
Pagi tiba, Shen Xueyue memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan pergi untuk berjalan-jalan di sekitar area istana. Dia ingin menghafalkan semua sudut-sudut istana dan beberapa bangunan penting di istana. Misal, di mana letak perpustakaan istana, di mana lokasi paviliun tempat tinggal ibunya berada dan menghafalkan beberapa tempat-tempat yang perlu dia ketahui lainnya.
Dia berfikir kembali tentang dirinya yang selama ini menyamar sebagai seorang pangeran. Sebenarnya, dia memikirkannya. Mengapa permaisuri harus mempermasalahkan dirinya yang terlahir sebagai seorang perempuan? Raja bahkan tidak masalah. Raja menginginkannya. Seharusnya dengan kelahirannya yang sebagai seorang perempuan, bukankah permaisuri akan sangat di sayangi oleh Raja? Karena pada akhirnya permaisuri mampu memenuhi keinginan Raja yang ingin permaisuri tercintanya melahirkan seorang bayi perempuan.
Xueyue menggeleng frustasi. Dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benaknya.
Saat dia berkeliling istana, An Xi dan An Nan setia menemaninya di belakang punggungnya. Menjelaskan kembali setiap bangunan dan tempat yang mereka lalui dengan sangat detail. Keduanya juga akan memberitahu dirinya jika menemui seseorang di sepanjang jalan. Jika itu seorang pangeran, maka An Xi atau An Nan akan berbisik memberitahunya secara menyeluruh. Dan jika itu seorang pejabat, mereka juga akan menjelaskan semua tentang orang itu. Baik dari mana asal pejabat itu, bagaimana keluarganya, dan apa jabatannya.
Sampai di mana dia tiba-tiba bertemu dengan seorang pejabat yang buta sebelah mata kanannya. Pejabat itu sedikit pincang mungkin, karena memiliki sebilah alat bantu kayu untuk berjalan. Di lihat darimana pun, Xueyue merasa bahwa orang ini sangat berbahaya.
"Dia Tuan Wen Zhu. Kami hanya tahu bahwa dia seorang pejabat yang lajang hingga sampai detik ini. Namun dia memiliki seorang putra angkat yang di beri nama Wen Tong."
DEG!
Nama Wen Tong membuat jantung Xueyue tanpa sadar berdetak tidak karuan. Itu semacam perasaan trauma yang jika mendengar sesuatu yang bersangkutan dengan traumanya membuatnya gemetar. Xueyue tidak terkecuali. Mungkin, perasaan itu timbul karena pemilik tubuhnya masih memiliki trauma yang teramat dalam pada Wen Tong sampai detik ini bahkan setelah kematiannya.
Xueyue menyeringai penuh misteri saat menatap Wen Zhu yang tidak jauh dari dirinya berjalan. Sepertinya Wen Zhu menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh permusuhan, sehingga pria tua itu sontak refleks menoleh ke arah Xueyue yang saat ini sudah memutuskan untuk beranjak pergi tanpa melihatnya lagi.
Karena perasaan itu tiba-tiba menghilang, Wen Zhu memutuskan untuk mengenyahkan perasaan anehnya dan kembali berjalan. Dan saat itulah, Xueyue kembali berhenti dan menatap punggung Wen Zhu penuh permusuhan.
"Ayo jalan lagi." kata Xueyue, tanpa melepaskan kontak matanya dari punggung Wen Zhu yang sudah menghilang sepenuhnya.
"Apa anda tahu, bahwa sebenarnya anda telah di jodohkan dengan putra angkat pejabat Wen?"
"Apa?!" Xueyue shock di tempatnya seketika. Menghentikan langkah kakinya sampai membuat An Xi dan An Nan menabrak bahunya.
"Ah! Pangeran!" pekik An Xi, sedikit terkejut.
"Kau bilang apa, tadi?" beo nya, bertanya lagi.
An Nan dan An Xi saling melirik satu sama lain, sebelum An Nan memutuskan untuk bersuara. "Beberapa bulan yang lalu, sebelum anda mengalami kecelakaan yang tidak terduga baru-baru ini, Raja mengijinkan tuan Wen Zhu untuk berbicara empat mata. Tuan Wen mengajukan proposalnya melamar anda untuk Tuan muda Wen Tong, putra satu-satunya itu. Awalnya Raja sangat marah. Bagaimana bisa ada seorang pria menyukai seorang pria. Lalu Tuan Wen menjelaskan alasannya. Dan Raja meskipun agaknya enggan, namun dia akhirnya menyetujuinya."
"Atas dasar apa Ayahku memutuskan pernikahanku?! Dan.. Pernikahan sesama jenis?! Sangat menjijikkan!" Xueyue meledak marah dengan ekspresi jijik yang kentara. Hal itu sontak membuat An Nan dan An Xi ketakutan. Pasalnya, Xueyue berani menyalahkan keputusan Raja mereka di tempat umum. Di mana jika seseorang lewat dan jika saja mendengar perkataan main-main Xueyue, mereka bisa dengan mudah di laporkan dan mendapat hukuman yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka bayangkan. Xueyue juga tak terkecuali.
"Pangeran! Tolong kendalikan kata-kata anda." kata An Xi berbisik, dengan suara gemetar ketakutan.
Xueyue tentu saja tidak akan takut. Dia tidak salah. Tapi demi An Xi dan An Nan saat ini, dia mau tidak mau harus bisa mengendalikan kata-katanya yang terkadang suka meledak-ledak.
Xueyue mendengus, menghentakkan kakinya dan memutuskan untuk pergi menjauh dari kedua pelayannya.
Tidak jauh darinya, Shen Qingtian berjalan dengan kipas lipat di tangannya. Melihat adiknya yang sudah bisa berjalan-jalan di lingkungan istana, wajahnya tampak sumringah. Shen Qingtian mempercepat langkahnya lalu menyapa tepat ketika mereka berhadapan.
Xueyue berjengit mundur karena terkejut. Namun, melihat siapa yang datang, bola mata Xueyue berbinar cerah.
"Kak Qingtian!!" mendengar panggilan tak biasa Xueyue, Qingtian menautkan alisnya bingung. Karena biasanya Xueyue akan selalu memanggilnya putra mahkota dengan sikap sopan dan pendiam alih-alih memanggilnya kakak dan namanya. Tapi saat Xueyue tiba-tiba saja memeluknya, dan mengatakan betapa sangat rindunya adiknya pada dirinya, perasaan aneh itu lenyap, di gantikan oleh senyum hangatnya.
"Bagaimana kondisimu? Apa merasa lebih baik?" bisiknya, lembut.
"En!" Xueyue mengangguk antusias, "Aku selalu sangat baik!"
__ADS_1
"Itu bagus." Qingtian menepuk lembut ubun-ubun kepala adiknya dengan tatapan penuh kasih sayang. Teringat kembali bahwa sebenarnya Xueyue melupakan segalanya tentang identitasnya, tapi tidak dengan dia dan ibunya. Mungkin juga ayah Rajanya. Seolah, Xueyue hanyalah seseorang dari rakyat biasa. Sehingga Xueyue hanya memiliki kenangan yang tidak biasa.
Tapi selama Xueyue mengingatnya, itu sudah cukup baginya. Hanya saja, mengapa Xueyue tidak mengingat kakak keduanya Shen Wei? Mengapa Xueyue hanya tahu dirinya adalah saudaranya? Lupakan saja. Mungkin ada alasan mengapa Xueyue tidak mengingat Shen Wei. Toh, keduanya selama ini memang tidak pernah dekat.
"Mau berjalan-jalan bersama?"
Mendengar Qingtian mengajukan diri ingin menemaninya, bola mata Xueyue sontak berbinar dan dia dengan senang hati menerimanya. Dia memekik, "Ide bagus!"
Lantas keduanya berjalan beriringan dengan Xueyue yang menggamit manja lengan tangan Qingtian.
"An Nan, An Xi, kalian kembalilah. Aku yang akan bertanggungjawab mengantar Xueyue nanti."
"Baik Putra Mahkota. Kami undur diri." ujar An Nan, mundur.
"En." Qingtian mengangguk sekilas, sebelum kembali menatap Xueyue lembut dan Xueyue membalasnya tak kalah lembutnya.
"Kau ingin ke mana? Biar kakak temani kamu jalan-jalan." Xueyue berpura-pura memasang pose berfikir keras, bergumam panjang sebelum dia menghela nafas putus asa sambil menggeleng dengan raut wajah frustasi.
"Tak ada ide." katanya, lesu.
Qingtian terkekeh lembut, "Kita jalan dulu."
Xueyue ingat sesuatu tentang beberapa fragmen ingatan 'Xueyue' di dunia ini yang hilang. Bahwa orang yang paling dekat dengannya di istana ini selain ibunya adalah kakak laki-lakinya sekaligus putra mahkota bernama Qingtian. Itu jelas sama dengan dirinya dulu di dunia modern.
Jadi meskipun di dunia ini dirinya baru dekat dengan Qingtian, namun dia cukup terbantu dengan beberapa ingatan tentang keduanya yang masih ada dan membuat dirinya tidak lagi canggung.
Qingtian ingin bertanya tentang bagaimana kecelakaan itu terjadi. Tapi setelah melihat Xueyue, rasanya dia ragu. Apakah benar dia harus bertanya atau lebih baik tidak menanyakannya.
Jika tidak ada masalah, Xueyue tidak mungkin berniat untuk bunuh diri, bukan?
Dia harus menyelidiki masalah ini secepatnya dan menemukan titik temu masalah Xueyue yang membuatnya sampai depresi. Jangan sampai dia mengetahui masalah apa yang telah terjadi pada adiknya yang sebenarnya. Jika tidak, siapapun orangnya, dia pasti akan membunuhnya sekalipun itu keluarganya sendiri.
"Kakak Tian, maafkan aku. Aku mungkin akan sedikit melupakan beberapa hal tentangmu. Aku...benar-benar lupa." kata Xueyue, berpura-pura lupa dan mencoba keras untuk berfikir.
Qingtian tersenyum lembut, dia berkata, "Apa yang membuatmu bersedih? Itu hanya kecelakaan. Suatu hari nanti kamu akan mengingatnya kembali."
Xueyue segera menimpali, "Tapi jika aku tidak pernah mengingatnya kembali..."
Qingtian tidak putus asa, dan kembali bersuara, "Itu sudah cukup bagiku karena kamu masih mengingat siapa diriku bagimu. Jika kamu melupakan sebagian ingatan tentang kita di masa lalu, tidak masalah. Ada kalanya, sesuatu yang harus di lupakan, lupakan saja. Jangan di ungkit kembali." dia mengambil jeda untuk mengambil nafas,"hikmahnya, rasa sakit yang mungkin pernah kau rasakan di masa lalu, kini tidak lagi kau rasakan. Jadi, bahagialah. Jangan terlalu terbebani oleh kenangan di masa lalu."
"Oh...." Xueyue juga setuju dengan ucapan Qingtian. Dia juga tidak ingin tahu meskipun dia sedikit penasaran. Tapi ingatan itu juga dia perlukan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan di istana di masa depan nanti.
Ketika mereka asik berbincang-bincang, tidak terasa mereka sudah keluar dari istana dan menuju ke pasar raya. Xueyue agak takut jika dia sampai di kenali di jalan oleh beberapa sebagian orang yang pernah bermain bersamanya. Meskipun di masa lalu dia sering melumuri wajahnya dengan sedikit debu dan lumpur demi untuk menutupi siapa dirinya yang sebenarnya, tapi jika mata mereka sangat jeli, maka dia tetap akan ketahuan.
Xueyue ingat tentang perjodohannya dengan Wen Tong. Dia memekik tiba-tiba dan membuat Qingtian menoleh menatapnya bingung penuh tanda tanya.
"Kak, apakah Wen Tong putra pejabat Wen adalah seorang tangan potong? Mengapa dia mengajukan proposal pernikahan kepada Raja untuk menikahiku?"
Qingtian mengernyit mendengar pertanyaan tak terduga Xueyue. Melihat bagaimana reaksi Qingtian, sepertinya Qingtian tidak mengetahui perihal perjodohan ini. Tapi bagaimana bisa An Nan dan An Xi mengetahui berita itu? Sedangkan Shen Qingtian tidak mengetahuinya? Jika An Nan dan An Xi mengetahuinya, bukankah mereka harus mendengarnya setelah berita itu tersebar terlebih dahulu?
__ADS_1
Ini aneh.
"Siapa yang mengatakan bahwa kau di jodohkan dengan seorang pria? Kamu seorang laki-laki. Bagaimana bisa menikah dengan laki-laki juga? Apa ayah Raja sudah gila? Jangan konyol."
"Tapi berita itu?" Xueyue masih keukeuh ingin mengetahui kebenarannya.
"Kalaupun Wen Tong benar-benar ingin menikahimu, maka sebelum pernikahan itu terjadi aku akan membunuhnya terlebih dahulu!" Qingtian tiba-tiba berlalu meninggalkan Xueyue penuh dengan amarah. Jika kakaknya saja tidak mengetahui rahasia itu, lalu An Nan dan An Xi....
Ah! Entahlah. Batin Xueyue, merasa sedikit pusing.
Sangat cepat bagi Qingtian melupakan masalah yang baru saja dia terima. Namun meskipun begitu, dia masih sangat jelas mengingat semuanya. Dia hanya ingin melupakannya untuk sementara waktu sampai dirinya berhasil membuat adiknya bersenang-senang selama satu hari ini.
Dia tidak ingin jika waktunya bersama Xueyue harus berakhir hanya karena emosinya yang meletup-letup.
Selama di pasar raya, Qingtian membiarkan Xueyue berkeliling dan berlarian ke sana kemari sembari memperhatikannya. Senyum tersungging di bibirnya, wajahnya yang tampan menarik perhatian banyak sekali wanita lajang di sepanjang jalan. Namun melihat bagaimana setelan yang di kenakan oleh Qingtian, mereka tidak berani mendekatinya secara sembrono.
Meskipun Qingtian hanya tahu bahwa adiknya adalah seorang laki-laki, tapi rasa sayangnya tidak pernah membuatnya berfikir untuk memperlakukan Xueyue dengan sangat keras. Entah mengapa, dia tidak ingin memperlakukan Xueyue sama dengan bagaimana dia memperlakukan Shen Wei. Padahal, keduanya sama-sama adik laki-lakinya.
Ataukah mungkin... Hal inilah yang membuat Shen Wei tidak pernah dekat dengan Xueyue? Dia tidak tahu. Anehnya, setiap kali dia ingin memperlakukan Shen Wei sama dengan Xueyue, itu hanya terlihat canggung dan memalukan.
"Kakak! Lihatlah. Waaahhh...." Xueyue jarang berjalan-jalan ke pasar raya di dunia modern. Terlebih, meskipun dia pernah berjalan-jalan ke pasar raya, namun suasananya sangat berbeda dengan suasana di dunia ini. Entah mengapa suasana di dunia ini membuatnya bahagia dan tampak baru. Sehingga meskipun barang atau makanan yang di jajakan di dunia ini tampak biasa saja, itu terlihat tampak luar biasa baginya.
Qingtian berjalan mendekat untuk melihat apa yang di lihat oleh adiknya. Mata Xueyue yang berbinar cerah membuatnya tersenyum hangat. Dia tidak tahu apa yang menarik bagi adiknya tentang batu giok yang di jual di hadapan adiknya itu. Baginya itu terlihat biasa saja dan itu murah. Tapi adiknya begitu sangat menikmati sehingga hal itu membuatnya mau tidak mau juga tertarik.
"Yang mana yang kamu suka, ambil."
"Benarkah?" Qingtian mengangguk dan berkata 'En'. "Maka aku tidak akan sungkan." Xueyue mengambil beberapa gantungan batu giok yang menarik di matanya. Membiarkan Qingtian membayarnya dan dia pergi ke kios selanjutnya.
Xueyue menikmati kuliner pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Baginya, menikmati makanan ringan meskipun itu mampu membuatnya kenyang tidak bisa memuaskan dahaganya. Makan sebanyak apapun itu, Xueyue akan selalu mencicipi hidangan lain dan tidak merasa kekenyangan. Qingtian sedikit heran. Sejak kapan adiknya menjadi seorang pecinta makanan? Dia hanya takut jika suatu hari nanti adiknya akan mengalami peningkatan berat badan.
"Xueyue, cukup. Jangan terlalu banyak. Bagaimana jika tubuhmu berubah gemuk?"
Xueyue terkikik, "Aku tidak akan bisa gemuk!" katanya berseru riang.
.
Malam tiba, Qingtian yang lembut berubah menjadi Qingtian yang bengis. Di belakangnya, ada empat orang pengawal yang selalu bersamanya. Qingtian memandang seseorang di hadapannya dengan sorot mata merendahkan.
"Apa yang membuatmu berfikir bahwa Raja mau menerima proposal lamaranmu? Apa otakmu sudah gila? Hah?!" Qingtian menatap bengis Wen Tong yang sudah babak belur di hajarnya.
Awalnya, Wen Tong tidak tahu siapa Qingtian yang tiba-tiba saja datang dan menghajarnya. Tapi dia tidak menyangka bahwa yang datang menemuinya adalah putra mahkota sendiri. Dia tahu dia salah karena telah menyukai adik bungsunya Pangeran Shen Xue. Ya. Pangeran Shen Xue. Semua orang mengenal Shen Xueyue dengan nama Shen Xue sebagai seorang pangeran. Hanya keluarga kerajaan saja yang dapat menyebut Xueyue dengan nama lengkapnya. Sedangkan rakyat biasa mengenalnya dengan nama Shen Xue. Itulah mengapa Wen Zhu, Wen Tong, dan beberapa pejabat biasa mengenalnya sebagai Shen Xue. Dan ketika Xueyue memperkenalkan diri sebagai Xueyue ketika menyamar sebagai rakyat biasa, mereka tidak curiga.
"Aku mencintainya! Apa salahnya?!"
Qingtian meradang, matanya menyempit dengan aura berbahaya. Menekan dagu Wen Tong, Qingtian memberikan peringatan secara tersirat. Dan hal itu membuat Wen Tong bergidik ngeri tanpa sadar.
"Kamu tidak di ijinkan menyukai salah satu dari keluarga kerajaanku, rakyat jelata. Bangun! Kau hanya bermimpi. Jika kau masih berharap bahwa kau bisa menikahinya, aku sendiri yang akan membuatmu dan keluargamu mati mengenaskan."
"Ugh!" Wen Tong melenguh ketika Qingtian mendorongnya sangat keras ke dinding sebelum dia benar-benar pergi. Empat pengawal Qingtian masih mengawasi gerak gerik Wen Tong. Setelah benar-benar yakin bahwa Wen Tong tidak akan berani melawan, mereka menghilang menyusul hilangnya Qingtian.
__ADS_1
"PERSETAN!" Wen Tong mengumpat penuh amarah, sebelum dia batuk darah dengan hebat akibat luka dalamnya yang menjadi semakin parah.