Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Prince Charming


__ADS_3

Seseorang yang tak lain adalah Evan, tanpa rasa bersalah bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Channing sambil terkekeh-kekeh.


"Calon kakak ipar kalau begini serem amat deh," ledek Evan.


Channing tak menyahut, sekadar embusan napas kasar yang keluar dari bibirnya.


"Kamu kenapa sih? Sentimen amat perasaan sama aku. Padahal niatku tuh baik, aku mau serius sama Binar. Janji seribu janji, aku nggak bakal nyakitin dia," ujar Evan.


"Bulshit! Yang namanya playboy itu udah mendarah daging dalam diri kamu. Aku nggak percaya mau kamu janji kayak gimana pun," sahut Channing sambil melayangkan tatapan tajam.


Namun lagi-lagi, Evan hanya terkekeh-kekeh. Dia menganggap lucu tingkah Channing, yang menurutnya juga sedang bercanda. Pikir Evan, omongan itu tidak penting, yang penting adalah bukti. Dia yakin suatu saat Channing juga akan merestui, jika dirinya sudah membuktikan keseriusan itu.


Ketika Channing dan Evan masih berdiri berhadapan, Athena datang dan menghampiri keduanya.


"Eh, kamu sudah pulang, Nak?" ucapnya sambil tersenyum ke arah Channing.


"Udah, Ma, baru aja. Oh ya, Binar mana? Tadi katanya sakit. Cuma aku pas sibuk banget, jadi nggak tahu kalau dia ngirim pesan. Tahu-tahu udah sore ini tadi," kata Channing, sedikit berbohong.


"Ada di kamar, lagi istirahat. Beruntung tadi ada Nak Evan. Dia yang ngantarin Binar, sempat dibawa ke rumah sakit juga tadi. Tapi, untungnya cuma diperiksa dan dikasih obat, nggak sampai rawat inap."


Channing tak menyahut, justru melirik tajam ke arah Evan yang kala itu hanya tersenyum lebar, merasa keren karena dibanggakan oleh calon mertua.


"Itu tadi juga dibelikan buah sama Evan, Mama simpan di belakang," sambung Athena, membuat Channing makin dongkol.


"Sekarang Binar udah istirahat, kan? Udah di rumah dan baik-baik aja dia. Jadi ... kamu kapan pulang?" Alih-alih menjawab ucapan ibunya, Channing malah melipat tangan di dada sembari menatap Evan.


Sebelum Evan menjawab, Athena yang lebih dulu menyahut, "Channing, kamu jangan gitu. Evan udah nolong Binar loh. Lagian dia kan teman kamu, kalau masih mau di sini, ya biarin aja. Nanti sekalian ikut makan malam juga malah bagus."


"Eh, serius boleh, Tante? Ikut makan malam di sini?" sela Evan dengan cepat.

__ADS_1


Athena tersenyum, "Tentu saja boleh. Kamu itu sudah Tante anggap anak sendiri. Jadi, tidak usah sungkan."


"Ma, tapi kayaknya lain kali aja deh. Kami tuh ada tugas banyak banget di kampus, dan harus dikumpulin besok. Kasihan Evan kalau berlama-lama di sini dan nanti malam begadang." Channing kembali membuat alasan agar Evan segera enyah dari rumahnya.


"Mmm, gimana kalau kita kerjakan bareng aja di sini? Kebetulan___"


"Memangnya kamu bawa laptop? Bawa buku referensi? Nggak, kan? " Channing memotong ucapan Evan, sekaligus mematahkan alasan lelaki itu untuk bertahan lebih lama.


"Oh iya, lupa." Evan menggaruk kepalanya yang tak gatal, sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Channing dan membisikkan sesuatu padanya, "Dasar ipar laknat!"


"Terus, gimana? Nggak jadi ikut makan malam di sini?" tanya Athena.


"Nggak, Tante, maaf ya. Lain kali saja. Lagi banyak tugas soalnya," jawab Evan dengan berat hati. Namun, justru menjadi kesenangan tersendiri untuk Channing.


"Ya sudah tidak apa-apa, sekali lagi terima kasih ya."


Setelah Evan pamit pergi, Channing bergegas naik ke lantai dua. Bukan kamar sendiri yang ia tuju pertama kali, melainkan kamar Binar, yang kebetulan tidak dikunci.


Channing membuka pintu dengan pelan, lalu langkahnya juga ikut pelan. Dia takut menganggu tidur Binar yang tampaknya begitu nyaman.


"Kenapa tiba-tiba sakit, Bin?" batin Channing sambil menyentuh kening Binar yang panas. Rupanya, suhu tubuh Binar masih tinggi.


"Maafin aku ya, tadi nggak tahu kalau kamu telfon dan ngirim pesan. Aku lagi ada masalah juga, Bin." Channing kembali membatin, dan kali ini diiringi embusan napas panjang berulang kali.


Sembari mengingat Laurent yang entah di mana sekarang, Channing duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Binar. Dia diam dan sekadar memindai seluruh ruangan yang dominan warna putih.


Di antara foto-foto keluarga, termasuk ada dirinya, pandangan Channing tertuju cukup lama pada tumpukan kertas yang ada di atas meja. Di sampingnya, terdapat beberapa pensil yang teronggok apik dalam gelas.


Tak tahu dari mana datangnya, yang jelas ada perasaan ingin tahu yang begitu kuat, mendorong Channing untuk bangkit dan melihat apa yang ada di dalam kertas itu.

__ADS_1


'PRINCE CHARMING'


Sebuah tulisan dengan gaya indah, itulah yang terukir di dalam kertas paling atas. Di bagian sudut terdapat hiasan berbentuk ranting kering, simpel tapi cukup menarik. Tampak sangat pas dengan tulisannya.


"Ini hasil karya Binar, cakep juga," gumam Channing. Tanpa sadar, ia menyunggingkan senyum tipis.


Setelah puas menatap lembaran yang pertama, Channing beralih menatap lembaran yang kedua. Di sana bukan hanya tulisan, melainkan ada gambar wajah wanita yang cukup cantik, dengan rambut panjang dan mahkota yang menghiasi kepalanya. Dia terlihat seperti seorang putri kerajaan.


"Kalau dilihat-lihat, senyum dan wajah ini ... mirip Binar," batin Channing.


Ia berulang kali mengalihkan pandangan dari gambar di kertas ke arah wajah Binar yang terlelap. Memang mirip.


Lanjut pada lembaran ketiga, Channing dibuat tercengang. Gambar yang ada di sana adalah seorang lelaki tampan nan gagah, dengan mahkota dan jubah kebesarannya. Wajah gambar itu, dilihat dari segi manapun, mirip dengan dirinya sendiri.


"Apa artinya ini, Bin? Kenapa yang perempuan mirip kamu dan yang laki-laki ... mirip aku?" batin Channing. Mau tidak mau ia kembali teringat dengan pernyataan cinta dari Binar.


"Apa sampai sekarang kamu masih mencintaiku, Bin?" lanjut Channing, tetap dalam hati.


Dengan pikiran yang tak menentu, Channing meletakkan kembali kertas-kertas itu, tanpa melihat lebih jauh lagi. Lantas, dia beralih menatap Binar yang masih setia dalam lelapnya.


"Aku harus gimana, Bin? Aku nggak mau kamu terluka, tapi aku juga nggak bisa memaksakan perasaanku sendiri. Apalagi ... kebersamaan kita dalam hubungan yang lain juga bukan sesuatu yang baik," ucap Channing sembari mengacak rambutnya dengan kasar.


Setelah diam cukup lama dan tidak mendapatkan ketenangan, Channing beranjak dan keluar dari kamar Binar. Dia menuju kamarnya sendiri dan langsung merebahkan tubuh dengan kasar ke atas ranjang.


Ketika pikiran masih cukup kacau, tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar—ada satu pesan masuk. Tak ingin melewatkan sesuatu yang penting seperti tadi, Channing bergegas mengambilnya dan membuka pesan baru yang ternyata dari nomor tak dikenal.


"Ini___" Dalam posisi yang masih berbaring, Channing terpaku lama. Matanya tak berkedip menatap kalimat yang menjadi isi pesan tersebut. Kalimatnya terbilang singkat, tetapi mampu membuat nyeri ulu hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2