Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Tak Bisa Membayar


__ADS_3

Channing menoleh ke belakang, ternyata di sana Binar sudah berdiri dengan tatapan sendunya.


"Jangan nangis sendirian di sini. Ada aku kalau kamu mau berbagi, Kak," ucap Binar dengan suara pelan, nyaris tenggelam dalam suara hujan.


"Kamu kenapa di sini? Kamu paling nggak bisa kena air hujan, Bin." Alih-alih menanggapi ucapan Binar, Channing malah mengkhawatirkan kondisi adiknya, yang memang selalu flu setiap kali kehujanan.


"Aku nyusul kamu."


"Ayo ke mobil!" ajak Channing seraya menggandeng tangan Binar dan membawanya berjalan menuju mobil.


Binar tak membantah. Ia menurut dan mengimbangi langkah Channing yang agak cepat. Hingga akhirnya, mereka tiba juga di mobil. Channing bergegas mengambil tisu dan memakainya untuk menyeka titik-titik air di lengan Binar. Ia mengabaikan diri sendiri yang basah kuyup.


"Bersihkan diri kamu dulu, Kak," ucap Binar sembari mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya kepada Channing.


Lelaki itu tersenyum tipis, lalu meraih tisu yang diberikan Binar dan menggunakannya untuk mengelap wajah. Sedikit sia-sia karena bajunya juga basah, pun dengan rambut.


"Ganti baju gih!"


Mendengar ucapan Binar, Channing menoleh seketika. Lantas, keningnya mengernyit saat melihat Binar menyodorkan paper bag ke arahnya.


"Ini apa?" tanyanya. Padahal, di sana sudah terdapat simbol fashion yang cukup jelas.


"Hari ini adalah hari jadi pertemuan kita. Aku membeli itu kemarin. Awalnya mau kukasih di rumah, tapi lihat Kak Channing pergi tadi, aku nggak yakin Kakak akan pulang cepet. Takutnya, entar malem belum ada di rumah. Makanya aku bawa, dan ternyata berguna," jawab Binar. Cukup mengejutkan karena Channing sendiri lupa bahwa hari ini adalah hari jadi pertemuan mereka.


"Bin, maaf, aku belum menyiapkan hadiah untuk kamu." Channing bicara lirih. Entah mengapa ia merasa sangat bersalah. Mungkin karena tahun-tahun sebelumnya ia tak pernah luput memberikan sesuatu untuk Binar.


"Nggak apa-apa." Binar tersenyum. "Ya udah, Kakak silakan ganti. Aku keluar dulu," lanjutnya.


Tak lama berselang, Binar keluar dari mobil. Sementara Channing, bergegas melepas baju basahnya dan menggantinya dengan yang baru. Seperti biasa, ukuran selalu pas dan warna juga cocok. Terkadang Binar memang lebih pintar memilih, dibandingkan dengan dirinya sendiri.


Usai mengenakan baju tersebut, Channing turut keluar dan menyimpan baju basahnya di bagasi. Lantas, berdiri di samping Binar yang kala itu sedang membelakangi mobil.


"Bin!" panggil Channing.


Binar menoleh, dan untuk kesekian kalinya ia kembali terpesona pada paras tampan itu. Kaus putih dan celana abu-abu selutut yang ia pilih kemarin, begitu pas ketika menempel di tubuh Channing. Apalagi dipadu dengan rambut yang masih basah, sungguh, ketampanan aktor layar lebar saja kalah. Setidaknya ... menurut Binar.


"Kamu kok tahu aku ada di sini?" tanya Channing, berusaha mencairkan suasana yang canggung.

__ADS_1


Binar tersenyum, "Sorry."


"Ha?"


"Aku ngikutin kamu, Kak."


Jawaban Binar membuat Channing terkejut. Mengikuti? Apakah artinya, dia juga tahu tentang pertemuannya dengan Laurent tadi?


"Bersyukurlah, Kak, setidaknya kamu tahu sifat asli dia dari sekarang. Dari pada hubungan udah telanjur jauh, tambah sakit hati kamu," sambung Binar, menyiratkan pengakuan bahwa dirinya melihat dan mendengar apa yang terjadi antara Channing dengan Laurent.


"Kamu tahu itu?"


Binar tersenyum masam, "Aku ngikutin kamu dari rumah sampai ke sini, mana mungkin nggak tahu. Bahkan, aku juga tahu gimana caramu menatap dia. Penuh cinta, tapi juga penuh kecewa."


Channing tak bisa berkata-kata. Benaknya diliputi perasaan bersalah yang begitu kuat.


Sesaat kemudian, Binar juga diam. Dia memilih menunduk dan mendekap sendiri luka dalam batinnya. Ya, melihat Channing teramat mencintai gadis lain bukanlah hal mudah baginya. Semua seperti mata pisau yang menikam tanpa tahu tempat dan waktu.


Dalam keheningan itu, hanya derasnya hujan di luar parkiran yang menjadi satu-satunya suara. Bahkan, embusan napas saja ikut melebur bersamanya.


"Kamu tadi nggak kuliah?" tanya Channing setelah cukup lama menutup mulut.


"Kenapa?"


"Masa masih nanya?" Binar balik bertanya.


"Mmm, maksudku, kenapa kamu ngikutin aku sampai nggak kuliah? Itu kan yang lebih penting," ujar Channing sambil sesekali menatap Binar.


"Menurutku lebih pentingan kamu, Kak." Binar menjawab cepat.


Sayangnya, Channing malah langsung bungkam. Lagi, pembicaraan mereka menjurus pada sebuah perasaan yang belum bisa ia balas. Dalam keadaan terluka seperti ini pun, posisi Binar dalam hatinya masihlah seorang adik.


Karena Channing tak jua bicara, Binar membalikkan badan dan berjalan menuju mobil. Ia masuk ke sana tanpa menunggu Channing.


"Kan, canggung lagi," batin Channing sembari mengikuti langkah Binar.


Ketika keduanya sudah duduk bersebalahan di dal mobil, Channing mengembuskan napas panjang. Begitu banyak hal yang berkecamuk dalam batin, tetapi satu pun tak bisa ia ungkapkan dengan gamblang.

__ADS_1


"Kamu udah makan?" Akhirnya, sekadar pertanyaan ringan yang berhasil keluar dari bibir Channing.


Binar menggeleng, tanpa menoleh ataupun membuka suara.


"Ya udah, kita cari makan dulu ya. Aku traktir. Anggap saja, hadiah untuk hari penting ini." Channing tersenyum, seolah membujuk Binar agar suasana hatinya membaik.


Namun, sedikit pun gadis itu tak melihat ke arahnya. Binar sekadar mengangguk sembari menggumam pelan.


Tak ingin membuang waktu, Channing segera melajukan mobilnya meninggalkan area pemakaman. Ia meluncur di tengah hujan yang masih deras, berpacu dengan kendaraan lain yang ikut memadati jalanan kala itu.


Sampai kemudian, Channing dan Binar tiba di depan restoran yang menjadi langganan mereka. Keduanya memilih tempat paling sudut, sebuah tempat yang menurut mereka paling nyaman. Lantas, masing-masing memesan menu yang sama, yakni seafood pedas.


Selagi menunggu pesanan datang, Binar dan Channing hanya mengobrol sesekali. Entahlah, kecanggungan itu tak juga enyah dari keduanya. Terlebih saat makanan sudah dihidangkan, masing-masing fokus dengan sajian yang ada. Tidak ada canda yang berkesan. Bahkan, Binar yang biasanya paling banyak bicara, sekarang lebih banyak bungkamnya.


Barulah ketika Channing meminta tagihan dan pelayan sudah memberikan, ia menatap Binar sembari memanggilnya.


"Kenapa, Kak?" tanya Binar. Dia merasa aneh dengan raut muka Channing kala itu.


"Dompetku ketinggalan, dan HP juga mati. Boleh nggak, kamu dulu yang bayar? Nanti sampai rumah aku ganti deh," pinta Channing dengan pelan.


"Hah?"


"Aku ganti dua kali lipat, janji." Channing bicara lagi.


"Bukan soal ganti enggaknya, Kak. Tapi masalahnya, uangku dua ratus ribu doang. Kemarin abis beli hadiah untuk Kakak, terus tadi bayar taksi muter-muter nggak jelas. Tahu sediri kan, ATM-ku nggak pernah banyak saldo," ujar Binar.


Channing menepuk jidat. Benar apa yang dikatakan Binar, dia tak pernah memegang banyak uang. Kalau sedang menginginkan sesuatu saja, baru dia minta pada Athena. Sedangkan keseharian, sekadar cukup untuk jajan.


"Kata Axel kamu kemarin banyak job, uangnya nggak kamu pegang juga?"


Binar berdecak, "Job apa? Itu kan hanya alasan doang biar dia nggak nanya mulu kenapa kalau malem aku betah di kamar."


Channing meremas kasar rambutnya. Konyol sekali dia menanyakan itu, padahal sudah jelas itu sekadar alasan. Bahkan, dia juga tahu waktu Binar menggunakan alasan itu kepada Athena. Dan dia pun tahu, semua itu karena Binar marah padanya.


"Jadi bagaimana? Siapa yang akan membayar tagihan ini?"


Binar dan Channing saling pandang ketika mendengar pertanyaan itu. Sesuatu yang seharusnya wajar, mendadak menjadi horor. Sial!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2