Love Catastrophe

Love Catastrophe
Kejujuran Untuk Shen Qingtian


__ADS_3

Otak Bai Lang tiba-tiba kosong ketika menyadari kegilaannya mencium Xueyue karena egonya. Namun, saat dia melirik sudut mata Xueyue yang tiba-tiba meneteskan airmata, mau tidak mau dia harus menghentikan perbuatannya yang telah keterlaluan.


"Sial!" desisnya, mengumpat kesal. Dengan satu jentikan jari, tubuh Xueyue terlepas dari belenggu yang dirinya buat untuk mengunci tubuh gadis itu agar tidak bisa bergerak.


Tubuh Xueyue kehilangan keseimbangan setelah lama kaku tak dapat bergerak. Dia menundukkan pandangannya dengan nafas yang terengah-engah. Xueyue menggigit bibirnya menyebabkan darah segar keluar. Rasa asin khas darah yang berkarat begitu getir di ujung lidahnya dan dia hanya bisa bungkam dengan tubuh gemetar menahan isak tangis yang hampir lolos.


Shen Xueyue tidak marah atas apa yang di lakukan oleh Bai Lang terhadapnya. Justru dengan Bai Lang melakukannya, dia tahu bahwa pria itu sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya di masa lalu. Xueyue hanya ingin sekali saja perasaannya untuk Bai Lang terbalas. Dia tidak menyangka bahwa Bai Lang benar-benar akan membalasnya meskipun dia sendiri agak ragu apakah Bai Lang akan membalasnya. Mengingat usianya mereka yang seharusnya hanya bisa menjadi paman dan keponakan. Tapi melihat bahwa mereka memiliki hubungan kakak beradik, mengingat hal itu membuatnya ingin tertawa.


Kali ini, meskipun perasaan itu akhirnya dapat terbalas, dan mereka bisa saja menjalin hubungan terlarang, namun Shen Xueyue tidak memiliki pilihan lain selain menekan perasaannya untuk Bai Lang dan melupakannya. Karena baginya, kini Bai Lang hanyalah masa lalu yang harus ia kubur dalam-dalam di dalam hatinya untuk selamanya. Dan emosi saat ini, dia hanya ingin melampiaskan rasa yang sebelumnya tertunda.


Satu-satunya yang terpenting di dalam hatinya setelah ketiadaan kehadiran Bai Lang di hidupnya hanya Song Shi Hua. Baginya Song Shi Hua adalah sosok pria yang dia harapkan untuk saat ini bahkan mungkin dia berharap itu untuk selamanya. Pria itu adalah pria pertama yang berhasil membebaskan dirinya dari belenggu keputusasaan akan cinta pertamanya yang kandas. Tidak mungkin dia akan mengkhianati Song Shi Hua hanya karena perasaannya pada Bai Lang kini akhirnya telah terbalas. Lagipula mereka tetaplah saudara meskipun berbeda ayah. Dan Xueyue tidak ingin memiliki perasaan yang salah untuk kakaknya sendiri.


Bai Lang melirik Shen Xueyue yang masih menundukkan wajahnya tak bersuara. Dia bahkan semakin takut saat tidak mendengar isak tangis dari gadis itu setelah dia secara kasar melecehkan Xueyue dengan sangat berani.


Bai Lang merasa frustasi, "Yue'er.. Maafkan aku. Aku..." kalimat Bai Lang terputus ketika tiba-tiba saja Xueyue mendongak menatapnya. Xueyue mendengus dengan kekehan mencemooh. Sorot mata gadis itu kosong seolah tanpa jiwa.


Xueyue bertanya dengan nada sarkastik. Dia memiringkan wajahnya menatap Bai Lang tajam, "Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah itu sangat melegakan hatimu? Ataukah justru menyakitkan?"


Untuk sesaat, lidah Bai Lang tercekat di kerongkongannya, pria itu tertegun kehilangan kata-kata ketika menatap Xueyue dengan linglung. Namun ekspresi Xueyue masih tetap sama. Gadis itu tertawa sinis lantas menambahkan rasa sakit Bai Lang, "Ini belum cukup untuk membalas perbuatanmu yang dulu kau lakukan terhadapku, Bai-Laoshi."


Usai mengatakan apa yang ingin dia katakan, Xueyue berbalik dan segera memanggil Lu Guan melalui transmisi suara di dalam pikiran mereka satu sama lain. Dalam sekejap mata, Lu Guan muncul secepat kilat menyambar tubuh Shen Xueyue dari perahu dan dalam sekali hentakan, Lu Guan membawanya terbang menuju ke tepi danau. Pria itu melirik Bai Lang sekilas, dan sedikit perasaan iba muncul di hatinya ketika melihat ekspresi Bai Lang yang terlihat cukup terpukul.


Tidak jauh dari tempat mereka berada, di tepi danau lotus tersebut, Zhu Guang menyeringai puas saat menyaksikan keduanya berdebat. Tapi dia juga agak kesal saat tahu bahwa lagi dan lagi, Xueyue membiarkan pria lain melecehkannya.


Sebelum akhirnya Xueyue muncul di bawah pohon tempat dirinya bersembunyi, senyum cerah terpatri di garis bibir Zhu Guang dan dia melompat dengan mulus di atas tanah.


Xueyue diam dan mengabaikan keduanya dengan wajah tertunduk masam, ekspresinya mengeras menahan emosi yang telah membumbung seakan hendak meledak kapan saja. Gadis itu terus berjalan menjauh dari danau lotus dan tidak berniat untuk berbalik hanya untuk melihat Bai Lang lagi yang masih berdiri mematung menyaksikan kepergiannya untuk yang terakhir kali.


"Apa kau tidak ingin mempertahankannya?" Lu Guan bertanya kepada Xueyue ingin memastikan. Dia tidak mau sampai Xueyue pada akhirnya akan menyesal di kemudian hari. Toh baginya, memainkam perasaan laki-laki adalah kesenangan Xueyue tanpa membawa-bawa perasaan ke dalam hatinya. Jika dia menginginkan Bai Lang, Song Shi Hua bukanlah apa-apa dan hanyalah sebuah mainan sementara bagi Xueyue.


"Tidak!" jawab Xueyue lugas dengan nada ketus.


Zhu Guang terkekeh, "Hey! Bukankah kau sangat menyukainya? Kenapa kauㅡ"


"Tidak lagi!" potong Shen Xueyue cepat, dia benar-benar tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan mengenai perasaannya yang telah hilang untuk Bai Lang dulu. Gadis itu semakin menghentakkan kaki, mengepalkan tinju mencoba menahan amarahnya dengan gigi gemeretak keras.


Zhu Guang melirik Lu Guan dengan ekspresi main-main, dan Lu Guan hanya menanggapi dengan menggelengkan kepala tidak habis mengerti. Mengapa Zhu Guang suka sekali menggoda Xueyue di saat gadis itu sedang merajuk?


Sebelum Bai Lang berbuat nekat dengan menekan tubuh Xueyue di atas perahu, Lu Guan dan Zhu Guang telah di peringatkan oleh Shen Xueyue untuk tidak ikut campur kecuali dirinya mengirimkan sinyal bantuan kepada mereka melalui transmisi suara. Selama Xueyue merasa jika dirinya akan baik-baik saja, dia meminta dua sahabatnya untuk tetap bertahan dan mengawasi mereka.


Pada awalnya Zhu Guang marah saat melihat Xueyue di tekan oleh Bai Lang dengan tatapan penuh nafsu. Saat Zhu Guang ingin menolong Xueyue, Lu Guan menahan bahunya dan memberitahukan pada Zhu Guang melalui sorot mata dan gelengan kepala untuk tidak ikut campur masalah antara keduanya untuk saat ini.


Mau tidak mau, tentu saja Zhu Guang harus menahan diri. Tapi setelah melihat bahwa justru Bai Lang lah pihak yang tersakiti, Zhu Guang cukup puas dan dia tidak mengejar Xueyue lebih jauh untuk sebuah klarifikasi.

__ADS_1


Zhu Guang dan Lu Guan belum tahu perihal Bai Lang yang sebenarnya adalah saudara beda ayah dengan Xueyue. Terlebih identitas Bai Lang yang merupakan keturunan dari siluman serigala.


Di istana, Xueyue kembali menghentakkan kakinya menuju ke arah balairung utama. Di mana ayahnya saat ini berada. Di belakang, Lu Guan dan Zhu Guang masih setia mengikuti.


Shen Qingtian yang tengah berjalan bersama pangeran ketiga Shen Du menghentikan langkah mereka saat melihat sosok Xueyue mendekat. Melihat bahwa Shen Qingtian sedang memperhatikan dirinya, Xueyue segera memperbaiki suasana hatinya yang buruk dan tersenyum cerah tanpa beban. Dia membungkuk memberi salam.


"Kakak Putra Mahkota, salam." Shen Qingtian mengangguk dan menjawab, 'hm' singkat.


"Kau ingin menemui Ayah?" tanya Shen Qingtian.


"Ya. Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Ayah." sudut mata Shen Qingtian berkedut sedikit penasaran.


Putra mahkota menatap lekat adiknya yang benar-benar sangat berbeda dari sosok Xueyue sebelum mengalami kecelakaan. Dia tidak bisa tidak khawatir dengan penyakit yang di derita Xueyue setelah bangun dari kecelakaan.


"A Xue, apa kau baik-baik saja? Apa ada bagian dari tubuhmu yang masih sakit?" Shen Qingtian bertanya dengan nada cemas. Ekspresinya menyendu penuh kekhawatiran. Xueyue hanya bisa tersenyum maklum.


Dia menggeleng lalu menjawab, "Aku baik. Jika aku tidak dalam keadaan baik-baik saja, mengapa kemarin aku keluar hanya untuk menunggang kuda?"


Mata Shen Qingtian terbuka lebar penuh kejutan. Shen Du yang mendengar perkataan Xueyue meliriknya tajam, dia menyempitkan matanya curiga. Menyadari raut wajah tidak senang Shen Du, Lu Guan dan Zhu Guang memasang sikap waspada saat merasakan adanya kejanggalan pada diri Shen Du, "Kau? Menunggang kuda?" Shen Qingtuan berseru dengan nada terkejut.


"Ya, itu aku. Ada apa kak?"


Shen Qingtian segera menggelengkan kepalanya keras, "Tidak, maksudku... Bukankah Ayah sendiri jelas tidak memperbolehkan kamu untuk melakukan kegiatan berkuda dan seni bela diri? Kau baru sembuh, dan itu juga larangan untukmu."


Qingtian memutar tubuhnya untuk menatap adiknya Shen Du, mereka hanya saling menatap dan tidak mengatakan apapun. Dan tiba-tiba Shen Du menunduk memberi hormat pada Qingtian sebelum dia melanjutkan untuk meninggalkan halaman balairung, meninggalkan kedua saudaranya dalam diam dengan sikap acuh tak acuh yang tak perduli.


Xueyue sedikit merasa asing dengan sosok Shen Du. Ketika Shen Du menatapnya, itu seolah Shen Du sedang menelanjangi dirinya hanya dengan sorot mata dinginnya yang tajam.


"Ada apa dengan pangeran ketiga?" bisik Lu Guan, lirih.


"Aneh. Mengapa dia terlihat tidak suka saat melihat Xueyue?" celetuk Zhu Guang. Lu Guan melirik Zhu Guang dan mendengus geli.


"Kau memikirkan hal yang sama juga ternyata." Zhu Guang hanya menghela nafas malas dan memperhatikan Xueyue juga Qingtian yang menjauh dari mereka.


Pada akhirnya, di sinilah Qingtian dan Xueyue berada. Di taman istana yang umum di gunakan oleh semua anggota keluarga kerajaan untuk berkumpul. Di mana di taman ini, bunga-bunga berbagai jenis, pepohonan berbagai macam, danau buatan yang memiliki bunga lotus ungu, dengan ribuan ikan Koi yang berenang bebas memenuhi kolam danau buatan. Berbeda jauh dengan taman di setiap Pavilion para pangeran dan putri, begitu pula dengan taman milik para selir, Permaisuri, Ibu Suri dan juga Raja itu sendiri.


Taman yang saat ini mereka berdua singgahi adalah taman di mana para pelayan dan prajurit dapat menikmati suasana tenang di sana secara bebas. Tentu saja taman tersebut sangat berbeda dengan taman yang berada di setiap Pavilion utama anggota keluarga di istana.


Di tengah kolam, ada satu gazebo yang cukup megah. Di sana keduanya duduk berhadapan sambil menikmati suasana taman dengan cuaca cerah menenangkan. Sementara suara mereka juga tidak akan mungkin mudah untuk di dengar karena angin akan membawa suara mereka pergi. Tidak ada seseorang yang bisa menguping pembicaraan mereka.


Untuk sesaat, keduanya hanya diam menikmati pemandangan. Xueyue menatap lekat Qingtian, sibuk dengan fikirannya sendiri tentang bagaimana caranya dirinya harus memberitahukan pada Qingtian mengenai jati dirinya yang sebenarnya. Apakah dia harus menggunakan ilusi rubah pada Qingtian?


Baginya, Qingtian juga adalah orang yang sangat penting di dalam hatinya setelah kedua orangtuanya. Ini hanya jati dirinya yang ibunya ketahui tentu saja. Jika dia mengatakan bahwa dia adalah sosok dari roh siluman rubah berekor sembilan, hal yang akan terjadi selanjutnya adalah dia akan di bakar hidup-hidup.

__ADS_1


Terlebih, fakta bahwa hati dari roh siluman rubah dapat menjadi bahan obat untuk segala macam penyakit langka tidak bisa di hindari. Keluarganya pasti tidak akan melepaskan dirinya.


Gadis itu menyangga dagunya di atas meja, sementara jari-jari tangan kanannya mengetuk meja dengan bibir mengerucut lucu tampak berfikir sangat keras.


"Jadi... Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Qingtian bertanya mendahului pembicaraan.


"Hm..." Xueyue tidak langsung menjawab. Dia bergumam dan memainkan bola matanya. Ia bertanya, "Kak, apa kau percaya kalau aku ini sebenarnya adalah seorang perempuan?"


Qingtian mendadak bingung, mengerutkan keningnya dengan kernyitan dalam menatap Xueyue bingung. Tanpa sadar pria itu menilai adiknya dari atas ke bawah. Dia tidak bisa berkata-kata.


"Aku ingin kakak tahu bahwa aku sebenarnya seorang adalah seorang perempuan. Terkejut?" kata Xueyue ketika dia melihat kakaknya membulatkan matanya karena kaget. Dia tersenyum pahit, lantas dia menceritakan keseluruhan cerita tentangnya kepada Qingtian dengan bahasa yang sangat berhati-hati. Xueyue bahkan menekan Qingtian dan mempersiapkan kemampuan ilusi runahnya kalau-kalau Qingtian berusaha untuk berteriak dan menganggapnya gila.


"A Xue, ini..." Qingtian linglung, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Setelah mendengar semuanya, Qingtian tidak tahu bagaimana harus bertindak sebagai seorang kakak.


"Aku tahu, kakak tidak akan percaya. Tapi ini semua memang kenyataannya." kata Xueyue, lagi.


Untuk sesaat saja, Qingtian bungkam tanpa memberi respon. Detik berikutnya pria itu akhirnya bersuara, dia bertanya, "Apa Ayah juga tahu tentang ini?" Qingtian menatap lekat Xueyue bertanya. Xueyue mengangguk dengan wajah tegas sebagai jawaban.


"Ya, dia tahu. Ibu Suri juga mungkin sudah tahu karena beliau adalah seorang cenayang." Qingtian tiba-tiba menghela nafas, menegakkan tubuhnya dan sedikit rileks. Dia hanya khawatir jika ayahnya belum tahu, maka jika suatu saat nanti identitas Xueyue terbongkar, ayahnya pasti akan menghukumnya. Mungkin juga mereka bisa di jatuhi hukuman mati. Membayangkan adiknya di hukum mati saja, Qingtian tidak berdaya.


Xueyue sedikit cemas, dia menggigit bibirnya lagi menatap Qingtian dengan was-was. Gadis itu bertanya dengan mimik wajah menyedihkan, "Kakak, apakah kamu akan membenciku setelah mengetahui fakta ini? Apakah kamu merasa di bohongi? Tapi ini juga bukan keinginanku."


Qingtian bergeming, menatap Xueyue lekat sebelum dia tersenyum hangat menggelengkan kepala sebagai respon, "Tidak. Jika Ayah saja sudah mengetahuinya dan tidak murka, maka itu juga berlaku untukku."


Mata Xueyue berbinar cerah, senyumnya berkembang dengan sangat cantiknya menatap Qingtian bahagia, "Sudah 'ku duga kakak tidak akan membenciku. Kakak...aku mencintaimu."


Detik berikutnya, Xueyue berdiri dan melingkarkan lengan tangannya di leher Qingtian. Tak lupa, dia juga melayangkan satu kecupan sayang ke pipi Shen Qingtian hingga membuat pria itu terkesiap untuk sesaat sebelum tertawa kecil.


"Apapun untukmu." kata Qingtian, lembut. Tidak heran, tubuh Xueyue sanhat berbeda dengan tubuhnya dan ketiga pangeran yang lain dalam tahap pertumbuhan. Nyatanya, Xueyue lebih seperti seorang perempuan saat dia tumbuh. Dan wajar saja Xueyue akan menderita ketika mendapatkan pelatihan yang hanya para pangeran saja yang mendapatkannya.


Sekarang Qingtian bisa sedikit lega.


"Oh! Bukankah kakak ingin menemui Ayah? Bagaimana kalau kita bertemu dengannya bersama-sama?"


"Tentu."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2