Love Catastrophe

Love Catastrophe
Pelukan Hangat Yang Hilang


__ADS_3

"Yang Mulia Raja Tiba!"


Mendengar pengumuman kedatangan suaminya ke kediaman putrinya, Yun Xieya beranjak dari kursi dengan tubuh agak limbung. Segera Mu chen membantu menyangga tubuh Yun Xieya sementara permaisuri Yun Xieya itu menoleh ke arah pintu masuk pavilion. Wanita itu melihat sosok Shen Jinglong yang datang bersama seorang kasim kepercayaannya dan jenderal Ren Ji di sisi kanannya.


Merasakan jika seseorang tengah sedang memperhatikannya, Shen Jinglong memutar kepalanya ke arah di mana pohon wisteria tumbuh. Di sana dia bisa melihat sosok permaisuri kesayangannya yang berdiri dengan senyum tipis tersungging di bibirnya yang sedikit terlihat pucat bersama tabib Mu Chen.


Melihat bagaimana kondisi Permaisurinya yang sedikit memprihatinkan, hati Shen Jinglong jatuh menjerit merasakan sakit. Dengan langkah tegas dan dada membusung penuh wibawa, dia mendekati permaisuri Yun.


"Permaisuri memberi hormat kepada Yang Mulia." Yun Xieya membungkuk dalam memberi hormat atas kedatangan sang Raja. Di ikuti oleh Mu Chen dan juga pelayan yang lain.


Di sisi lain, An Xi mulai berkeringat dingin dengan wajah pucat pasi ketika menundukkan pandangannya dari sang Raja. Dia sangat gelisah ketika melihat kedatangan Raja ke kediaman tuannya. Meskipun demikian, gadis itu sebaik mungkin berusaha keras mencoba untuk menyembunyikan perasaan takut yang mungkin saja terlihat kentara.


Jenderal Ren Ji adalah satu-satunya orang yang menyadari keanehan dari sikap An Xi yang terlihat tampak tidak tenang. Pria itu menautkan alisnya dengan kernyitan dalam sebelum menarik kembali pandangannya dari sosok An Xi.


Sedangkan Yun Xieya dan tabib Mu Chen masih terlihat begitu santai dan sangat tenang. Ekspresi keduanya masih datar, seolah berita hilangnya Shen Xueyue yang mereka dengar beberapa waktu lalu tidak pernah terjadi. An Nan memiliki sikap tangguh seperti seorang kesatria yang tidak gentar ketika mendapatkan masalah yang serius. Dia sama dengan sikap Mu Chen yang tampak tenang dan acuh tak acuh seperti sikap seorang prajurit.


"Hentikan Permaisuri, kau tidak perlu memberi hormat kepada suamimu seperti ini. Lihatlah, bagaimana wajahmu terlihat begitu sangat pucat." tutur sang Raja, membantu Permaisurinya menegakkan kembali tubuhnya sembari memeluk bahu Yun Xieya lembut. Sang Raja menoleh untuk menatap Mu Chen lekat dan tajam. Meskipun pria itu tidak mengatakan sesuatu yang menyalahkan ketidakmampuannya, Mu Chen menyadari hal itu secara tersirat hanya dari sorot mata tak puas Shen Jinglong.


"Tabib Mu? Kau tentu lebih tahu mengenai kondisi Permaisuriku sendiri, bukan?" sindir Shen Jinglong, mencibir secara halus. Mu Chen berojigi sekilas sebelum menjawab.


"Hamba mengetahui, Yang Mulia. Hamba akan terus memperhatikannya." tuturnya, dengan ekspresi wajah yang masih tampak tenang.


"Apa aku harus memintamu untuk kembali ke negeri asalmu?"


Tubuh Mu Chen tanpa sadar membeku ketika titah yang tidak pernah dia ingin dengar jatuh dari bibir sang Raja. Tubuhnya tiba-tiba saja jatuh berlutut, Mu Chen memekik penuh ampunan, "Hamba salah Yang Mulia. Mohon Yang Mulia memberi hamba belas kasihnya."


Shen Jinglong menghela nafas berat. Mendengar helaan nafas dari sang Raja, tubuh seluruh pelayan dan para kasim yang berada di sekitarnya bergetar dan mulai merasakan punggung mereka berkeringat dingin, lutut mereka seolah melembut seperti tak bertulang kehilangan kekuatan untuk berpijak.


"Lain kali aku tidak ingin melihat kondisi Permaisuriku seperti ini lagi."


"Hamba mengerti." Yun Xieya menatap tabib kepercayaannya sendu. Ini kesalahannya, bukan salah Mu Chen. Melihat ketidakberdayaan Mu Chen menghadapi amarah suaminya, Yun Xieya segera menengahi dengan menggamit lembut lengan Shen Jinglong.


Dia sedikit tersenyum tipis, lantas berkata, "Yang Mulia, hamba tidak apa. Ini bukan salah tabib Mu Chen karena hamba sendiri yang memang selalu banyak berfikir akhir-akhir ini." kedua alis Shen Jinglong sontak merajut. Bibirnya mencebik kesal, Yun Xieya menelan ludah kering merasa sedikit gugup karena terintimidasi walau tidak secara langsung.


"Tapi tetap saja dia bersalah, Permaisuri." tukas sang Raja, nadanya menyiratkan kekhawatiran pada istrinya. Bahkan tatapannya untuk Yun Xieya terlihat sangat lembut sedikit membosankan.


Wanita itu tersenyum hangat merasakan hatinya tersentuh, "Yang Mulia? Bukankah anda datang ke pavilion ini untuk bertemu dengan putra anda?" Yun Xieya tahu, pengalihan topiknya terlalu cepat sehingga dirinya sendiri agak menyesal telah mengatakannya. Namun jika dia tidak melakukannya, maka obrolan omong kosong tentang kondisi kesehatannya akan terus berlanjut.


Tubuh An Xi dan An Nan sontak saja menegang tanpa sadar, dan mereka menahan nafas karena tertekan. Mengapa Permaisuri mereka harus mengatakannya begitu cepat? Bagaimana jika putri Shen Xueyue bahkan belum juga kembali? Alasan apa yang harus mereka katakan untuk membuat hati sang Raja tenang?


Jenderal Ren Ji melirik tajam keduanya, berhasil menangkap keanehan sikap pada mereka yang tiba-tiba berubah semakin gugup dan gelisah.


"Kau benar. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan untuk pavilion pangeran Xue, Permaisuri." Tukas sang Raja. Dia melirik melalui bahunya pada jenderal Ren Ji. Jenderal Ren Ji mengangguk paham, dia membungkuk singkat hanya untuk mundur beberapa langkah sebelum berbalik pergi. "Aku meminta seorang pendeta Tao untuk melihat kondisi pavilion Pangeran Xue kita. Siapa tahu dia dapat memberikan berkat dan jimat khusus sebagai bentuk perlindungan untuk pangeran Xue kita agar terhindar dari beberapa kesialan dan marabahaya."


Ketika sang Raja menjelaskan niatnya yang datang ke kediaman Xueyue, seorang pria dengan jubah putih kebiruan memasuki pintu masuk pavilion kediaman Shen Xueyue tinggal. Kedatangan pria yang adalah seorang pendeta Tao itu membuat jantung An Xi berdetak semakin kencang penuh kecemasan. Dalam hati dia hanya bisa berdoa kepada dewa semoga sebuah keajaiban datang dan mengembalikan tuannya sesegera mungkin ke dalam kamarnya.


Jenderal Ren Ji tidak bisa melepaskan pandangannya dari An Xi. Tidak tahu apa yang tengah di pikirkan oleh pria itu. Namun yang jelas, itu bukanlah sesuatu yang baik untuk An Xi.


Pendeta Tao itu untuk sesaat mengerem langkah kakinya dengan ekspresi tertegun tidak kentara, ketika melangkahkan kakinya untuk pertama kali ke dalam pelataran halaman pavilion kediaman Shen Xueyue. Pandangannya menjelajah ke seluruh penjuru pavilion. Dari sudut kanan, kiri, belakang, depan, pendeta Tao yang memiliki wajah tampan itu terus merapalkan mantra dari bibirnya yang komat kamit membaca ayat-ayat kitab suci sesuai ajarannya, sementara tangan kirinya memegang sebuah tasbih mutiara hitam. Dia seperti pendeta ajaran Buddha tapi pakaiannya seperti seorang pendeta Tao.


Meskipun Yun Xieya dari tampak luar terlihat sangat tenang, namun di dalam hatinya cemas dengan detak jantung tak beraturan. Kedua tangannya saling meremas kuat untuk mengusir kekhawatirannya dari dalam lengan bajunya. Sehingga meskipun dia gugup, tapi orang-orang di sekitarnya tidak akan pernah tahu.


"Pavilion ini..." pendeta Tao itu tiba-tiba bergumam, dengan sorot mata berkilat menatap bangunan pavilion.


"Apakah ada sesuatu yang salah?" tanya Sang Raja yang memiliki pendengaran yang cukup baik. Pendeta Tao itu memutar tubuhnya menghadap Shen Jinglong. Dia berojigi kepada Shen Jinglong sebelum menjawab.


"Hamba, menjawab pertanyaan Yang Mulia." pendeta tao yang di ketahui namanya adalah Qiu Tai itu kembali menatap pavilion dan melambaikan tangannya sebagai bentuk menunjuk suatu benda. "Pavilion ini, hamba merasakan adanya esensi siluman yang cukup padat."


Shen Jinglong menautkan alisnya sedikit terkejut, bola matanya bergerak spontan untuk melirik secara diam-diam bangunan pavilion tempat tinggal putranya. Dia bergumam menyebut 'siluman' dengan ekspresi wajah datar.


"Namun, hamba merasa jika energi yang di hasilkan oleh esensi siluman ini sebenarnya tidak mengandung energi negatif. Atau bisa di katakan bahwa esensi siluman itu tidak membahayakan penghuni pavilion ini, Yang Mulia. Bahkan mungkin lebih tepatnya itu melindunginya."


"Tapi... Putraku baru saja mengalami musibah beberapa hari yang lalu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia sempat mati suri sebelum bangun kembali. Apakah esensi siluman itu tidak bermaksud membahayakan putraku? Bukankah itu jelas ada kaitannya?" sanggah Shen Jinglong dingin. Dia tidak ingin esensi apapun yang berbahaya dari siluman itu mencelakai putranya meskipun siluman itu tidak bermaksud demikian.


"Dari sudut kacamata hamba, esensi siluman ini belum lama tinggal. Mungkin... Baru sekitar dua tiga hari ini esensi siluman ada. Jafi besar kemungkinan bahwa ketika pangeran Xue mengalami musibah, itu bukan di sebabkan oleh esensi ini." Untuk sesaat Qiu Tai terdiam, mencubit dagunya dengan pandangan menunduk, berfikir. "Bolehkah hamba bertemu dengan Pangeran Xue secara langsung, Yang Mulia?"


"Tidak masalah. Mari ikut saya." Shen Jinglong mempersilahkan Qiu Tai untuk mengikutinya.


Jantung Yun Xieya sontak seolah di cabut secara paksa dan tiba-tiba itu berhenti berdetak. Di tambah An Xi yang sudah tidak sanggup lagi berdiri dengan tegap karena lututnya berubah menjadi lentur bak jelly kehilangan kekuatannya, ketakutan. Jika saja dia tidak di ingatkan untuk terus menguatkan pendiriannya, dia mungkin saat ini telah menangis dan memohon ampun pada Shen Jinglong.


Raja dan abdi-abdi setianya berjalan untuk memasuki pavilion kediaman pangeran Xue. Setiap langkah yang Permaisuri Yun dan pelayannya ambil, terasa seperti seribu beton menghujani, membuat jantung Yun Xieya dan pelayan-pelayannya yang mengetahui masalah menghilangnya Pangeran Xue menjadi beban yang memiliki berat berton-ton di pundak mereka, hal itu membuat langkah Yun Xieya dan pelayannya semakin enggan. Ah! Mengapa juga dia harus secepat ini mengangkat topik tentang putrinya?


Ren Ji jelas menyadari keanehan pada gelagat tidak biasa mereka. Namun dia hanya bisa diam dan terus mengekor di belakang Rajanya karena dia tidak ingin mengekspos sikap aneh Permaisuri dari Rajanya.


Tepat ketika Shen Jinglong hendak membuka pintu kamar Shen Xueyue, semua orang juga tampak berdebar-debar dan tegang. Namun tiba-tiba saja...

__ADS_1


BRUUGGHH!!


"Aiiyyooooooo........ Uuhh..." suara khas dari seseorang yang terjatuh karena terbentur cukup keras terdengar nyaring dari dalam kamar Shen Xueyue. Dan seseorang yang menjerit penuh kesakitan juga menyusul suara gedebug dari dalam pavilion.


Sorot mata Shen Jinglong tampak tertekan dan khawatir saat suara itu tertangkap oleh indra pendengarannya. Siapa lagi prmilik suara itu kalau bukan milik putra bungsunya. Seketika dengan kasar Shen Jinglong bergegas secara kasar mendobrak pintu kamar Shen Xueyue tidak sabar.


Sementara itu An Xi dan An Nan diam-diam saling melirik satu sama lain tampak shock di tempat dan bertanya-tanya, berbicara melalui sorot mata mereka dengan berbagai macam pertanyaan.


"Ah Xue! Putraku!"


Di sana, dengan jarak sepuluh hingga lima belas meter, tubuh Shen Xueyue dengan tidak etisnya terjerembab dari atas tempat tidur dengan posisi yang salah. Di mana salah satu kakinya terlilit pada selimut tidur, dan kepalanya yang sudah menyentuh lantai dengan tubuh telentang. Gadis itu hanya mengenakan setelan dalaman putih panjang milik seorang pria seperti baju khusus untuk tidur. Xueyue datang seolah dia baru saja bangun dari tidurnya, namun saat dia berusaha untuk turun, tiba-tiba kakinya tersangkut. Xueyue mengusak beberapa kali kepalanya yang terbentur cukup keras itu sembari berusaha untuk bangkit. Dalam hati mengumpat pada nenek tua itu yang tiba-tiba saja mengirimnya kembali dengan cara yang salah.


"Astaga! Pangeran Xue!" An Xi dan An Nan dengan sigap berlari untuk mendekati tuannya, namun tiba-tiba gerakannya terhenti ketika sang Rajalah yang justru membantu Xueyue untuk bangkit kembali.


Melihat itu, An Xi dan An Nan meremas ujung gaunnya gelisah. Tatapannya ketakutan dan cemas pada sosok tuannya. An Xi menelan ludah kering dengan susah payah, mata mereka mulai berkaca-kaca.


Entah bagaimana cara tuannya itu kembali, namun melihat bagaimana saat ini keadaan tuannya yang sangat menyedihkan membuat jantungnya berdenyut sakit dan hatinya terasa tersayat nyeri.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa terjatuh sedemikian rupa?" seru Shen Jinglong dengan nada cemas. Mu Chen datang dan sudah sigap di sisi lain samping Xueyue saat Shen Jinglong menolong Xueyue. Dengan gerakan cepat, dia mengambil peralatan medisnya yang masih sangat kuno dan mulai mengecek kondisi tubuh Xueyue.


Tidak jauh dari mereka, Qiu Tai menyempitkan matanya menatap sosok Xueyue penuh kewaspadaan. Tetapi tiba-tiba saja, entah mengapa untuk sesaat saja, jantungnya berdegub ketika melihat sosok Xueyue yang begitu sangat cantik. Tapi... Pangeran Xue jelas seorang laki-laki, mengapa dia bisa memiliki wajah cantik seorang perempuan?


Tapi bukan karena dia jatuh cinta, melainkan karena wajahnya yang tidak begitu asing. Wajah Xueyue mirip seperti siluman Rubah yang pernah dia temui dua ratus tahun yang lalu. Xueyue terlalu cantik dengan garis mata merah kejinggaan yang identik dengan siluman rubah. Tapi... Itu mustahil. Dia bahkan tidak merasakan adanya esensi siluman Rubah yang bersemayam di tubuh Shen Xueyue saat ini yang berputar di inti tubuh gadis tersebut. Itu benar-benar bersih dan di dalam kamar ini, Qiu Tai sama sekali tidak merasakan adanya esensi siluman seperti saat dirinya untuk pertama kalinya masuk ke dalam pavilion.


Aneh! Pikirnya. Apa siluman ini benar-benar hanya ingin melindungi pangeran Xue dan tidak membahayakannya? Tapi melihat kecerobohan yang di lakukan oleh pangeran Xue saat ini, Qiu Tai sedikit ragu. Apakah itu hanya karena sifat ceroboh yang pangeran miliki, ataukah adanya energi jahat yang membayangi hidup pangeran sehingga menjadikan kehidupannya penuh dengan kesialan? Qiu Tai terus membaca mantra suci dengan sorot mata yang mengunci sosok Xueyue.


Jika Xueyue sendiri adalah siluman itu, maka Shen Xueyue pasti akan merasakan rasa sakit yang teramat sangat menyerang pada kepalanya. Jika tidak, itu benar-benar membuatnya sedikit berkonflik.


Namun bagaimana caranya melihat Xueyue kesakitan karena mantra yang dia bacakan itu, di saat kepalanya baru saja membentur tanah dengan cukup keras. Dia tidak bisa mencari tahu penyebab kesakitan itu jika ada dua rasa sakit dalam satu waktu.


Shen Xueyue melirik sekilas pendeta Tao itu, matanya menyempit sesaat penuh kewaspadaan sebelum dia menarik kembali pandangannya. Tanpa mereka sadari, dua makhluk berukuran kecil yang sedang bersembunyi di atas kepala mereka memperhatikan gerak gerik pendeta Tao itu dengan seringaian mencemooh.


Itu Rusa dan burung derek bermahkota merah yang berubah menjadi ukuran sangat kecil layaknya laba-laba di atas langit-langit atap rumah.


"Konyol."


"Percuma saja." gumam keduanya bergantian.


Meskipun menurut Rusa dan burung derek bermahkota merah yang tidak lain merupakan sosok jelmaan Zhu Guang dan Lu Guan itu menilai kekuatan pendeta Tao lebih tinggi dari mereka, namun dengan kekuatan mereka dan gabungan esensi kristal milik Dewi Bai Huli yang di hasilkan dari giok merah yang tersemat di hiasan kalung yang di kenakan Xueyue saat ini, membuat Qiu Tai tidak mampu melihat keanehan pada diri Xueyue saat ini.


Ada dinding pemisah yang berlapis-lapis melindungi seluruh tubuh Xueyue tanpa meninggalkan seujung kuku.


Shen Jinglong melirik dua pelayan Shen Xueyue yang sudah berkeringat dingin. Xueyue menyadari kemana arah tatapan tajam mematikan dari Shen Jinglong itu tertuju. Dengan senyum kikuk, Xueyue berdehem sekilas meminta perhatian dari Shen Jinglong.


Tapi tiba-tiba dia berhenti ketika dia baru saja menyadari bahwa, penampilan raja kerajaan Hou ini benar-benar sangat mirip dengan ayahnya di dunia modern. Mendadak suasana hatinya agak berubah melankolis.


"A-ayah.. Ini bukan kesalahan mereka berdua." tukas Xueyue untuk kedua pelayannya.


Shen Jinglong menghela nafas kesal ingin membantah, namun segera Xueyue mendahului Shen Jinglong. "Sebenarnya An Xi dan An Nan tidak tahu kalau Aku ada di kamar."


"Apa maksudmu?" celetuk Shen Jinglong tertegun dengan pernyataan Xueyue.


"Jadi... Saat aku meminta An Xi untuk menyiapkan beberapa pakaian untukku, dan An Nan yang aku minta untuk membeli beberapa pakaian baru, saat itu, aku sedang mengambil sesuatu di taman belakang pavilion. An Xi tidak tahu juga karena aku memintanya untuk menyiapkan air untuk mandi diriku, dan dia bahkan tidak menyadari kalau aku pergi ke sana karena aku tidak meninggalkan pesan untuknya. Jadi... Saat An Xi kembali, Aku belum kembali." jelas Xueyue tanpa perasaan gugup dan nada bicaranya terdengar sangat lancar tanpa adanya kebohongan. Dan memang itulah kenyataan yang sebenarnya.


Namun An Xi menyadari sesuatu yang salah. Dia tentu saja juga mencari ke area belakang pavilion sebelumnya. Bagaimana bisa tuannya... Ah! Dia kembali menutup mulutnya yang terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu tapi segera pelayan itu urungkan. Akan sangat berbahaya jika dia ikut campur masalah di antara tuannya dengan sang Raja.


Shen Xueyue menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan senyum canggung. Dia bahkan menghindari tatapan Shen Jinglong yang menatapnya lekat. Seharusnya dia takut dan tidak akan berani bersikap tidak sopan seperti saat ini di depan seorang Raja. Namun dia adalah seseorang yang berasal dari dunia modern. Di mana hal-hal seformal itu tidak berlaku meskipun dia berbicara dengan kedua orangtuanya.


Beruntung Raja bukanlah orang yang terlalu kolot yang selalu mementingkan kesopanan antara anak dan ayah. Bisa di katakan bahwa Shen Jinglong tidak menginginkan otoriternya menekan seluruh keluarganya untuk selalu bersikap sopan sesuai aturan dalam berhadapan dengannya. Jika tidak, sedikit saja tindakan dan sikap yang tidak sopan di depan seorang Raja seperti sikap Shen Xueyue saat ini, orang itu akan dengan sangat mudah mendapatkan hukuman cambuk yang sangat berat. Atau bahkan hukuman mati.


"Emm.. A-ayah.. B-bolehkah aku berbicara dengan Ayah secara pribadi? Hanya aku dan Ayah saja."


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Shen Jinglong mengamati suasana di ruangan kamar Xueyue sebelum kembali menatap putranya.


Shen Xueyue memperhatikan ibunya permaisuri Yun Xieya yang berdiri di samping ayahnya. Di mana Permaisuri Yun tengah menatapnya dengan sorot mata sendu memberikan isyarat agar tidak bertindak secara gegabah dan impulsive. Tapi Xueyue mengabaikannya, dia berkata, "Ya. Dan ini sangat penting. Apa Ayah keberatan?"


Shen Jinglong tersenyum tipis, dia lalu melambaikan tangannya dalam satu gerakan dan semua pelayan membungkuk memberi hormat, mereka mundur perlahan dengan sikap masih menundukkan pandangan mereka memberi ruang. Yun Xieya merasa berat hati untuk mengangkat kakinya meninggalkan keduanya di dalam ruangan. Dia masih sedikit khawatir, terlebih saat dia mendapatkan laporan dari An Nan mengenai keinginan Xueyue.


Shen Xueyue menyadari kekhawatiran ibunya. Dia tersenyum hangat, menatap Yun Xieya seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Melihat itu, hati Yun Xieya merasa sedikit di tenangkan meski tak sepenuhnya beban berat di pundaknya di turunkan. Walaupun enggan, Yun Xieya mampu meninggalkan kamar Shen Xueyue dengan beban kekhawatiran yang sedikit berkurang.


Sepeninggalnya permaisuri Yun Xieya yang menutup pintu kamar Shen Xueyue, Shen Jinglong kembali menatap lekat Shen Xueyue yang sedikit berbeda dari putra kecilnya yang dulu pendiam. Namun tidak bisa dia pungkiri, meskipun demikian, dia merasakan perasaan bahagia dan kerinduan yang teramat sangat. Seolah dia tidak pernah bertemu dengan putranya untuk waktu yang sangat lama.


Itu hangat dan menenangkan hatinya saat dia melihat sosok putranya yang tersenyum sangat cantik hari ini. Di dalam hatinya dia masih berharap bahwa Shen Xueyue adalah seorang perempuan dan bukan seorang laki-laki. Biar bagaimanapun juga, fisik dan wajah putranya tidak mencerminkan seorang laki-laki tulen seperti putra-putranya yang lain. Bahkan Shen Qingtian memiliki tubuh yang tingginya 190 cm dengan postur tubuh seorang pria berkultivasi.


'Sudah berapa lama aku tidak melihatnya tersenyum seperti ini? Ah! Tidak pernah sama sekali.' batin Shen Jinglong, sendu.

__ADS_1


Shen Xueyue tersenyum hangat dengan deretan gigi putihnya yang rapi terlihat, sudut matanya menyipit membentuk garis bulan sabit yang sangat indah. Itu mengingatkan Shen Jinglong tentang masa lalunya bersama dengan permaisuri Yun di masa mudanya yang selalu tersenyum seperti Shen Xueyue saat ini. Di mana saat itu, Yun Xieya adalah sosok wanita yang sangat berbeda seperti wanita rakyat biasa karena sifat ceroboh namun ceria. Dia berbeda dari seorang putri bangsawan yang di haruskan menjunjung tinggi etika kerajaan di depan seorang Raja negara lain.


Inilah yang di harapkan dari semua keturunannya ketika berhadapan dengannya di luar pertemuan negara. Namun semua putra dan putrinya justru selalu bersikap terlalu sopan dan takut bertemu dengannya ketika memiliki waktu bersama secara bebas.


"Jadi? Apa gerangan hal yang ingin Ah Xue bicarakan dengan ayahmu ini?"


"Ayah... Ini... Mungkin... Akan sedikit.. Lancang." katanya terbata-bata. Shen Xueyue memperhatikan ekspresi Shen Jinglong secara diam-diam, mencoba untuk membaca situasinya saat ini.


Shen Jinglong masih diam, menatap Shen Xueyue lekat penuh perhatian. Hal itu justru membuat Xueyue sendiri semakin gugup dan salah tingkah.


"Aku tahu, aku sedikit berbeda dari pangeran yang lain. Dan karena kondisiku ini ayah tidak memperbolehkan aku untuk belajar seni bela diri dan pedang. Tapi..." tubuh Shen Jinglong menegak dengan penuh kejutan ketika mendengar maksud kemana arah jalan pembicaraan mereka. Pria itu masih bungkam. "...bisakah aku..melakukan itu? Maksudku... Aku benar-benar ingin belajar ilmu seni bela diri hanya agar bisa menjaga diriku sendiri jika sewaktu-waktu itu di butuhkan. Lihat! Beberapa hari yang lalu, bukankah sesuatu terjadi padaku?"


Ekspresi Shen Jinglong menyendu, "Ah Xue.. Bukan Ayah melarang. Tapi apa gunanya seorang pengawal jika kamu bisa mengusai ilmu bela diri?" tukas Shen Jinglong. Shen Xueyue tidak terburu-buru, dan dia tersenyum memaklumi.


Sebelumnya Xueyue baru mengingat sedikit ingatan putri Shen Xueyue yang walaupun dia di kenal sebagai seorang pangeran, tetapi raja Shen Jinglong tidak mengijinkannya untuk belajar seni berpedang seperti Shen Qingtian ataupun pangeran yang lain. Di bandingkan dengan Qingtian, Xueyue memiliki fisik yang berbeda. Anehnya itu seperti fisik seorang wanita. Dan di kerajaan ini, seorang putri di larang untuk mempelajari seni berperang dan pedang seperti para pangeran. Meskipun seharusnya itu di perlukan.


Awalnya Shen Xueyue mengikuti pelatihan yang sama seperti Qingtian maupun pangeran yang lain. Saat usianya sudah mengerti baca tulis, Shen Jinglong mengirimnya ke sekolah militer bersama pangeran lainnya. Singkatnya itu hanya bertahan satu minggu sebelum Shen Xueyue jatuh sakit karena beratnya latihan yang dia terima selama di sekolah tersebut. Berbeda dengan pangeran yang lain yang seumuran dengan dirinya, Shen Xueyue tidak memiliki fisik yang sesuai.


Meskipun guru di sekolah militer menyarankan agar Shen Xueyue mengambil cara seni bela seorang prajurit wanita, Shen Jinglong dengan tegas melarangnya dan menganggap bahwa itu sangat memalukan bagi Shen Xueyue dan juga dirinya sendiri. Jadi Shen Jinglong mengambil keputusan untuk Shen Xueyue bahwa dia di larang mengikuti sekolah militer sejak hari itu.


"Bukankah Yang Mulia Putra Mahkota juga sama?" timpal Xueyue tetap bersikeras. Shen Jinglong tidak bisa berkata-kata. Apa yang di katakan oleh Shen Xueyue memang ada benarnya. Tapi jelas ini sangatlah berbeda. "Ayah... Jika suatu saat nanti aku harus menikah dengan seseorang dari negeri lain, akan ada banyak sekali orang-orang yang tidak senang denganku. Bahkan mungkin, akan ada juga perselisihan ataupun kudeta yang bisa saja membahayakanku dan pasanganku. Dan aku... Tentu saja tidak ingin menjadi beban untuk pasanganku dan negaranya di masa depan."


Dalam hati, Shen Jinglong tidak bisa memungkiri bahwa dia juga setuju gagasan yang di layangkan oleh Shen Xueyue. Saat Shen Xueyue menikah, akan sangat sulit baginya untuk bertemu kembali dengannya karena kelak Xueyue akan di boyong ke kediaman milik pasangannya jika itu di perlukan. Sebuah perselisihan dan kudeta tidak akan bisa di hindari oleh Shen Xueyue di masa depan.


Shen Jinglong menghela nafas berat sedikit berkonflik. "...Baiklah!" gumamnya. Hal itu membuat mata Xueyue membola dengan binar cerah. "Tapi Ayah akan tetap mengutus beberapa pengawal untuk menjagamu."


"Soal ituㅡ" celetuknya cepat, "ㅡbisakah aku juga yang memutuskan? Maksudku..." Shen Xueyue berdehem sekali saat perasaan gugup menggelayutinya kembali, "Seperti ini. Beberapa tahun lalu, aku bertemu dengan seorang teman di luar istana. Mereka cukup pintar. Dan aku memilih dua dari mereka sebagai kandidat yang cukup kompeten untuk menjadi seorang pengawal. Memang... Mereka tidak berasal dari keluarga prajurit terlatih yang Ayah latih. Tapi Ayah bisa menguji mereka jika tidak mempercayai kemampuan mereka." jelas Xueyue, panjang lebar.


"Siapa mereka? Apa mereka berasal dari wilayah negara Hou? Seorang putra menteri atau..." celetuk Shen Jinglong bertanya, berusaha mengorek informasi.


"Hmm... Aku kurang begitu yakin. Tapi Ayah, satu hal yang harus Ayah tahu. Keduanya adalah teman yang sangat dekat denganku yang aku kenal ketika aku keluar dari istana tahun lalu. Salah satunya memiliki ilmu bela diri tinggi. Satunya juga sama. Hanya saja, nilai tambah darinya yaitu, IQ-nya yang berada di atas rata-rata. Dia di juluki si jenius strategi perang." celoteh Xueyue dengan nada menggebu-gebu.


"Bocah itu." gerutu Zhu Guang di atas langit-langit atap. Lu Guan hanya bisa mendesah lelah memperhatikan.


Mendengar kata si jenius strategi perang, daun telinga Shen Jinglong mendadak berkedut penuh kejutan. Shen Xueyue yang menyadari hal itu cukup bangga, namun dia sedikit merasa was-was. Jika benar sesuai tebakannya, jika Shen Jinglong sampai mengetahui keahlian Zhu Guang yang sesungguhnya saat mereka melakukan ujian, Shen Jinglong pasti akan meminta Zhu Guang untuk menjadi ahli strategi perangnya dan bukan pengawalnya.


"Maka baiklah. Ayah akan menyetujuinya. Tapi ayah tetap akan memberikanmu satu pengawal pribadi yang Ayah percayai dari markas pelatihan rahasia milik ayah. Kau tidak bisa membantah untuk yang satu ini."


"Tidak masalah." pekiknya dengan senyum sumringah, "Terimakasih! Aku mencintaimu, ayah."


Dalam satu hembusan nafas, tubuh Shen Jinglong membeku dengan kejutan yang tiba-tiba ketika Xueyue dengan gerakan cepat melesakkan kedua tangannya di bawah lengan Shen Jinglong, memeluknya erat.


Selama dia hidup, Shen Jinglong belum pernah menyaksikan seorang putra Raja dengan sangat lancangnya menyentuh tubuh ayahnya seintim Shen Xueyue saat ini. Dia hanya tahu jika kontak fisik yang di lakukan antara seorang Raja dengan putranya tidak lebih dari menyentuh tangan. Itupun Raja sendiri yang akan mengambil inisiatif pertama kali untuk melakukannya.


Tapi Shen Xueyue...


Untuk sesaat otak Shen Jinglong mendadak kosong. Dia tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi terhadap dirinya saat ini. Ada sensasi sengatan listrik yang menggerayangi tubuhnya ketika untuk pertama kalinya dirinya mendapatkan pelukan dari putranya yang tidak seharusnya di lakukan dengan seintim ini. Dengan gerakan patah-patah, Shen Jinglong mencoba untuk menundukkan pandangannya, menatap wajah Shen Xueyue yang saat ini tampak begitu sangat bahagia.


Tanpa sadar, tangan kanannya terangkat seolah ingin membalas rengkuhan putranya. Namun Shen Jinglong ragu, apakah dia bisa melakukannya? Pada akhirnya pria itu mengesampingkan egonya dan merengkuh putranya.


Aneh memang. Tapi dia tidak perduli.


Ada perasaan hangat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Itu sama seperti saat pertama kali dirinya memeluk Yun Xieya. Ada perasaan nyaman yang tidak bisa terlukis di hatinya saat melihat senyum cerah putranya yang tidak pernah di perlihatkan selama ini di hadapannya.


Jika apapun yang Xueyue inginkan bisa dia penuhi dapat membuat putranya tersenyum seperti ini selalu, maka apapun itu, dia akan melakukannya.


"Ayah. Jika... Aku terlahir bukan sebagai seorang pangeran..." Shen Xueyue menjeda kalimatnya ketika dia merasakan tubuh yang dia peluk menegang, sontak dia mendongak, menatap sendu mata milik ayahnya, "....apakah ayah akan tetap menganggapku sebagai anakmu?"


Untuk sesaat, Shen Jinglong tidak mampu berkata-kata. Keduanya hanya saling menatap satu sama lain dengan emosi mereka masing-masing.


"Kenapa kau mengatakan hal semacam itu?" Shen Jinglong bertanya sebagai jawaban.


"Jawab saja ayah." sahut Shen Xueyue bersikeras.


Shen Jinglong terkekeh lirih, "Hey! Apa kau rajanya?"


"Ya! Aku Rajanya di sini. Apa ayah keberatan?" Shen Xueyue mengerling genit kepada ayahnya yang tiba-tiba tersenyum geli.


Entah mengapa, cara bicara Xueyue saat ini membuat hati Shen Jinglong semakin tenang, bahkan dia enggan untuk mengakhirinya. Meskipun Xueyue bicara secara lancang, namun dia merasakan perasaan semakin dekat terhadap putranya. Bahkan jika sebenarnya Xueyue bukan seorang pangeran tapi seorang tuan putri, itu justru akan semakin membuatnya bahagia.


"Ayah... Aku sebenarnya... Adalah seorang... perempuan."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2