya Bai Jierui saja yang dapat melihatnya sebagai seorang perempuan saat pertama kali bertemu tanpa bertanya padanya.
"Gerah. Mau ke pemandian air panas? Kau mengejarku terus menerus hingga membuat tubuhku lelah."
Keduanya lantas menuju ke pemandian air panas di ujung desa. Saat di dalam pemandian air panas, Bai Jierui memesan ruang pribadi yang memiliki sekat pemisah. Saat mereka masuk ke dalam air panas, mereka saling nemunggungi daei balik sekat yang buram. Mereka hanya bisa mendengar suara dan tidak bisa melihat satu sama lain.
Shi Hua terkejut saat melihat Shen Xueyue hendak menanggalkan pakaiannya satu demi satu dengan sangat berani tanpa adanya kewaspadaan. Entah mengapa hatinya terbakar oleh kecemburuan. Dia seolah di kalahkan oleh pria tua itu meskipun mereka di pisahkan oleh sekat. Terlebih, saat Xueyue bermanja dengan dua pengawalnya.
Eh? Ngomong-ngomong, kemana dua pengawal Xueyue itu?
Saat hari mulai gelap, Lu Guan dan Zhu Guang mendapatkan kunci kamar mereka setelah sebelumnya petugas Lin Jin dan Du Xie selesai menyeleksi satu persatu calon murid yang ingin mendaftar. Begitu juga dengan milik Xueyue. Untuk sementara, mereka akan berada di kamar yang sama. Setelah sekolah di mulai, kamar mereka akan berubah kembali. Jika tidak ada perubahan, maka mereka bisa tetap tenang.
Mereka bahkan tidak bisa melindungi Xueyue secara terus menerus karena mereka akan menjadi seorang murid dengan tingkatan yang sama.
"Guan Guan! Guang Guang!"
Xueyue datang setelah puas bermain dengan Bai Jierui.
Melihat kedatangan Xueyue, keduanya segera menghampiri Xueyue dengan ekspresi kesal. Terutama Zhu Guang. Song Shi Hua sudah kembali ke basecamp-nya di mana Shi Wei berada setelah memastikan Xueyue kembali dengan kondisi aman dan baik-baik saja. Dia tidak bisa menemui Xueyue untuk saat ini.
"Kau kemana saja?" bukannya menjawab, Xueyue justru nyengir lebar dengan menjulurkan lidahnya merasa bersalah. Zhu Guang memutar mata malas, mendesah putus asa. Terkadang Xueyue benar-benar masih seperti anak kecil.
"Ayo." Lu Guan tidak mau membahas masalah yang tidak penting. Selama Xueyue kembali dengan selamat, itu sudah lebih dari cukup.
"Mau keliling kota dulu, atau langsung ke penginapan?" Zhu Guang bertanya memberi opsi.
"Ayo kita keliling terlebih dulu. Sayang sekali kalau kita tidak melihat suasana kota ini terlebih dulu." pekik Xueyue antusias.
"Ide bagus." Lu Guan menimpali.
Lin Jin dan Du Xie telah memberikan mereka satu hari bebas untuk menikmati hari ini berkeliling dan mengenal kota Yuncheng sebelumnya. Jadi mereka tentu saja tidak akan menyia-nyiakannya.
Meskipun Xueyue telah mengikuti Bai Jierui seharian penuh untuk mengejar dan menangkap pria tua itu, dia tidak fokus pada kota Yuncheng untuk di nikmati. Hanya pemandian air panas yang mereka kunjungi di pinggir kota setelah penat.
Kota Yuncheng begitu luas dan indah. Malam hari tidak sama dengan di siang hari. Saat malam hari, lentera lentera berjajaran di depan pintu setiap stand-stand toko. Banyak sekali toko yang berjajaran di kota tersebut, bahkan pemukiman penduduk tidak ada yang terlihat.
Namun, sepertinya ini adalah pusat kota.
Saat mereka menyadarinya, ternyata pusat kota sebenarnya di penuhi dengan banyaknya toko-toko dan kedai teh juga makanan saja yang tersebar di sepanjang jalan. Shen Xueyue mencoba untuk bertanya, dan jawaban dari orang setempat adalah bahwa pemukiman setiap penduduk berada di ujung-ujung toko. Itu melingkar mengelilingi toko-toko di pusat kota.
Pusat kota itu seperti pasar kota, pusatnya untuk berbelanja dan berwisata. Di mana kita dapat menemukan barang-barang yang kita inginkan di sini dan beberapa permainan menarik.
Namun meski demikian, tidak ada yang tidak tinggal di tengah-tengah kota dengan membangun toko dua lantai. Di mana lantai dua akan menjadi rumah mereka dan lantai dasar akan menjadi toko mereka.
Xueyue sangat gembira menikmati malam yang indah di kota Yuncheng. Terlebih, banyak kedai-kedai makanan yang benar-benar menggiurkan lidahnya hingga air liurnya menetes. Sampai...
Mata Xueyue membola menahan nafas. Dia menepuk bahu keduanya lalu menunjuk sebuah kedai kecil di ujung jalan, "Coba lihat! Kedai Malatang. Itu Malatang! Ayo ke sana!"
"Xueyue... Bisakah kamu tidak terlalu sering makan malatang?!" meskipun Zhu Guang mengingatkan, siapa Xueyue? Jika dia sudah melihat kedai malatang, dia sudah pasti tidak peduli lagi dengan teman ataupun saudara.
__ADS_1
Zhu Guang melirik Lu Guan malas, lalu mereka terkekeh geli sebelum Lu Guan menggendikkan dagunya memberi isyarat untuk mengikuti.
"Ayo."
Shen Xueyue masuk dan segera duduk di salah satu kursi yang kosong. Beruntung itu cukup sepi. Dengan semangat berapi-api, Shen Xueyue berseru, "Paman, sup malatang spesial!"
"Baiklah! Sup malatang special satu!" seorang pria tua dengan baju pelayan mengulang pesanan Xueyue.
"Tambah dua sup malatang porsi biasa tidak pedas, paman." Zhu Guang menambahkan saat dia masuk ke dalam kedai kecil mendekati Xueyue. Senyum gadis itu semakin merekah saat melihat Zhu Guang kini duduk di sampingnya dan Lu Guan di sisi lain dirinya.
"Baik..." kata pelayan itu kembali bersuara.
Selang beberapa menit kemudian, tiga sup malatang satu dengan kuah merah dan kuah biasa jatuh tepat di meja depan mereka, itu masih mengepul. "Silahkan....!!"
"Woaaahhh..." Xueyue mengambil sumpit secara asal tanpa mengalihkan pandangan matanya yang berbinar itu dari mangkuk sup malatang kuah pedas di hadapannya, membelah sumpitnya menjadi dua, dia lalu merapatkan telapak tangannya hendak berdoa, "Selamat makan....!" Xueyue berseru sebelum akhirnya dia fokus pada sup malatangnya.
Zhu Guang dan Lu Guan hanya tersenyum dan hati mereka menjadi tenang lantas mengikuti.
"Kalian tahu? Pria tua tadi ternyata adalah seorang guru besar yang sangat terkenal di kota ini. Bahkan tidak hanya di kota ini saja, di benua five core elements semuanya mengenal dirinya." Shen Xueyue menjeda sejenak hanya untuk menyeruput mie ramennya kembali, "Bukan hanya itu, dia juga memiliki wajah dan sifat yang sama seperti kakekku, Shen Jierui! Namanya juga sama, hanya nama keluarga kami yang berbeda. Aisshh..."
Lu Guan dan Zhu Guang menghentikan makan mereka dan melirik Shen Xueyue dengan aneh. Apa Shen Xueyue baru menyadarinya, atau... Pikir mereka sama.
"Aku memaksanya untuk menerimaku menjadi muridnya. Dia sangat keren..."
"Hah? Keren?" Xueyue bahkan skeptis tentang itu. Lu Guan memilih untuk menjadi pendengar saja dan diam di tempat. Baiklah, definisi keren bagi mereka dan menurut Xueyue adalah dua hal yang sangat berbeda. Keren bagi Xueyue adalah sesuatu yang sebenarnya terlihat sangat unik dan memalukan.
"Terimakasih!"
Xueyue dan dua lainnya keluar dari kedai setelah puas makan beberapa mangkuk. Melihat bahwa mood Xueyue sangat bagus, Zhu Guang tersenyum. "Lalu, kemana lagi kita?"
"Pulang saja. Aku lelah." Xueyue meregangkan tubuhnya dan berucap lelah sambil menguap.
Setelah merasa cukup untuk hari ini, ketiganya berjalan menuju ke gedung paling tinggi sumber tujuan mereka. Yaitu Asrama penginapan akademi Yunshu yang berada di ujung kota Yuncheng. Di mana di sana ada sebuah bangunan megah. Di tengah-tengah gedung asrama terdapat anak tangga yang jumlahnya mungkin ratusan ribu menuju ke arah gunung di belakang bangunan asrama.
Shen Xueyue tidak ingin berfikir lebih dan segera berlalu menuju gedung bertingkat tinggi tidak jauh dari gedung merah di sebelahnya.
"Ah! Maaf, maaf. Aku tidak sengaja. Maafkan aku."
Itu seorang pria. Dengan surai merah gelap, memiliki pandangan tajam dengan garis hitam pekat di bawah mata yang sangat tebal. Jika orang asing yang belum mengenal pria itu, sudah pasti mereka akan ketakutan karena ekspresi dan wajahnya yang dingin seperti iblis. Namun tidak dengan Shen Xueyue.
"Eh? Wahh... Kau memiliki wajah yang sangat tampan." Xueyue memekik terpesona. Pria itu tertegun, menatap Xueyue dengan sorot mata aneh. Tetapi dalam hati dia berfikir heran. Bagaimana gadis di hadapannya itu tidak takut setelah melihat wajahnya? Kenapa orang di depannya ini tidak lari terbirit-birit setelah melihatnya seperti orang lain?
Shen Xueyue terkekeh lalu berkata, "Aku Xueyue. Dan kau?"
Pria yang tidak lain adalah Gu Zhou itu menilai penampilan Shen Xueyue dari atas ke bawah dengan sorot mata aneh, tiba-tiba dia melengos dan berlalu. Mengabaikan Shen Xueyue dan pergi begitu saja, "Dasar orang aneh." gumamnya.
"Hey! Siapa yang kau maksud dengan orang aneh?!" Xueyue berseru tidak terima. "Aisshh.. Dia membuatku kesal." gerutunya saat Gu Zhou tetap saja mengabaikannya.
Gedung asrama laki-laki dan perempuan di gabung menjadi satu. Hanya saja, perbedaannya adalah, asrama laki-laki berada di sisi kanan dan asrama perempuan di sisi kiri.
Gedung itu memiliki tinggi sembilan lantai. Di empat lantai paling atas, itu adalah asrama para murid. Dan itu cukup untuk menampung orang lebih dari sepuluh ribu. Shen Xueyue mendapatkan asrama laki-laki bersama dengan Lu Guan dan Zhu Guang. Tidak tanggung-tanggung, bahkan asrama mereka hampir mirip dengan asrama di dunia modern. Ada kamar mandi di setiap kamarnya sehingga mereka tidak perlu mandi di tempat yang sama.
Ketika Xueyue dan Zhu Guang hendak masuk ke dalam kamar mereka, tepat di sebelahnya, keluar Song Shi Chen bersama dengan dua saudaranya Song Yunlin dan Song Mo Feng. Xueyue terkesiap saat melihat pria itu. Terlebih Song Shi Chen. Dia bahkan kini mendelik horror ke arah Song Shi Chen yang menatapnya datar lantas menarik diri ke belakang Zhu Guang. Bermaksud untuk bersembunyi dari pandangan Shi Chen.
"Hai kakak cantik!" Song Yunlin melambai dengan senyum ramah ke arah Xueyue.
"Haha.. Ha-hallo.." Xueyue membalas dengan tawa kikuk.
Song Yunlin terkekeh, "Kakak Xueyue, kan?" Xueyue hanya mengangguk lemah. "Aku Song Yunlin."
"Oh. Salam kenal, Song Yunlin. Senang bertemu denganmu."
"Ayo." Shi Chen hanya melengos dan menarik lengan Song Yunlin untuk pergi tanpa mau berbasa-basi.
__ADS_1
"Song Mo Feng. Itu namaku."
"Oh, okay." Xueyue cengo saat melihat Song Mo Feng menyeringai ke arahnya namun tidak berniat jahat. Tiba-tiba pria itu memutar kepalanya dan mengerling ke arah Xueyue jahil sebelum dia mengikuti Song Shi Chen dengan tawa kecilnya.
"Shi Chen? Dia Song Shi Chen, kan?" Xueyue menoleh menatap satu persatu temannya yang masih menatap Song Shi Chen dan rombongannya pergi, "Hey! Benarkan? Guan Guan, Guang Guang!"
"Hm.." Zhu Guang hanya bergumam malas, dia berbalik dan menarik pergelangan tangan Xueyue untuk masuk ke dalam kamar.
Tanpa Xueyue dan yang lainnya sadari, Song Shi Chen melirik ke arah kamar mereka berada ketika dia berbelok di tikungan lorong dengan sorot mata misterius.
.
"Song Shi Hua, Song Shi Wei, Chu Anning. Kalian dari wilayah yang sama. Aku ingin kalian mengawasi murid baru yang berada di garda selatan. Aku rasa itu akan lebih baik jika kalianlah yang menjadi pengawasnya." seorang pria tua berjanggut putih memberikan perintah kepada ketiga orang yang baru saja di sebutkan.
Song Shi Hua dan Song Shi Wei adalah siswa terpilih yang sudah lama masuk ke dalam akademi Yunshu sebelum waktunya. Keduanya menjadi siswa paling berbakat yang secara langsung akademi Yunshu pilih karena visi misi hidup mereka berbeda dari orang-orang sebayanya.
Dan tidak butuh waktu lama sebelum keduanya menguasai ilmu pengendalian elemen api mereka dan teknik tingkat tinggi lainnya. Meskipun mereka berasal dari negeri Shandian, elemen api identik dengan orang-orang di negara itu. Hanya adiknya Song Shi Chen sajalah yang berhasil memiliki elemen petir dari negerinya ketika baru lahir.
Walaupun demikian, si jenius Shi Hua dan Shi Wei tidak pernah terkalahkan bahkan Shi Chen sendiri tidak mampu mengejar mereka.
Chu Anning, adalah seorang putri dari seorang pejabat kerajaan Shandian kota Shancheng. Dia sudah tahu desas desus tentang asal usul Song Shi Hua. Dan dia adalah salah satu dari sekian banyaknya wanita di negeri Shandian yang berhasil menarik perhatian Shi Hua sejak mereka kecil. Hal itu membuat Chu Anning menaruh perasaan terhadap pria itu secara diam-diam. Dan secara diam-diam pula selalu memperhatikan pria itu tumbuh.
Ini adalah kesempatan baginya untuk bisa semakin dekat dengan Song Shi Hua. Dengan dirinya menjalankan misi bersama Shi Hua, dia akan selalu bersama dengan pria itu kemanapun, dan di manapun mereka pergi bertugas.
Prajurit ini seperti prajurit bayangan. Mereka adalah murid elite khusus yang bekerja di balik bayangan untuk memantau keamanan di kota Yuncheng khususnya menjaga akademi Yunshu sekte Baishan. Karena mereka masih sangat muda, tugas mereka hanyalah mengawasi akademi Yunshu sebagai anggota baru murid elite.
Mendengar bahwa dirinya akan di tugaskan untuk mengawasi para murid baru dari garda selatan, sudah pasti Shen Xueyue juga termasuk.
"Wu Yang, Rong Xiaxi, kalian berada di garda tenggara."
"Baik, laksanakan."
"Yang lain mengikuti." perintah pria tua itu. Segera setelah perintah di jatuhkan, semua murid elite khusus itu menghilang satu persatu meninggalkan tempat pria itu berada.
Bai Jierui sedang menikmati sakenya di atas pohon, saat sebuah bayangan hitam berjongkok tidak jauh darinya. Pria itu hanya melirik sekilas sambil menyeruput sake di cawannya.
"Kau akhirnya mau datang menemuiku? Cucu tak tau diri."
"Kakek." pria itu tidak lain adalah Bai Lang. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam penuh penyesalan. Melihat itu, Bai Jierui mendengus sebelum menghela nafas lelah lantas mendongak menatap langit gelap dengan kerlip kerlip bintang.
"Apa kau akhirnya mau menganggapku sebagai kakekmu?! Hmph! Dasar bocah tengik!" cibirnya. Melihat Bai Lang masih tidak menanggapi, itu semakin membuat pria tua tersebut semakin kesal, "Sudahlah, kau akhirnya mau datang dan menemuiku itu sudah cukup."
"Maaf kek. Aku...."
"Shen Xueyue... Apa dia adalah anak dari Yun Xieya? Saat aku melihat dirinya untuk pertama kali, aku bisa melihat darah roh rubahnya telah hidup kembali. Dan seseorang sedang mencoba melindunginya di balik bayang-bayang."
Bai Lang tidak lagi terkejut. Hal mengenai Xueyue yang memiliki darah roh siluman rubah telah dia dengar dari mulut kakeknya. Terlebih saat tahu bahwa ibunya Yun Xieya yang juga ternyata merupakan salah satu keturunan dari seorang roh siluman rubah.
"Dia adalah anak yang telah di ramalkan oleh ahli astrologi. Aku akan menjaganya sebagai muridku untuk ke depannya. Kau bisa tenang."
"Kakek.." Bai Lang menatap Jierui tidak percaya. Tapi dia tahu, bahwa Bai Jierui bukanlah orang yang tidak bisa di dekati.
"Terus awasi adikmu selama tidak bersamaku. Meskipun dia di Akademi Yunshu, keselamatannya belum tentu bisa terjamin."
"Baik kek. Aku akan selalu menjaganya." puas dengan tekad keras Bai Lang, Bai Jierui mendengus dengan penuh cibiran. Pria itu lantas melompati pepohonan dan menghilang dari hadapan Bai Lang dalam sekejap mata.
Di sebuah hutan tidak jauh dari kota Yuncheng, seorang pria dengan pakaian compang camping berjalan dengan langkah tertatih ke arah pusat kota. Dia adalah orang yang dengan ceroboh merobek array secara paksa saat insiden kota Yuncheng akan sepenuhnya menghilang. Dan karena sebab itu, tubuhnya yang semula memang sudah penuh dengan luka-luka, kini terluka semakin parah saat jatuh ke dalam penghalang kota Yuncheng. Tidak hanya dia merobeknya, dia juga masih sempat berfikir memperbaikinya.
Tetapi dia tidak perduli dengan kondisinya yang babak belur itu. Dia hanya ingin mengikuti aroma wangi yang terus mengganggu indra penciumannya. Dia tidak perduli dengan cedera parahnya. Hingga dia lagi-lagi terkapar tidak sadarkan diri dengan nafas semakin terputus-putus di atas rumput ilalang setinggi setengah meter di pinggir sungai, menyebabkan setengah tubuhnya tenggelam.
.
.
__ADS_1
.
To be Continued....